O-D-O-J awal keajaiban


Soal baca Al-qur’an, dari kecil aku sudah lancar. Bahkan sebelum TK pun sudah khatam. Daaan #pamer dikit aaahhhh…. pernah memenangkan lomba MTQ se kotif Depok lho. 😳 tapi waktu masih TK, hehe… #desigh

Tapi ternyata, antara bisa dan rajin itu ga selalu berbanding lurus. Kemampuanku tak lantas membuatku rajin membacanya. *helanafas*

Waktu kecil sih ia, bisa berkali-kali khatam. Tapi beranjak dewasa? Jangan tanyakan. *melengos*

Tapi rupanya, Allah berkenan menjadikanku pribadi yang lebih baik. Dia mengenalkanku dengan ODOJ lewat group YISCku.

Apa tuh ODOJ?
ODOJ, One Day One Juz. Sebuah komunitas yang mengharuskan membernya untuk membaca 1 juz Al-Qur’an dalam sehari. Dimana laporannya via whatsapp group saja. Well, tak perlu waktu lama untukku memutuskan bergabung. Begitu membaca broadcastnya, langsung saja aku mendaftar. Ini yang aku butuhkan. Sebuah dorongan, media untuk bisa melecut aku agar rajin tilawah.

Hari pertama aku tak mengalami kesulitan yang berarti. Hari kedua, ketiga, dan seterusnya pun begitu. Karena memang aku ngga tilawah bukan karena ngga lancar membacanya, bukan pula karena tak ada waktu, tapi karena malas. Penyakit satu itu memang demen banget nempel padaku. *tutupmuka*

Kalau ditanya, pernahkah bolong sehariiii aja??? Alhamdulillahnya engga *blush* tapi kalau diserang malas, ya sering *hihihi*. Kalau malesnya datang, aku bakal ngerasa 1 juz aka 10 lembar itu banyaakksss bingitsss.. *fiuh* #sambil bolak balik halaman yang tampak tak berkurang.

Tapi setelah itu, aku langsung liat jam, sambil merenung. Cuma butuh waktu +- 5 menit untuk bisa melahap 1 set lembar. Itu waktu yang tak lama, setara dengan waktu yang aku habiskan untuk mengkhayal *eh* :P. Dan setelah itu, setelah sadar bahwa 1 juz bisa diselesaikan ngga sampe 1 jam, godaan syaithon pun berhasil kutepis *ciyaaat* berhasillah aku selesaikan jatah juz ku hari itu *girang*.

Dan sekarang, udah sekitar setengah tahun aku gabung ODOJ. Aku tak lagi menghitung berapa kali aku khatam. Mengalir saja. Tapi buat aku, ODOJ ini sesuatu banget. Dari aku yang nyaris ngga pernah tilawah, jadi bisa khatam sekali sebulan teruuss terusaan… Semoga tetap istiqomah. *aamiin*

Tapi yaa, entah memang ciri khas Indonesia atau bagaimana, media kebaikan seperti ini pun masih saja bikin kontroversi. Tadinya aku ngga tahu, sampai suatu hari dapet broadcast tentang beberapa tokoh agama (baca:ustad) yang mempermasalahkan niat tilawah bagi para member ODOJ. Khawatir menjadi riya. Begitu kurang lebih intinya.

Yah, kalau aku sih, ngga mau ambil pusing yaa. Soal riya atau engga, itu soal hati. Soal hubungan manusia dengan Robb-nya. Menurutku ngga tepat bila batal melakukan kebaikan karena takut riya. Karena tau ngga? Menjaga ikhlas itu syulit. Ikhlas diawal belum tentu bisa ikhlas sampai akhir. Nah, daripada sampai ajal menjemput, aku ngga pernah tilawah hanya karena takut riya, mendingan ikut ODOJ yang bikin aku bisa tilawah tiap hari sekalipun dituding riya *nyengir*. Karena niatku, semoga dengan ikut ODOJ jadi bisa terbiasa membaca Al-quran. Bisa mendapat berbagai manfaat dari Al-Qur’an.

Memangnya apa sih manfaat membaca Al-Qur’an??
Waaah… Banyak sudah artikel yang menjabarkan panjang lebar tentang itu. Kalau buat aku, cukup 2 hadits ini yang bisa jadi motivasi diri:

1. Abu Umamah al-Bahili ra berkata, Aku mendengar Rosululloh saw bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena ia akan memberikan syafaat kepada para “sahabatnya”.” HR Muslim No. 1337.
Dihari dimana tiada naungan selain naungan-Nya, dihari dimana seorang ayah tak bisa menolong anaknya, begitupun sebaliknya, disitulah aku perlu syafaat yang bisa menolongku. Dan semoga bacaan Al-Quran ku yang standar banget itu bisa jadi penolong di akhirat nanti. *senyum*

2. Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rosululloh saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka ia akan mendapatkan 1 kebaikan, dan 1 kebaikan akan dibalas dengan 10 x lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu 1 huruf, tetapi alif 1 huruf, lam 1 huruf, dan mim 1 huruf.” HR At Tirmidzi No. 2910.
Bayangkan, kalau hanya dengan membaca bismillahirrohmanirrohim saja, aku sudah membaca 19 huruf, yang berarti melakukan 19 kebaikan, yang mudah-mudahan mendapat minimal 190 kebaikan sebagai balasan! Hmmm.. Apalah lagi 1 juz. Jutaan huruf. Jutaan kebaikan. *hope*. Well, kebaikan itu kan ngga harus materi secara tersurat ya. Di awal hari, bangun dalam keadaan segar bugar, kebaikan. Makan tidak tersedak, kebaikan. Nyebrang jalan dengan selamat, kebaikan. Nunggu debbie ngga pake kelamaan dan dapet duduk, kebaikan. Ngga diomelin pak bos, kebaikan. Pun dosa-dosa diampuni, kebaikan. Aduh, kl ditulis lebih detail, bisa keriting tangan >.< .

Yang jelas, dua hadits itu udah lebih dari cukup bagiku sebagai alasan kenapa harus baca Al-Qur'an. Hadits pertama untuk kebaikanku di akhirat, hadits kedua untuk kebaikanku di dunia. It's enough.

Balik ke ODOJ,
Ustad yang ngisi pengajian di kantor aku pernah bilang gini,
“Baca Al-Qur’an itu sesempatnya, saat ada waktu banyak, baru dibaca. Ga usah target banyak-banyak dalam sehari. Tapi usahakan dalam satu tahun itu bisa khatam minimal 3x. Itu diluar bulan ramadhan ya. Kl bulan ramadhan ya sekali.”

Wah, Ustad, tanpa mengurangi rasa hormat, aku keberatan dengan pernyataan ustad. Kalau nunggu waktu banyak, mau kapan? Waktu ngga akan bertambah. 24 jam setiap harinya. Pun kalau nunggu waktu luang. Lah, Allah aja ngasih rezeki kita ngga nunggu waktu luang kok, dengerin doa-doa kita ngga nunggu sempat, masa hamba-Nya yang malah sok sibuk? Siapa kita?? *geleng-geleng*

Terlepas dari perbedaan pendapat beberapa kalangan, aku tetap pada pendirianku. Dan udah kubuktikan khasiatnya. Gabung ODOJ itu selain bikin aku teratur baca Al-Qur’an, juga jadi nambah teman, nambah ilmu, dan berbagai kebaikan lainnya. Terbukti, setelah beberapa bulan aku rutin tilawah, beberapa impianku menjadi nyata. Misal, aku dipertemukan dengan seseorang yang semoga menjadi sahabat dunia akhiratku, lalu untuk pertama kalinya aku nyemplung ke kolam berenang, punya printer yang bisa scan copy, bla..bla..bla.. sampai hal-hal kecil yang kalau diingat-ingat, itu adalah keinginanku dari dulu. Perlahan, semua pintu seakan mulai menampakkan isinya. Semua jalan tampak mulai terbentang. Ah, pokoknya rasakan sendirilah bagaimana keajaiban Al-Qur’an.

Buat yang belum tahu ODOJ tapi tertarik, datang aja ke Grand Launchingnya tanggal 4 Mei 2014 nanti di Istiqlal. Nih, flyer-nya. Jangan khawatir, tidak dipungut biaya kok. Semua sudah aku bayarin. Hohoho 😎 maksudnya dana murni dari member ODOJ. 😀

Baiklah. Semangat menuju kebaikan!!!
Salam cinta Qur’an. :*

image

Berkah Ramadhan


Sesuai janjiku disini, aku akan merinci, kenapa Ramadhanku tahun ini beda. Tema “Beda” yang tadinya hanya iseng, tapi kemudian benar-benar menjadi Beda yang nyata.

…: sepupu ganteng :…
Sudah menjadi tradisi menahun, setiap lebaran mesti aku ke rumah mbah (dari ibu). Bukan pulang kampung, tapi pulang kota, karena mbahku itu memang tinggal di Meruya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Dan kemarin itu (9 Agustus 2013), tumben-tumbenan pas lagi disana, salah satu buleku pun bersilaturahim ke sana, dengan kedua anak laki-lakinya. Bule ini adalah anak dari adiknya mbah uti. Jadi termasuk saudara jauh sih yaa.. Rumahnya dekat dari lokasi kantorku yang dulu, Radio Dalam. Tapi karena aku emang tidak terlalu dekat, jadi ngga pernah main kerumahnya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari kedatangan bule aku itu, sebelum kemudian buleku yang lain (adik dari ibu) heboh menggoda salah satu anak bule Radio Dalam (RaDal). Selidik punya selidik, ternyata kegantengan anak sulung bule Radal yang digoda. Penasaran donk. Dan ternyataaah, pas dilihat, beneran ganteng booo. Hidung mancung, muka bersih, poni lempar. Beuh. Hahaha… 😆 Dengan gaya yang malu-malu (karena si bule beneran heboh dan sok-sok jadi paparazzi buat dapetin foto si ganteng itu), menambah tuh cowo makin imut dan nggemesin. Gila ya, ngga nyangka aku punya sepupu ganteng kayak gitu. Hahaha… ngomong-ngomong, sepupu tuh sah lho buat dinikahin, hehehe.. 😛 Yah, tapi sayang, dianya brondong, masih SMA cyiinn…

Nah, kalau adiknya si ganteng ini, ngga pake malu-malu, tapi songong. Masih SD tapi berani. Dengan gaya sok pahlawan, doi melindungi kakaknya dari serangan paparazzi yang bertubi-tubi (bule, adik, dan sepupuku yang lain). Ditutupi-tutupilah wajah abangnya itu dengan badan dan tangannya. Hahaha.. pokoknya kocak abis. Bagian paling nyebelin dari si bocah itu adalah saat aku menanyakan namanya.

Aku                  : Namanya siapa?
Si bocah          : Ih, kepo banget siih.
Aku                  : *melongo*  Whaaatt??!!! Masa ditanya nama doank dibilang kepo?! Aaarrrr….

IMG_0804

…: i’tikaf pertama :…
Dari dulu aku penasaran, I’tikaf itu seperti apa sih? Apa harus berdiam diri di masjid, ngga boleh ngapa-ngapain selain ibadah selama seminggu/seharian full?? Ternyata aku salah. Niat I’tikaf untuk semalam pun tak apa. Maka, begitu salah satu teman brevetku mengajak untuk I’tikaf di Masjid UI, aku mengiyakan tanpa harus berpikir lama. Di malam ke-27 Ramadhan, 4-5 Agustus 2013, dengan segenap hati aku mantapkan langkah untuk berdiam diri di masjid, munajat pada Robb-ku, berharap malam yang lebih baik dari seribu bulan dapat kurasakan. Namun, malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak (eh, terbalik ya? :P), aku yang pada dasarnya sulit mengendalikan ngantuk, malah selalu tertidur saat kajian dimulai. Hadeeh.. payah dech. Yah, at least, aku berhasil mengejar target tadarusku untuk khatam, merasakan sholat lail terpanjang, dan tahu bagaimana suasana I’tikaf. Semoga aku masih diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan tahun depan dan bisa merasakan lagi suasana I’tikaf dengan khusyuk.

IMG-20130805-WA0003

…: surprize GA :…
Post di awal Ramadhan, memang dari awal sudah ingin kubuat, tanpa urgensi tertentu. Tapi demi melihat post giveaway dari Mba Endah, aku kemudian berpikir untuk sekali mendayung dua pulau terlampau :mrgreen: Kuikutsertakan saja post ku itu. Dan tanpa diduga, saat kubaca pengumuman pemenangnya tanggal 24 Juli, namaku tidak tercantum sebagai salah satu dari dua orang pemenang :mrgreen: tapi justru tercantum sebagai hadiah kejutan. Wow.. benar-benar kejutan!! 😯 Dan tanggal 3 Agustus 2013, paket hadiah dari Mba Endah sampai dengan selamat ke rumahku. Terima kasih Mba Endah. insyAllah akan bermanfaat. Semoga Allah membalas kebaikan Mba dengan berlipat. :-*

Hadiah Surprise

…: nastar by own :…
Lain adik, lain pula kakaknya. Kalau aku memimpikan mesin jahit portable, maka adikku mengidam-idamkan oven. Sudah dari tahun lalu, dan akhirnya THR tahun ini dia manfaatkan untuk membeli oven. Dia memang lebih hobi masak dibanding aku. 😐 Jumat, 2 Agustus 2013, aku menemaninya membeli oven di Carrefour. Langsung saja keesokan harinya diuji coba untuk membuat kue nastar. Si krucil yang paling heboh menyambutnya.
“Mba, ntar aku bantuin ya Mba.”
“Mba, ntar aku yang bulet-buletin ya Mba.”
“Mba, ntar aku yang kuasin ya,”
bla..bla..bla..
Lihat saja tangan-tangan terampil ini.

P643

Senang ya kalau melihat keluarga rukun dan hangat.  Ngomong-ngomong, aku sendiri malas untuk membantu, Hahaha.. Aku memilih konsen pada proyek baju kembaranku. 😉

…: voucher buku :…
30 Juli 2013, aku mendapat sms kejutan, bahwa aku memenangkan voucher belanja dari pengenbuku.com. Kupikir hoax. Tapi setelah mengkonfirmasi ke email admin, ternyata itu sungguhan. Yeeaii.. ngga nyangka banget dech. Jadi, yang kemarin aku kalap beli buku itu, tanpa pernah terbesit di pikiranku, aku memenangkan salah satu undiannya. Terima kasih yaa pengenbuku. Tapi, voucher senilai 150.000 ini hanya bisa dipergunakan untuk membeli buku kembali di pengenbuku.com, itupun hanya terbitan mizan dan antek-anteknya. Buat aku, itu sama sekali ngga masalah. Sebagai pecinta buku, dibeliin buku jauh lebih membuatku bahagia dibanding dibeliin eskrim. Apalagi kalau dibeliin buku sekaligus eskrim. Hohoho.. 😎 Setelah looking-looking, aku melihat beberapa buku yang memang sudah ingin aku beli sejak dulu, hanya saja selalu batal karena mempertimbangkan kantong. Allahuakbar, ternyata, pengorbananku menyisakan rezeki untuk menyenangkan ibu dan adik-adikku langsung dibalas. Aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Gratis. Ngga pake beli. Oh Allah, sungguh janji-Mu memang selalu benar. Karena jeda libur lebaran, jadi hadiahnya kuterima di bulan Syawal, 26 Agustus 2013.

P757

…: bukber Hamaasah :…
Sebagai anggota Yisc (walaupun sekarang mungkin sudah disebut alumni), aku merasa “berdosa” karena jarang mengikuti acara-acara yang diadakan selama ini. Makanya waktu Allah memberiku kesempatan untuk menghadiri acara bukber dan sahur bareng angkatanku di Yisc (Hamaasah), aku merasa sangat bahagia. Bagaimana tidak bahagia kalau aku dikelilingi oleh teman-teman satu visi misi yang senantiasa gemar menyebar kebaikan? Bersama mereka, aku tak khawatir akan terjerumus. Bersama mereka aku merasa dijaga.

Acara ini diadakan hari Sabtu, 20 Juli 2013. Tadinya aku tidak ikut karena ada jadwal brevet. Tapi sehari sebelum hari H, aku diberi tahu kalau brevet hanya akan ada 1 sesi. Alhasil, dengan mendadak, aku mempersiapkan segala sesuatu untuk ikut bukber+saber ini. Dan karena ada sesi tukeran kado, akhirnya aku hanya mencari kado di Indomaret Pondok Cina saat aku berangkat brevet. Sebuah handuk dan sebuah notes warna merah aku pilih untuk dijadikan kado. Terlihat dari label, harganya tak lebih dari 20.000, tapi sudah melebihi harga minimal yang ditetapkan.

Namun, ternyata aku salah lihat. Harganya menjadi lebih dari 20.000. Sempat ragu, apa sebaiknya aku kembalikan notesnya, tapi ya sudahlah, dengan berpikir “berikan yang terbaik”, maka kurelakan saja benda itu. Dan tebak apa yang kudapat dari hasil pertukaran kado itu? Sebuah kado yang sederhana, tapi berguna dan tidak membuat kecewa, karena sesuai dengan jiwa menulisku. Aku ditakdirkan mendapat sebuah agenda kumplit dengan pulpennya. Wow. Mungkin ini adalah contoh real dari pepatah “Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai”. Hadiahku sendiri berlabuh pada temanku yang ternyata girang luar biasa dengan hadiah yang diterima. Dia memang sedang butuh handuk, suka menulis, dan suka warna merah. Benar-benar kombinasi yang serasi. Dan melihatnya gembira, hatiku pun ikut bersorak. Alhamdulillah, niatku berbuah manis.

Tukeran kado

Beberapa kendala teknis sedikit mengubah rencana. Pembagian nasi bungkus di stasiun batal karena hujan tercurah begitu lebat. Miscom dengan pihak catering membuat kita-kita akhirnya terpaksa “hanya” makan nasi padang. Tapi, aku menikmati setiap kebersamaan bersama teman-temanku ini. interaksi yang wajar antar lawan jenis, sholat berjamaah, sholat lail, tausiyah, semua terasa begitu berkah. Ya Robb, jangan biarkan aku terlempar dari lingkaran kebaikan ini. Teguhkan aku pada ukhuwah di atas agama-Mu ini. Sambungkan terus silaturahimku dengan mereka, karena sejauh ini, atas washilah merekalah aku tetap terjaga.

BukBer Hamaasah

Yang baik? Ya yang halal. *Beware!!!*


Diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda -Nu’man menunjukkan kedua jarinya ke kedua telingannya-:

‘Sesungguhnya sesuatu yang halal itu sudah jelas, dan sesuatu yang haram itu sudah jelas, di antara keduanya terdapat sesuatu yang samar tidak diketahui oleh kebanyakan orang.

Siapa yang mencegah dirinya dari yang samar maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam hal yang samar itu berarti ia telah jatuh dalam haram.

Seperti seorang penggembala yang menggembala hewan ternaknya di sekitar daerah terlarang, dikhawatirkan lambat laun akan masuk ke dalamnya.

Ketauhilah, setiap raja memiliki area larangan, dan area larangan Allah adalah apa-apa yang telah diharamkannya.

Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging, bila ia baik maka akan baik seluruh tubuh. Namun bila ia rusak maka akan rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah ia adalah hati.’

” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tentang halal haram suatu produk, sebelumnya aku tidak pernah terlalu serius memikirkannya. Sampai sebuah diskusi menarik di group whatsapp Yisc mengusik perhatianku.

***

Fakta miris.

Jadi dalam rangka peduli halal-haram, beberapa kawan yang tergabung di organisasi Yisc berinisiatif untuk mengadakan sebuah kegiatan dengan tajuk “Wisata Kuliner Halal”, dimana terdapat beberapa orang yang meninjau langsung ke restoran-restoran untuk mengidentifikasi kehalalan produk mereka dengan mengundang koordinator Halal Watch, Pak Rahmat, untuk menjadi guide.

Kali ini, mereka mampir ke salah satu resto terkenal di Jakarta: Burger King.

Daannn ternyata oh ternyataaa… Burger King teh belum mengantongi sertifikasi halal dari MUI.

Tapi bukan berarti produk mereka tidak halal lho, karena berdasarkan inspeksi kemarin, udah banyak kok syarat yang dipenuhi, apalagi Burger King di Malaysia dan Singapura udah pegang sertifikat halalnya. Jadi sebenarnya tinggal kemauan manajemennya aja.

Lalu, iseng-iseng (ngga iseng juga sih sebenernya, dengan penuh niat :mrgreen:), ku coba cari informasi tentang resto-resto bersertifikasi halal.

Dan aku menemukan fakta mengejutkan. Di mall-mall besar, dari sekian puluh resto, hanya ada sedikiiiit sekali, sangat sedikit, yang telah mempunyai sertifikasi halal. Contohnya di Pondok Indah Mall I. Dari 65 resto, hanya 5 resto yang bersertifikat halal, yakni Bakmi GM, KFC, Hoka Hoka Bento, Pizza Hut dan Platinum Restoran.

WoW, “keren” ngga sih?? 😀 Bayangkan, di negeri mayoritas Muslim, kehalalan masih menjadi pertanyaan. Miris!!

Pak Rahmat menjelaskan bahwa yang menyebabkan rancunya status halal-haram suatu produk -terutama pangan- salah satunya adalah perkembangan teknologi dalam pengolahan makanan/minuman. Teknologi-teknologi itu yang menyebabkan banyak produk yang sewajarnya halal jadi bisa jadi haram.

Coba dech, pernah ngga sih kita mikir, kenapa air minum kemasan itu perlu sertifikat halal?

Kalau aku sih ngga pernah kepikiran tuh, hehe.. Tapi pertanyaan itu terbersit di pikiran Pak Rahmat yang kritis ini.

Bayangin, air putih gitu lho??!!! Apa yg bisa salah? Diambilnya langsung dari alam, ngga perlu disembelih pakai nama Allah, pengolahan juga ngga neko-neko. Lalu, dimana potensi ketidakhalalannya??

Jadi ternyata begini penjelasannya, air minum kemasan itu kan pakai teknologi penyaringan, nah, salah satu zat yang sering dipakai yaitu karbon aktif, yang umumnya dibuat dari tulang hewan. Bisa jadi, tulang yang digunakan adalah dari babi, apalagi harga-harga yang berbahan babi umumnya lebih murah. Maka dari itu air minum kemasan pun perlu diwaspadai, dan pilihlah yg ada logo Halalnya.

Dan tahukah temans?? Terigu dan gula juga ada yang tidak halal lho. Kenapa? Karena sekarang terigu dan gula banyak yang memakai pemutih. Di pemutih ini ada yang dibuat dari enzym, yang lagi-lagi lebih murah bila berasal dari babi.

Phhffuiiiff….

 

Pentingnya status halal.

Ah, ribet banget sih? Mau makan aja kok repot! Mau makan ya makan aja lah. Yang penting baca bismillah. Urusan halal-haram, tanggung jawab produsennya.

Mungkin ada yang berpikir gitu kali ya setelah aku utarakan fakta yang ada.

Eh tapi status “HALAL” itu penting lho kawan. Sepenting status HALAL bagi sepasang adam dan hawa #eh 😆

Ini kaitannya dengan nyawa!! Hehehe.. Bukan deng, ngga nyawa juga sih, tapi lebih ke keberlangsungan hidup manusia di dunia. (sama aja ya? 😛 )

Jadi, percaya atau engga (harus percaya!!), makanan halal yang kita konsumsi itu berpengaruh pada kualitas kehidupan kita.

Simak aja hadist-hadist berikut:

Suatu ketika seorang sahabat yang bernama Sa’ad bertanya kepada Rasulullah saw, bagaimana caranya agar doanya mustajab (diijabah oleh Allah). Jawab Rasul,

‘doamu” (HR Ath-Thabrani).

 

Nabi SAW pernah mengisahkan seorang musafir lusuh yang mengangkat tangannya ke langit sambil berdoa,

”Wahai Tuhan, Wahai Tuhan (perkenankan doaku)” tapi makanan yang dimakannya haram, minumnya haram, pakaian yang dikenakannya haram, diberi makan yang haram.

‘Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?” ujar Nabi (HR Muslim dari Abu Hurairah).

 

Rasulullah SAW juga pernah berwasiat kepada shahabat bernama Sa’id ra:

”Duhai Sa’id, perbaikilah makananmu, niscaya kamu akan menjadi orang yang terkabul doanya.

Demi Allah yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya, sungguh orang yang memasukkan sesuap makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal kebajikannya selama empat puluh hari

(HR Thabrani).

 

😯

Jadi kawan, coba introspeksi hidupmu sekarang,

Adakah doa yang terus kau panjatkan tak pernah berbuah??

Seringkah merasa malas menjalankan ibadah??

Atau, telitilah, hidup yang kau jalani sekarang, bahagiakah??

Mungkin salah satu penyebabnya adalah unsur tidak halal yang secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, masuk ke tubuh kita, mengalir dalam darah kita, dan menyatu dalam jiwa kita.

Hiiyy… ngeri yaa… coba pikir dech, gara-gara makanan haram yang masuk ke tubuh kita, doa kita sulit diijabah.

DOA kita!!!! Iya, DOA!!!

Doa, yang menjadi kekuatan kamu muslimin.

Doa, yang begitu banyak orang merasakan keajaibannya.

Doa, yang jadi jawaban saat tak ada solusi lain dari masalah yang dihadapi.

Lalu, kalau doa saja sudah tidak diijabah, kita bisa apa????!!!

Jadi, sekali lagi kubilang, status HALAL itu penting!!! Sepenting status HALAL bagi sepasang adam dan hawa. :mrgreen:

”Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya.” QS. Al-Maidah: 88

 

Lalu, bagaimana???

Tentang banyaknya resto belum bersertifikasi halal ini memang membuat resah kaum muslim di Indonesia.

Menurut Pak Rahmat, sebenarnya yang bikin ribet ya orang-orang kita sendiri, para produsen itu. Udah tahu mereka berkiprah di negara mayoritas muslim, tapi mereka malah lebih mengejar profit. Udah tahu haram, tapi ngga diumumin juga.

Pak Rahmat sendiri merasa lebih aman makan di Singapura karena jelas yang mana yang haram, yang mana yang halal. Selain mereka juga punya lembaga sertifikasi halal, para pedagang/pemilik resto disana pun tidak mau menjual produk haram ke umat muslim. Misalkan mereka melihat ada ciri-ciri identik Islam di pembelinya (jilbab, janggut,dll), mereka akan memberitahukan kalau ada dari produk mereka yang tidak halal.

Hhhh… Sedih ya, di Indonesia ini seakan banyak musang berbulu domba. Menghancurkan kaumnya sendiri demi kepentingan pribadi.

Tapi disitulah letak perjuangannya, kita dituntut untuk beware dan mengusahakan kehalalan di Negeri kita tercinta ini.

Untuk menyikapi masalah ini, disebutkan paling tidak ada 3 cara:

  1. Memperbanyak individu yang sadar akan pentingnya keHALALan dan tahu banyak produk yang berpotensi tidak halal (contohnya ya dengan memposting informasinya di blog kayak gini :mrgreen: )
  2. Bagi yang sudah tahu, mulai kritis, tanya-tanya setiap mau makan dimana aja tentang status halalnya, atau cari tahu dari rekan-rekan yang lain (bisa juga dengan ikutan program wisata kulinernya Halal Watch atau milis HBE, Halal-Berkah-Enak)
  3. Edukasi tentang pengurusan sertifikat halal (yang sebenarnya tidak ribet), juga edukasi tentang substitusi barang haram (misal boraks di bakso, rhum pada cake)

Masih menurut Pak Rachmat, ada sejumlah resto yang memajang label halal, padahal belum memiliki sertifikat halal. Motifnya, ada yang memang tidak tahu, ada yang tidak mau tahu, dan ada pula yang pura-pura tidak tahu. Padahal, kebohongan publik tentang kualitas produk pangan itu melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan UU Pangan yang sanksi-nya berat (entah seberat apa karena aku malas baca UU, hehe).

Weleh, yang majang sertifikasi halal aja belum tentu benar ya. Berarti memang harus hati-hati sekali menjaga hati memilih resto.

***

Hmm… mengetahui fakta yang ada membuatku merasa sangat bersyukur. Bersyukur karena aku dilahirkan di keluarga yang cinta masakan sendiri (baca: menengah ke bawah) yang saking selektifnya (baca: ngirit), membuat kami jarang bahkan enggan makan di luar/di resto. :mrgreen:

Tapi lalu kemudian pemikiranku melebar.

Apakah masakan yang diolah sendiri itu terjamin kehalalannya? Apakah ayam yang dibeli di pasar/warung-warung itu disembelih dengan menyebut nama Alloh? Bagaimana bila bungkus plastiknya mengandung unsur babi? Pisaunya? Pancinya? (eh, mungkin ngga sih??)

Lalu, Bagaimana bila ternyata beberapa bumbu dapur diperoleh dengan “nilep”? Bagaimana bila uang yang digunakan untuk membeli makanan ternyata hasil korupsi?

Toh yang halal itu ngga cuma melulu soal makanan kaan. Barang halal yang diperoleh dengan cara haram kan juga termasuk haram.

Haizz.. Kok makin lama makin pusing yaaa…

Tapi yaaaa…. mengusahakan kehalalan adalah jauh lebih baik daripada tidak. Walaupun kita tidak bisa menjamin seluruh dzat yang masuk ke tubuh kita pure halal, setidaknya Alloh melihat dan menilai usaha kita. Bukan begitu??!!

***

Kesimpulan:

Produk halal adalah harga mati buat umat Islam. Setiap muslim, wajib mencari pangan (makanan-minuman) yang halal dan baik.

Sebab, kualitas pangan berpengaruh secara spiritual, fisik maupun kejiwaan terhadap orang yang mengonsumsinya.

Dengan makanan yang halal, hidup akan menjadi berkah, selamat di dunia dan akhirat.

 

Untuk melihat resto-resto mana yang halal, bisa di tilik disini: http://produk.halal.or.id/?p=170

Sumber:

http://www.facebook.com/notes/oktina-fitrianti-sunaryo/be-a-halal-auditor-yourself/10150738513612491

http://www.majalahgontor.net/index.php?option=com_content&view=article&id=438:makanan-halal-dan-haram-dalam-islam&catid=53:hadits&Itemid=110

http://muslimdaily.net/berita/lepas/halal-watch-gelar-wisata-kuliner-jadi-tahu-resto-tak-halal.html#.UXdNs0pu8SE

http://pusathalal.com/kuliner-halal-2/wisata-kuliner-halal/wisata-kuliner-halalsub/924-di-pim-1-hanya-ada-5-resto-yang-bersertifikat-halal