Catatan Kopdar (kedua)


Catatan Kopdar (pertama)

Melihat aku datang sendirian, langsung saja Om Lambang mewawancarai aku, “Metanya mana?”. Ah iya ya, kan pada belom tahu kalau meta ngga jadi datang. Duuhh..bingung jawabnya. Belakangan, pertanyaan itu juga dilontarkan oleh kak Nita.

Pertanyaan selanjutnya yang ditanyakan oleh Om Lambang dan Kak Nita adalah, “Kenal meta dimana?”. Nah lho!!! Makin bingung aku jawabnya. Metanichaaaannn..ni gara2 kamu ngga dateng nih!! Tanggung jawab!!

Tapi sih ya, sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu simple. “Ngurusin anak” dan “Sama-sama penumpang Deborah”. Tapi ngga tau kenapa waktu itu aku blingsatan dan jadi ngga fokus pada jawaban. Mungkin karena emang tipe ribet. Hehe.. 😛

-Kesan pertama-

Pertama melihat Om Lambang, aku udah ngga terlalu kaget. Sedikit banyak sudah tergambar di avatar. Tapi aku kaget pas tau beliau datang sendiri. Huaaa…kiky nya manaaa??? 😦 padahal udah ngebayangin ketemu sama kiky dan bundanya yang sekaligus berperan sebagai the champion makernya Om Lambang. 😀

Ngomong-ngomong, ada satu pernyataannya yang bikin aku terbengong-bengong. “Saya dulu waktu pertama kali nulis, sehari ngga kelar-kelar. Salah mulu”. Hah?? *melongo* masa’ iya?? Hmm.. Ternyata memang setiap orang ngga sama ya. Menulis yang untukku biasa ternyata bisa begitu berat untuk orang lain.

Sedang Pak Nahar, baru kukenal saat itu. Aku belum tahu banyak karena memang belum follow blognya. Di acara kopdar ini pun beliau tidak terlalu banyak bicara. Tapi seperti Dyah dan Mira, beliau juga pindahan dari multiply.

kika: Om Lambang, Pak Nahar

Kemudian Mira, aku juga tidak terlalu kaget saat melihatnya. Sungguh muslimah sejati yang begitu tangguh. Mandiri dan berani. Bayangkan saja, naik motor sendiri dari mampang-tangerang untuk jemput Dyah. Lalu ke atrium senen dan pulangnya langsung tancap gas menghadiri kajian. WoW. Ruaaarrr biasa. *membandingkan dengan diri sendiri yang baru ke atrium aja udah ketakutan dan cemas ngga jelas*. Muslimah seperti ini lah yang ibuku harapkan dariku, yang mana sampai sekarang aku belum bisa mewujudkannya. 😦

Eh, dia juga punya satu pertanyaan yang menghentak aku lho “Utie, nomer pinnya berapa?”. Huwaaaa…ngga punya bebeeeee.. *nangis raung-raung sampil nyakar-nyakar muka* 😛

kika: Mira, Kak Nita

Kalau Dyah, walaupun baru kali ini bertemu muka, tapi sebelumnya aku sudah berkomunikasi via sms. Jadi tak begitu asing. Entah kenapa kita seperti sahabat lama yang baru dipertemukan lagi. Mungkin karena pembawaannya yang riang, cerewet, supel, dan mudah bergaul kali ya. Aku juga langsung kecipratan energi positifnya dan ikutan bawel. Atau mungkin juga karena aku dan dia punya persamaan: pengen cepet-cepet nikah. Haha.. 😆

kika: Putri, Dyah

Pertama melihat, justru dia yang kaget.

“Mba utie?? Kok beda sih sama yang di foto?”.

Hmm?? Aku heran dengan pernyataan perdananya itu.

“Beda apanya? Perasaan aku sering masang foto di blog dech”. Waktu itu aku pikir wajahku yang kelihatan berbeda.

“Yaa..beda aja pokoknya” Dyah tetep keukeuh dengan argumentnya.

Tapi setelah aku tau dia membandingkan penampilan aku dengan foto disini, barulah aku paham. Jleb. Yah, benar Dyah. Inilah aku. Aku tidah tau aslinya yang mana. Sepertinya sih dua-duanya asli. 😆 Bisa dibilang foto itu versi alimnya. Aku memang belum bisa sepertimu ataupun Mira. Huhuhu. *nangis tersedu-sedu*.

kika: Putri, Dyah, Mira, Kak Nita

Terakhir, Kak Nita. Dia datang belakangan. Berjalan begitu anggunnya mendekati meja kami. Whooohh.. Ternyata Bu Dokter ini bener-bener kurus yaa. Lebih kurus dari aku kah?? *terkesima sendiri*. Kak Nita juga ngga terlalu banyak bicara. Stay cool. Karena posisi duduknya berjauhan, aku tidak bisa ngobrol banyak saat itu, dan baru bincang-bincang setelah acara bubar.

Eits, masih ada lanjutannya lho. Tunggu catatan kopdar episode terakhir yaaaa… 😉

Catatan Kopdar (pertama)


Seminggu sudah hari berlalu setelah kopdar, tapi baru sekarang aku sempet bikin laporannya. Maaf ya teman-teman.. ^-^

Hmm.. Aku ceritakan dari awal, boleh yaa.. Agak panjang memang, semoga tidak bosan bacanya.. 🙂

Suatu hari di akhir tahun 2012 , Dyah, kawan blogger asal gresik mengirimiku email, menanyakan kemungkinan bertemu di Jakarta. Ternyata dia ingin menghadiri resepsi sahabatnya di tangerang. Dan ternyata lagi, dia pun udah janjian sama Mira. Karena sebelumnya aku sudah berkenalan via blog dengan Mira, jadi ya aku makin antusias menghadirinya.

Di awal tahun ini, aku kemudian menanyakan kepastiannya. Dan ya, dia jadi ke Jakarta. Tanpa kusangka, ternyata Om Lambang juga termasuk dalam list bakal calon peserta kopdar 😀 (hmm.. jadi curiga, sepertinya Dyah sudah mengenal Om Lambang sebelumnya, ada apakah gerangan?? Haha.. :P)

Lalu, kuajaklah partner dunia nyataku, Meta. Dia mengusulkan mengajak yang lain juga. Maka jadilah post ajakan kopdar ini. Koar sana koar sini, ternyata banyak yang ngga bisa hadir. Jadi yasudahlah, apa adanya saja.

Tapi dua hari sebelum hari H kopdar, Meta yang awalnya berniat ikut, mulai menyuarakan keraguannya dan pada akhirnya membatalkan untuk ikut. Single mommy ini mengkhawatirkan anaknya kalau ditinggal pergi.

Waaahh.. kecewa doonk, secara temen blogger satu lokasi kan cuma dia. Itu bikin aq ragu juga untuk ikut. Masalahnya, pilihan tempatnya di atrium senen. Aku agak takut kalau pergi sendiri. Apalagi ke tempat yang jarang kukunjungi. Udah gitu, transportasi depok-senen itu lumayan ribet.

Pengen ngga hadir, tapi kan aku yang bikin postingannya, aku yang ngajakin. Masa yang ngajakin malah ngga hadir?? Lagipula, ngga mau juga bikin Dyah dan Mira kecewa. Tapi males pergi sendiri. Akhirnya kubiarkanlah menggantung, belum kuputuskan akan hadir atau engga.

Malam sebelum harinya, aku cerita sama ibu tentang rencana kopdar itu. Eehh.. Ternyata ibu langsung ngasih izin tanpa banyak tanya, “Dateng aja mba, kan silaturahim”. Wew. Padahal tadinya aku pikir bakal setengah hati ngizininnya, secara ibu tuh maunya anaknya ngga ngayap mulu, hehehe..

Dapet lampu hijau dari ibu, semangatku langsung menyala. Biarlah aku berangkat sendiri, walau ngga tau nanti kesana transportasinya gimana, walau mungkin akan nyasar dan nanya sini sana, tapi dengan bekal restu dari mommy, aku yakin semua akan baik-baik saja. #tsaah 😀

Malam itu juga aku PM kak Nita via twitter, minta nomer hp biar gampang janjiannya. (sebenernya waktu itu aku ngga tau apakah kak nita mau datang/engga, soalnya di mention di twitter, ngga ada jawaban pasti “iya, hadir”, jadi sok-sokan aja, anggep aja kak nita mau ikut, dan bener kan akhirnya datang 😀 )

Bismillah, aku berangkat dengan hati tenang yang dibuat-buat. Ngeliat di terminal, ngga ada bis langsung Depok-Senen. Jadilah aku jalan ke stasiun Depok Baru. Beli tiket arah Tanah Abang. Tapi katanya, kereta baru akan datang kurang lebih setengah jam kemudian. Ya sudahlah, ku tunggu saja dengan sabar. Dan katanya lagi, kereta itu ngga berhenti di stasiun pasar senen. Kalau mau, turun di stasiun sebelumnya atau sesudahnya. Nah lho!! Mulailah aku dibuat bingung. Tau gitu aku naik busway aja dari Blok-M.

Bingung mau tanya siapa. Tiba-tiba teringat teman yang tinggal di Tanah Abang. Aku disarankan turun di stasiun Tanah Abang aja dan naik bis mayasari 507 (kalau ngga salah ingat). Karena track record temanku yang ngga pernah boongin aku itu, maka kuturutilah instruksinya dengan seksama. Dan akhirnya, jam setengah 4, sampailah aku di Atrium. Yeay.. J

Tapi lagi-lagi aku sedikit panik. Sudah kubilang aku tidak suka Mall, apalagi Mall besar. Atrium ini kan cukup besar. Bisa-bisa nyasar di dalem. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Harus kuhadapi.

Tempat janjiannya adalah Warung Tekko. Dan kata Dyah, Pak Sarib alias Om Lambang sudah menunggu disana. Dyah sendiri masih dalam perjalanan dengan Mira. Karena sudah masuk waktu Ashar, aku berniat untuk sholat dulu sebelum mencari tempat janjian, Warung Tekko. Untuk sampai ke Mushollanya saja aku harus berkali-kali tanya security. Hhh.. biarlah, muka tembok dikit.

Dyah dan Mira sampai di Warung Tekko tak lama setelah aku selesai sholat. Bergegaslah aku keliling-keliling mencari ‘warung yang jual teko’ itu. 😛 Awalnya aku khawatir akan susah mencari mereka, karena mataku kan minus, ngga jelas lihat jauh. Mau pake kacamata juga males.

Tapi ternyata, setelah masuk ke warung itu, hanya ada 1 meja yang terisi. Dilihat dari cirri-cirinya pun sepertinya merekalah yang aku tuju. Dan benar. Alhamdulillah, kesampaian juga aku bertemu mereka. Disana sudah ada Om Lambang, Dyah, Mira, dan Pak Nahar. Pak Nahar ini belum aku kenal sebelumnya, blognya pun ngga tau yang mana. Tapi belakangan, akhirnya kutemukan juga blognya. 😀

Tak lama kemudian, si Bu Dokter gigi alias kak Nita akhirnya pun datang. Dan lengkaplah kita. Acara kopdar kali ini dihadiri oleh kita ber-6.

Tentang kesan pertama?? Sampai bertemu di episode selanjutnya ya. 😉