Wanita Rumahan atau Wanita Perusahaan, sebuah pilihan


Mendukung eman-si-sapi bukan berarti mengabaikan kodratnya wanita sebagai manager di rumah lho yaa…

Dan walaupun menurutku pepatah jaman dulu “perempuan itu ujung-ujungnya di kasur, di sumur, dan di dapur” itu benar, juga bukan berarti jadi perempuan tidak perlu pintar.

Pernyataan “percuma sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma ngurusin rumah doank” itu menurutku mutlak salah.

Tak ada yang percuma dalam menuntut ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu itu hukumnya WAJIB, bagi setiap laki-laki dan perempuan, dari mulai buaian sampai ke liang lahat. Jadi, ngga ada ceritanya yang namanya cewe itu ga boleh sekolah/kuliah tinggi-tinggi.

Namun, banyak orang (baca: wanita) berpikir bahwa memanfaatkan ilmu yang didapatkan dari sekolah atau kuliahnya hanya bisa dilakukan dengan menjadi wanita karir.

Banyak pula orang yang menganggap menjadi wanita perusahaan (baca: wanita karir) lebih “WAH” dibanding “HANYA” menjadi wanita rumahan (baca: ibu rumah tangga).

Namun, tidak begitu menurutku. Dalam pandanganku, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga biasa adalah justru sangat luar biasa.

Wanita karir hanya dituntut melakukan pekerjaan yang sesuai bidangnya. Itu-ituuuu saja. Kalaupun naik posisi, hanya menambah beban tanggung jawab dengan tetap pada fokus pekerjaan yang itu. Jam kerjanya pun tetap.

Lain halnya dengan wanita rumahan. Ia dituntut menjadi Manager di segala bidang dalam perusahaan kecilnya, di setiap waktu dalam nafasnya. Dan seorang Manager tentu sangat butuh banyak ilmu yang bisa diaplikasikannya.

Bayangkan, seorang wanita rumahan itu harus terampil dalam banyak hal, diantaranya:

  • Mengatur keuangan dan belanja rumah tangga
  • Memilah-milah barang bermutu dengan harga bersaing
  • Memasak
  • Membersihkan rumah dan pakaian seluruh anggota keluarga
  • Menjalin hubungan baik dg tetangga dan sanak saudara
  • Menjaga keharmonisan keluarga
  • Mendidik anak
  • Mengurus administrasi kemasyarakatan
  • Menjaga kesehatan keluarga
  • Menjaga keimanan dalam keluarga
  • Dan lainnya…

Kalau diumpamakan di sebuah perusahaan, maka wanita rumahan punya peran sangat penting dalam setiap lini pekerjaan. Dari mulai cleaning service sampai direktur eksekutif. Ia harus bisa menjadi seorang “cleaning service + office girl + security + legal + HRD + sekretaris + akunting-finance” yang baik. Selain itu, ia juga diutamakan menguasai ilmu segala profesi. Koki, guru, ustadzah, psikolog, dokter, desainer, kurir, bahkan tukang kebun.

Dari mulai kerja kasar dengan menggunakan tenaga, sampai kerja hati yang menggunakan perasaan. Hey, jangan dipikir mencuci baju itu pekerjaan mudah. Butuh tenaga kuli untuk bisa mendapatkan kebersihan yang maksimal. Dan jangan dipikir pula mendidik anak itu mudah. Makan hati adalah salah satu hal yang sudah biasa dialami oleh seorang ibu. Butuh kesabaran extra untuk menjalaninya.

Menurutku, tak cukup hanya sekedar gelar S-3 untuk bisa mengemban tugas-tugas mulia itu. Butuh beragam ilmu aplikatif. Itulah pentingnya menjadi wanita pintar yang cerdas. Karenanya, dibanding disuruh kuliah tinggi-tinggi, aku lebih suka mengikuti kursus masak, kursus jahit, mempelajari ilmu psikologi, belajar agama, dan ilmu lainnya yang bisa langsung dipraktekan di perusahaan kecilku (baca: keluarga). Dalam Islam pun, seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Maka ia pun harus punya banyak ilmu kebaikan untuk ditransfer kepada anak-anaknya.

Seorang wanita rumahan dengan peran ganda (seorang istri dan ibu) seolah bak superhero yang bisa berubah jadi apapun untuk menjaga keberlangsungan hidup keluarganya. Ia pun berperan untuk mensupport perjuangan suaminya.

Dan di tengah keletihan yang tak berujung, pekerjaan yang tak ada habis-habisnya, seorang wanita harus tetap bisa senantiasa menunjukkan wajah cerianya, senyum termanisnya di depan sang suami dan anak-anaknya.

Oh well, katakan padaku, adakah yang lebih luar biasa dari peran seorang wanita dalam rumah tangganya?!

Tapi tetap, itu semua adalah menurutku. Entah bagaimana menurutmu.

Menjadi wanita rumahan atau wanita perusahaan, itu sebuah pilihan. Dan aku lebih memilih menjadi wanita rumahan di perusahaan miniku, menjadi ibu rumah tangga biasa yang luar biasa.

Bagaimana dengan pilihanmu?? 😉

LTQ Ahlul Qur’an & Lisani


Di deket rumahku baru dibuka LTQ Ahlul Qur’an sama Lisani. LTQ adalah Lembaga Tahsin-tahfizh Qur’an sedangkan Lisani adalah pusat pembelajaran bahasa arab. Senangnya hatiku, akhirnya aku bisa mempelajari Al-qur’an dan bahasanya tanpa harus pergi jauh. Kesempatan yang tidak akan aku sia-siakan. Akhirnya aku dan “kembaran” aku mendaftar LTQ dan Lisani, sedangkan “Si kembar kecil” didaftarkan program tahfizhnya saja.

Untuk yang anak kecil, pembelajarannya setiap hari senin-kamis ba’da maghrib, untuk yang dewasa hari sabtu-minggu. Agak berat sebenarnya, karena aku harus mengorbankan kunjungan rutinku ke Al-Azhar tercinta,mungkin aku akan jarang kesana, padahal selama ini disitulah tempat aku men-charge energi positifku. Sedih sebenarnya. 😦

Kemarin, Sabtu tanggal 6 Oktober, ada tes penempatan untuk kelas tahfizh. Dan hari ini ada kuliah perdana, di pusat LTQ Ahlul Qur’an, di Markaz Ahlul Qur”an, Jl.KH.M. Usman Nn. 1 03 Kukusan, Beji, Depok. Rutenya, naik 04 (angkot biru arah beji) sampai perumahan muslim permata darussalam.

LTQ Ahlul Qur’an-Perdana

Acara dimulai dengan sambutan dari pendiri LTQ, kemudian pembacaan juz 30 tanpa Qur’an oleh santri LTQ sebelumnya dan setelahnya di test oleh beberapa peserta. Peserta membacakan salah satu potongan ayat antara juz 30 n 29, dan kemudian santri tersebut melanjutkan. Ada juga yang meminta untuk membacakan potongan ayat yang sebelumnya. Semua pertanyaan berhasil dijawab dengan benar. Luar biasa adik-adik kecil itu. Acara dilanjutkan dengan tausiyah dengan tema “bersahabat dengan Al-Qur’an”. Selesai tausiyah, sholat dhuhur kemudian pulang. Aku harus mempersiapkan energiku untuk belajar perdana bhs arab nanti sore.

Kelas bahasa arab pertama. Tidak banyak yang datang. Pengajarnya bernama Ust. Zainal Arifin. Melihat sosoknya, aku jadi kangen sama Ust Helmi, pengajar bhs arab ku di AA setahun yang lalu. Tadinya aku beranggapan, tidak akan semenyenangkan seperti waktu dengan Ust. Helmi, namun entah karena memang semangat belajarku yang sedang menggebu-gebu, atau memang karena cara mengajarnya, aku menikmati moment-moment belajar ini. Dan tak terasa sudah satu setengah jam. Pembelajaran harus berakhir, padahal aku masih ingin berlanjut. 😦

Tapi tak apa, aku berharap, ini bisa menjadi awal yang baik untuk resolusiku. Dan untuk perubahanku menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Bukankah menuntut itu wajib hukumnya bagi muslim dari buaian hingga liang lahat? Jadi, Bismillah, Ya Alloh, ringankanlah langkahku menuntut ilmu, mudahkanlah jalanku. Aamiin.

Minggu, 7 Oktober 2012