Jodoh Dunia Akhirat


Assalamu’alaikum Ghea
Waktu dan cuaca berubah
Tapi, keyakinan dalam hatiku tidak
Dia, terus tumbuh setiap hari tersiram doa
Keyakinan ini menguatkanku untuk terus memantaskan diri
Demi terwujudnya sebuah impian
Mimpi yang dulu sempat aku lepaskan
Mimpi tentang seseorang yang akan menjadi penyempurna agamaku di masa depan
Doa-doaku setiap malam memohon pada Allah untuk menunjukkan
Dan aku, aku tetap melihatmu, ada di masa depanku
Kamu, tetap menjadi impianku
Ghea, apakah kamu bersedia menjadi penyempurna agamaku?


Jodoh Dunia Akhirat
oleh: Kang Abay

Kumerayu pada Allah yang tahu isi hatiku
dimalam hening aku selalu mengadu
Tunjukan padaku…

Kuaktifkan radarku mencari sosok yang dinanti
Kuikhlaskan pengharapanku dihati
Siapa dirimu…

Dalam kesabaran kumelangkah menjemputmu
Cinta dalam hati akan aku jaga hingga
Allah persatukan kita….

Reff :
Jodoh Dunia Akhirat
Namamu rahasia
Tapi kau ada dimasa depanku

Kusebut dalam doa
Kuikhlaskan rinduku
Kita bersama melangkah ke surga, abadi…

“Bukan cinta yang memilihmu, tapi Allah yang memilihmu…Untuk kucintai…”

Download Jodoh Dunia Akhirat

Mereka adikku =^^=


Kalau banggain diri sendiri kayaknya udah sering ya kupost disini. Naah, kali ini mau berbangga atas prestasi adikku nih.

Minggu, 7 April 2013 (ketauan dech draft post udah lama :P)

Di Masjid tempat aku belajar tahsin-tahfizh, LTQ namanya, diadakan Majlis Qur’an. Daaaan, adikku (yang memang sudah hampir hafal seluruh juz 30) diberi kepercayaan untuk tampil membawakan salah satu surat dalam Juz 30 tanpa membaca Al-qur’an. Uci (7) kebagian surat ‘Abasa, Dika (5) kebagian surat An-Naziat.

Tadinya aku yang deg deg an gitu. Secara mereka kan jarang banget tampil di depan. Khawatir mereka lupa atau jadi speechless saking gugupnya (soalnya mba’nya begitu :P). Tapi kecemasanku lenyap seketika saat melihat mereka tampil dengan tenangnya.

Andhika, duduk bersila dengan gaya cool khas cowo :mrgreen: dan membacakan surat tanpa beban. Tanpa kesalahan!! Sempat heran, karena kalau dilihat ekspresinya, dia seperti ngga mikir, bengong aja gitu ngeliatin orang-orang di depan. Bibirnya kayak bergerak otomatis. Dengan penuh percaya diri, dia menegakkan pandangan ke depan, memegang mix yang kok kayaknya gedean mix-nya daripada adekku :lol:, dan melantunkan surat dengan lantang dan mengalir. Terkejut campur bangga aku melihatnya. Lebih dari apa yang aku harap dia tampilkan. (Sayang saat itu aku tidak terpikir untuk mem-video-kannya).

Sedangkan Uci, dengan suara yang juga tanpa getar, membaca dengan terus memandang pembimbingnya. Lucu melihatnya. Seakan-akan di wajah pembimbingnya itu ada Al-Qur’annya.

Tapi Alhamdulillah, keduanya berhasil melewati tantangan itu dengan baik dan lancar. Salutku pada mereka. Tak nampak ketakutan dan kegugupan di wajah dan sikap mereka.

Apa itu karena mereka masih kecil??

Karena dulu, waktu TK (atau SD?), aku pun pernah ikut lomba MTQ tingkat kotif Depok dan menjadi juara 1. Aku tidak ingat kalau saat itu aku merasa nervous, ketakutan, ngga berani tampil, dan sebagainya. Yang kutahu, aku tampil ya tampil aja. Al-Qur’an yang terpampang di depanku, yang seharusnya kubaca, malah kuabaikan. Mataku jelalatan kemana-mana karena memang surat yang dibaca sudah kuhafal di luar kepala. Mungkin karena waktu itu masih polos dan ngga ngerti apa-apa kali yaa, jadi merasa PD aja, mungkin begitu juga dengan adik-adikku sekarang.

Berarti memang betul kata pepatah (?), semakin besar, semakin tahu, semakin banyak perhitungan, semakin banyak pertimbangan, semakin payah. Karena diriku pun semakin besar malah semakin ngga berani tampil. Suruh aku memberi sambutan di depan 20 orang saja, hampir pasti aku akan kabur dan ngga muncul-muncul lagi. Hahaha… 😆

Hmm.. Menjadi PR bagiku untuk mendidik adikku tidak menjadi penakut sepertiku. Mereka harus dibiasakan sering tampil agar terus berani sampai besar nanti. Bagaimana caranya ya? Ada yang tahu??

Overall, mereka telah membuatku bangga. Sangat bangga. Dan semoga kelak mereka akan terus membuat keluargaku bangga.

Jadi anak sholeh-sholehah ya sayang. Semoga Alloh selalu menjaga kalian. Semoga hafalan Qur’an kalian terus terjaga, meningkat, dan bisa menjadi naungan di akhirat kelak. Aamiin.

Belajar dari sinetron


Untuk bikin postingan yang disini, aku cari-cari videonya di youtube. Pengen cari video klipnya, tapi ngga ada, akhirnya ketemu yang opening sinetronnya, jadi ngga full song dech. Judul sinetronnya Hikmah. Rasanya sih aku belom pernah nonton itu sinetron, karena aku ngga terlalu suka dengan tokoh utamanya.

Dulu, aku memang suka sinetron, tapi lebih ke film yang pemeran utamanya pelajar SMA/mahasiswa dengan tema lope-lopean. Tapi aku kurang suka dengan sinetron yang sedih-sedihan terus. Yang jahat ya licik banget, yang baik tersiksaaaa banget, ngga realistis. Mana ada orang yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat?

Tapi pas nonton videonya, sekelebat aku berfikir. Di sinetron itu kan biasanya tokoh utama tersiksa habis-habisan, dan baru bahagia di endingnya. Aku bisa mendapat pelajaran dari fakta itu, bahwa semua memang akan indah pada waktunya. Semua penderitaan yang dijalani si tokoh utama dengan sabar akan berbuah manis di belakang.

Tak jauh berbeda dengan hidupku sekarang. Semuanya, baik buruknya, besar kecilnya, itu akan berbalas kepada diriku sendiri. Maka jika aku bisa menghadapi segala masalah, rintangan, ujian, cobaan dengan sabar, akan ada reward di belakang.

Itu kalau aku sabar, hanya saja, keseringannya aku tidak sabar. :mrgreen: