Dunia abu-abu


Di tempat kursus, aku berkenalan dengan beberapa teman seprofesi (background acc & fin). Kesempatan itu sedikit banyak kupergunakan untuk sharing.

Ada dua teman yang belakangan selalu duduk di sebelahku, yang satu di perusahaan advokat, satu lagi bergerak di bidang jasa IT dan design animasi. Beberapa minggu yang lalu, kami bertiga terlibat pembicaraan seru. Dikatakan seru karena kami bicara berbisik-bisik. Sebenarnya bukan kami sih, mereka, aku kebagian jadi pendengar saja, karena mereka yang mengalami.

Jadi, kenapa mereka berbicara berbisik? Karena yang mereka bicarakan adalah suap. Ya, suap yang terjadi pada kantor mereka masing-masing. Dikatakannya bahwa untuk sekali suap itu bisa keluar uang sekian puluh juta, dan yang bikin bingung, kode akunnya apa cobaaaa???!!!!.

Jlek. Ngeek!! Aku bengong. Bengong karena dua hal.

Pertama, bengong karena takjub, ternyata suap itu memang ada ya, dia nyata dan kini dekat denganku. Padahal biasanya yang kayak gitu cuma aku tonton di TV, baca di berita, dengar di radio, tapi tak pernah mengalami. 😯

Kedua, bengong karena bingung dengan pertanyaan yang simple namun rumit. Mau ditarok di pos mana suap itu?? Di kuliah sama sekali tidak diajarkan nama perkiraan untuk memposkan suap. 😕

***

Tak bisa kubayangkan bila aku ada di posisi mereka. Hidup tak tenang, rezeki entah halal entah haram, hati resah gelisah. Ah, sungguh tak sanggup dihadapkan pada kondisi seperti itu.

Dan memang dari dulu Alloh selalu baik padaku. Bila aku flashback dan menelusuri kembali jalan hidupku, betapa semua kemudahan-kemudahan dihadapkan padaku. Termasuk dalam urusan pekerjaan. Aku memang hanya punya pengalaman di 2 tempat kerja. Tapi masing-masingnya kujalani sebaik mungkin dan sebersih mungkin.

Walaupun sehari-harinya kerjaanku menghandle uang, untungnya aku ini tipe yang menjunjung tinggi kejujuran dan susah bohong. Dan untungnya lagi, Alloh tidak memposisikan aku pada situasi sulit seperti teman-temanku itu. Kalau berhadapan langsung, mungkin aku bakal ngga kerasan dan segera resign. Iya, saat sistem yang kujalanin tercium ketidakberesan, aku lebih baik keluar dari lingkaran itu. Bukankah bumi Alloh itu luas? Para pimpinan di kantor-kantor itu kan hanya perantara dari rezeki yang memang telah disediakan-Nya.

Mungkin itu pula sebab mengapa ambisi terbesarku saat ini adalah bisa mandiri finansial tanpa harus jadi “babu”. Aku bosan jadi karyawan dan ingin punya karyawan. :mrgreen: Dan semoga kelak aku bisa menjadi pemimpin yang jujur dalam usahanya, sehingga tidak mempersulit karyawan-karyawanku. #aamiin.

Kembali ke pokok permasalahan. Sampai sekarang aku masih terhenyak dengan kenyataan yang kini ada di dekatku. Padahal perusahaan mereka termasuk perusahaan kecil. Tapi warnanya sudah bukan hitam putih lagi. Lantas bagaimana dengan perusahaan besar dan ternama? Aku tak bisa membayangkan bagaimana pekatnya warna abu-abu di dalamnya.

Oh, aku sangat bersyukur tidak berada di dalamnya. Apa gunanya penghasilan tinggi tanpa ridho-Nya mengiringi?? Hidup rasanya hampa.

Jangan dipikir diriku juga bersih dari warna abu-abu. Walaupun bebas dari korupsi uang, namun aku masih lemah dalam hal waktu. Iya,
bisa dibilang aku ikut andil dalam korupsi waktu. Terkadang aku bekerja malas-malasan, terkadang aku telat datang (yang ini mah sering :mrgreen:), terkadang aku mencuri waktu untuk berselancar di dunia maya. 😦

Hmm… Begitu banyak yang harus kuperbaiki dari diriku. Lantas kenapa harus ikut pusing memikirkan orang lain? Lebih baik berkaca dan “dandani” diri. Iya tidak??? 😉

Doa di senin pagi


Senin dan macet, rasanya hampir semua orang di wilayah jabodetabek setuju untuk menyandingkan kedua kata itu. Seperti pagi ini, macetnya lebih parah daripada biasa. Aku sih santai saja, karena di kantorku tidak ada sistem absen atau potong gaji. Hal yang sangat aku syukuri. Alhamdulillah, selama ini Alloh selalu berbaik hati memberikan aku kemudahan-kemudahan.

Setelah ikut mengantar adikku yang sekolah TK, aku menaiki angkot yang sudah menunggu di depan mata. Tidak sepenuhnya menunggu sebenarnya, karena memang macet membuat angkot itu berhenti tepat di depan TK adikku. Begitu duduk, seseorang menyapa dari samping kananku.

“Mba, udah jam berapa sekarang?” seorang adik kecil berambut klimis, kulit kecoklatan bertanya dengan wajah cemas.
Aku melihat jam dalam HP ku sejenak baru kemudian menjawab,
“Jam tujuh lima belas.”
“Jam tujuh lewat lima belas?” kembali dia bertanya untuk meyakinkanku.
“Iya, udah telat ya? Masuk jam berapa?”
“Jam setengah 8, lagi ujian.”
Ah, benar, aku ingat, adikku yang SD pun sedang ujian.

Penasaran, kuwawancarai lagi dia.
“Sekolah dimana?”
“SMP Kasih.”
“Kelas berapa?”
“Kelas 2.”

Sunyi. Aku larut dalam pikiranku dan dia larut dalam kecemasannya. Angkot biru yang membawa kami masih tidak bergerak. Dalam diamku, aku pun merasakan kecemasan yang sama. Kenanganku kembali pada masa lalu saat masih berseragam sekolah. Terbayang bagaimana hati ini berdebar-debar saat angkot yang kutumpangi tak kunjung melaju sedangkan jarum di jam tanganku berlari cepat. Semua materi ujian yang sudah kupelajari pun buyar, tak lagi ku hiraukan. Satu hal yang kupikirkan saat itu adalah apa aku bisa sampai di sekolah tepat waktu atau tidak.

Ya, aku pun pernah mengalami seperti yang dialami bocah bertubuh kecil di sampingku ini. Dan rasa empatiku semakin bertambah, mendorongku untuk melantunkan sebuah doa untuknya. Aku kan sedang shoum, bukankah doa orang yang berpuasa diijabah oleh Alloh? Maka aku pergunakan kesempatan ini untuk berdoa. Ya Alloh, tidak peduli apakah bocah disampingku ini beragama islam atau bukan, tidak peduli apakah bocah ini bangun kesiangan atau tidak, tidak peduli apakah bocah ini termasuk anak baik yang rajin belajar atau sebaliknya, aku mohon, jangan biarkan dia telat, mudahkanlah perjalanannya.

Lalu seketika aku teringat bocah-bocah lain yang saat ini mungkin tengah berpacu dengan waktu pula karena kemacetan masih saja terlihat di kanan kiriku. Teringat pula adik laki-lakiku yang juga kelas 2 SMP di bekasi sana, postur tubuhnya pun bahkan seperti bocah ini. Teringat lagi adik perempuanku yang sedang ujian di SD nya. Dan doaku pun bertambah. Ya Alloh yang Maha Mengabulkan doa, mudahkan perjalanan anak-anak yang sekolah hari ini, termasuk adikku, jangan biarkan mereka telat, dan mudahkan mereka dalam mengerjakan ujiannya.

Melewati pertigaan depok dua, jalanan mulai lancar, bahkan sampai melewati jembatan panus. Aku mulai merasa sedikit lega. Sampai di jalan pemuda, bocah itu baru mengeluarkan suaranya kembali.
“Kiri bang” bergegas dia turun melewatiku.
Hati-hati ya dek, selamat berjuang, semoga sukses. Kata-kata itu hanya terlintas dalam hatiku, tak bernyali kuucapkan.

Aku melihat kembali jarum jam di tanganku. Ah, masih ada tujuh menit sebelum jarum panjang menunjukkan angka 6. Larilah bocah kecil, cepatlah, kamu masih punya waktu. Larilah, semoga Alloh mengabulkan doaku.

Senin, 8 Oktober 2011