Handmade = Barang Langka


Setelah bertahan selama 13 minggu di BEC (Blog English Club), pada akhirnya karena beberapa alasan, aku memilih ‘tumbang’.

Tapi kemudian aku merasa ‘hidup’ kembali setelah dipertemukan dengan CFC. Craftalova Fabric Club. Group FB yang dipelopori oleh Mba Ayu Ovira dari Aceh ini beranggotakan wanita-wanita kece penggiat produk handmade. Gabung di group ini membuatku merasa seakan menemukan tempat asalku kembali. 😀

Namun kali ini aku bukan ingin menceritakan soal CFC karena aku pun baru beberapa bulan bergabung. Aku hanya ingin sharing opiniku tentang produk handmade.

Handmade secara bahasa berarti buatan tangan. Apakah berarti semua benda yang diproduksi dengan tangan manusia adalah handmade? Entahlah. Namun yang terlintas di pikiranku ketika mendengar kata handmade adalah bros, dompet, dan tas dengan model unik yang dibuat langsung dengan tangan/produksi rumahan. Intinya bukan olahan pabrik.

Pertama kali melihat isi group CFC, aku terpana, terkesima, terpesona, dan yang semacamnya. Bagaimana tidak? Setiap harinya ada saja anggota yang share hasil karya amazingnya. Seperti wanita, produk-produk handmade itu mempunyai kecantikannya sendiri yang tidak bosan untuk dipandangi. Mereka begitu berharga (lebay) daaan… mahal. Ya, rata-rata produk handmade dihargai lebih mahal dari produk pasaran. Memang harganya sih tergantung bahan, model, dan tingkat kesulitan. Rata-rata pouch dan dompet bisa dihargai 50.000-150.000 . Untuk tas, bisa sampai 200.000 ke atas.

Sayangnya, beberapa orang belum mampu menghargai tetesan peluh dan cinta yang terangkai dalam setiap produk handmade. Harganya yang mahal membuatnya dibanding-bandingkan dengan produk pabrikan yang memang produksi masal. Ah, mereka hanya tidak merasakan bagaimana perjuangan membentuk helaian-helaian kain menjadi sebuah kreasi cantik dan unik.

Aku tidak bicara mengenai kualitas antara produk handmade dan pabrikan. Banyak juga kok produk pabrikan yang berkualitas dan harganya tidak terlalu mahal. Lalu, apa yang membuat handmade bisa lebih mahal?

Sesuai judul postingan ini, menurutku, handmade itu seperti barang langka. Unik dan terbatas. Contohnya tas handmade. Jarang sekali ada pelaku handmade yang membuat tas dengan model dan motif yang sama. Setiap produk yang dihasilkan akan mempunyai karakteristik dan keindahan yang berbeda. NGGA PASARAN. Tidak seperti tas buatan pabrik yang produksi masal dan siapapun bisa punya. Bayangkan kalau kamu punya satu benda yang cuma ada satu-satunya di dunia dan cuma kamu yang memilikinya. Bagaimana rasanya? Prestigious bukan? Itulah handmade.

Selain itu, produk handmade biasanya dibuat dengan mesin jahit rumahan oleh perorangan. Dijahit dengan sentuhan penuh cinta oleh si pembuatnya. Biasanya lagi modelnya ataupun motifnya dibuat seunik dan semanis mungkin. Tergantung kreativitas si pembuatnya. Dan itu juga faktor lain yang bikin harganya sedikit lebih mahal. KREATIVITAS. Kreativitas itu mahal saudara-saudara. Catat! Yah, walaupun sekarang pelaku handmade semakin menjamur dan tutorial bertebaran dimana-mana, namun tetap, kreativitas jadi modal utama penggiat bisnis handmade.

Jadi, buat yang masih menyepelekan produk-produk buatan tangan, coba yuk, sekali saja ikutan WS (Workshop). Mencoba membuat produk sendiri. Gunting sendiri, jahit sendiri, dedel sendiri, kemudian rasakan sensasinya. Antusiasnya, senangnya, bangganya, dan lelahnya. 😀

Iya. Lelah. Jadi, paling tidak hargailah keringat lelah penggiat handmade. Tidak perlu sesumbar “Mahal amaat. Masa’ murahan di mall?”, kalau memang dirasa lebih baik beli di mall, ya monggo, tapi jangan sampai menyakiti hati pelaku handmade ya. Sudahlah capek-capek bikinnya, ngga dihargai pula. Sakitnya tuh disini (nunjukin sepuluh jari tangan).

Nah, kalau menurut kamu, apa sih yang bikin produk handmade itu “mahal”?


Sebagai penutup, tadinya pengen share produk handmade amazing dari salah satu anggota group CFC, tapi males minta izin. Jadi aku share salah satu tas jebolan si flyie-ku aja ya. Tas ini menurutku biasa aja. Tapi ternyata jadi favorite orang-orang. Wah, memang dech, soal “bagus atau tidak” itu relatif ya. *sumringah*
Let see, menurut kamu-kamu, berapa sih pantasnya harga tas yang satu ini?

Berapa hayoo harga tas ini???

Berapa hayoo harga tas ini???

mau liat produk handmade lainnya? cek IG: utie.collections

Mimpiku keduluan


Sejak bazar di Al-Azhar tempo hari, aku jadi tergerak untuk membeli tas di toko asma nadia. Ternyata tokonya di ruko Mall Depok. Aku kesana bersama ibu dan kedua adik terkecilku. Mereka sangat antusias, karena memang belum pernah aku ajak ke Mall Depok. Tidak sulit mencari keberadaan toko tersebut. Tanpa harus berputar-putar, kami pun dengan cepat sudah berdiri di depan toko yang ramai dengan assesoris itu.

Begitu masuk ke tokonya, aku tercengang. Ternyata tidak hanya tas yang dipajang disana, ada busana, buku, pernak pernik, mainan anak-anak, dan masih banyak lagi. Begitu ramai, begitu berwarna. Aku mengatakan keinginanku untuk membeli tas kepada pramuniaganya, seorang pria dengan postur tubuh kurus tinggi yang tampak bersahabat. Saat bingung menentukan pilihan, tiba-tiba masuklah seorang wanita paruh baya ke dalam toko sambil mengucap salam. Aku terkesima sesaat. Detik berikutnya, aku tahu kalau wanita itu sang pemilik tokonya, Asma Nadia.

Tak beberapa lama, wanita yang memanggil dirinya asma -dan terkadang bunda- itu ikut melayani aku dan ibuku (waktu itu hanya kami pengunjungnya) sambil bercerita. Dia menceritakan ide awal dari pembuatan tas yang dijual disana. Ternyata bunda terinspirasi dengan tas-tas ransel imut di Korea Selatan saat beliau berada disana. Bunda juga kemudian menceritakan asal usul ide pembuatan barang-barang lain yang juga dijual di tokonya, seperti gamis dan sajadah lipat. Misinya satu, bunda ingin orang lain bisa menggunakan barang-barang kualitas impor dengan harga tidak terlampau mahal. Karena itulah, bunda kemudian mendesain dan memproduksinya sendiri.

Begitu banyak yang diceritakan bunda, membuatku terpesona. Selain penulis handal, bunda pun sungguh seorang pembicara yang tidak membosankan. Pantas saja bila bunda sering diundang sebagai pembicara, baik di dalam maupun luar negeri. Sekarang pun bunda sedang mengembangkan rumah bacanya yang sudah tersebar di beberapa daerah.

Sejenak aku merenung dan berpikir. Ini mimpiku, yah, benar, ini mimpiku dari dulu. Menjadi penulis, mendesain sendiri barang-barang seperti baju, sweater, sepatu, tas dan lainnya, ke luar negeri, keliling dunia, menjadi pengusaha. Dan semua itu telah dimiliki bunda, mimpiku telah keduluan diwujudkan orang. Luar biasa. Hatiku bergejolak, antara kagum, iri, dan bersemangat. Kalau bunda bisa mewujudkannya, lalu mengapa aq tidak?? Tidak ada yang tidak mungkin bukan?? Dan semangatku semakin berkobar, aku harus merealisasikan mimpiku, bagaimanapun caranya, aku harus berjuang untuk itu. Aku yakin aku bisa. Bismillah, Ya Alloh, wujudkanlah impianku, dekatkanlah impianku.

“Yang ini juga bagus lho, best seller. Dulu judulnya Catatan Hati di setiap sujudku, sekarang udah di tambah-tambahin lagi ceritanya, judulnya diganti jadi Catatan Hati di setiap Doaku,” kata-kata bunda menyadarkanku dari renungan sesaat itu.

Begitu pintar bunda mempromosikan bukunya, membuatku ingin membeli semuanya. Tapi keterbatasan budget dan kondisi ade-adeku yang mulai lelah membuatku hanya membeli dua bukunya saja dan segera pulang.

Hmm.. Pertemuan yang sungguh sangat berkesan untukku, dan mengobarkan semangat dalam dadaku. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk mimpiku yang menjadi nyata. Aamiin.

Jumat, 17 Agustus 2012