Tanya Jawab Matrik IIP #9


1⃣ Wita
Mbak, saya mohon penjelasan untuk pernyataan yang ini “Bila suami protes berarti warning lampu kuning dan bila anak-anak yang protes berarti warning lampu merah”. Logika saya, ‘kepemilikkan’ yang paling tinggi untuk seorang wanita menikah kan di suaminya, kenapa warningnya suami dikalahkan oleh warningnya anak-anak ?

🔉1⃣ Mb Wita, dalam usaha kita belajar menjadi seorang IBU profesional tentu izin tertinggi ada pada suami tapi saat menjalani proses tersebut customer utama kita adalah anak-anak, jadi saat customer kita protes atas proses yang kita jalani maka itulah lampu merah bagi kita ✅

 

2⃣ Tria
Bagaimanakah kita sebagai ortu membimbing anak-anak menjadi orang yang memiliki ‘keinginan untuk bermanfaat’ bagi umat/masyarakat?

🔉2⃣ “Children see children do” mb Tria, jadi aktiflah di berbagai kegiatan sosial supaya mereka melihat contoh nyata yang dilakukan ortu mereka, lalu ajaklah mereka terlibat dalam aktivitas tersebut. Saat anak ada di usia pra baligh buatlah project-project sosial keluarga dengan mereka sebagai motornya, in syaa allah bisa mengasah kepekaan sosial mereka ✅

 

3⃣ Ardiani Putri
Anak saya masih 19m, pernah suatu ketika saya ikut sebuah kelas sertifikasi untuk menambah jam terbang saya sehingga harus meninggalkan anak saya dengan keluarga lebih dari 8 jam. Ternyata sesampainya di rumah anak saya sedang menangis sambil memeluk jilbab dan baju saya, tidak mau dipegang oleh siapapun. Apakah ini termasuk lampu merah bagi saya untuk berhenti menambah jam terbang di luar rumah? Adakah tipsnya untuk melatih anak mandiri ketika saya sedang beraktifitas di luar? Atau baiknya saya selesaikan tahapan bunda sayang dan bunda cekatan terlebih dahulu?

🔉3⃣ Melatih kemandirian anak ada dalam materi bunda sayang mb putri. Itulah kenapa bunda produktif/bunda shalehah harus melewati tahapan bunda sayang dan bunda cekatan dulu, supaya tidak terjadi hal-hal yang mengusik ketentraman hati 😊✅

 

4⃣ Poppy
Saya pernah berbincang dengan salah satu ibu, yang saya lihat punya potensi untuk aktif di lingkungan. Tapi keluar pernyataan dari beliau bahwa: “beberapa orang meragukan saya karena terlihat tidak pandai mengurus rumah tangga”. Pertanyaan saya, apa standarnya/indikatornya seorang ibu BOLEH aktif di luar rumah, selain restu suami dan anak-anaknya? Misalnya, apakah usia anak bungsu harus minimal 14 tahun? dsb.

🔉4⃣ Menanggapi pernyataan teman mb poppy di atas: The only reality is OUR PERCEPTION, maka buatlah persepsi positif terlebih dahulu dengan diri kita, setelah yakin, masukkan persepsi positif dengan orang-orang di sekitar kita. Di IIP Indikator seorang ibu dipersilahkan aktif di luar rumah selain restu suami dan anak adalah sudah punya pijakan yang kuat di tahapan bunsay dan buncek. ✅

 

5⃣ Nira
Bagaimana nasib kuadran suka tapi tidak bisa, ketidak-bisaan karena manajemen waktu misalnya, bagaimana proporsi waktunya,

🔉5⃣ BISA itu berkaitan dengan kemampuan. SUKA berkaitan dengan rasa. Jika MAU sedikit berdisiplin di manajemen waktu in syaa allah mb Nira pasti BISA produktif di bidang tersebut, semangat yaaaa… ✊🏼✅

 

6⃣ Dinda
Ada peribahasa bilang perempuan itu tidak akan bisa fokus kerja di ranah publik jika pekerjaan di ranah domestik belum tuntas. Dan lelaki itu tidak akan bisa fokus di urusan keluarga jika pekerjaannya di kantor belum tuntas.
Bagaimana ya menyeimbangkan keduanya agar bisa sukses di rumah dan bisa menambah jam terbang juga di ranah publik. Adalah tips dan triks berbagi tugas dengan suami agar bisa sukses di keduanya juga. Karena kesuksesan keluarga akan terjadi jika suami istri bisa berkolaborasi dengan tepat.

🔉6⃣ Tips dari pak Dodik saat kopdar 2 minggu lalu adalah banyak-banyaklah ngobrol dan melakukan berbagai aktivitas bersama keluarga (suami dan anak-anak). Sehingga komunikasi bisa cair dan kolaborasi antar anggota keluarga lebih mudah dilakukan. ✅

 

7⃣ Marie
Bagaimana menyikapi keadaan dimana kita berada di lingkungan yang bisa dibilang individualistis dan sulit untuk bekerja sama? Bagaimana menumbuhkan empati di lingkungan seperti itu? Mengingat sudah beberapa kali dicoba untuk menggerakkan lingkungan tersebut namun hasilnya tidak signifikan. Apakah mencari lingkungan lain atau bagaimana? Terima kasih.😊

🔉7⃣ Menurut saya poin utama dalam menjadi agen perubahan adalah kontribusi apa yang bisa kita bagikan untuk lingkungan sekitar mb Marie, sehingga kita fokus ke dalam bukan terpengaruh dengan kondisi lingkungan luar.
Emphaty ditumbuhkan dari perubahan-perubahan yang sudah kita buat dalam lingkup keluarga kita. Misal kita sudah sukses menjalankan 3R di rumah kita, semua anggota keluarga fasih melakukan 3R. Kemudian kita lihat lingkungan sekitar belum aware dengan program tersebut. Kita ingin meluaskan kegiatan tersebut ke lingkungan RT kita, maka kita akan dengan senang hati merintis usaha tersebut, bisa juga dengan melibatkan anggota keluarga sehingga keluarga tidak ditinggalkan. Banyak sedikitnya tetangga yang ikut kegiatan ini bukan tujuan utama kita.
Apalagi jika ditambah passion maka akan bermunculan ide-ide kreatif untuk menemukan solusi dari setiap tantangan yang muncul. ✅

 

8⃣ Wiwit :
Ibu sebagai Agen Perubahan! Saya sepakat sekali dengan statement tersebut. Ingin sekali berbagi kebaikan dengan ibu-ibu di lingkungan sekeliling saya. Hanya saya ingin mendapat ilmu lebih bagaimana cara berkomunikasi yang lebih baik dalam menyampaikan pesan. Mohon pencerahan, apakah IIP mempunyai materi/pelatihan/saran media untuk ilmu komunikasi yang efektif untuk masuk di lingkungan yang heterogen (latar belakang & sosial yang berbeda-beda)? Karena menurut saya hal ini sangat membantu peran kita Ibu sebagai agen perubahan. Jazakillah Khairan Katsira 😊🙏🏼

‬ 🔉8⃣ Saya baru 10 bulan bergabung dengan IIP, dalam waktu yang singkat ini saya belum sepenuhnya mengikuti semua materi yang ada di IIP. Yang saya tahu beberapa kota memiliki rumah belajar public speaking, di sana member bisa menggali ilmu tentang cara berkomunikasi yang baik.
Usulan mb wiwit sangat bagus, bisa menjadi masukan bagi IIP depok untuk membuka kelas minat dengan materi komunikasi efektif untuk tahapan bunda sholehah 🙏🏼✅

 

9⃣ Asti
Bu Septi, mohon maaf sebelumnya, terus terang hingga saat ini saya sangat “berbinar-binar” mengikuti tahap demi tahap matrikulasi ini. Dari sejak materi pertama (Adab sebelum ilmu) ibu sudah mengajak saya (dan kami, peserta matrikulasi) untuk menuntut ilmu dengan cara mulia supaya meningkatkan kemuliaan hidup. Membuat saya juga semakin bersemangat mempelajari Islam. Banyak sekali ilmu tentang manajemen waktu yang “nyantol” di saya, misalnya di sesi 6: Demi masa, semoga kita semua tidak termasuk golongan orang yang menyia-nyiakan waktu.
Kali ini saya “tergelitik” untuk bertanya, kenapa di sesi ke sembilan ini ibu malah menggunakan prinsip dan pola Kaizen? Di materi ke 9 ibu menyatakan bahwa Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan. Apakah di Islam tidak ada filosofinya? Misalnya di Surat Al Ashr yang tersirat pada sesi 6, atau di surat Al-Hasyr ayat 18 yang mengajak orang beriman untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, atau mungkin manajemen waktu bila ditilik dari filosofi dalam sholat: tepat waktu, bersih, rapi dan rapat dalam barisan shaf? Mohon penjelasannya ya bu. Terimakasih sebelumnya

🔉9⃣ Pertanyaan ini ditujukan untuk bu Septi jadi saya forwardkan langsung ke beliau. Jika sudah dijawab akan saya sampaikan di grup ini ya mb Asti 😊

Kaizen merupakan aktivitas harian yang pada prinsipnya memiliki dasar sebagai berikut:

  • Berorientasi pada proses dan hasil.
  • Berpikir secara sistematis pada seluruh proses.
  • Tidak menyalahkan, tetapi terus belajar dari kesalahan yang terjadi di lapangan.

[Materi ini ada di Bunda Cekatan secara lengkapnya, saya ambil beberapa point penting]

Beberapa point penting dalam proses penerapan KAIZEN yaitu :

❤Konsep 3M (Muda, Mura, dan Muri) dalam istilah Jepang. Konsep ini dibentuk untuk mengurangi kelelahan, meningkatkan mutu, mempersingkat waktu dan mengurangi atau efsiensi biaya. Muda diartikan sebagai mengurangi pemborosan, Mura diartikan sebagai mengurangi perbedaan dan Muri diartikan sebagai mengurangi ketegangan.

❤Gerakkan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) atau 5R. Seiri artinya membereskan tempat kerja. Seiton berarti menyimpan dengan teratur. Seiso berarti memelihara tempat kerja supaya tetap bersih. Seiketsu berarti kebersihan pribadi. Seiketsu berarti disiplin, dengan selalu mentaati prosedur di tempat kerja. Di Indonesia 5S diterjemahkan menjadi 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin.

❤Konsep PDCA dalam KAIZEN. Setiap aktivitas usaha yang kita lakukan perlu dilakukan dengan prosedur yang benar guna mencapai tujuan yang kita harapkan. Maka PDCA (Plan, Do, Check dan Action) harus dilakukan terus menerus.

❤Konsep 5W + 1H. Salah satu alat pola pikir untuk menjalankan roda PDCA dalam kegiatan KAIZEN adalah dengan teknik bertanya dengan pertanyaan dasar 5W + 1H ( What, Who, Why, Where, When dan How).

 

🔟 Tantia
Terkadang ketika kita aktif di masyarakat kadang ada kalanya anak protes, apakah ini termasuk lampu merah (warning keras), apa yang harus dikuatkan akan berjalan dengan selaras?

🔉 🔟 Mohon lihat jawaban no.4 ya mb Tantia ✅

Tantia:
Berarti kalau sesuai point 4⃣, bunsay n buncek ya? Apakah itu harga mati? Ketika itu belum kuat kita tidak bisa keluar, berperan di masyarakat?

🔉Bukan harga mati mbak, itu idealnya. Jika memang kita harus ada di ranah publik maka konsekuensinya harus mengejar tahapan bunsay dan buncek supaya hati tentram

Tantia: Baik mba. Berbicara tentang tentram, apakah indikator tentram itu?

🔉Imho, Tentram itu jika semua berjalan selaras dan harmoni sesuai yang kita kehendaki. Bisa juga kita berperan keluar dengan tetap melibatkan anak-anak sehingga waktu kita membersamai mereka tidak berkurang. Saya cuplikan tanya jawab pada matrikulasi batch 1 tentang ketentraman sbb:

Kenapa Ibu menekankan kata tenteram? -_Adakah berkontribusi kebermanfaatan seseorang tapi ia tidak tenteram? Dalam konteks kasus positif maksud saya._

Jawaban: Ketika dasar mulainya kebermanfaatan ini bukan didasari sebuah niat kuat untuk memperbaiki keluarga kita. Contoh saya merasa sudah bermanfaat untuk banyak orang dengan membuka kelas untuk ibu-ibu. Namun selama menjalankan kebermanfaatan ini, anak-anak saya merasa terlantar, karena ibunya asyik sendiri dengan “kelas yang rasanya sebagai program kebermanfaatan”.  Lama-lama hati kecil kita pasti akan terusik, karena melihat kondisi anak-anak kita. Hal ini membuat kita TIDAK TENTRAM. Karena sebuah ketidakseimbangan.

Saya tambahkan sedikit, biasanya program kebermanfaatan yang membuat kita TIDAK TENTRAM itu bermula dari sebuah PELARIAN. Lari dari kenyataan hebohnya menjadi ibu, lari dari kenyataan kondisi penindasan di dalam rumah sendiri, lari dari kenyataan tidak sukanya kita terhadap anak-anak. Lari dari kenyataan Status seorang ibu rumah tangga dan lain-lain.

 

Tanya Jawab Matrik IIP #7


1⃣ Wiwit :
Alhamdulillah senangnya dapat materi ini menambah tingkatan pengetahuan ke bunda produktif. Dari materi sesi ke-7 ini yang paling saya garis bawahi yaitu Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”. Yang masih mengganjal di hati & pikiran saya, ketika kita telah menemukan aktifitas yang membuat kita berbinar-binar & berniat ingin menjadikan diri kita bermanfaat bagi orang banyak, tapi justru terkadang masih merasa belum mantap karena masih ada rasa takut mengorbankan & lalai terhadap amanahNya. Misal: saya senang sekali saat menjadi dosen, ketika berbagi ilmu, pengalaman dan tidak sekedar mengajar tetapi memotivasi mahasiswa dan melihat respon positif mereka membuat saya bersemangat & berbinar-binar, tetapi terkadang saya masih ragu apakah sebaiknya waktu yang saya gunakan lebih baik digunakan bersama anak & keluarga. Mohon pencerahan dari pengalaman tim fasil tercinta 😘 Jazakillah khairan katsiraa 😊🙏🏼

➡ Bunda Wiwit, keraguan dan ketakutan hanya akan menjadi mental block. Jika bisa mencapai keduanya yakni; mengajar dan membersamai anak maka lakukanlah keduanya. Tentunya dengan jadwal yang sudah kita atur sedemikian rupa sehingga tidak akan melalaikan salah satunya. Rasa takut akan kelalaian itu harus dihadapi dan dikelola. Catat apa poin Amanah Allah yang kita harus jalankan bersamaan dengan misi produktif kita. Terapkan kuadran kegiatan. Evaluasi hasil apakah keduanya berjalan seirama. Sematkan do’a padaNya dalam setiap langkah kita keluar agar bermanfa’at juga untuk keluarga yang kita tinggal sementara, karena itu adalah salah satu parameternya. ✅

 

2⃣ Siti muslihah
Bagaimana tanggapan Bu Septi & fasilitator tentang pendapat pikiran kalau uang hasil kerja sendiri (ibu bekerja di ranah publik) bisa bebas peruntukannya dan terkadang kalau ibu rumah tangga (ibu tidak bekerja) kesannya banyak merepotkan suami dalam hal finansial karena seperti hanya mengandalkan uang dari pemberian suami…

➡ Bunda Siti Muslihah, sesuai dengan materi kali ini yang kita garis bawahi adalah bukan perkara rupiahnya maupun asal penghasil sumbernya, namun produktivitas Ibu professional adalah nilai manfa’atnya. Seberapa besar diri kita memiliki nilai kegunaan bagi pemberdayaan diri dan orang lain/keluarga kita. Karena Rizki tidak selalu terletak pada uang yang kita hasilkan, maka pikiran yang disampaikan mbak Siti menjadi tidak relevan juga. Bebas peruntukan maupun merepotkan suami hanyalah frame pikiran yang membatasi. Yang jauh lebih penting adalah akan dipergunakan bagaimana harta yang dihasilkan, karena yang halal akan dihisab yang haram akan diazab. ✅

 

3⃣ Tantia
Apa ciri-ciri bunda sayang dan bunda cekatan sudah berhasil dan bisa melangkah ke jenjang bunda produktif?

➡ Bunda Tantia, yuk kita inget lagi materi #2 tentang Ibu Profesional;

BUNDA SAYANG

a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?

b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?

c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?

d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?
BUNDA CEKATAN

a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?

b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.

c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?

d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

Jika seluruh pertanyaan di atas telah dapat kita jawab secara positif mantap, dan seluruh indikator profesional yang sudah kita buat di NHW#2 terkait bunda sayang dan bunda cekatan maka kita sudah siap melangkah ke bunda produktif

Lalu persiapan berikutnya

BUNDA PRODUKTIF

a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?

b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?

c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?

d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?✅

 

4⃣Maria susanti
Menjadi ibu produktif itu awalnya saya berpikiran seorang ibu yang bisa menambah pendapatan keluarga (materi) ternyata di IIP matrikulasi berbeda. Jadi mba seandainya saya sudah:
1. menambah syukur
2. menegakan taat
3. membagi mamfaat
Berarti saya termasuk seorang bunda produktif ya? Tolong minta di ulas lagi mba tentang 3 hal di atas berkaitan dengan bunda produktif. Terimakasih

➡ Bund Maria, persis!, seperti itulah maksudnya, InsyaAllah Rizki mengikuti. Jadi begini. Produktif di sini lebih kepada: jalankan misi utamanya, baik di dalam rumah maupun publik bergairahlah dalam melakukannya, efek sampingnya rizki datang dan mengalir menghampiri sendiri. Kalaulah bisa sambil membersamai anak, lalu membuat project yang menghasilkan rupiah maka Alhamdulillah, jika tidak maka jaga gairah manfa’at dan bertawakallah, barangkali Rizki dikirim melalui moda “kendaraan” lain.✅

 

5⃣ Febi
Manakala kita bekerja di ranah publik, misalnya pelayanan ke masyarakat, ada amanah yang kita emban. Di sisi lain, amanah keluarga juga jangan sampai diabaikan. Apakah bijak jika kita meminta keluarga untuk mengerti bahwa kita memiliki tanggung jawab dalam mengemban amanah pekerjaan di ranah publik sehingga tidak bisa selalu hadir secara fisik? Pantaskah kita beralasan bahwa bekerja di ranah publik adalah sebagai bentuk mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab?

➡ Bunda Febi, lihat kembali. Apakah dengan bekerja di ranah publik menambah kemuliaan keluarga kita atau malah sebaliknya. Jika ranah publik yang kita emban memang bernilai misi hidup maka komunikasikan kepada keluarga, pada saat seperti apa kita harus full diluar. Beri alasan paling mulia pada peran kita di publik. Karena jika menggunakan alasan mandiri dan tanggung jawab, maka sesungguhnya hal tersebut masih bisa ditularkan dan diteladani juga dari rumah.✅

 

6⃣ Hilma
Saya resign dari pekerjaan saya setahun lalu, karena ingin fokus mengasuh anak. Saya sadar akan resiko nett income kami menjadi berkurang untuk memenuhi kebutuhan kami. Akhirnya saya memutuskan untuk jualan online. Namun, setiap kali saya nge-gadget untuk promosi atau melayani customer, anak saya (2,5 thn) jadi rewel karena dia jadi ingin ikut main gadget dan akan menjadi rewel jika berhenti. Karena tidak ingin dia menjadi gadget addict, akhirnya saya off sementara jualannya. Saya tidak tertarik untuk ngantor lagi, usaha online sepertinya lebih cocok untuk saya. Saya ingin mulai berjualan online lagi karena untuk menutupi kekurangan pemasukan keluarga kami. Mohon saran bagaimana agar saya bisa tenang berjualan tanpa membuat anak saya rewel untuk tertarik ngegadget. Terimakasih.

➡ Bunda Hilma, menarik sekali. Bunda bisa menerapkan kandang waktu yang sudah dipelajari di NHW sebelumnya.

✔Terapkan waktu khusus yang bunda butuhkan untuk melakukan aktivitas pemasaran online. Atur strategi marketing Bunda yang tidak mengganggu jadwal kegiatan fitrah anak-anak. Misalnya: Kerjakan upload foto dan rekap pesanan saat anak sudah tidur/sebelum bangun

✔Terapkan rules marketing yang sesuai dengan kondisi. Misal: tidak harus selalu menjawab setiap pertanyaan yang masuk setiap saat di gadget. Bisa saja kita komunikasikan ke blog/IG jualan bahwa pertanyaan akan dijawab pada jam XX

✔Atau bikin list FAQ, sehingga pertanyaan dasar sudah terjawab.

✔Rekrut admin khusus

Dan masih banyak cara lainnya.

Yakinlah bahwa jika kita kreatif dan sungguh-sungguh rejeki yang menghampiri. Online selling hanyalah salah satu dari sekian cara dan media memperoleh Rizki 😊

 

7⃣ Marie
Untuk meningkat menjadi bunda produktif, kita harus menguatkan diri di sisi bunda sayang dan bunda cekatan, karena sejatinya kita harus menjaga amanah utama yaitu anak2. Idealnya, apakah sebaiknya kita tidak masuk ke ranah produktif dulu sebelum tahap bunda sayang dan bunda cekatan beres? Trus bagaimana jika hal yang membuat mata kita berbinar-binar itu ada di ranah publik? Apakah harus ditunda dulu? Mohon pencerahan. Terima kasih.

➡ Bunda Marie, idealnya iya. Beresnya dengan parameter seperti pertanyaan nomor 3 diatas. Bagi ibu bekerja di rumah tunda hingga kita bisa memenuhinya. Bagi ibu bekerja di ranah publik, kejar bunda sayang dan bunda cekatannya. Dengan begitu produktivitas kita optimal.✅

 

8⃣ Azay
“Menjadi produktif adalah bagian dari ibadah, sedangkan rezeki adalah urusanNya”. Berkaitan dengan kalimat tersebut, saya masih tetap saja bertanya-tanya pada diri saya sendiri. Saya bekerja di ranah publik, sampai saat ini saya masih berusaha untuk memperkuat pilar bunsay & buncek, tapi kok ya tetap aja rasa bersalah karena tidak bisa selalu hadir 24 jam untuk anak😭. Bertemu anak hanya 12 jam, dr jm 18.00-06.00 (sebagian besar waktu adalah waktu istirahatnya anak). Anak saya saat ini masih berumur 4 thn. Apakah yang harus saya lakukan? Mohon masukannya.

➡ Bunda Azay, rasa bersalah itu harus diidentifikasi, ukuran “salah” berdasarkan apa. Apakah karena Bunda tidak memenuhi indikator professional yang telah dibuat? Apakah porsi delegasi belum optimal atau apa. Satu hal penting juga yang harus dipahami, bekerja di ranah publik apakah urgent? Dalam hal ini jika memang harus bekerja karena ada Amanah lebih besar di Keluarga, maka siapkan semuanya. Bersama dengan anak juga bukan sekedar bersama. Maka hadirkan seluruh hati jiwa raga dan seluruh perhatian kita saat 12 jam itu dengan efektif dan hangat.✅

 

9⃣ Fitri Purbasari
Saat keinginan menjadi bunpro mendesak namun terganjal karena belum mapan di bunsay dan buncek gimana ya? 😞

➡ Bunda Fitri Purbasari, Sabar saja dan syukur. Tingkatkan implementasi bunsay buncek. Menjadi bunda produktif berarti menambah tantangan. Untuk itu kita harus yakin bahwa kita firm dengan tahapan awal ✅

 

🔟 Febi
Kalau suami sedang tidak bekerja di ranah publik (lebih banyak di ranah domestik), apakah peran manajer keluarga tetap tersemat pada ibu? Atau bagi-bagi peran manajerial, misal ibu manajer gizi, ayah manajer keuangan, dst?

➡ Bunda Febi, peran manager Keluarga tetap di Ibu, jika beberapa tugas bisa didelegasikan maka Ibu merupakan GMnya (General Manager) keluarga 😁 nanti tinggal didelegasikan saja misal perihal keuangan dihandle oleh suami sebagai day to day manager keuangannya. Tapi suami tetap report ke Bunda. Supaya bunda dalam mengambil keputusan dapat komprehensif. Manager itu harus membekali diri dengan strategic planning keluarga, sehingga pendelegasian tugasnya pun harus selaras.✅

Narsum
Jika belum ada yang bertanya, saya mau sharing lagi. Saya juga dulu ketika menerima materi ini bertanya-tanya dalam hati. Kemuliaan itu yang bagaimana ya, lalu kemudian mencoba pelan menggeser paradigma, dari bekerja untuk mendapat penghasilan menjadi bekerja untuk menuju misi mulia. Susah? Bangetttt! Tapi teruuuus aja merenung, apa yang akan kukerjakan demi mendapat nilai atas peranku. Kalo kata bu Septi kita harus menjadi bukti, saya mau sampaikan saya adalah salah satu bukti.

 

==========////===========

Tanya Jawab Matrik IIP #4


Sesi Tanya Jawab*

1⃣ Bunda Wiwit :

Untuk materi ke 4 ini Mendidik dengan Kekuatan Fitrah. Well noted utk KM 0, Tsunami informasi, tahapan ilmu serta yang paling intinya: Pahami Fitrah yg dibawa anak sejak lahir (Fitrah Ilahiyah,Fitrah Belajar,Fitrah Bakat,Fitrah perkembangan,Fitrah seksualitas dll).

Saya ingin sekali bisa memahami aspek-aspek fitrah yang ada pada anak kita, karena saya masih awam. Mohon berkenan untuk penjelasannya lebih detail mengenai fitrah-fitrah yang ada pada anak kita tersebut masing-masing: Fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah perkembangan, Fitrah seksualitas, dll. Jazakillah khairan katsiraa :)🙏🏼

1⃣bunda Wiwit

Fitrah Ilahiyah (keimanan)

meliputi spiritualitas, moralitas dan religiusitas. Setiap anak dilahirkan untuk mencintai Tuhannya yang selanjutnya akan membentuk karakternya (akhlakul karimah). Pada usia dibawah 7 tahun, fitrah ini sangat mudah dibangkitkan dengan imajinasi dan abstraksi tentang Allah, Rasul, kebaikan dan segala ciptaan-Nya.

Fitrah belajar

adalah keinginan untuk mempelajari sesuatu secara alami, tidak perlu diajarkan secara khusus. Kita hanya perlu menemani dan mengarahkan, hal apa yang disukai anak. Jika anak suka sains, fasilitasi dengan buku, bisa juga melihat dan mengamati tumbuhan atau makhluk hidup disekitarnya. Dalam bukunya Origins, Annie Murphy Paul membuktikan bahwa bayi selama 9 bulan dalam kandungan telah mampu menyerap apa yang terjadi diluar tubuh ibunya. Dalam sebuah penelitian tahun 1999 di kawasan kumuh di India, dilakukan eksperimen dengan meletakkan sebuah komputer di tempat umum yang memungkinkan di sentuh anak-anak. Walau tanpa diajarkan, ternyata anak-anak itu mampu mengoperasikan komputer. Bahkan jika komputer itu menggunakan bahasa asing.

Fitrah Bakat 

meliputi Talent, Passion & Strength. Setiap anak adalah unik dan memiliki sifat bawaan masing-masing yang kemudian akan berkembang menjadi karakternya. Dengan karakternya, akan berkembang bakat yang akan menjadi misi hidup yang spesifik untuk bisa berperan dalam peradaban.

Masa-masa keemasan untuk mengembangkan fitrah bakat ini adalah usia 10-14 

Biasanya di usia ini anak sudah mulai menentukan satu bidang yang dia sukai dengan lebih serius.

Fitrah Perkembangan

Segala yang ada di muka bumi memiliki sunnatullah tahapan pertumbuhannya masing-masing yang berkorelasi dengan dimensi waktu dan dimensi kehidupan.

Ada masa dimana benih atau biji ditanam dan disemai, ada masanya benih bertunas, ada masanya tumbuh cabang dan daun, ada masanya berbunga, ada masanya berbuah begitu seterusnya.

Untuk setiap masa itu ada cara dan tujuannya masing-masing. Dalam sunnatullah perkembangan atau pertumbuhan ini maka tidak berlaku kaidah “makin cepat makin baik”, juga jangan terlalu terlambat untuk tiap tahapannya. Segala sesuatunya akan indah bila tumbuh pada saatnya.

*Analogikan diri anda seperti petani organik*

Petani organik itu tidak pernah menggegas dengan menambahkan berbagai macam hal-hal yang tidak alamiah. Para petani ini ingin menemani tanaman itu tumbuh sesuai dgn kehendakNya. Tidak memaksakan proses sehingga hasilnya dipaksakan sesuai kehendak kita sang perawat.

Fitrah Seksualitas

Secara fitrah seksualitas, anak lelaki mulai lebih didekatkan kepada ayah agar tumbuh fitrah kelelakiannya secara alamiah, begitupula anak perempuan mulai lebih didekatkan pada ibu agar tumbuh fitrah keperempuanannya secara alamiah baik individu maupun sosial. Pada puncak tumbuhnya fitrah seksualitas ini, maka fitrah peran seksualitas ini akan menjadi adab pada orangtua, adab pada perannya sebagai lelaki, adab pada perannya sebagai perempuan dalam skala personal maupun komunal. ✅
2⃣ Bunda Laela

Mendidik anak sealamiah mungkin, saya belum begitu paham tentang itu, bisa dijelaskan lebih detail? Apakah yang dimaksud sealamiyah itu sesuai tahapannya jangan terlalu terburu buru mengajarkan ini itu atau bagaimana? Trimakasih sebelumnya

2⃣bunda Laela

Betul. Buatlah pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan buat anak. Jangan pernah memaksa anak untuk bisa semua hal. Tapi kuatkan di bidang yang anak kuasai. Maka itu akan lebih bermakna. 

Jangan paksakan anak burung untuk jago berenang, karena dia hanya jago terbang.

Dan jangan paksakan ikan untuk jago terbang, karena dia hanya jago berenang.

Jadi fokus pada kelebihan anak bukan pada kekurangannya.✅
3⃣ bunda Nira

pada point di mendidik anak dengan fitrah, mendidik anak dengan sunnatullah, realnya seperti apa?

 3⃣ bunda Nira

Pertanyaannya sama seperti bunda Laela. Saya tambahkan lagi ya. Tugas kita sebagai orangtua hanya menemani proses pembelajarannya, tumbuh kembangnya. Jika ingin melihat indikatornya, bandingkan dengan dirinya sendiri dimasa yang lalu. Jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak yang lain.

Contoh: sekarang anak kita senang membaca buku. Padahal setahun yang lalu dia belum bisa membaca.

Sekarang anak kita sudah bisa merapihkan sepatunya sendiri. Padahal setahun yang lalu masih melepas sepatu sembarangan.

Bersyukur dan beri pujian atas pencapaiannya.

Buat hal-hal yang ingin dicapai lebih baik lagi oleh anak kita tapi dimulai dari yang sederhana dulu dalam kegiatan sehari-hari sesuai usianya. Jangan terlalu memaksakan.✅
4⃣bunda Ika

Di poin: Rancang program yang khas bersama anak. Ini seperti apa ya? apakah setiap hari kita membuat aktivitas khusus untuk masing-masing anak? atau bagaimana ya? Terima kasih..

 4⃣bunda Ika

Iya. Buatlah rencana kegiatan. Misal minggu ini kita mau main apa ya? Mau kemana dan nanti disana ada nilai pembelajarannya.

Karena sampai usia 12 tahun selama anak belum aqil baligh maka pasti anak akan senang bermain atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Dan setelah aqil baligh, biasanya anak tidak lagi selalu ingin berada disamping kita. Lanjutkan dengan menjadikan anak sebagai *sahabat* ✅
 5⃣ Ibu insiyah 

Mba, saya ibu 3 anak, yang pertama 12 thn alhamdulillah masuk pesantren, yang kedua umur 3 thn 10 bln, yang ketiga 4 bln. Yang ingin saya tanyakan apakah salah jika yang menentukan pilihan sekolah itu orang tua, anak saya yang kedua itu aktif banget makanya saya memasukkan sekolah TK dari umur 3 thn, apa itu terlalu dini?

5⃣bunda Insiyah

Sebaiknya dalam menentukan sekolah, kita berikan beberapa pilihan kepada anak kita, mau masuk kemana? Ajarkan anak berdiskusi dan belajar menentukan pilihan.

Diberikan anak yang aktif itu anugerah sebenarnya. Dan sebagai orangtua kita harus berlatih sabar dalam menghadapinya.

Kalau menurut bunda sendiri, anak kedua bunda nyaman kah disekolahkan sejak dini? Pernah kah dia mengeluh capek atau bilang kalau dia maunya di rumah aja sama bunda dan adiknya?

Coba ditanyakan bun.

Kalau si anak tengah merasa senang dan nyaman, menurut saya sih tidak masalah.

Tapi kalau ternyata dia merasa dijauhkan dari adik dan bundanya sebaiknya jangan disekolahkan dulu. Berarti dia belum mau. ✅
6⃣bunda Azay

Bagaimana cara membersamai/ menemani di waktu bersama anak yang ideal bagi seorang ibu yang aktif di ranah publik (tidak bisa 24 jam bersama anak) agar tetap bisa mendidik anak sesuai fitrahnya?

6⃣bunda Azay

Kalau saya pribadi selalu meluangkan waktu di hari minggu khusus untuk anak-anak. Karena ketiga anak saya mondok di pesantren. Dihari minggu itulah kami orangtua berusaha membersamaianya diberi waktu dari pukul 9 pagi sampai 5 sore.

Terserah anaknya mau dibawa kemana untuk lepas kangen kangenan 😅

Biasanya saya selalu ajak *ngobrol*. 

Membawakan makanan atau buah kesukaan mereka. Sambil makan atau sambil jalan-jalan. Sekedar menanyakan perasaannya, bercanda, bermain, baca buku, dan melepas lelah dan kejenuhan mereka selama 6 hari dengan aktifitas yang padat. 

Saya selalu merancang waktu untuk 3 hal:

*me time* waktu saya untuk sendiri

*we time* waktu saya hanya berduaan dengan suami, dan

*family time* waktu bersama keluarga.

Semua waktu itu berusaha kami penuhi sekali dalam satu minggu.

Bagaimana dengan bunda? Bunda pasti punya waktu kosong. Misal dimalam hari sebelum tidur, saat makan malam bersama. Silahkan gunakan untuk ngobrol bareng keluarga.

Jangan sampai kita berguna bagi orang lain tapi anggota keluarga sendiri merasa kehilangan. 

Coba berusaha buat manajemen waktu yang baik.

Hal ini bisa juga ditanyakan ke mba nia yang punya pengalaman dalam membersamai anaknya saat sepulang kerja dimalam hari. Karena beliau juga bekerja diranah publik.✅

Nia ➡ Menambahkan penjelasan dari mbak Zy, setelah bunda memahami apa saja jenis fitrah maka kita terapkan diri kita sebagai “Manajer Keluarga”. Manajer berarti kita yang mengatur dan mengelola apa saja yang keluarga kita butuhkan termasuk soal menjaga fitrah anak dan pendidikannya.

Nah sebagai ibu bekerja di ranah publik, ibu sebagai seorang manajer keluarga dapat mendelegasikan tugas tersebut. Sehingga tugas kita untuk menyampaikan atau mengedukasi pihak yang kita berikan tanggung jawab dalam menjaga anak kita selama kita bekerja. Diskusikan dan obrolkan bersama. 

Bu Septi juga bercerita, dulu ketika anak-anak bu Septi kecil ada asisten untuk mengurus anak, bu Septi ajarkan berbagai cara yang telah dipikirkan Bu Septi. Contoh: cara berkomunikasi dengan anak, cara mendampingi membaca buku. Bu Septi mengajak asistennya ikut seminar parenting, dsb. Dan pada akhirnya asistennya tersebut saat ini sudah memiliki sekolah tk sendiri. 🙂 

Dan jika saya pribadi saya juga punya waktu komitmen diantaranya:

1. Pada saat jam istirahat saya selalu sempatkan telfon anak saya untuk mengobrol. 

2. Saat sampai rumah, setelah siap sudah mandi makan sholat menghela nafas, saya serahkan sepenuh jiwa raga saya untuk anak. Kegiatan apapun yang ia inginkan. Mengejar ketertinggalan saya di ranah Bunda Sayang dan Bunda Cekatan

3. Weekend full untuk anak menjalankan family project or family trip. Main bersama. Jika ada kelas IIP 2 jam, maka akan dikondisikan kembali.

Kelihatan berat? Pada awalnya iya. Saya pun demikian tapi ini konsekuensi saya memilih ranah publik. Saya gak mau anak ketinggalan karena excuse saya bekerja.

InsyaAllah bagi saya ini investasi, mumpung masih ada umur dan rizki tenaga.

Kadang beberapa hari dalam sebulan apabila saya pulang lebih larut atau saya lelah amat sangat saya minta maaf pada anak karena tidak optimal. Itu saja. Agar anak ridho.
7⃣Bunda Nurul

Assalamualaikum. Apakah ada tips yang mudah kita terapkan manakala ada perasaan apa yang kita lakukan dalam mendidik anak kita tidak sebaik keluarga yang lain. Niat awal untuk menjadi gambaran atau contoh, namun seringkali malah jadi merasa terintimidasi. Merasa banyak kurang, merasa jauh tertinggal. Terima kasih

7⃣ bunda Nurul

Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau ya 😅 Sebaiknya kita segera merenung. 

Model pendidikan keluarga kita sebaiknya berdasarkan gaya belajar anak-anak kita sendiri. Kita tidak bisa terus menerus meniru gaya belajar orang lain. Karena sudah pasti kebutuhannya berbeda beda.

Mengambil sisi positif dari orang lain itu boleh boleh saja. 

Bahkan di Ibu Profesional kita mengenalnya dengan istilah ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi)

Jadi.. bunda bisa saja melihat model pendidikan dari keluarga lain.. asalkan di modifikasi dengan kebutuhan masing-masing anak kita. ✅
8⃣ Bunda Diyan

Menilik tahapan-tahapan dalam mendidik anak dengan kekuatan fitrah menurut saya sesuai modelnya bila dilakukan dengan sistem homeschooling. Saya berminat sekali dengan sistem ini tapi anak saya cenderung ingin masuk sekolah formal. Tahun ini belum saya daftarkan karena saya baru saja resign dan ingin PDKT lagi sama anak. Bagaimana saya harus bersikap? Tetap sounding tentang HS atau menuruti dulu keinginannya sambil tetap sounding? (Duuh maksa banget saya ya)

8⃣bunda Diyan

Bu Septi pernah menawarkan kepada anak-anaknya. Beliau memberikan 3 pilihan sekolah terbaik yang cocok dengan value keluarganya atau belajar di rumah bersama ibu dan bapaknya.

Dan setahu saya si sulung mba Enes pernah sekolah di sekolah swasta pilihannya sebelum akhirnya homeschooling juga.

Jadi memang sebaiknya berikan pilihan dengan segala konsekuensinya dan dengarkan pilihan anak. 

Jika di tengah jalan akhirnya dia memutuskan ingin HS jangan pernah menyalahkan pilihannya. Karena semua itu terjadi karena kehendakNya. Dan pasti ada pelajaran yang bisa diambil.

Pengalaman saya, anak pertama dan kedua pindah sekolah sampai 2x dan baru memilih mondok di pesantren dengan keinginannya sendiri. Dan saya sebagai orang tua tidak pernah menyesali perjalanan itu. Karena banyak hikmah yang bisa kami jadikan pelajaran dalam hidup ini. ✅
9⃣bunda Marie

Pertanyaan : Bagaimana cara memahami fitrah anak sejak lahir? Dan bagaimana meyakinkan diri kita sebagai ortu dan anak kita bahwa itu adalah fitrahnya.

9⃣bunda Marie

Fitrah berasal dari akar kata fa-ta-ro dalam bahasa Arab yang berarti membuka atau menguak. 

Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal. Dalam Islam terdapat konsep bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah. *Sumber: wikipedia*

Jadi sebagai orangtua, kita hanya mengarahkan agar si anak tetap menjadi makhluk ciptaanNya yang harus taat dengan melewati tahapan dalam hidupnya hingga kembali padaNya. ✅
*Diskusi tambahan*

❓❓Gimana membuat anak eksplorasi dengan alam tapi di lingkungan rumah susah dapat kebun atau kolam apalagi sawah hehee. Ada kebun orang lain.

⏩Ijin aja ke kebun orang jika dibolehkan asal jangan merusak hehe
❓❓Mba Zy, mengembangkan fitrah Ilahiyah itu bagaimana caranya ya? Fitrah ini cenderung terlewati, padahal merupakan dasar. apakah fitrah-fitrah ini bentuknya bertingkat ya? maksud saya, fase-fasenya seperti piramida.

⏩Tetap sesuai usia mba.

0-7 tahun perbanyak main dengan alam terbuka untuk menanamkan nilai ketuhanan.

7-14 tahun mulai mendisiplinkan ibadah dengan konsisten

14-21 pendalaman keimanan untuk mempersiapkan anak menjadi makhluk sosial yang bermanfaat untuk sesama dan mempersiapkan anak memasuki tahap menjadi manusia dewasa #imho
❓❓Mba.. Cara utk menguatkan rasa ingin tau anak gimana ya? Anak saya yang pertama di usia balitanya saya rasa banyak sekali ingin tau, dilihat dengan banyak tanya. Sekarang di usia yang mau tujuh tahun, porsi bertanyanya agak melemah. Memang begitu fitrahnya atau ada pola yang salah ya?

⏩Rasa ingin tahu yang besar dan banyak bertanya adalah ciri-ciri anak yang cerdas. Jadi sediakan waktu untuk menjawab pertanyaan anak.

Ada kemungkinan anak merasa diacuhkan atau dibentak saat bertanya itu juga bisa menyebabkan anak jadi enggan bertanya lagi..

⏩Husnudzon saya, dia kadang sudah menemukan jawabannya sendiri sebelum akhirnya banyak tanya 😂 Tapi ya saya kangen sama dia yg cerewet tanya ini itu.. Memang kompleks sih pertanyaannya jadi kadang mungkin anak kurang terpuaskan dengan jawaban ibunya. Semoga Allah selalu bimbing kami.. Terima kasih mba Zy 😇 

⏩Aamiin.. sebagai orangtua.. kita memang harus pintar menjawab pertanyaan anak. Jika memang tidak tahu, ajak anak mencari jawabannya dengan bertanya kepada orang lain yang lebih tahu atau cari di google 😂
❓❓Hampir mirip pertanyaan say… bedanya kemandirian… usia dini kemandiriannya sudah terlihat, usia bertambah malah semakin menurun dan selalu minta dilayani… 😰

⏩Menurut saya bundanya kurang “tega” dalam mendisiplinkan anak.

Karena untuk melatih kemandirian anak butuh ketegasan. Jika bunda atau ayahnya pernah melanggarnya. Maka anak akan kendor kedisiplinannya
❓❓Mba zy, jika anak usia pra sekolah yang belum bisa menentukan apa-apa yang menyenangkannya (menurut saya sih ini 😬), kira-kira butuh berapa kalai atau berapa lama kita coba di satu hal, sampai kita tau dia suka atau tidak. Misal kita sedang mencoba mengenalkan renang, diperjalanan dia bilang gak suka. Apa kita langsung turuti beralih ke yang lain atau lihat perkembangan sampai berapa lama?

⏩Menurut ippho santosa 90 hari waktu yang cukup untuk menentukan apakah kita memang masih menyukai kegiatan tersebut atau tidak. Jika ia dalam waktu tersebut sudah bosan bisa diganti dengan kegiatan lain. Jika tetap menyukainya. Teruskan..bisa jadi itu passionnya
❓❓Saya mau tanya..Saya suka khawatir karena curriosity anak saya seperti tidak ada habisnya. (usianya 7 tahun). Kemarin pulang sekolah dia minta diajarin perkalian. 🙈 (Alhamdulillaah penjumlahan dan pengurangan sudah mampu dikuasai). Tapi saya agak khawatir, kalo perkembangan secara kognisinya terlalu cepat. Seperti hal nya dulu, di usianya menjelang 5 tahun, saya belum mau mengajarinya membaca tapi dia sudah banyak bertanya dan minta diajari membaca. (mungkin karena hampir setiap hari dia melihat saya membaca buku saya sendiri atau membacakannya cerita).  Padahal saya hampir tidak pernah membahas pelajaran sekolah saat di rumah. Jikapun bertanya hanya melakukan review sesekali tentang pengalaman belajarnya, apa yang baru dia tahu, dll. Tapi lebih sering dia duluan yang cerita. 🙈Ummi.. Tadi aku belajar ini, tapi aku masih bingung. Padahal udah dijelasin. Ummi ajarin aku ya? Saya lebih banyak bertanya tentang dengan siapa dia bermain? Apa yang seru di sekolah hari ini? Dll.. Karena orientasi saya saat ini, yang penting anak saya senang belajar, dan senang berteman. Apa yang sebaiknya saya lakukan..?
⏩Curriosity anak yang besar sangat bagus. Jadi tidak perlu dikhawatirkan. Yang tidak boleh, kita memaksakan kehendak kita agar anak bisa ini bisa itu. Tapi kalau anak yang meminta mengapa tidak diajarkan bun? Barangkali memang itu kebutuhannya. Cepat dalam belajar sehingga bisa terjadi sebaliknya jika dia sudah banyak tahu tapi tidak ditambah pengetahuannya nanti dia akan bosan..#imho

Penutup

Ingat..

Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”. 

:):):):):)