Mbah Kakung


Sepertinya pernyataan bahwa orang tua zaman dulu sangat getol kerja itu benar. Badannya akan sakit bila hanya leha-leha dan ngga digerakkan untuk bekerja. Pernyataan itu juga berlaku untuk mbahku, mbah kakungku dari Ibu. Beliau sudah tua. Sangat renta. Tubuh kurusnya mengkeriput kering, sebagian besar giginya sudah tanggal, rambutnya pun nyaris tak lagi tampak. Tapi selalu, setiap hari, beliau bekerja sebagai tukang kebun di sebuah rumah kompleks. Padahal perjalanan dari rumah -yang menurutku sudah seperti gubuk- ke tempat kerjanya cukup jauh, hanya ditempuh menggunakan sepeda dengan dikayuh sendiri oleh kaki lemahnya.

Pernah suatu ketika aku diberi kabar. Mbah ditabrak, pingsan. Kaget, panik, khawatir. Tapi Alhamdulillah, Alloh masih berbaik hati memberi kesempatan pada mbah untuk kembali menjalankan tugasnya sebagai manusia. Aku sekeluarga memang tak sempat kesana karena di hari kerja, namun buleku menelpon memberi kabar dan menceritakan kronologisnya.

Kurang lebih ceritanya begini:

Saat itu, seperti biasa mbah bersepeda menuju tempat kerjanya. Jalurnya memang melalui jalan raya dimana kendaraan-kendaraan besar lain saling beradu cepat. Dan tiba-tiba ada mobil atau motor *lupa* nyerempet mbah, membuat mbah jatuh dan pingsan di tempat. Sampai kemudian mbahku itu terbangun dengan sendirinya dan melanjutkan perjalanan ke tempat kerjanya.

Bisa dibayangkan saudara-saudara?? Seorang kakek renta tergeletak di pinggir jalan tanpa seorang pun memperdulikan!! Duhai, betapa egoisnya orang Jakarta. Kenapa aku sebut ‘orang Jakarta’? Salahkah Jakarta? Entahlah. Tapi memang pada kenyataannya sekarang ini zamannya serba nafsi-nafsi (sendiri-sendiri). 😦

Mbahku ini, walaupun getol bekerja, tapi hasilnya juga bukan untuk dirinya. Setiap rupiah yang dia hasilkan diberikan lagi pada cucu-cucunya. Terutama cucunya dari ibuku. Entah atas dasar apa, tapi bisa dibilang anak-anak dari ibuku lah yang paling diperhatikan oleh mbah, baik mbah kakung maupun mbah putri. Bisa jadi karena *konon* ibukulah yang paling kurang difasilitasi dibanding saudaranya yang lain saat kecil dulu. Atau mungkin karena suami dari ibuku yang memang lain dari pada *menantu* yang lain (mbah kung paling segan sama Bapak). Bisa jadi karena hanya akulah cucu yang berhasil tamat kuliah (mbah sangat ingin cucu-cucunya sekolah setinggi-tingginya). Atau bisa juga karena iba melihat ibuku sudah harus menanggung semua kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil sejak bapak meninggal. Entahlah. Aku tak pernah tau.

Mbahku ini juga sangat rajin beribadah. Tiap hari sholat tahajud ngga ketinggalan (aku malu). Sholat wajib selalu berjamaah di masjid. Sering baca qur’an. Wes pokok’e uapik tenan deh.

Dan sekarang, mbahku lagi sakit (Itulah alasan aku bolong posting bulan ini. Sabtu setelah belajar pajak, langsung ngacir ke rumah mbah. Nginep sampe minggu dan sampe rumah jam 10-11 malem).

Tapi biarpun sakit, ngga kuat bangun, tetep aja masih tahajud. Sholat wajib sudah tentu jalan terus. Tapi sejak 2 minggu terakhir, mbah udah ngga kuat jalan, ngapa-ngapain di kasur, termasuk sholat. Dan dari cerita bule, kemaren mbah sempet nangis gara-gara ngga kuat jalan ke Masjid untuk sholat jum’at. “Sholat jum’at kan wajib” gitu katanya. Salut salut…

Well, Doakan ya teman, semoga mbahku diberi kesabaran dalam menjalani ujian-Nya. Dan semoga anak cucunya juga diberi kesabaran dan keikhlasan untuk merawat mbahnya.

Kecenderungan [baik-buruk]


Setelah sukses post a day selama bulan Januari, Februari ini malah diawali dengan bolong 3 hari. Minggu, senin, selasa. Sebenarnya ngga ada niat untuk bolong sih, awalnya hanya faktor ketidaksengajaan. Tapi begitu sadar sudah bolong sehari, mood postingku menurun. Ditambah sikon ngga mendukung, jadilah senin ngga posting lagi. Selasanya? Nanggung, sekalian aja jadi 3 hari 😆

Itu fakta yang bikin aku mikir. Betapa kecenderungan untuk berbuat hal yang salah itu mudah. Bukan berarti ngga posting itu salah. Hanya saja, sejak awal tahun ini aku sudah meng-azzam-kan diri untuk post a day, tapi bukan sembarang post asal, harus ada makna sekecil apapun, minimal kelak bisa jadi pembelajaran buat aku. Itulah susahnya. Bikinnya harus pake mikir.

Dan memang konsisten itu susah. Untuk menjaga semangat menulis selama ‘post a day’ itu butuh perhatian ekstra. Karena ngga setiap hari aku dalam keadaan gembira dan suka cita. Ada kalanya sedih, galau, marah, tapi aku harus berusaha mengesampingkan hal-hal ngga mutu itu supaya tetap bisa menulis hal-hal bermutu.

Nah, dibandingkan dengan perjuangan yang cukup sulit itu, bikin bolong postingan ternyata jauh lebih mudah. Kalau diturutin, mungkin bakal keterusan sampai berbulan-bulan. 😆 Nyata sekali kalau kecenderungan untuk hal negatif itu lebih tinggi, lebih mudah daripada kecenderungan untuk hal positif.

Aku rasa, demikian juga halnya dengan kasus-kasus lain. Dalam memilih teman misalnya. Bila berteman dengan orang yang punya kebiasaan buruk, ngga perlu pake susah untuk mengikuti kebiasaan buruk itu. Dan bahkan saat orang yang mempengaruhi itu sudah pergi, orang yang dipengaruhi akan tetap dengan kebiasaan buruknya. Lain halnya bila yang dipengaruhi itu kebiasaan yang baik, untuk mengikutinya aja udah susah, eh pas si teman baik menghilang, hilang pulalah kebiasaan baik itu dengan mudahnya.

Contoh lain misalnya, ada orang yang rajin sekali tahajud, tapi suatu malam, dia bolong tahajud (bukan karena tamu bulanan cewe yaa :P), maka keesokannya, godaan untuk ngga tahajud itu bisa jadi membesar. Sehari, dua hari, tiga hari, lama-lama bolongnya bisa keterusan. Itu mudah. Lebih mudah dibanding saat awal mulai merutinkan tahajud. Ngga percaya? Coba saja. 😀

Memang sih, itu tergantung iman dan pertahanan diri masing-masing orang. Tapi percayalah, setan ada dimana-mana. Dan dia sungguh tak pernah kenal lelah untuk menggoda kita. Maka dari itu kawan, mulailah perhatikan apa yang ada disekitar kita, seleksilah. Bukan berarti sombong/pilih-pilih. Tapi kita adalah apa yang kita baca, kita dengar, dan kita lihat. Jadi kalau kita dikelilingi hal-hal baik, maka diri kita pun akan jadi baik. Begitupun sebaliknya.

So, marilah jadikan diri kita cenderung berbuat kebaikan. Dan jangan mudah tergoda untuk melalaikan kebiasaan baik kita. 🙂