Dibalik BEC


Mungkin ada yang bertanya-tanya (atau mungkin nggak? LOL), kok ini blog, setelah lama vakum, muncul-muncul langsung ngepost pake bahasa asing. Belagu banget yak. Wkwkwk…

Jadi, ceritanya begini. Karena aku ini pemalas bin sok sibuk, jadi ngga ada tuh ceritanya BW-BW-an lagi. Pokoke ra urus lah soal perblogingan. Walaupun jauh di dasar hatiku, masih “mendewakannya”, pun di email, masih ada tuh notif-notif newpost dari blog yang aku follow. Tapi pada akhirnya berakhir di trash sebelum aku membacanya. What a pity. 😐

Terus, suatu hari tetarik sama judul newpostnya Mas Ryan sama Kak Nita. Kok judulnya mirip-mirip. Sama-sama ngebahas BEC. Tergoda lah untuk ke TKP. Dan ternyata mereka lagi pengen bikin English club gitu. Ngga pake babibu, aku langsung join. Padahal dulu tuh yaa, waktu zaman sekolah, paling takut dan ngga suka sama bahasa inggris. Karena ngga bisa kali yaa..

Dan sekarang menyesal kemudian, English is everywhere, boo. Trus seiring dengan jiwa minderanku yang mulai tenggelam, bersemangatlah aku untuk mempelajari ragam ilmu (kecuali politik), termasuk bahasa inggris ini. Sempet kepikiran untuk les, tapi biayanya itu, wew.

Nah, Alhamdulillah, Januari ini, Allah takdirkan aku untuk ketemu BEC. Penjelasannya liat sendiri aja dech di post penggagasnya (Kak Nita, Mas Ryan, Mas Dani), atau ke blog BEC-nya langsung. (klubnya udah punya blog sendiri lhoo, keren yak!)

Akhirnya Mas Ryan add aku ke whatsapp group. Dan pertama kali join, Amazing! Keren banget. Curcol, ngobrol ngalor ngidul di WA full English. Kebayang nggak tuh! 😀 Awalnya aku sangat menikmati, malahan sesekali ikut nimbrung. Etapi lama kelamaan mulai diem, loading, terus roaming. ROTFL.

Soalnya yaa, banyak kosa kata baru yang bermunculan. Dan sebelum aku memahami satu kalimat di chat itu, kalimat-kalimat lain langsung menyerbu, tanpa jeda. Akhirnya, pilihan terakhir ku ambil. Close chat. Hahahaha…

BEC ini punya 2 group WA, Chit-chat and learning. Untuk chit-chat, kayaknya ngga rugi-rugi amat kalau ngga dibaca semua yaa. Tapi kalau learningnya –yang mana ada 4 grammar nazi baik hati yang ngasih materi- rugi banget kalau sampe ketinggalan. Banyak ilmu. Tapi gimana donk? Ini lebih parah daripada chit-chat. Terlalu banyak kalimat yang aku ngga ngerti. Akhirnya, karena ngga bisa ngikutin secara live, aku putuskan untuk email historychat aja dan bacanya kalau ada waktu senggang (alias kapan-kapan) :P.

Tapi beneran aku baca kok, kan beneran niat belajar. Walau belum selesai sampe sekarang. Bayangin aja, dalam setiap episode learning, ada + 20 halaman dengan font Maiandra 10 margin 0,5. Dan sekarang udah sebulan aku ikut BEC, maka udah setumpuk history yang kudu aku pelajari. *mabok*

Trus yaa, awalnya aku cuma pengen gabung group WAnya aja, ngga mau ikutan bikin post full English gitu. Trus aku kasih tau soal itu ke para admin via group, niatnya mah ngasih tau doank. Pas ditanya kenapa, aku bilang aja karena ngga bisa. Bahkan untuk memahami percakapan mereka secara utuh aja aku ngga bisa.

Eh, tapi ternyata, tanggapan mereka (admin dan member) diluar dugaan.

Beby: Please don’t be afraid of being wrong. We are still learning, aren’t we? Just enjoy and relax. Because it’s so fun.

Grant: It’s OK Pu3. Because my English is not really good too. And for the blog post, I can only write a few sentences.

Ryan: Dear Utie, we are all learning to write in English here. Don’t be afraid. This is the time for you to try out. I mean, learning here. Then practice it in writing. One of the biggest problem in learning English and any other language is that we are afraid to practice it. It’s not our mother language, that’s why we make this club. This is the place we can learn and practice it without fear.

Beby: or shy.

Nita: First thing first. Yang penting punya keberanian dulu untuk ngomong.

Tia: Belajar sama-sama, Utie.

Beby: Jangan ada excuse diantara kita. Apalagi belajar bahasa. Capek dikit gpp, yang penting ada hasilnya.

Dani: Just don’t give up and don’t underestimate yourself.

Tuh, coba, gimana aku ngga tersanjung dan terharu mengetahui betapa mereka support aku. *sesengukan* :’)

Akhirnya, aku memutuskan untuk ikutan juga English Fridaynya. Dan tentunya post pertamaku bener-bener minim sentences. 😀 Gak apa lah, katanya boleh kok biarpun cuma 1 kalimat. 😛

Minggu kedua, aku semakin bersemangat. Habiiss, temanya soal mimpi sihh. Kalau udah ngomongin mimpi, walah, aku tak terkendali. Dan post tema kedua itu adalah postinganku dengan bahasa inggris paling panjang yang pernah aku buat seumur hidupku *seingatku sih*. Sampai terkagum-kagum sendiri (yah, walaupun banyak salah). 😀

Minggu ketiga, semangatku mulai kendor. Apalagi temanya bikin kepala cenut-cenut. Tapi, kupaksakan juga bikin postingan. Dan postingan terakhir di bulan Januari pun standar aja, moodku hanya sedikit lebih baik dari waktu nulis yang ketiga.

Yah, walaupun aku “jatuh bangun” untuk ngikutin BEC ini. Juga suka merasa paling ngga bisa sendiri, beruntung ada Mba Mikan dan Mas Ryan yang terus support aku tak henti. Tentunya member, admin, dan mentor lain juga, tapi dua orang yang kusebut itu benar-benar perhatian banget sama aku. Bahkan Mba Mikan (Grammar Nazinya BEC) sampe WA personal dengan aku untuk bantuin bikin kalimatnya. Huhuhu… so terharu. Semoga aku ngga mengecewakan mereka. :’)

Pokoknya, apapun yang terjadi, aku akan terus mencoba dan melakukan yang terbaik. Ngga boleh menyerah dan kalah. Kalau yang lain bisa, aku juga harusnya bisa kan. Bisa karena terbiasa. Semangaat!!!!

\^o^/

Wanita Rumahan atau Wanita Perusahaan, sebuah pilihan


Mendukung eman-si-sapi bukan berarti mengabaikan kodratnya wanita sebagai manager di rumah lho yaa…

Dan walaupun menurutku pepatah jaman dulu “perempuan itu ujung-ujungnya di kasur, di sumur, dan di dapur” itu benar, juga bukan berarti jadi perempuan tidak perlu pintar.

Pernyataan “percuma sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma ngurusin rumah doank” itu menurutku mutlak salah.

Tak ada yang percuma dalam menuntut ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu itu hukumnya WAJIB, bagi setiap laki-laki dan perempuan, dari mulai buaian sampai ke liang lahat. Jadi, ngga ada ceritanya yang namanya cewe itu ga boleh sekolah/kuliah tinggi-tinggi.

Namun, banyak orang (baca: wanita) berpikir bahwa memanfaatkan ilmu yang didapatkan dari sekolah atau kuliahnya hanya bisa dilakukan dengan menjadi wanita karir.

Banyak pula orang yang menganggap menjadi wanita perusahaan (baca: wanita karir) lebih “WAH” dibanding “HANYA” menjadi wanita rumahan (baca: ibu rumah tangga).

Namun, tidak begitu menurutku. Dalam pandanganku, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga biasa adalah justru sangat luar biasa.

Wanita karir hanya dituntut melakukan pekerjaan yang sesuai bidangnya. Itu-ituuuu saja. Kalaupun naik posisi, hanya menambah beban tanggung jawab dengan tetap pada fokus pekerjaan yang itu. Jam kerjanya pun tetap.

Lain halnya dengan wanita rumahan. Ia dituntut menjadi Manager di segala bidang dalam perusahaan kecilnya, di setiap waktu dalam nafasnya. Dan seorang Manager tentu sangat butuh banyak ilmu yang bisa diaplikasikannya.

Bayangkan, seorang wanita rumahan itu harus terampil dalam banyak hal, diantaranya:

  • Mengatur keuangan dan belanja rumah tangga
  • Memilah-milah barang bermutu dengan harga bersaing
  • Memasak
  • Membersihkan rumah dan pakaian seluruh anggota keluarga
  • Menjalin hubungan baik dg tetangga dan sanak saudara
  • Menjaga keharmonisan keluarga
  • Mendidik anak
  • Mengurus administrasi kemasyarakatan
  • Menjaga kesehatan keluarga
  • Menjaga keimanan dalam keluarga
  • Dan lainnya…

Kalau diumpamakan di sebuah perusahaan, maka wanita rumahan punya peran sangat penting dalam setiap lini pekerjaan. Dari mulai cleaning service sampai direktur eksekutif. Ia harus bisa menjadi seorang “cleaning service + office girl + security + legal + HRD + sekretaris + akunting-finance” yang baik. Selain itu, ia juga diutamakan menguasai ilmu segala profesi. Koki, guru, ustadzah, psikolog, dokter, desainer, kurir, bahkan tukang kebun.

Dari mulai kerja kasar dengan menggunakan tenaga, sampai kerja hati yang menggunakan perasaan. Hey, jangan dipikir mencuci baju itu pekerjaan mudah. Butuh tenaga kuli untuk bisa mendapatkan kebersihan yang maksimal. Dan jangan dipikir pula mendidik anak itu mudah. Makan hati adalah salah satu hal yang sudah biasa dialami oleh seorang ibu. Butuh kesabaran extra untuk menjalaninya.

Menurutku, tak cukup hanya sekedar gelar S-3 untuk bisa mengemban tugas-tugas mulia itu. Butuh beragam ilmu aplikatif. Itulah pentingnya menjadi wanita pintar yang cerdas. Karenanya, dibanding disuruh kuliah tinggi-tinggi, aku lebih suka mengikuti kursus masak, kursus jahit, mempelajari ilmu psikologi, belajar agama, dan ilmu lainnya yang bisa langsung dipraktekan di perusahaan kecilku (baca: keluarga). Dalam Islam pun, seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Maka ia pun harus punya banyak ilmu kebaikan untuk ditransfer kepada anak-anaknya.

Seorang wanita rumahan dengan peran ganda (seorang istri dan ibu) seolah bak superhero yang bisa berubah jadi apapun untuk menjaga keberlangsungan hidup keluarganya. Ia pun berperan untuk mensupport perjuangan suaminya.

Dan di tengah keletihan yang tak berujung, pekerjaan yang tak ada habis-habisnya, seorang wanita harus tetap bisa senantiasa menunjukkan wajah cerianya, senyum termanisnya di depan sang suami dan anak-anaknya.

Oh well, katakan padaku, adakah yang lebih luar biasa dari peran seorang wanita dalam rumah tangganya?!

Tapi tetap, itu semua adalah menurutku. Entah bagaimana menurutmu.

Menjadi wanita rumahan atau wanita perusahaan, itu sebuah pilihan. Dan aku lebih memilih menjadi wanita rumahan di perusahaan miniku, menjadi ibu rumah tangga biasa yang luar biasa.

Bagaimana dengan pilihanmu?? 😉