Rekam jejak Brevet pajak [flashback] – 2


Ada 3 jenis tipe teman: mereka yang seperti makanan, tanpanya kamu tidak dapat hidup; mereka yang seperti obat, yang kadang kala kamu butuhkan; dan mereka yang seperti penyakit, yang tidak pernah kamu inginkan – Anonim

Kalau post sebelumnya aku bercerita tentang keuntungan materil yang kudapatkan, kali ini aku ingin sedikit menggosip dengan keuntungan immateril yang kujalani. 😛

_tentang teman_

Kebiasaanku duduk di depan, di tempat yang sama, ternyata punya konsekuensi sendiri untukku: membatasi pergaulanku. Bagaimana tidak? Teman yang kukenal hanya yang duduk di kursi samping dan belakangku. Dan uniknya, formasi seakan tak berubah. Yang duduk di sekitarku hanya itu-ituuuu saja. Pun begitu dengan yang duduk di barisan belakang. Aku bisa menemukan wajah-wajah yang sama di setiap gerombolan di setiap pertemuan.

Bukan aku tak berusaha membaur, aku begitu penasaran ingin mengenal yang lainnya. Hanya saja, aku yang aslinya pemalu, ngga berani negor kalau ngga ditegor duluan. Akhirnya, aku hanya mampu “membaca” dalam diam. Dan dari pengamatanku, perkumpulan teman-teman dikelas terbagi ke dalam tiga kelompok besar. Tiga kelompok itu kemudian dengan seenak jidat kuberi label masing-masing. Rombongan ABG UP, Tim senior paling rusuh, dan Group anak kalem paling kece. Hahaha…

-Rombongan ABG UP-
kusebut demikian karena rata-rata mereka masih ataupun alumni Universitas Pancasila. Dan mereka sudah saling mengenal satu sama lain, yang kemudian menjadikan mereka eksklusif, tanpa membaur dan merasa nyaman dengan kelompoknya sendiri. Agak susah melakukan pendekatan dengan kelompok ini. Formasi mereka biasanya disebrang formasi kelompokku, kalau aku di barisan kanan, maka mereka ada di barisan kiri. Begitupun sebaliknya.

-Tim senior paling rusuh-
kelompok yang selalu memilih kursi di baris paling belakang ini rusuh bin berisik. Terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, tante-tante, yaaa pokoknya para senior eksekutif yang sudah berpengalaman melanglang buana. Haha…

-Group anak kalem paling kece-
nah, kalau yang ini biasanya mengambil posisi paling depan, lalu tiga sampai empat baris ke belakang. Group pertengahan. Yang tidak terlampau berisik, dan tidak pula eksklusif. Mereka-mereka inilah yang pertama kudekati. Karena memang aku termasuk ke dalam bagian dari mereka. :mrgreen:

Dari baris pertama, aku melakukan ekspansi perlahan tapi pasti ke baris-baris belakang. Kubuat group di whatsapp, milis, dan juga facebook demi komunikasi intens. Dan saat group anak kalem paling kece sudah ditangan, aku melebarkan sayap menuju target selanjutnya, tim senior paling rusuh.

Dan akhirnya, aku berhasil menggaet tim senior dan sebagian ABG UP saat Ramadhan lalu, dan hampir dapat kugenggam semua selepas libur lebaran. Tapi sayang, itu berarti hanya dua bulan terakhir pertemuan brevet. Dan yah, otomatis hubungan pertemanan yang terjalin terasa begitu singkat bagiku. Hiks. Dan di dua pertemuan terakhir, kita baru bisa akrab satu sama lain. Itu pun sebenarnya di group whatsapp, faktanya, saat bertemu muka, setiap kelompok masih mesem-mesem satu sama lain.

Dan gegara aku yang kerajinan, kurang kerjaan, nyebar-nyebar materi dari dosen, stalking sana sini demi mencari info tentang teman brevet lain, sebagian teman menobatkanku jadi ketua kelas. Haha… Dan tentu saja jabatan resmi “Admin”, secara semua sosmed yang kubikin untuk komunikasi antar kita, dipelopori olehku.

Dipikir-pikir, lucu juga. Aku ini anak kuper bin minder yang ngga pandai bergaul. Tapi kemudian menjadi yang paling berperan menjembatani komunikasi sekelas. Membandingkan aku yang sekarang dan aku jaman sekolah dulu, begitu jauh berbeda. Entah karena apa. Sedikit sesal, kurasa di dada. Tapi yasudahlah yaa. Selalu ada yang bisa diambil pelajaran dari masa lalu. Mungkin karena masa laluku yang ngga seru itulah yang melatar belakangi ke-agresif-an ku yang telat.

Kembali pada kelompok tiga besar diatas, sebenarnya aku ingin sekali mengambil banyak foto mereka, saat di kelas, di musholla, di kantin, atau di sekitaran kompleks UI. Tapi hp yang tidak mumpuni dan aku yang takut “ditolak” membuat urung keinginanku. Dan bahkan, di hari terakhir pertemuan, sulitnyaaa mendapatkan foto bersama. Apalagi ujian terakhir adalah ujian ter-the beast. So, bubarannya pun ngga kompak. Rombongan UP sudah mabur duluan. Belakangan kutahu, katanya tergesa ada acara lain. Beberapa anggota tim yang lain pun satu persatu lenyap. Dan akhirnya, tersisalah beberapa gelintir manusia untuk diabadikan.

Namun ternyata, tak hanya di kelas yang pada bubaran. Group whatsapp pun mulai kehilangan membernya. Sedih. Tapi, yang stay jauh lebih banyak. Dan kami yang bertahan mengikrarkan janji untuk sehidup semati tetap menjalin silaturahim. Ah, rasanya perjuanganku jadi tak sia-sia. 🙂

Tim Inti

Semoga jalinan pertemanan ini tetap awet dan memberikan banyak manfaat, di dunia, terlebih di akhirat.

Brevet AB

Nice to know you all… :-*

Berkah Ramadhan


Sesuai janjiku disini, aku akan merinci, kenapa Ramadhanku tahun ini beda. Tema “Beda” yang tadinya hanya iseng, tapi kemudian benar-benar menjadi Beda yang nyata.

…: sepupu ganteng :…
Sudah menjadi tradisi menahun, setiap lebaran mesti aku ke rumah mbah (dari ibu). Bukan pulang kampung, tapi pulang kota, karena mbahku itu memang tinggal di Meruya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Dan kemarin itu (9 Agustus 2013), tumben-tumbenan pas lagi disana, salah satu buleku pun bersilaturahim ke sana, dengan kedua anak laki-lakinya. Bule ini adalah anak dari adiknya mbah uti. Jadi termasuk saudara jauh sih yaa.. Rumahnya dekat dari lokasi kantorku yang dulu, Radio Dalam. Tapi karena aku emang tidak terlalu dekat, jadi ngga pernah main kerumahnya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari kedatangan bule aku itu, sebelum kemudian buleku yang lain (adik dari ibu) heboh menggoda salah satu anak bule Radio Dalam (RaDal). Selidik punya selidik, ternyata kegantengan anak sulung bule Radal yang digoda. Penasaran donk. Dan ternyataaah, pas dilihat, beneran ganteng booo. Hidung mancung, muka bersih, poni lempar. Beuh. Hahaha… 😆 Dengan gaya yang malu-malu (karena si bule beneran heboh dan sok-sok jadi paparazzi buat dapetin foto si ganteng itu), menambah tuh cowo makin imut dan nggemesin. Gila ya, ngga nyangka aku punya sepupu ganteng kayak gitu. Hahaha… ngomong-ngomong, sepupu tuh sah lho buat dinikahin, hehehe.. 😛 Yah, tapi sayang, dianya brondong, masih SMA cyiinn…

Nah, kalau adiknya si ganteng ini, ngga pake malu-malu, tapi songong. Masih SD tapi berani. Dengan gaya sok pahlawan, doi melindungi kakaknya dari serangan paparazzi yang bertubi-tubi (bule, adik, dan sepupuku yang lain). Ditutupi-tutupilah wajah abangnya itu dengan badan dan tangannya. Hahaha.. pokoknya kocak abis. Bagian paling nyebelin dari si bocah itu adalah saat aku menanyakan namanya.

Aku                  : Namanya siapa?
Si bocah          : Ih, kepo banget siih.
Aku                  : *melongo*  Whaaatt??!!! Masa ditanya nama doank dibilang kepo?! Aaarrrr….

IMG_0804

…: i’tikaf pertama :…
Dari dulu aku penasaran, I’tikaf itu seperti apa sih? Apa harus berdiam diri di masjid, ngga boleh ngapa-ngapain selain ibadah selama seminggu/seharian full?? Ternyata aku salah. Niat I’tikaf untuk semalam pun tak apa. Maka, begitu salah satu teman brevetku mengajak untuk I’tikaf di Masjid UI, aku mengiyakan tanpa harus berpikir lama. Di malam ke-27 Ramadhan, 4-5 Agustus 2013, dengan segenap hati aku mantapkan langkah untuk berdiam diri di masjid, munajat pada Robb-ku, berharap malam yang lebih baik dari seribu bulan dapat kurasakan. Namun, malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak (eh, terbalik ya? :P), aku yang pada dasarnya sulit mengendalikan ngantuk, malah selalu tertidur saat kajian dimulai. Hadeeh.. payah dech. Yah, at least, aku berhasil mengejar target tadarusku untuk khatam, merasakan sholat lail terpanjang, dan tahu bagaimana suasana I’tikaf. Semoga aku masih diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan tahun depan dan bisa merasakan lagi suasana I’tikaf dengan khusyuk.

IMG-20130805-WA0003

…: surprize GA :…
Post di awal Ramadhan, memang dari awal sudah ingin kubuat, tanpa urgensi tertentu. Tapi demi melihat post giveaway dari Mba Endah, aku kemudian berpikir untuk sekali mendayung dua pulau terlampau :mrgreen: Kuikutsertakan saja post ku itu. Dan tanpa diduga, saat kubaca pengumuman pemenangnya tanggal 24 Juli, namaku tidak tercantum sebagai salah satu dari dua orang pemenang :mrgreen: tapi justru tercantum sebagai hadiah kejutan. Wow.. benar-benar kejutan!! 😯 Dan tanggal 3 Agustus 2013, paket hadiah dari Mba Endah sampai dengan selamat ke rumahku. Terima kasih Mba Endah. insyAllah akan bermanfaat. Semoga Allah membalas kebaikan Mba dengan berlipat. :-*

Hadiah Surprise

…: nastar by own :…
Lain adik, lain pula kakaknya. Kalau aku memimpikan mesin jahit portable, maka adikku mengidam-idamkan oven. Sudah dari tahun lalu, dan akhirnya THR tahun ini dia manfaatkan untuk membeli oven. Dia memang lebih hobi masak dibanding aku. 😐 Jumat, 2 Agustus 2013, aku menemaninya membeli oven di Carrefour. Langsung saja keesokan harinya diuji coba untuk membuat kue nastar. Si krucil yang paling heboh menyambutnya.
“Mba, ntar aku bantuin ya Mba.”
“Mba, ntar aku yang bulet-buletin ya Mba.”
“Mba, ntar aku yang kuasin ya,”
bla..bla..bla..
Lihat saja tangan-tangan terampil ini.

P643

Senang ya kalau melihat keluarga rukun dan hangat.  Ngomong-ngomong, aku sendiri malas untuk membantu, Hahaha.. Aku memilih konsen pada proyek baju kembaranku. 😉

…: voucher buku :…
30 Juli 2013, aku mendapat sms kejutan, bahwa aku memenangkan voucher belanja dari pengenbuku.com. Kupikir hoax. Tapi setelah mengkonfirmasi ke email admin, ternyata itu sungguhan. Yeeaii.. ngga nyangka banget dech. Jadi, yang kemarin aku kalap beli buku itu, tanpa pernah terbesit di pikiranku, aku memenangkan salah satu undiannya. Terima kasih yaa pengenbuku. Tapi, voucher senilai 150.000 ini hanya bisa dipergunakan untuk membeli buku kembali di pengenbuku.com, itupun hanya terbitan mizan dan antek-anteknya. Buat aku, itu sama sekali ngga masalah. Sebagai pecinta buku, dibeliin buku jauh lebih membuatku bahagia dibanding dibeliin eskrim. Apalagi kalau dibeliin buku sekaligus eskrim. Hohoho.. 😎 Setelah looking-looking, aku melihat beberapa buku yang memang sudah ingin aku beli sejak dulu, hanya saja selalu batal karena mempertimbangkan kantong. Allahuakbar, ternyata, pengorbananku menyisakan rezeki untuk menyenangkan ibu dan adik-adikku langsung dibalas. Aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Gratis. Ngga pake beli. Oh Allah, sungguh janji-Mu memang selalu benar. Karena jeda libur lebaran, jadi hadiahnya kuterima di bulan Syawal, 26 Agustus 2013.

P757

…: bukber Hamaasah :…
Sebagai anggota Yisc (walaupun sekarang mungkin sudah disebut alumni), aku merasa “berdosa” karena jarang mengikuti acara-acara yang diadakan selama ini. Makanya waktu Allah memberiku kesempatan untuk menghadiri acara bukber dan sahur bareng angkatanku di Yisc (Hamaasah), aku merasa sangat bahagia. Bagaimana tidak bahagia kalau aku dikelilingi oleh teman-teman satu visi misi yang senantiasa gemar menyebar kebaikan? Bersama mereka, aku tak khawatir akan terjerumus. Bersama mereka aku merasa dijaga.

Acara ini diadakan hari Sabtu, 20 Juli 2013. Tadinya aku tidak ikut karena ada jadwal brevet. Tapi sehari sebelum hari H, aku diberi tahu kalau brevet hanya akan ada 1 sesi. Alhasil, dengan mendadak, aku mempersiapkan segala sesuatu untuk ikut bukber+saber ini. Dan karena ada sesi tukeran kado, akhirnya aku hanya mencari kado di Indomaret Pondok Cina saat aku berangkat brevet. Sebuah handuk dan sebuah notes warna merah aku pilih untuk dijadikan kado. Terlihat dari label, harganya tak lebih dari 20.000, tapi sudah melebihi harga minimal yang ditetapkan.

Namun, ternyata aku salah lihat. Harganya menjadi lebih dari 20.000. Sempat ragu, apa sebaiknya aku kembalikan notesnya, tapi ya sudahlah, dengan berpikir “berikan yang terbaik”, maka kurelakan saja benda itu. Dan tebak apa yang kudapat dari hasil pertukaran kado itu? Sebuah kado yang sederhana, tapi berguna dan tidak membuat kecewa, karena sesuai dengan jiwa menulisku. Aku ditakdirkan mendapat sebuah agenda kumplit dengan pulpennya. Wow. Mungkin ini adalah contoh real dari pepatah “Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai”. Hadiahku sendiri berlabuh pada temanku yang ternyata girang luar biasa dengan hadiah yang diterima. Dia memang sedang butuh handuk, suka menulis, dan suka warna merah. Benar-benar kombinasi yang serasi. Dan melihatnya gembira, hatiku pun ikut bersorak. Alhamdulillah, niatku berbuah manis.

Tukeran kado

Beberapa kendala teknis sedikit mengubah rencana. Pembagian nasi bungkus di stasiun batal karena hujan tercurah begitu lebat. Miscom dengan pihak catering membuat kita-kita akhirnya terpaksa “hanya” makan nasi padang. Tapi, aku menikmati setiap kebersamaan bersama teman-temanku ini. interaksi yang wajar antar lawan jenis, sholat berjamaah, sholat lail, tausiyah, semua terasa begitu berkah. Ya Robb, jangan biarkan aku terlempar dari lingkaran kebaikan ini. Teguhkan aku pada ukhuwah di atas agama-Mu ini. Sambungkan terus silaturahimku dengan mereka, karena sejauh ini, atas washilah merekalah aku tetap terjaga.

BukBer Hamaasah