Someone’s watching over me


Ketika semua tampak berjalan tak seperti biasa

Ketika semua tampak bergerak menentang

Ketika semua tampak tak seperti yang diharapkan

Ketika semua tampak menjadi semakin buruk

Tidak seharusnya aku lari

Tidak seharusnya aku sembunyi

Karena aku tahu Dia Maha Menyaksikan

Karena aku tahu Dia Maha Adil

Karena aku tahu Dia Maha Bijaksana

Karena aku hidup bukan untuk dia, bukan pula untuk mereka

Tapi untuk-Nya,

Maka aku tidak mau menyerah

Aku akan tetap mencoba tegar

Sampai cahaya itu akhirnya kudapatkan

***——-***

Kemarilah, datanglah beserta segala penderitaan yang bisa kau ciptakan

Kemarilah, datanglah bersama seluruh kesedihan yang bisa kau berikan

Aku punya Dia, lalu kau mau apa?

Kemarilah, maka aku akan siap dengan kebahagiaan yang berlipat

Aku masih ingin bahagia, tetap bahagia, dan akan selalu bahagia

Tak kan kubiarkan siapapun, apapun, menghancurkan kebahagianku

Tidak pula kau

Dan aku akan tetap tidak peduli

Berapa kali pun kau menyerangku, berapa kalipun kau menikamku

Aku akan siap

Karena aku percaya,

Dia selalu ada.

“Jika kamu jatuh dalam kesulitan, maka ingatlah, berapa banyak kesulitan yang pernah kamu alami dan Alloh telah menyelamatkan kamu darinya. Maka ketika itu kamu akan mengetahui bahwa Alloh yang telah menyelamatkan kamu pada kesulitan-kesulitan sebelumnya pasti akan menyelamatkan kamu pada kesulitan berikutnya.”

Someone’s Watching Over Me
oleh: Hilary Duff

Found myself today
Oh, I found myself and ran away
Something pulled me back
The voice of reason I forgot I had

All I know is you’re not here to say
What you always used to say
But it’s written in the sky tonight

Reff:
So I won’t give up, no I won’t break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong even if it all goes wrong
When I’m standing in the dark I’ll still believe
Someone’s watching over me

Seen that ray of light
And it’s shining on my destiny
Shining all the time, and I won’t be afraid
To follow everywhere it’s taking me

All I know is yesterday is gone
And right now I belong
To this moment, to my dreams

It doesn’t matter what people say
And it doesn’t matter how long it takes
Believe in yourself and you’ll fly high
And it only matters how true you are
Be true to yourself and follow your heart

Download Someone’s watching over me

Ps:
Post ini udah aku draft sejak setengah bulan yang lalu, untukku sendiri, saat aku benar-benar mengalami yang namanya “bad days”.
Tapi kali ini, ku persembahkan post ini untuk seseorang yang belakangan ini menjadi inspirasiku, yang mungkin akan menjalani “bad days” miliknya.
Pesanku, percayalah, Alloh selalu ada. ^-^ keep cheers…
~Tetaplah tersenyum, tapi kalau kau tidak mau, maka aku yang akan tetap tersenyum untukmu~

:mrgreen:

Karena hanya Dia yang Tau


“Soal esok hari, itu misteri”

Kantorku ada rencana pindah. Nyari nyari nyari, ketemulah yang cocok di Arteri Pondok Indah. Udah hampir deal sama pemiliknya. Hanya tinggal menghitung hari untuk melakukan pembayaran.

Udah sempet dibikin denah ruangannya. Aku juga udah ngebayangin yang indah-indah, secara ruangannya jadi lumayan lega dan aku jadi punya alternatif transportasi lain yang sepertinya lebih nyaman.

Tinggal sejengkal lagi dalam genggaman, eeehhh takdir berkata lain. Sehari sebelum pembayaran, rukonya udah duluan dibayar orang. Entahlah bagaimana ceritanya. Yang jelas bayangan indahku buyar.

Sedih? Tentu. Kecewa? Jelas. Terbersit pertanyaan-pertanyaan, “kenapa kenapa kenapa”?? Tapi kemudian aku istighfar. Aku sadar, apapun yang terjadi padaku, itu atas ketentuan-Nya. Boleh jadi apa yang menurutku baik belum tentu baik menurut-Nya. Begitu juga sebaliknya.

Lalu aku mencoba ikhlas dan sabar. “Mungkin Alloh punya rencana lain”, begitu pikirku, menghibur diri sendiri.

Beberapa hari kemudian, dapat lagi calon tempat di daerah Kebayoran. Memang lebih jauh, tapi transportasinya memungkinkan. Pas survey ke tempatnya, aku lemas, sangat tidak sesuai dengan yang kuharapkan. Lagi-lagi terbayang ruko yang di Arteri dan terbersit penyesalan, “Ah, padahal disitu udah pas banget tuh. Kenapa harus gagal sih!?”

Saat itu aku masih belum bisa memahami rencana apa yang disediakan-Nya untukku. Rasa sesal itu masih tersisa. Namun lagi-lagi aku istighfar dan terus berusaha meyakinkan diri bahwa inilah yang terbaik.

Dan beberapa hari kemudian, datanglah kabar itu. Kabar yang menjadi bukti bahwa rencana Alloh itu indah. Ketemu lagi bakal calon kantor baru di Lebak Bulus. Lebih dekat dari rumahku dibanding kantor yang sekarang. Saat survey pun aku langsung jatuh hati seketika.

Namun, aku kendalikan hatiku. Aku takut kecewa lagi. Ku kontrol emosiku dan berbisik dalam hati. “Ah, mungkin ini juga bukan tempat yang tepat. Mungkin Alloh ingin mengujiku, seberapa besar keyakinanku terhadap-Nya”. Maka aku pun berdoa, bila ia baik untukku, maka mudahkanlah. Namun bila ternyata tidak baik untukku, maka bantulah untuk ikhlas.

Lalu hari-hari kulalui dengan masih tetap bersabar dan bersiap menerima apapun yang terjadi, baik ataupun buruknya. Aku yakin, apapun keputusan-Nya, itulah yang terbaik yang dipilihkan-Nya.

And guess what??? Kantor itu benar-benar menjadi “milikku”. Yeaayy \^o^/
Tak terkira bahagianya aku. Lokasi kantor yang lebih dekat membuatku otomatis menghemat waktu dan uang. Memang, kantor itu tidak bisa disebut sempurna karena luasnya dan posisinya yang mengharuskanku untuk sedikit berjuang. Namun, aku tahu, aku yakin, Allohlah Yang Maha Tahu. Dia Tau apa yang paling aku butuhkan, sementara aku, hanya tau apa yang paling aku inginkan.

Dan memang tidak pernah salah bila menggantungkan semua permasalahan pada-Nya. Tidak akan kecewa bila hanya berharap pada-Nya. Rahasia-Nya indah. Janji-Nya benar. Tidak akan salah. Tidak akan tertukar. Karena hanya Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu…

Nb: ada lowongan posisi staff accounting nih di kantorku, ada yang berminat??? :mrgreen:

Saat kehilangan ibu


Sore ini aku diberi kabar bahwa ibunda salah satu temenku meninggal. Padahal temenku itu seumuran denganku.

Membayangkannya membuatku terdiam. Seumurku sudah kehilangan ibu? Aku tahu usiaku ini tidak bisa dibilang anak-anak lagi, tapi aku selalu merasa belum cukup dewasa untuk bisa ditinggalkan seorang ibu.

Sejak kepergian Bapak, alhamdulillah aku masih bisa menjalani kehidupan tanpa kesulitan yang berarti. Bahkan setelah meninggalnya pun Bapak masih meninggalkan sejumput kemudahan-kemudahan hidup untuk keluarganya. Hasil dari kerja keras dan cerdas selama hidupnya.

Tapi untuk kehilangan ibu? Mau dilihat darimana pun sepertinya aku belum dan entah apakah akan siap. Selama ini aku selalu bergantung pada ibu. Makan masih dimasakin ibu, kebutuhan sehari-hari masih disiapkan ibu, bahkan untuk membuat keputusan pun masih mengandalkan ibu. Kalau aku bingung, tinggal cerita dan minta pendapat ibu. Pokoknya apapun kata ibu saja lah. Karena aku tahu, setiap keputusan yang diambil ibu bukan karena apa yang ibu mau atau tidak tapi atas dasar Alloh suka atau tidak. Bertanya sama ibu merupakan jalan pintas untuk tahu apakah yang akan aku lakukan benar atau tidak. Ibu ibarat hakim yang memutuskan, dan aku cukup mengikuti sarannya tanpa perlu membantah. Ibulah badan legalku di rumah.

Dan harus kehilangan ibu??? Aku tak yakin sanggup.

Ibuku juga yang selama ini mengurus keperluan adik-adikku secara penuh dan mengurus urusan tetek bengek dalam kemasyarakatan di rumah. Ibuku yang selama ini mengajar mengaji anak-anak yang begitu banyak. Ibuku pulalah yang kuandalkan untuk bersosialisasi di rumah, aku hanya tinggal ‘mengintip’ dan berlindung di balik sosoknya, karena memang aku tidak kenal lingkungan. Bisa dibilang, ibu ibarat algojo yang mengeksekusi setiap permasalahan yang datang, yang aku pun terkadang terlalu malas untuk sekedar memikirkannya.

Dan harus kehilangan ibu? Sungguh, benar-benar, aku rasa aku tidak akan sanggup.

Tapi aku tahu semua yang datang akan pergi. Akan ada saatnya aku benar-benar kehilangannya. Dan memikirkannya benar-benar membuatku sesak di dada.

Dari pengalaman kehilangan bapak, terkadang aku menyesali saat-saat yang terlambat kulalui bersamanya. Seharusnya dulu aku belajar ‘begini’ dengannya, seharusnya dulu aku bertanya ‘begitu’ dengannya, seharusnya dulu aku bersikap ‘begini begitu’ padanya, dll.

Dan itu jadi pelajaranku kini. Sebelum aku benar-benar kehilangan ibu, seharusnya aku mengantisipasi agar kelak tidak ada lagi saat-saat yang terlambat kulalui bersamanya.

Tapi aku memang manusia tulen, yang telah di klaim sebagai “tempatnya salah dan lupa”, jadi terkadang aku pun lupa dengan hal-hal yang seharusnya aku ambil sebagai pelajaran.

Tentang ibu, sampai kapanpun aku tahu tak akan bisa membalas jasanya. Dan bahkan sampai hari ini pun tak jarang aku masih membuatnya kesal. Tapi aku cukup percaya diri menyebut diriku sebagai anak yang cukup berbakti. Setidaknya aku berusaha untuk itu. 😀

Dan harus kehilangan ibu?? Aku masih enggan memikirkannya. Tapi ada atau tidak ada ibu, aku tetap harus belajar mandiri kaan?? Semoga saja aku bisa. *berbisik pada diri sendiri* 😀

Bagaimana dengan ibumu kawan? Saranku, datangi dan berbuat baiklah. Jangan sampai ‘dipaksa’ untuk mengerti betapa kehadiran ibu itu sangat berarti. Mengerti maksudku kan?? 😉

=mari belajar jadi anak yang berbakti=