Menunda Ajal


Kematian adalah suatu kepastian.

Setiap apapun yang hidup pasti akan mati. Itu pasti dan tak teringkari. Atau ada yang menyangkal???

Namun, walau kedatangannya pasti, seringkali ia disambut dengan tak rela hati, baik bagi yang mengalami maupun yang ditinggali.

Kenapa? Mungkin karena kedatangannya membuyarkan semua angan, menghancurkan setiap harapan, dan memutuskan beragam kesenangan.

***

Konon, kematian diartikan sebagai “telah habis masa seseorang di dunia”.

Namun dalam agamaku dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mati bila masih ada rezekinya di dunia ini, walau hanya sebutir nasi.

Dengan kata lain, seseorang itu mati karena “jatah” rezeki untuknya sudah habis, pun begitu sebaliknya.

Jatah atau rezeki kita sudah diatur, sudah ditakar, sudah ditentukan.

Kita hidup di dunia ini pun sebenarnya hanya tinggal menikmatinya.

Jadi saat seseorang mati, sebenarnya, itulah hal terbaik yang seharusnya dia alami.

Karena percuma saja bila orang itu hidup namun jatahnya sudah tak ada lagi. Logikanya, bagaimana dia bisa bertahan hidup??

***

Tentang rezeki dan mati, ada percakapan unik antara aku dan Pak Bos. Saat itu, aku sedang shiyam sunnah senin-kamis.

Pak Bos: “Oh, Putri puasa?”

Aku: “Iya Pak.”

Pak Bos: “Biar umurnya panjang ya?”

Aku mengerenyit dan tertawa saja. Tak terpikir olehku apa kaitan antara shiyam dan umur panjang. Apa memang salah satu keutamaan shiyam sunnah itu adalah memperpanjang umur?

Seperti bisa membaca pikiranku, Pak Bos pun melanjutkan,

Pak Bos: “Ia, kan orang itu mati kalau rezekinya udah abis. Nah, kalau puasa kan yang harusnya hari ini makan, jadi ngga makan. Jadi rezekinya awet dong.” (sambil tertawa)

Aku: (ikut tertawa sambil berpikir).

Walaupun terkesan asal dan hanya candaan, tapi dipikir-pikir perkataan Pak Bos ada benarnya juga. Sangat masuk akal. Begitu rasional.

***

Soal makan, Rosululloh pun mencontohkan untuk makan setelah lapar dan sebelum kenyang. Tidak berlebihan.

Ini pun mungkin sebenarnya berkaitan dengan ajal. Makan sedikit maupun banyak, jatah kita sebenarnya sama. Tinggal berapa lama kita menghabiskan jatah kita.

Semakin sedikit kita mengambil jatah setiap harinya, maka semakin lama pula kita bisa tetap ada di dunia. As simple as that.

Walaupun tetap ada penjelasannya secara medis (Makan berlebihan memang tidak baik untuk kesehatan, bisa menyebabkan penyakit bahkan kematian).

Jadi bila ingin umur panjang, sebaiknya makanlah secukupnya, tidak berlebihan. Kalau perlu, rajin-rajinlah berpuasa. Point plusnya, kita bisa semakin dekat dengan Robb kita.

***

Itu baru tentang makan. Sementara rezeki itu tak hanya soal makanan.

Logika yang sama mungkin saja bisa diterapkan pada konsep “sedekah”.

Rezeki yang seharusnya untuk kita, kita bagikan kepada orang lain. Itu berarti, jatah kita masih ada dan tidak jadi berkurang.

Dan selama rezeki kita masih ada, kita belum akan mengalami yang namanya mati.

***

Jadi kawan, ternyata kita bisa sedikit “bermain” disini.

Menunda ajal.

 

Balasan Koment


Beberapa hari yang lalu, aku memposting keinginanku untuk haji-umroh disini. Namun ternyata, tanpa pernah menyangka sebelumnya, postinganku itu mengundang beberapa komentar yang berujung pada forum diskusi. Semua berawal dari komentarnya Om lambang.

Jujur ya om, pas pertama kali aku baca email notif koment dari om, aku langsung gelisah. Ketar-ketir. Bukan karena merasa terusik, hanya saja aku jadi bingung mau bagaimana membalas komentarnya. Sampai mondar-mandir sendiri di kamar demi memikirkan bagaimana cara penyampaian opiniku yang baik. Bahkan dalam sholatku pun sampai ku tambahkan doa agar aku diberi ilmu dan kemampuan agar bisa membalas komentar dengan benar dan bijak. Hehe.. terkesan lebay ya?! Tapi beneran, aku gugup banget, secara ini pembahasannya cukup berat, riskan dan sarat mengundang perdebatan.

Dan berhubung kayaknya penjelasan aku akan panjang lebar, jadi aku tunda balasan komennya dan berniat untuk menjadikannya postingan aja. Dan inilah postingannya. Tanpa bermaksud mengundang perdebatan (karena aku tidak bisa mencantumkan dalil-dalil sebagai dasar perdebatan), tulisan ini dibuat atas dasar keyakinanku. Jadi mungkin masih ada kesalahan disana-sini. Semoga dapat dimengerti.

***

Bismillah..

Kita copas dulu komennya yaa..

Pertama dari Om lambang

Kewajiban kita pertama jika ingin diakui sebagai ummat Muhammad adalah “sahadah”. Sebelum kita bersahadah maka kita bukan ummat Muhmaad, so…. sebelum ke yang lain kita mesti instropeksi dulu tentang sahadah kita.

Jika sahadah kita belum betul, apakah kita harus melakukan yang kedua ?

Kewajiban kedua adalah sholat. Sudah benarkah sholat kita ? Apakah kita selama ini sudah mampu menegakkan sholat sebagai tiang agama ? jangan jangan masih seperti saya yang angot angotan, kadang sholat kadang tidak. Atau hanya sebatas menggugurkan kewajiban atau melaksanakan ritual semata.

Jika sholat kita belum betul, apakah kita harus memaksakan diri untuk melakukan yang ketiga ?

Kewajiban ketiga adalah zakat. Hehehe…. gak enak nih menjelaskannya. Jika kita kekenyangan sementara tetangga kita kelaparan, maka kita belum termasuk ummat Muhammad loh. Hehehe…… Jangan jangan kita melaksanakan kewajiban ini hanya pada musim fitri saja, beras 2,5 liter.

Jika kemampuan kita berkorban masih lemah, apakah kita harus melakukan kewajiban keempat ?

Kewajiban keempat adalah puasa, sementara kelima adalah hajji.

Eh…… Kalau sahadah kita belum beres, kalau solat kita masih boleng, kalau zakat kita hanya sebatas basa basi, kalau perut kita belum mampu berdamai dengan rasa lapar yang sangat. Apakah kita tega berhaji ?

Ehm….. maaf yah….., tolong koreksi. Karena saya yakin banyak kesalahan.

Mau mengakhiri tulisan ini ternyata teringat beberapa kalimat yang mungkin baik untuk renungan kita bersama.

Berhaji memiliki pahala yang luar biasa, Hajji mabrur balasannya tiada lain selain syurga. Namun, ternyata sebaik baik manusia itu bukan yang pernah beribadah haji. Sebaik baik manusia itu yang bermanfaat bagi orang lain.

Kedua, dari Mas Genthuk

Orang berbuat kebaikan sesuai dengan kemampuannya. ada cerita bahwa seorang pelacur (eit maaf ya) masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan. Ada juga orang yang masuk neraka karena menelantarkan kucing peliharaan. Bisa jadi ada hal-hal yang menurut pandangan manusia itu besar tapi menurut Allah itu hal kecil. Pun ada yang menurut pandangan Allah itu besar, tapi menurut manusia itu kecil. Tugas manusia adalah berusaha yang terbaik yang ia bisa. Meskipun kita, manusia, juga bisa menilainya, tapi hanya secara dhohir (yang kelihatan aja).

Ketiga, dari Afan

kalau di urutkan berdasarkan rukun islam memang seperti itu, tapi ilmu agama menurut saya bukan mutlak seperti matematika. Haji/Umroh adalah panggilan Allah, siapa tau setelah pulang dari haji/umroh malah bisa memantapkan rukun yang lain. kalau memang sudah ada dana yg mendukung sebaiknya minta petunjuk dari Allah.
*menurut pandangan saya

Balasannya aku jadiin satu aja yaa…

Rukun Islam memang ada lima dengan urutan seperti tersebut di atas. Tapi tidak lantas dikerjakan dengan berurut seperti itu pula. Seperti halnya rukun iman yang enam, keenam-enamnya diimani secara bersamaan dan bukannya bertahap atau berurutan.

Tentang syahadat, aku pernah mendengar ada kajian khusus yang membahas tentang makna syahadat, dan itu bisa berbab-bab, berpertemuan-pertemuan, berkali-kali kajian. Makna syahadat tidak hanya sekedar melafalkan Alloh sebagai Tuhanku dan Muhammad sebagai Rosul Alloh. Ia punya makna yang dalam pada aplikasinya dalam kehidupan kita. Orang yang dapat memaknai dengan benar tentang arti “Tidak ada Tuhan selain Alloh”, maka ia tidak akan melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan perintah Alloh. Tidak akan ia lebih mementingkan pekerjaannya, kuliahnya, pangkatnya, dll daripada ketaatannya pada Alloh. Dan menurutku, sepanjang usia kita, belum tentu kita bisa mengaplikasikan makna syahadat dengan sempurna. Itu butuh proses dan ilmu.

Tentang sholat, apakah orang-orang yang sudah menunaikan ibadah zakat, shoum, haji, itu sholatnya sudah sempurna? Belum tentu. Dan lagi-lagi menurutku, itu butuh waktu dan ilmu. Lalu apakah bila sholat wajibnya belum sempurna lantas tidak perlu memayahkan diri melaksanakan sholat sunnah?? Tidak, justru sholat sunnahlah yang bisa membantu kita dalam menyempurnakan sholat wajib yang masih seenaknya. Menyempurnakan disini maksudnya bukan melalaikan salah satu sholat wajib dan menggantinya dengan sholat sunnah, tapi mengerjakan sholat wajib 5 waktu dan menyempurnakan kekurangannya (sholat tidak khusyuk, di akhir waktu, dll) dengan sholat sunnah.

Tentang zakat, yang paling ku mengerti (sedikit banyak) adalah zakat fitrah dan zakat profesi. Zakat profesi itu dapat dikeluarkan bila sudah memenuhi nishab dan haul. Bila belum memenuhi syarat, maka tidak wajib. Tapi kalau zakat fitrah, wajib bagi setiap jiwa untuk mengeluarkannya. Membantu sesama, tidak hanya bisa dilakukan dengan mengeluarkan zakat, tapi bisa dengan sedekah atau infaq. Namun baik zakat maupun infaq, tidak perlu orang yang sholatnya sempurna terlebih dahulu yang dapat melakukannya. Siapapun bisa kalau memang mau.

Tentang shoum, hukum shoum Romadhon adalah wajib. Seperti wajibnya sholat 5 waktu dan zakat fitrah. Apakah orang yang sholatnya angot-angotan, enggan menyisihkan hartanya untuk membantu sesama, atau orang yang belum mampu berzakat profesi, maka kewajibannya untuk shoum Romadhon menjadi gugur?? Tidak, ia akan tetap mendapat dosanya, terlepas dari kewajibannya yang lain sudah sempurna atau belum. Dan tentang shoum sunnah pun kurang lebih sama dengan sholat sunnah. Ia berfungsi sebagai pelengkap dan bukti cinta kita pada Rosul (bila shoumnya mengikuti cara Rosul).

Tentang haji, bukanlah perkara tega atau tidak tega. Ia adalah bagian dari rukun Islam. Wajib bagi yang mampu. Mampu dalam hal apa? Mampu secara materi, mampu secara fisik, mampu secara ilmu, atau mampu-mampu yang lain. Banyak sekali kisah tentang orang yang pergi haji, walaupun dia dalam kehidupannya secara materi tergolong kalangan yang tidak mampu. Sementara tidak sedikit pula golongan orang-orang yang masuk ketegori mampu, namun enggan melaksanakan ibadah haji. Jadi, ini hanya soal mau atau tidak mau, sama seperti ibadah yang lain. Mau atau tidak ia menjalankannya. Soal mampu atau tidak mampu? Menurutku sih berbeda ya, antara Memaksakan mampu dan Mengusahakan mampu.

Tapi sungguh, banyak kisah tentang keajaiban haji. Ada yang secara logika, fisiknya tidak mampu, namun ternyata Alloh mudahkan ia menjalankan haji. Ada yang logikanya dia tidak mungkin bisa naik haji, namun ternyata Alloh limpahkan karunia-Nya dan memberangkatkannya haji. Banyak pula yang menemukan keajaiban selepas menunaikan haji. Banyak yang menjadi dimudahkan dalam urusan dunianya, makin dilancarkan rezekinya, dll. Dan bisa saja, sepulangnya dari Baitulloh, orang-orang itu justru semakin termotivasi dan dimudahkan untuk memperbaiki kualitas ibadahnya yang lain.

Sungguh, Alloh itu Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Kuasa. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Tugas kita hanya berusaha menjalankan perintahnya dengan sebaik-baiknya. Terlepas dari apakah kita bisa menyempurnakan ibadah kita atau tidak. Bukankah manusia memang tidak sempurna? Ia tempatnya salah dan lupa. Dan kadar iman manusia itu pun naik turun. Tidak ada yang bisa menjamin orang-orang yang sehari-harinya selalu berbuat kebaikan, lantas kelak dia akan masuk syurga. Apapun bisa terjadi. Alloh itu Maha Melihat, dan perbuatan kita, besar kecilnya, pasti akan dibalas.

Namun memang, mungkin akan jadi masalah bila ada seseorang yang berkali-kali naik haji namun tetangga terdekatnya kelaparan dan tetap bergumul dengan kemiskinan (mungkin yang ini baru bisa disebut tega). Akan jauh lebih baik jika dana untuk haji yang kesekian itu digunakan untuk membantu orang lain yang kesusahan atau bahkan menghajikan orang lain.

Kita beribadah sesuai kemampuan. Betul, tentu saja. Tapi tidak ada salahnya mengusahakan kemampuan kita agar bisa melaksanakan ibadah dengan optimal.

Terakhir, aku ingin menegaskan sekali lagi, bahwa bagiku, antara MEMAKSAKAN dengan MENGUSAHAKAN itu jelas berbeda.

Wallohua’lam

***

Demikian balasan koment yang sempat tertunda. Mungkin tidak bisa menjawab keraguan yang ada atau justru menimbulkan bahan perdebatan lain. Ilmuku masih sedikit, dan tidak pandai menyampaikan, apalagi mendakwahkan. Ini hanya keyakinanku, dari pemahaman yang ku dapat selama 23 tahun belajar Islam. Mohon maaf bila banyak kekurangan, baik dari segi isi atau cara penyampaian. Ilmu yang sedikit ini, semoga dapat bermanfaat.

Terima kasih.

(pfiuh..akhirnya selesai juga *berkeringat*) 😀

Baiknyaaaaa…


Hari ini ibuku sakit, dan sebagai anak yang baik, aq meluangkan sejenak waktuku untuk memijat dan menemaninya. Jadi, aq ngantor lebih siang. Sebenarnya sih ngga siang, soalnya awalnya dulu memang aq selalu berangkat jam segitu. Hanya saja sebulan terakhir aq berangkat lebih pagi, sangat pagi.

Dan hari ini, aq akan merasakan lagi hal mendebarkan yang dulu selalu ku jalani (akan ku jelaskan di postingan selanjutnya, insyaAlloh). 😀

Aq berangkat dengan berlemas diri karena aq memutuskan untuk shoum walaupun ngga sahur karena kesiangan. Alasannya? Pertama, karena doa orang yang sedang berpuasa itu diijabah. Dan aq ingin berdoa banyak2, mendoakan ibu yang terbaring sakit, berdoa agar cerpenku tembus lagi, berdoa agar di peperangan terminal nanti aq bisa jadi pemenang, dan doa2 yang lain.

Kedua, aq takut bila sekali bolong, maka nanti2 aq akan menggampangkan alasan untuk bolong dan akhirnya kebiasaan shoum senin-kamisku jadi lenyap.

Dan ketiga, karena tidak ada lauk yang bisa kubawa sebagai bekal. Malas sekali kalau harus membeli di luar, selain bingung menunya, sayang juga duitnya, haha (PS. Jangan pada protes soal ini ya, antara pelit dan irit memang berbeda tipis) 😛

Sampailah aq di terminal yang sudah dijejali orang, menunggu bis yang sama denganku. Tak berapa lama, debbie tertjintah datang. Dan peperangan itu dimulai. Aku berhasil menjadi orang pertama yang naik dari pintu belakang, tapi apa yang terjadi saudara saudara???

Disaat seluruh tubuhku sudah masuk, dan berjejalan makhluk-makhluk berkepala hitam dibelakangku yang juga ingin masuk, entah bagaimana alurnya, tiba2 aq merasa ada yang hilang, sepatu kananku lepas. TIDAAAKK!!! SEPATUKUuu!!!!

Aq berbalik memutar arah, namun mereka menerjangku, berebut masuk tanpa memberi celah untukku mengambil sepatuku. Dan aq semakin terdorong masuk, dan bis semakin berjalan perlahan.

Aq mulai panik. Sepatuku, sepatuku, teriakku.Ku berjuang melawan arus massa, dan setelah peperangan berakhir, baru akhirnya aq bisa turun dan mengambil sepatuku.

Kuhampiri sepatuku yang tergolek memelas di jalan yang dilewati tadi. Beberapa orang yang mengetahui apa yang terjadi menertawakanku. Kutatap nanar bis yang melaju meninggalkanku. Menggerutu dan akhirnya pasrah. Sudahlah, berdiri dech. Mana lemas, padat, jauh. Huwaaa…pengen nangis rasanya. Kasihan sekali diriku.

Tapi lagi2, kejadian tak terduga menyapaku. Saat kuhampiri bis dengan lesu, seorang bapak yang duduk di bangku paling belakang melambaikan tangan padaku. “Sini, sini”. Seketika wajahku cerah.

“Duduk sini,” seorang ibu PNS yang memang sudah mengenalku dan sempat kusapa saat menunggu bis tadi juga melambaikan tangannya.

Ternyata oh ternyata, mereka menyisakan satu bangku untukku. Mereka tau tragedi yang menimpaku dan berinisiatif untuk menolong gadis lemah nan kasihan ini. Ooh, baiknyaaa merekaaa…. Aq terharu. Hiks.

Ehem. Oke, Baiklah. Cerita tadi memang berlebihan. :mrgreen:
Intinya sih, dari peristiwa pagi hari yang tak kubayangkan sebelumnya ini, aq mengambil kesimpulan kalau :
1. Masih ada orang baik di dunia ini. Masih banyak
2. Doa orang berpuasa itu memang benar2 diijabah
3. Anak yang berbakti sama orang tuanya tidak akan rugi
4. Alloh itu ada, Maha Adil dan tidak akan mendzolimi hamba-Nya. Dia memberikan ujian yang memang sekiranya mampu hamba-Nya lewati

Hmm.. Senin pagi yang penuh hikmah.

Demikianlah akhir dari short story kali ini dan Akhirnya mereka berdua hidup bahagia selamanya. #Lho

Senin, 17 desember 2012