[untitled]


“Akhwat yang ana mau itu wanita sholihah”

Kupandangi pesan whatsapp di group pengajianku. Kalimat itu bukan ditujukan untukku, tapi membacanya membuat dadaku sakit. Tentu saja, karena itu seperti sebuah sindiran halus. Sudah menjadi rahasia umum kalau pria yang menulis kata-kata itu dijodoh-jodohkan denganku oleh teman satu pengajianku.

“Akhwat yang ana mau itu wanita sholihah”

Ah, biarpun Hpku sudah kuletakkan jauh-jauh, kalimat itu selalu saja terngiang-ngiang.

Jadi, menurutmu, aku bukan wanita sholehah, Di?

Aku merasa pandanganku mulai kabur. Kuakui memang aku belum bisa menyandang predikat sholehah. Aku sendiri menyadari kalau aku masih jauh dari sosok muslimah sejati. Tapi entah, di “cap” bukan wanita sholehah terasa menyakitkan hati, sekalipun itu benar adanya.

Aku tahu tipe wanita seperti apa yang kau maksud, Di. Wanita yang menjulurkan jilbab dan kerudungnya menutup aurat dengan sempurna. Wanita yang kalem, tak banyak bicara hal yang sia-sia. Wanita yang rajin mengisi waktu luangnya dengan menghadiri kajian kemuslimahan. Wanita yang pandai menyiarkan kebaikan. Wanita yang ramah namun tetap menjaga pergaulan. Wanita yang menjaga izzahnya sebagai wanita. Begitu kan, Di? Dan itu bukan aku. Aku tahu itu.

Hey, bukan berarti aku mengharapkanmu. Kau pun tak sepenuhnya tipeku. Tapi kau tahu? Kalimatmu selalu membuat hatiku gerimis. Aku sedih. Bukan karena aku bukanlah tipemu. Aku sedih. Karena aku tahu aku memang bukan, belum, menjadi wanita sholehah. Yah, aku harap ini hanya belum. Wanita muslim  mana yang tidak ingin menjadi sholehah?

Dan kau tahu, Di? Aku sedih. Sedih karena kalimatmu memupus harapanku. Apa menurutmu tipe wanita sepertiku tidak pantas bersanding dengan seorang ikhwan sholeh? Padahal aku berharap Robb-ku, Robb-mu masih mau berbaik hati menakdirkanku dengan seorang pria berilmu dan bertaqwa walau dengan aku yang masih seperti ini.

Kau tahu Mas Adam Di? Kau bisa melihat seperti apa kesholehannya. Dan simaklah apa yang pernah ia katakan padaku.

“Istri saya bukan seorang akhwat sejati, namun ketika niatan saya/pria manapun mantap untuk memilih, maka hal itu akan dijadikan ladang dakwah buatnya. Lebih baik memilih istri yang biasa namun kita berusaha untuk “membentuknya” menjadi istri sholehah.”

Bahkan Mas Adam yang kesholehannya tak perlu dipertanyakan memilih wanita yang “biasa”. Saat pernikahannya, istrinya mungkin belumlah seperti wanita yang mungkin kau bayangkan sebagai sosok sholehah. Dan kata-kata Mas Adam itu menyejukkanku. Menumbuhkan lagi mawar yang hampir layu. Sehingga aku masih terus berharap dan mengimbanginya dengan perbaikan kecilku menjadi lebih baik.

Lalu, kau datang dengan kalimat yang seakan sebuah godam. Kau lempar asaku ke lembah terdalam. Aku sedih. Aku layu. Tahukah kau? Hatiku menangis. Tahukah kau?

Ah, tak perlu kau tahu. Kau tahu pun untuk apa? Aku tetaplah seperti ini. Aku masih belum bisa sholehah.

Suara dari Hp membuyarkan lamunanku. Sebuah pesan whatsapp masuk. Kali ini dari teman kuliahku. Teman yang juga dijodoh-jodohkan denganku.

“Nanti sore ada waktu ngga? Diajakin karokean sama anak-anak.”

Aku terdiam. Menatap nanar.

Ini kan Di, yang kau maksud? Aku memang bukan wanita sholehah.

Tak tertahankan, air mataku pun bercucuran.

 

-bersambung-

Sesuci cinta Rana


Tahun lalu, ada film yang ingin sekali ku tonton. Namun oleh satu dan banyak hal, aku batal menontonnya. Mencari novelnya pun tak pernah ketemu. Dan entah rahasia apa yang membuat Alloh menakdirkanku untuk menonton film itu, akhirnya, kemarin, film yang beredar di bioskop itu pun tayang perdana di TV, di channel RCTI.

Aku girang setengah idup waktu melihat iklannya hari Minggu kemarin. Dan kemudian mencatat waktunya. Senin, 8 Juli 2013 , pukul 22.30. Namun, sesuatu yang terjadi di kantor membuat aku lemas seketika. Kehilangan semangat dan gairah melakukan segala. Sampai di rumah, film itu pun terlupa dari ingatanku.

Namun benar kata pepatah (?), kalau sudah jodoh, badai tornado pun tak kan bisa menghalangi. Memang Alloh sudah menakdirkan aku menontonnya, maka kembali diingatkanlah aku pada film itu lewat iklan saat adikku menonton Tukang Bubur Naik Haji.

***

Cinta Suci Zahrana, berkisah tentang gadis muslimah yang berprestasi luar biasa. Akhwat cantik ini seorang insinyur. Lulusan S-2 dan mendapatkan banyak penghargaan. Niatnya mulia, ingin membuat bangga dan bahagia kedua orang tua. Namun sebanyak apapun penghargaan dan pujian yang dialamatkan pada Rana, jauh di hati kecil bapak-ibu nya, tersimpan sebuah kesedihan mendalam, terkait dengan anak semata wayangnya yang belum juga menikah di usianya yang sudah berkepala tiga.

Bapaknya yang mengidap penyakit jantung ingin sekali melihat Rana duduk di pelaminan sebelum Bapaknya menutup usia. Ikhtiar sudah dilakukan. Seakan sebuah sayembara, beragam jenis calon pendamping satu persatu mulai mengetuk rumahnya. Dari sang dekan genit di Universitas tempat Rana mengajar, sampai pemilik bengkel yang sudah menduda tiga kali. Tapi tak ada satu pun yang memikat hati. Bukan karena pendidikan, kemapanan, maupun strata sosial yang membuat Rana enggan menerima lamaran para pria itu. Namun Rana melihat pada akhlaknya, pada agamanya, pada kesholehannya. Dan itu tidak ia temukan pada semua calon yang diajukan padanya.

Hampir putus asa, akhirnya ia meminta bantuan pada Ibu Nyai, pemilik sebuah yayasan pondok pesantren. Dari Ibu Nyai lah akhirnya ia menemukan sosok yang klop di hati. Rahmat, si penjual krupuk nan sholeh. Lulusan pondok yang telah ditinggal mati oleh istrinya.

Sekalipun jarak mereka seperti langit dan bumi, Rana yakin akan pilihannya. Bukan karena usianya yang semakin dewasa, bukan pula karena semakin banyak hinaan “perawan tua” yang dicercakan padanya. Namun, ia memilih Rahmat karena Allah, karena kesholehan pria itu.

Undangan telah disebar, tempat pernikahan telah disiapkan. Namun, sekali lagi iman Rana diuji. Menjelang pernikahan, bapaknya meninggal, pun ditambah satu lagi ujian berat yang menimpanya membuatnya benar-benar nyaris kehilangan keyakinannya.

Namun, sesudah kesulitan ada kemudahan. Allah Maha Adil. Janji-Nya pasti bagi siapa yang percaya. Dan pada akhirnya, Rana mendapatkan apa yang terbaik untuknya menurut Allah. Keteguhannya menjaga agama dan kesucian cintanya berbuah manis. Dan kemudian aku pun menangis. Allah sungguh sungguh Maha Adil.

Sesungguhnya di kegelapanlah, terangnya sinar itu bisa benar-benar terlihat.

Film ini sungguh menyadarkan dan menginspirasiku. Memberi banyak pelajaran padaku. Dan sangat menghibur di tengah hatiku yang sedang galau memelow. Sekarang aku mengerti mengapa Alloh menakdirkan aku tidak melewatkan jam tayang film ini. Ia mungkin ingin “berbicara” lewat film ini.

Soundtracknya yang mendayu memilu juga sanggup menghibur hatiku yang hampir layu.

Lirik Reff lagunya sangat mengena di hatiku.

Sebut nama-Nya, dekat dengan-Nya, pinta pada-Nya.

Segala perkara hidup dan cintamu, indah pada waktunya.

Duh, meresapi kata-kata itu membuatku ingin menangis.

Percaya saja pada-Nya. Maka semua akan indah pada waktunya.

Duhai, semoga aku bisa menjaga keyakinanku pada-Nya. Pun semoga aku bisa menjaga kesucian cintaku. Sesuci cinta Rana.

Mereka adikku =^^=


Kalau banggain diri sendiri kayaknya udah sering ya kupost disini. Naah, kali ini mau berbangga atas prestasi adikku nih.

Minggu, 7 April 2013 (ketauan dech draft post udah lama :P)

Di Masjid tempat aku belajar tahsin-tahfizh, LTQ namanya, diadakan Majlis Qur’an. Daaaan, adikku (yang memang sudah hampir hafal seluruh juz 30) diberi kepercayaan untuk tampil membawakan salah satu surat dalam Juz 30 tanpa membaca Al-qur’an. Uci (7) kebagian surat ‘Abasa, Dika (5) kebagian surat An-Naziat.

Tadinya aku yang deg deg an gitu. Secara mereka kan jarang banget tampil di depan. Khawatir mereka lupa atau jadi speechless saking gugupnya (soalnya mba’nya begitu :P). Tapi kecemasanku lenyap seketika saat melihat mereka tampil dengan tenangnya.

Andhika, duduk bersila dengan gaya cool khas cowo :mrgreen: dan membacakan surat tanpa beban. Tanpa kesalahan!! Sempat heran, karena kalau dilihat ekspresinya, dia seperti ngga mikir, bengong aja gitu ngeliatin orang-orang di depan. Bibirnya kayak bergerak otomatis. Dengan penuh percaya diri, dia menegakkan pandangan ke depan, memegang mix yang kok kayaknya gedean mix-nya daripada adekku :lol:, dan melantunkan surat dengan lantang dan mengalir. Terkejut campur bangga aku melihatnya. Lebih dari apa yang aku harap dia tampilkan. (Sayang saat itu aku tidak terpikir untuk mem-video-kannya).

Sedangkan Uci, dengan suara yang juga tanpa getar, membaca dengan terus memandang pembimbingnya. Lucu melihatnya. Seakan-akan di wajah pembimbingnya itu ada Al-Qur’annya.

Tapi Alhamdulillah, keduanya berhasil melewati tantangan itu dengan baik dan lancar. Salutku pada mereka. Tak nampak ketakutan dan kegugupan di wajah dan sikap mereka.

Apa itu karena mereka masih kecil??

Karena dulu, waktu TK (atau SD?), aku pun pernah ikut lomba MTQ tingkat kotif Depok dan menjadi juara 1. Aku tidak ingat kalau saat itu aku merasa nervous, ketakutan, ngga berani tampil, dan sebagainya. Yang kutahu, aku tampil ya tampil aja. Al-Qur’an yang terpampang di depanku, yang seharusnya kubaca, malah kuabaikan. Mataku jelalatan kemana-mana karena memang surat yang dibaca sudah kuhafal di luar kepala. Mungkin karena waktu itu masih polos dan ngga ngerti apa-apa kali yaa, jadi merasa PD aja, mungkin begitu juga dengan adik-adikku sekarang.

Berarti memang betul kata pepatah (?), semakin besar, semakin tahu, semakin banyak perhitungan, semakin banyak pertimbangan, semakin payah. Karena diriku pun semakin besar malah semakin ngga berani tampil. Suruh aku memberi sambutan di depan 20 orang saja, hampir pasti aku akan kabur dan ngga muncul-muncul lagi. Hahaha… 😆

Hmm.. Menjadi PR bagiku untuk mendidik adikku tidak menjadi penakut sepertiku. Mereka harus dibiasakan sering tampil agar terus berani sampai besar nanti. Bagaimana caranya ya? Ada yang tahu??

Overall, mereka telah membuatku bangga. Sangat bangga. Dan semoga kelak mereka akan terus membuat keluargaku bangga.

Jadi anak sholeh-sholehah ya sayang. Semoga Alloh selalu menjaga kalian. Semoga hafalan Qur’an kalian terus terjaga, meningkat, dan bisa menjadi naungan di akhirat kelak. Aamiin.