Si Bungsu di Mulutku :'(


Begini nih nasib cewe single yang merindukan sebuah ikatan pernikahan: PENYAKITAN. 😆

Hari minggu kemarin, sebenernya aku ada rencana ngumpul sama temen YISC, moment yang kunanti-nantikan, secara aku udah kangen banget sama mereka. Tapi BATAL. Ceritanya minggu paginya itu pas bangun, rahangku susah dibuka. Sakit di pipi sampai tenggorokan. Dibuat nelen juga sakit. Soal nelen sakit sih sebenernya udah mulai berasa dari hari Jumat. Tapi minggu itu tuh sakitnya berasa banget. Sempet terlintas, mungkinkah gondongan??

Sorenya ke puskesmas kembangan (karena lagi di rumah nenek), kata dokter sih radang, bukan gondongan. Dikasih obat radang, demam, dan vitamin. Karena aku ngga merasa demam, ngga kuminum parasitamolnya. Cuma obat radangnya, itupun sekali, sepulangnya dari puskesmas. Besoknya ngga kuminum lagi *edisi anti obat kimia*. Kalau vitaminnya sih kuminum setiap hari. Bentuknya kecil dan warnanya kuning. Vitamin C kali ya. Tapi kok pahit. Ngga kayak vitacimin. >.<

Untuk mengobati radangnya, aku cuma minum madu 2 sdm setiap hari. Dan Alhamdulillah sembuh. Tapi gusiku masih berasa sakit. Akhirnya kemarin ngga jadi ikut rihlah YISC juga dan malah ke dokter gigi. Bu dokter bilang, gusinya agak bengkak karena terdesak gigi bungsu yang numbuh. Sebenernya si bungsu ini numbuhnya udah lama, tapi memang ngga sempurna. Sebagian bodynya tertutup gusi. Dan memang ini bukan pertama kalinya aku merasakan sakit di gusi kanan bagian belakang.

Bu dokter menyarankan aku untuk mencabut si bungsu, lebih bagus lagi sekalian pasang behel supaya yang lain letaknya teratur dan ngga bikin sakit lagi. Tapiiii…pasang behel itu butuh waktu kurang lebih 2 tahun (malu ah) dan biayanya itu lhoo.. 5.000.000. Mendingan duitnya kupake buat beli impianku yang disini.

Lalu bu dokter juga menyarankan aku untuk minum obat.

aq: obatnya apa bu?

drg: amoxilin dan kataflam.

aq: ooohh.. Itu.

drg: pernah minum?

aq: engga sih dok, ibu yang suka minum itu.

Kemudian bu dokter mengambilkan 1 strip amoxilin. Dan mataku melotot melihatnya sambil menelan ludah. Gilingaann..obatnya segede alaihim gitu. Ngga bakal gue minum. Batinku. Dan aku mulai berkonspirasi.

aq: hmm.. Bu, kayaknya masih ada dech obatnya di rumah.

drg: oh ada?

aq: ia kayaknya. Ya nanti dech diliat dulu. (Mau ada/engga, intinya aku ngga mau minum itu 😆 )

dgr: ooh yaudah. Liat aja dulu. Gampang nanti kalau ngga ada.

aq: ia bu.. *nyengir nyengir* (yes, berhasil) 😆

Dan akhirnya beginilah aku. Masih dengan keluhan si bungsu. Cabut gigi?? Ngebayanginnya aja udah ngeri. Pasang behel?? Kalau calon suamiku mau biayain sih gak apa.

Tanya calon dokter aaahh… Ada solusi lain ngga sih kak nit???

***

Untuk sementara ini sih, aku pakai jurus jitu dulu untuk ngobatinnya: Herbal.

Kata Om Jerry di bukunya ini, masalah gigi dan gusi bisa sembuh dengan mengolesi minyak jintan hitam. Kupikir, itu sih gampang, bisa kulakukan di kantor. Tapi aku lupa satu hal. Jinten hitam di kantorku habis dan belum kubeli lagi, aku lupa bawa pula dari rumah.

Jadi hari ini masih harus bersabar menghadapi si bungsu. Semoga saja bisa jadi penggugur dosa. Aamiin.

(Masih) Efek Habibie Ainun


Seperti yang telah diceritakan meta disini, akhirnya ku tonton juga tuh film Habibie Ainun yang lagi booming.

Jujur, aq ini memang dulu kuper *sampe sekarang sih* 😛
Jadi aq tidak tau sosok seperti apa Pak Habbie itu, bagaimana jalannya, cara bicaranya, dsb. Jadi ketika orang2 bilang “akting Reza mirip banget sama Pak Habibie”, aq cuma bisa diam dan bergumam dalam hati, oohh, iya ya??

Terlepas dari pengetahuanku soal Pak Habibie dan Ainun, aq cukup menikmati filmnya. Membuatku ingin membaca biografi/novel aslinya. Aq tertarik dengan komitmen, kejujuran dan pendiriannya. Betapa dia melakukan sesuatu itu bukan karena orientasi materi, tapi demi mimpi dan dedikasinya pada Indonesia. That’s so “me”. Hoho 😎 *nyama2in ajah* 😛 Orientasiku dalam pekerjaan pun bukan uang, tapi kualitas dan kepuasan orang lain atas kinerjaku.

Selama menonton filmnya, fokusku bukan pada apa dan bagaimana Pak Habibie. Tapi aq terpaku pada sosok BCL yang memerankan Bu Ainun. Seperti Pak Habibie, aq juga tidak tau banyak tentang Bu Ainun, jadi aq tidak bisa menilai kualitas akting BCL. Hanya saja, aq begitu kagum pada karakter beliau. Sungguh seorang istri yang luar biasa. Beliau rela mengesampingkan ego pribadinya demi mendampingi sang belahan hati. Diawali dengan pernikahan sederhana, menanggalkan baju dokternya, menjadi ibu rumah tangga biasa dan menjalani masa-masa sulit di Jerman, sabar dan penuh pengertian saat ditinggalkan sang suami demi mengabdi pada negara. Tanpa mengeluh, beliau mendukung penuh sang suami, walaupun sering merasa waktu untuk dia dan keluarga semakin berkurang. Begitu terharu aq menyaksikan pengorbanan dan pengabdiannya pada sang suami.

Beberapa scene dan dialog favoritku adalah di moment-moment ini:

  • Janji Ainun saat dilamar, janji untuk selalu ada mendampingi Habibie
  • Perjuangan pulang Habibie dengan sepatu bolongnya di tengah salju, mengingatkanku pada beratnya perjuangan Bapak dulu demi memenuhi tanggung-jawabnya pada keluarga
  • Perkataan Habibie saat luka kakinya sedang dibersihkan oleh Ainun, “Kamu kuat, Ainun”, saat itu terdengar berbeda di telingaku, “Kamu kuat Putri, kamu kuat” 😎
  • Ekspresi Habibie saat say goodbye dengan pesawatnya, aq seakan merasakan pedih hatinya, lukanya terhadap pengabdian yang berbuah penghinaan

Kalau orang lain setelah nonton ini banyak yang jadi merindukan sosok suami setia seperti Pak Habibie, mengidamkan cinta tulus mereka, dan mendambakan keutuhan rumah tangga mereka, aq lebih tertarik untuk menjadi sosok seperti Bu Ainun. Sosok wanita yang luar biasa. The Shinning Star became The Champion Maker *terinspirasi dari kata-kata om lambang*. Ah, tapi tidak, Pak Habibie tidak bisa disebut sebagai bintang yang redup. Beliau juga bersinar seperti Bu Ainun. Dan aq juga tidak bisa benar2 disebut sebagai Shinning Star.

Namun, sejak membaca postingan om lambang yang ini, aq jadi makin berambisi menjadi The Champion Maker. Aq ingin ada di balik layar kesuksesan calon suamiku. Aq tidak sempurna, dia yang entah siapa pun tak sempurna. Maka aq ingin menjadi sempurna bersamanya. Bergandengan tangan mendaki terjalnya bukit kehidupan. Aq ingin bersinar bersamanya. Aih, indahnya.. 😳

Film ini juga membuatku berpikir, seringkali kita salah dalam menggantungkan harapan. Kita berharap mendapatkan pendamping seperti Nabi Muhammad, tapi kita tidak berkaca, sudahkah kita seperti Khadijah atau Aisyah?? Kita bermimpi tinggi tanpa memantaskan diri untuk bisa meraih mimpi itu.

Jadi kawan, apapun mimpi kalian, maka sebelum menggantungkannya tinggi, pantaskanlah dulu diri kita agar mimpi itu cepat menghampiri.

Ibaratnya, bila ingin mendapatkan sosok seperti Pak Habibie, maka jadilah seperti Bu Ainun.

Lalu, apakah tanpa memantaskan diri kita bisa meraih mimpi kita?? Bisa saja, itu keajaiban. Jadi berdoalah sajalah agar bisa menjadi salah satu orang yang mendapat keajaiban itu. 😀


 

Memang tak ada yang sempurna


Ada yang menarik dari sopir my baby debbie kali ini. Bapak berdarah jawa ini punya kebiasaan tidak merokok, jadi bila sikon mendukung, aq selalu memilih duduk di bangku depan jika dia yang mengemudikannya.

Setiap berangkat kerja, jika aq naik mobil si bapak, hampir selalu dy isi solar dulu di pom bensin sebelum detos. Dan hampir setiap isi solar, dy selalu memberikan sebagian rezekinya pada pengemis di depan pom, seorang ibu yang menggendong anak kecil.

Lalu bagian mana yang membuatku tertarik?? Karena kebiasaan sedekahnya bersilangan dengan kebiasaan judinya. Ya, menurut info yang aq dapatkan, ternyata si bapak suka berjudi. Dan walaupun agamanya Islam, aq tidak yakin apakah sholat wajibnya tidak bolong, karena jarang sekali kudapati kru debbie yang muslim taat melaksanakan kewajibannya, hanya segelintir orang saja.
Walau bisa kupahami, tetap saja itu tidak bisa dibenarkan.

Fakta yang menggelikan untukku, tapi setelah aq kaji kembali, memang ada beberapa orang yang berbuat tidak baik, seperti korupsi, namun getol sekali bersedekah. Kenyataan yang membuatku kemudian berpikir bahwa memang benar tidak ada orang yang benar-benar jahat, dan tidak ada yang benar-benar baik. Semua ada masanya, semua ada proporsinya. Terkadang ada orang yang baik dalam suatu hal, namun tidak bisa dicontoh dalam hal yang lain.

Benar kata pepatah, don’t judge the book by it’s cover. Kita tidak bisa menilai orang dari salah satu kebiasaan buruknya, karena bisa saja ternyata dia mempunyai kebiasaan lain yang sangat mulia, yang kita pun tak pernah melakukannya. Begitu juga saat melihat seseorang berbusana muslim, terkenal dengan kebiasaan baiknya, kita juga tidak bisa lantas menghakiminya saat suatu ketika melihatnya melakukan perbuatan yang tidak patut ditiru.
Karena memang tidak ada orang yang sempurna. No body’s perfect.

Seseorang yang taat dalam suatu hal mungkin saja sulit untuk taat dalam hal lainnya. Tidak usah jauh-jauh, ambillah contoh diriku, dalam hal menjalankan shoum sunnah senin-kamis, bisa dikatakan aq jagonya. Mau perjalanan jauh, panas, dihadapkan dengan bermacam-macam makanan, aq masih sanggup menahan diri, imanku kuat dalam hal itu, namun kalau sudah disuruh sholat tahajud, susah sekali untuk melawan rasa kantuk dan malas.

Yaah, setiap orang berbeda, setiap orang mempunyai kemampuan dan kapasitas yang berbeda. Tidak ada yang salah, bila kita mau terus mengembangkan diri jadi lebih baik. Yang jelas, siapapun dia, bagaimanapun dia, kita tidak bisa begitu saja menghakiminya. Ambillah yang baik-baik saja. Lupakan yang buruknya. Selalu berpikirlah positif, berusaha untuk memahami orang lain, dan berusaha untuk memperbaiki diri sendiri jadi lebih baik.

Salam perbaikan…!!! ^-^

Selasa, 8 Mei 2012