Yang baik? Ya yang halal. *Beware!!!*


Diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda -Nu’man menunjukkan kedua jarinya ke kedua telingannya-:

‘Sesungguhnya sesuatu yang halal itu sudah jelas, dan sesuatu yang haram itu sudah jelas, di antara keduanya terdapat sesuatu yang samar tidak diketahui oleh kebanyakan orang.

Siapa yang mencegah dirinya dari yang samar maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam hal yang samar itu berarti ia telah jatuh dalam haram.

Seperti seorang penggembala yang menggembala hewan ternaknya di sekitar daerah terlarang, dikhawatirkan lambat laun akan masuk ke dalamnya.

Ketauhilah, setiap raja memiliki area larangan, dan area larangan Allah adalah apa-apa yang telah diharamkannya.

Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging, bila ia baik maka akan baik seluruh tubuh. Namun bila ia rusak maka akan rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah ia adalah hati.’

” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tentang halal haram suatu produk, sebelumnya aku tidak pernah terlalu serius memikirkannya. Sampai sebuah diskusi menarik di group whatsapp Yisc mengusik perhatianku.

***

Fakta miris.

Jadi dalam rangka peduli halal-haram, beberapa kawan yang tergabung di organisasi Yisc berinisiatif untuk mengadakan sebuah kegiatan dengan tajuk “Wisata Kuliner Halal”, dimana terdapat beberapa orang yang meninjau langsung ke restoran-restoran untuk mengidentifikasi kehalalan produk mereka dengan mengundang koordinator Halal Watch, Pak Rahmat, untuk menjadi guide.

Kali ini, mereka mampir ke salah satu resto terkenal di Jakarta: Burger King.

Daannn ternyata oh ternyataaa… Burger King teh belum mengantongi sertifikasi halal dari MUI.

Tapi bukan berarti produk mereka tidak halal lho, karena berdasarkan inspeksi kemarin, udah banyak kok syarat yang dipenuhi, apalagi Burger King di Malaysia dan Singapura udah pegang sertifikat halalnya. Jadi sebenarnya tinggal kemauan manajemennya aja.

Lalu, iseng-iseng (ngga iseng juga sih sebenernya, dengan penuh niat :mrgreen:), ku coba cari informasi tentang resto-resto bersertifikasi halal.

Dan aku menemukan fakta mengejutkan. Di mall-mall besar, dari sekian puluh resto, hanya ada sedikiiiit sekali, sangat sedikit, yang telah mempunyai sertifikasi halal. Contohnya di Pondok Indah Mall I. Dari 65 resto, hanya 5 resto yang bersertifikat halal, yakni Bakmi GM, KFC, Hoka Hoka Bento, Pizza Hut dan Platinum Restoran.

WoW, “keren” ngga sih?? 😀 Bayangkan, di negeri mayoritas Muslim, kehalalan masih menjadi pertanyaan. Miris!!

Pak Rahmat menjelaskan bahwa yang menyebabkan rancunya status halal-haram suatu produk -terutama pangan- salah satunya adalah perkembangan teknologi dalam pengolahan makanan/minuman. Teknologi-teknologi itu yang menyebabkan banyak produk yang sewajarnya halal jadi bisa jadi haram.

Coba dech, pernah ngga sih kita mikir, kenapa air minum kemasan itu perlu sertifikat halal?

Kalau aku sih ngga pernah kepikiran tuh, hehe.. Tapi pertanyaan itu terbersit di pikiran Pak Rahmat yang kritis ini.

Bayangin, air putih gitu lho??!!! Apa yg bisa salah? Diambilnya langsung dari alam, ngga perlu disembelih pakai nama Allah, pengolahan juga ngga neko-neko. Lalu, dimana potensi ketidakhalalannya??

Jadi ternyata begini penjelasannya, air minum kemasan itu kan pakai teknologi penyaringan, nah, salah satu zat yang sering dipakai yaitu karbon aktif, yang umumnya dibuat dari tulang hewan. Bisa jadi, tulang yang digunakan adalah dari babi, apalagi harga-harga yang berbahan babi umumnya lebih murah. Maka dari itu air minum kemasan pun perlu diwaspadai, dan pilihlah yg ada logo Halalnya.

Dan tahukah temans?? Terigu dan gula juga ada yang tidak halal lho. Kenapa? Karena sekarang terigu dan gula banyak yang memakai pemutih. Di pemutih ini ada yang dibuat dari enzym, yang lagi-lagi lebih murah bila berasal dari babi.

Phhffuiiiff….

 

Pentingnya status halal.

Ah, ribet banget sih? Mau makan aja kok repot! Mau makan ya makan aja lah. Yang penting baca bismillah. Urusan halal-haram, tanggung jawab produsennya.

Mungkin ada yang berpikir gitu kali ya setelah aku utarakan fakta yang ada.

Eh tapi status “HALAL” itu penting lho kawan. Sepenting status HALAL bagi sepasang adam dan hawa #eh 😆

Ini kaitannya dengan nyawa!! Hehehe.. Bukan deng, ngga nyawa juga sih, tapi lebih ke keberlangsungan hidup manusia di dunia. (sama aja ya? 😛 )

Jadi, percaya atau engga (harus percaya!!), makanan halal yang kita konsumsi itu berpengaruh pada kualitas kehidupan kita.

Simak aja hadist-hadist berikut:

Suatu ketika seorang sahabat yang bernama Sa’ad bertanya kepada Rasulullah saw, bagaimana caranya agar doanya mustajab (diijabah oleh Allah). Jawab Rasul,

‘doamu” (HR Ath-Thabrani).

 

Nabi SAW pernah mengisahkan seorang musafir lusuh yang mengangkat tangannya ke langit sambil berdoa,

”Wahai Tuhan, Wahai Tuhan (perkenankan doaku)” tapi makanan yang dimakannya haram, minumnya haram, pakaian yang dikenakannya haram, diberi makan yang haram.

‘Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?” ujar Nabi (HR Muslim dari Abu Hurairah).

 

Rasulullah SAW juga pernah berwasiat kepada shahabat bernama Sa’id ra:

”Duhai Sa’id, perbaikilah makananmu, niscaya kamu akan menjadi orang yang terkabul doanya.

Demi Allah yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya, sungguh orang yang memasukkan sesuap makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal kebajikannya selama empat puluh hari

(HR Thabrani).

 

😯

Jadi kawan, coba introspeksi hidupmu sekarang,

Adakah doa yang terus kau panjatkan tak pernah berbuah??

Seringkah merasa malas menjalankan ibadah??

Atau, telitilah, hidup yang kau jalani sekarang, bahagiakah??

Mungkin salah satu penyebabnya adalah unsur tidak halal yang secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, masuk ke tubuh kita, mengalir dalam darah kita, dan menyatu dalam jiwa kita.

Hiiyy… ngeri yaa… coba pikir dech, gara-gara makanan haram yang masuk ke tubuh kita, doa kita sulit diijabah.

DOA kita!!!! Iya, DOA!!!

Doa, yang menjadi kekuatan kamu muslimin.

Doa, yang begitu banyak orang merasakan keajaibannya.

Doa, yang jadi jawaban saat tak ada solusi lain dari masalah yang dihadapi.

Lalu, kalau doa saja sudah tidak diijabah, kita bisa apa????!!!

Jadi, sekali lagi kubilang, status HALAL itu penting!!! Sepenting status HALAL bagi sepasang adam dan hawa. :mrgreen:

”Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya.” QS. Al-Maidah: 88

 

Lalu, bagaimana???

Tentang banyaknya resto belum bersertifikasi halal ini memang membuat resah kaum muslim di Indonesia.

Menurut Pak Rahmat, sebenarnya yang bikin ribet ya orang-orang kita sendiri, para produsen itu. Udah tahu mereka berkiprah di negara mayoritas muslim, tapi mereka malah lebih mengejar profit. Udah tahu haram, tapi ngga diumumin juga.

Pak Rahmat sendiri merasa lebih aman makan di Singapura karena jelas yang mana yang haram, yang mana yang halal. Selain mereka juga punya lembaga sertifikasi halal, para pedagang/pemilik resto disana pun tidak mau menjual produk haram ke umat muslim. Misalkan mereka melihat ada ciri-ciri identik Islam di pembelinya (jilbab, janggut,dll), mereka akan memberitahukan kalau ada dari produk mereka yang tidak halal.

Hhhh… Sedih ya, di Indonesia ini seakan banyak musang berbulu domba. Menghancurkan kaumnya sendiri demi kepentingan pribadi.

Tapi disitulah letak perjuangannya, kita dituntut untuk beware dan mengusahakan kehalalan di Negeri kita tercinta ini.

Untuk menyikapi masalah ini, disebutkan paling tidak ada 3 cara:

  1. Memperbanyak individu yang sadar akan pentingnya keHALALan dan tahu banyak produk yang berpotensi tidak halal (contohnya ya dengan memposting informasinya di blog kayak gini :mrgreen: )
  2. Bagi yang sudah tahu, mulai kritis, tanya-tanya setiap mau makan dimana aja tentang status halalnya, atau cari tahu dari rekan-rekan yang lain (bisa juga dengan ikutan program wisata kulinernya Halal Watch atau milis HBE, Halal-Berkah-Enak)
  3. Edukasi tentang pengurusan sertifikat halal (yang sebenarnya tidak ribet), juga edukasi tentang substitusi barang haram (misal boraks di bakso, rhum pada cake)

Masih menurut Pak Rachmat, ada sejumlah resto yang memajang label halal, padahal belum memiliki sertifikat halal. Motifnya, ada yang memang tidak tahu, ada yang tidak mau tahu, dan ada pula yang pura-pura tidak tahu. Padahal, kebohongan publik tentang kualitas produk pangan itu melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan UU Pangan yang sanksi-nya berat (entah seberat apa karena aku malas baca UU, hehe).

Weleh, yang majang sertifikasi halal aja belum tentu benar ya. Berarti memang harus hati-hati sekali menjaga hati memilih resto.

***

Hmm… mengetahui fakta yang ada membuatku merasa sangat bersyukur. Bersyukur karena aku dilahirkan di keluarga yang cinta masakan sendiri (baca: menengah ke bawah) yang saking selektifnya (baca: ngirit), membuat kami jarang bahkan enggan makan di luar/di resto. :mrgreen:

Tapi lalu kemudian pemikiranku melebar.

Apakah masakan yang diolah sendiri itu terjamin kehalalannya? Apakah ayam yang dibeli di pasar/warung-warung itu disembelih dengan menyebut nama Alloh? Bagaimana bila bungkus plastiknya mengandung unsur babi? Pisaunya? Pancinya? (eh, mungkin ngga sih??)

Lalu, Bagaimana bila ternyata beberapa bumbu dapur diperoleh dengan “nilep”? Bagaimana bila uang yang digunakan untuk membeli makanan ternyata hasil korupsi?

Toh yang halal itu ngga cuma melulu soal makanan kaan. Barang halal yang diperoleh dengan cara haram kan juga termasuk haram.

Haizz.. Kok makin lama makin pusing yaaa…

Tapi yaaaa…. mengusahakan kehalalan adalah jauh lebih baik daripada tidak. Walaupun kita tidak bisa menjamin seluruh dzat yang masuk ke tubuh kita pure halal, setidaknya Alloh melihat dan menilai usaha kita. Bukan begitu??!!

***

Kesimpulan:

Produk halal adalah harga mati buat umat Islam. Setiap muslim, wajib mencari pangan (makanan-minuman) yang halal dan baik.

Sebab, kualitas pangan berpengaruh secara spiritual, fisik maupun kejiwaan terhadap orang yang mengonsumsinya.

Dengan makanan yang halal, hidup akan menjadi berkah, selamat di dunia dan akhirat.

 

Untuk melihat resto-resto mana yang halal, bisa di tilik disini: http://produk.halal.or.id/?p=170

Sumber:

http://www.facebook.com/notes/oktina-fitrianti-sunaryo/be-a-halal-auditor-yourself/10150738513612491

http://www.majalahgontor.net/index.php?option=com_content&view=article&id=438:makanan-halal-dan-haram-dalam-islam&catid=53:hadits&Itemid=110

http://muslimdaily.net/berita/lepas/halal-watch-gelar-wisata-kuliner-jadi-tahu-resto-tak-halal.html#.UXdNs0pu8SE

http://pusathalal.com/kuliner-halal-2/wisata-kuliner-halal/wisata-kuliner-halalsub/924-di-pim-1-hanya-ada-5-resto-yang-bersertifikat-halal

Kecenderungan [baik-buruk]


Setelah sukses post a day selama bulan Januari, Februari ini malah diawali dengan bolong 3 hari. Minggu, senin, selasa. Sebenarnya ngga ada niat untuk bolong sih, awalnya hanya faktor ketidaksengajaan. Tapi begitu sadar sudah bolong sehari, mood postingku menurun. Ditambah sikon ngga mendukung, jadilah senin ngga posting lagi. Selasanya? Nanggung, sekalian aja jadi 3 hari 😆

Itu fakta yang bikin aku mikir. Betapa kecenderungan untuk berbuat hal yang salah itu mudah. Bukan berarti ngga posting itu salah. Hanya saja, sejak awal tahun ini aku sudah meng-azzam-kan diri untuk post a day, tapi bukan sembarang post asal, harus ada makna sekecil apapun, minimal kelak bisa jadi pembelajaran buat aku. Itulah susahnya. Bikinnya harus pake mikir.

Dan memang konsisten itu susah. Untuk menjaga semangat menulis selama ‘post a day’ itu butuh perhatian ekstra. Karena ngga setiap hari aku dalam keadaan gembira dan suka cita. Ada kalanya sedih, galau, marah, tapi aku harus berusaha mengesampingkan hal-hal ngga mutu itu supaya tetap bisa menulis hal-hal bermutu.

Nah, dibandingkan dengan perjuangan yang cukup sulit itu, bikin bolong postingan ternyata jauh lebih mudah. Kalau diturutin, mungkin bakal keterusan sampai berbulan-bulan. 😆 Nyata sekali kalau kecenderungan untuk hal negatif itu lebih tinggi, lebih mudah daripada kecenderungan untuk hal positif.

Aku rasa, demikian juga halnya dengan kasus-kasus lain. Dalam memilih teman misalnya. Bila berteman dengan orang yang punya kebiasaan buruk, ngga perlu pake susah untuk mengikuti kebiasaan buruk itu. Dan bahkan saat orang yang mempengaruhi itu sudah pergi, orang yang dipengaruhi akan tetap dengan kebiasaan buruknya. Lain halnya bila yang dipengaruhi itu kebiasaan yang baik, untuk mengikutinya aja udah susah, eh pas si teman baik menghilang, hilang pulalah kebiasaan baik itu dengan mudahnya.

Contoh lain misalnya, ada orang yang rajin sekali tahajud, tapi suatu malam, dia bolong tahajud (bukan karena tamu bulanan cewe yaa :P), maka keesokannya, godaan untuk ngga tahajud itu bisa jadi membesar. Sehari, dua hari, tiga hari, lama-lama bolongnya bisa keterusan. Itu mudah. Lebih mudah dibanding saat awal mulai merutinkan tahajud. Ngga percaya? Coba saja. 😀

Memang sih, itu tergantung iman dan pertahanan diri masing-masing orang. Tapi percayalah, setan ada dimana-mana. Dan dia sungguh tak pernah kenal lelah untuk menggoda kita. Maka dari itu kawan, mulailah perhatikan apa yang ada disekitar kita, seleksilah. Bukan berarti sombong/pilih-pilih. Tapi kita adalah apa yang kita baca, kita dengar, dan kita lihat. Jadi kalau kita dikelilingi hal-hal baik, maka diri kita pun akan jadi baik. Begitupun sebaliknya.

So, marilah jadikan diri kita cenderung berbuat kebaikan. Dan jangan mudah tergoda untuk melalaikan kebiasaan baik kita. 🙂