He loves me or not


Aku menatap jarum kecil yang bergerak perlahan mendekati angka 12. Sepi. Hanya suara angin malam berdesau-desau menambah sunyi. Aku bukan tipe gadis penderita insomnia, namun entah kenapa malam ini tak seperti biasa. Bukan aku tak lelah, bukan kantuk itu tak ada, namun mata ini masih ingin terjaga.

Tak tahu harus berbuat apa, kuambil handphone yang kubaringkan disebelahku. Menatapnya sejenak. Sepi. Tak ada pesan singkat. Jariku bergerak menekan tombol-tombol di keypad Qwerty-nya. Membuka whatsapp, melihat-lihat kontak, kemudian menutupnya kembali, mengurungkan niat untuk mengirim pesan singkat di salah satu nama yang tertera. Aku sanksi jika masih ada yang akan membalas pesanku. Ini waktu untuk istirahat di negeriku. Mungkin akan lain jika di negara lain.

Kembali aku menjelajahi menu di ponselku dan berhenti di aplikasi Opera mini. Mungkin berkunjung ke salah satu akun jejaring sosial akan membunuh rasa bosan. Ku buka jejaring sosial yang identik dengan icon burung biru kecil yang lucu itu. Menggulirkan pointer ke bawah dan terhenti pada salah satu tweet akun following-ku.

Info Jakarta @infojakarta 
bro, ini dia cara manjain wanita jaman sekarang ow.ly/mqPmB

Mataku membesar, dan bibirku membentuk senyum curiga. Hatiku tertawa. Penasaran. Kira-kira apa yang akan dianjurkan si pemberi info itu ya? Mari kita lihat, apakah cara-cara itu bisa memanjakanku.

Bergegas aku membuka link yang disertakan dalam tweetnya. Membaca artikelnya dan dahiku mengernyit. Sama sekali bukan cara yang tepat untuk memanjakanku. Apa itu berarti aku tidak termasuk dalam kategori wanita jaman sekarang? Ah, aku tak terlalu ambil pusing.

Kugulirkan lagi layar ke bawah dan tertarik pada judul-judul link yang terkait.

  • 9 cara yang akan dilakukan pria untuk mencuri hati wanita
  • tanda pria simpan perasaan cinta pada sahabat
  • 6 kepanikan pria saat jatuh cinta pada wanita

Hmm.. Rasa penasaranku kembali membesar. Kubaca satu demi satu artikel yang ada sambil membayangkan sosok dia. Iya, dia. Judul-judul itu spontan mengingatkanku akan dia. Dia yang aku ingin tau ada apa. Tiga artikel habis kulahap, namun aku masih tak tahu ada apa dengan dia.

32% pria mengaku bingung akan mengatakan apa saat ingin mengirim BBM, sms, atau pesan singkat lainnya kepada wanita yang ia sukai.

Aku tersenyum membacanya. Teringat beberapa kali dia hanya mengirim pesan singkat “Hai” tanpa pernah ada lanjutannya.

32% pria mengaku bingung saat akan memulai percakapan dengan wanita.

Yang ini pun tak beda. Beberapa kali saat menghabiskan waktu bersamanya, dia hanya diam. Dan kemudian aku yang sibuk mengisi keheningan.

Sebelum kencan atau menelepon wanita yang pria sukai, ia akan mencari-cari bahan obrolan dan mencari tahu apa yang menjadi kesukaan si wanita agar bisa dibahas dalam percakapan.

Tapi dia tidak pernah mencari tahu segala hal tentang aku. Setidaknya dia tidak pernah bertanya.

Saat berjalan kaki, berkelompok saat mengerjakan tugas, atau apapun, pria yang menyimpan perasaan akan selalu ingin berpasangan dengan Anda.

Hmm.. Berjalan kaki? Mungkin ia. Berkelompok? Pernah sih, tapi yang ada aku justru beradu argument dengannya.

Tidak semua pria lajang yang mengajak jalan keluar artinya menyimpan perasaan, namun jika teman baik yang sering melakukannya, tidak salah lagi, dia pasti naksir Anda.

Apakah pulang bareng itu bisa disebut sebagai ajakan jalan keluar ya??

Kalau pria naksir wanita, maka mereka akan sering menggoda orang yang disukainya.

Menggoda??? Kuingat-ingat lagi, tapi tak menemukan moment saat dia menggodaku.

Kelelahan menerpaku setelah hampir sejam bergerilya dengan artikel-artikel unik itu. Aku tidak tahu apakah sumbernya bisa dipercaya atau tidak. Yang aku tahu, aku masih tetap tidak tahu ada apa dengan dia.

***

“Jadi begitu Sha, dari artikel yang kubaca semalem, aku tetep ngga bisa menyimpulkan, dia suka aku atau engga. Menurutmu gimana?” paginya, kuceritakan perjalanan malamku di dunia maya pada sahabatku, Raisha.

Raisha memutar bola matanya. Menghentikan kegiatannya menyapukan blush-on ke pipiku dan memandangku dengan tajam. Tatapannya heran dan matanya seolah berkata “gue ngga habis pikir ya sama loe”.

Tapi demi melihat raut muka innocent-ku yang tak berubah, Raisha kemudian menghela nafas dan berkata gemas.

“Andara Putri, dengerin gue. Mau dia suka kek, mau engga kek, ngapain juga sih masih loe pusingin. Bentar lagi kan loe udah mau dilamar sama Diera. Gimana sih,” dijitaknya pelan kepalaku.

Kuusap kepalaku tepat di bagian yang dijitaknya sambil melirik ke dinding kamar sebelah kananku. Kebaya putih mewah tergantung indah disana. Aku terdiam, berpikir, menatap Raisha, dan kemudian nyengir.

Untuk Sahabat


Teruntuk sahabatku Ruri Febriyanti di Bengkulu yang berulang tahun tanggal 19 Februari kemarin,

Maafkan sahabatmu yang payah ini ya, yang saking kebangetan lupanya, sampai-sampai harus ditelpon dulu baru inget. :mrgreen:

Lagu ini khusus buat kamu. :*

Semoga makin banyak beribadah karena jatah umur makin mendekati habis, hihihi… 😛

Lagu ini juga kupersembahkan untuk owner blog ini yang belum lama ditinggal pergi. Aih, sedih banget kayaknya ya, 😛

Ralat, bukan ditinggal pergi tapi ditinggalkan karena meninggalkan pergi. 😆 pusing ngga tuh bacanya.

So, biarkan saja dia pergi. 😉

Untuk Sahabat

biarkan saja kekasihmu pergi
teruskan saja mimpi yang kau tunda
kita temukan tempat yang layak
sahabatku

kupercaya kan langkah bersamamu
tak kuragukan berbagi denganmu
kita temukan tempat yang layak
sahabatku

kita mencari jati diri
teman lautan mimpi

Reff:
aku bernyanyi untuk sahabat
aku berbagi untuk sahabat
kita bisa jika bersama
kita berbagi untuk sahabat
kita bernyanyi untuk sahabat
kita bisa jika bersama

tiba waktunya
kita untuk berbagi
untuk saling memberi

download untuk sahabat

Bukankah kita sahabat??


“Hai Na, maaf ya telat, udah lama nunggu?”

Lily datang dengan senyum yang kulihat hambar dan terkesan dipaksakan. Tadinya aku tidak mengerti kenapa. Tapi melihat ekspresi Yudi yang tiba-tiba berubah membuatku mengerti. Ah, lily, bukankah kita sahabat??

“Hmm.. Sekitar 15 menitan. Kupikir tadi kamu bareng Yudi, ternyata nganterin mama dulu ya?” kujawab pertanyaannya dengan senyum tulus.

“Iya, tau nih si Yudi, bukan nungguin, malah duluan,” jawabnya dengan nada yang terkesan menyindir sambil melirik ke arah Yudi.

Tapi yang dilirik hanya terdiam dan terlihat sangat berkonsentrasi meminum es teh manisnya. Lily menarik kursi di sebelah Yudi.

“Mungkin mau cepet-cepet ketemu kamu kali Na,” tambahnya lagi, dan sukses membuat Yudi hampir tersedak.

“Sayang, kok kamu ngomong gitu sih. Kan tadi aku udah bilang di telp kalau…”

“Eh iya Na, dapat salam dari mama. Katanya kangen, kamu udah jarang main ke rumah sih,” Lily mengalihkan pembicaraan tanpa memberi kesempatan Yudi untuk menyelesaikan kalimatnya.

“Iya, titip salam balik ya. Mama sekeluarga sehat kan?”

Dan sejurus kemudian kami sudah terlibat pembicaraan akrab. Kami yang kumaksud adalah aku dan Lily. Yudi hanya terdiam dan kalaupun sesekali menimpali, langsung disanggah dengan ketus oleh Lily.

Selalu begitu. Bila ada aku, Lily memang selalu bersikap seperti itu pada Yudi. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi aku tahu sebabnya. Setelah sekian tahun berlalu, sepertinya kenangan itu masih sangat jelas di ingatannya. Ah Lily, itu hanya seonggok masa lalu. Walaupun aku memang tidak tahu isi hati Yudi sekarang, tapi kini dia sepenuhnya milikmu.

“Na, aku pulang dulu ya. Ada saudaraku dari Aceh mau dateng malam ini. Aku harus bantuin mama bersiap-siap.”

“Iya sayang, ngga apa. Lain kali kita atur waktu ketemuan lagi ya,” jawabku.

“Duluan ya Na,” Yudi pun bangkit dari kursinya.

“Iya, hati-hati ya kalian berdua.”

Aku masih termangu menatap pasangan itu menjauh dari kursiku. Lily, aku tahu kamu masih menganggapku sahabat. Tapi kamu tahu? Aku begitu sedih bila harus menjadi sahabat yang jadi momok untukmu.

–Gambar dari sini