Nasinya nangis tuuuhh…


Pernah denger judul di atas diucapkan oleh seseorang??

Yups, seringkali kita mendengar seorang ibu berkata seperti itu pada anaknya agar anaknya mau menghabiskan makanannya tak bersisa.

Anehnya, si ibu sendiri kadang malah tak menghabiskan makanannya. Contoh paling real dan yang paling sering aku temui itu saat kondangan. Tak sedikit kulihat berjejer piring kotor yang masih ada makanannya. (biasanya dibawah kursi). How come?

Pernah suatu hari aku ke resepsi pernikahan dengan temanku. Resepsinya di rumah. Ketika hendak mengambil makan, sudah menjadi kebiasaanku untuk mengambil sedikit makanan saja di acara nikahan, karena entah kenapa aku sering kali tidak bisa menyantap makanan dengan nikmat kalau bukan di rumah. Jadi, daripada tidak habis, ya aku ambil setengah atau sepertiga dari porsi makanku yang biasa.

Aku memakan sampai habis tak bersisa sebutir nasi pun di piringku. Tiba-tiba temanku nyeletuk,

“laper neng?”

Awalnya aku heran. Tapi kemudian paham, kenapa dia bisa berkata seperti itu. Aku dibilang kelaperan karena piringku bersih. (bahkan mungkin ga perlu dicuci lagi). 😀

Sedangkan temanku, memang dia menghabiskan makanannya, tapi tidak semua. Nasinya masih bertebaran di pinggir-pinggirnya. Sayur sopnya masih sisa beberapa, kerupuknya masih segigitan. Dan memang bukan cuma dia, kulihat beberapa piring yang tergeletak di bawah kursi sekitarku juga tak beda. Banyak makanan sisa. Bahkan ada yang nasinya masih segepok, sebanyak nasi yang kuambil pertama kali tadi.

Lalu aku terhenyak, jadi beginikah realitanya? Yang menghabiskan makanannya disebut kelaperan, tapi yang membuang-buang makanan dianggap wajar? Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan, budaya, trend. Seolah-olah kalau makan di kondangan ngga nyisa, itu ngga keren. Pun halnya kalau sedang makan di resto. Ngga sedikit kan yang ngga menghabiskan makanannya?

Oh, miris. Padahal Rosul pernah bersabda,

“Apabila salah seorang dari kamu makan, kemudian suapannya jatuh dari tangannya, hendaklah ia membersihkan apa yang kotor darinya lalu memakannya, dan janganlah ia membiarkannya untuk (dimakan) setan”

Dan satu lagi,

“Dan janganlah ia mengusap tangannya dengan mindil/serbet, hendaklah ia menjilati tangannya, karena seseorang itu tidak mengetahui pada makannannya yang mana yang mengandung berkah untuknya, sesungguhnya setan itu selalu mengintai untuk merampas harta manusia dari segala penjuru hingga di tempat makannya. Dan janganlah ia mengangkat shahfahnya hingga menjilatinya dengan tangan, karena sesungguhnya pada akhir makanan itu mengandung berkah”.

Dulu sekali ibu ku juga pernah menasihatiku.

Kalau makan itu jangan sekedar makan. Liat nasi, sambil mikir, nasi ini dari beras, perjalanannya panjang untuk jadi nasi. Ditanam dulu sama pak tani berbulan-bulan, dijaga dari hama, ditumbuk dulu untuk memisahkan dengan gabahnya, dipikul dari pasar ke pasar, bahkan ketika sudah sampai di rumah pun beras itu tidak bisa langsung dimakan. Harus dimasak dulu biar enak dimakan.

Lalu ikannya, nelayan pergi malem-malem ke laut, dengan risiko bahaya yang tinggi. Diterjang ombak, ditempa hawa dingin. Setelah dapat, harus menjaga kesegarannya. Sampai di rumah pun harus dibersihkan dulu, di masak dulu.

Makanya, kamu yang tinggal makan aja, harusnya banyak bersyukur. Ngga enak kan kalau kita mau makan harus nanem padi dulu, mancing ikannya dulu. Padahal kalau lagi laper, nunggu nasi masak aja rasanya udah ngga sabar.

Kita harusnya bersyukur dapet enaknya. Tinggal makan makanan matang.

*sigh*

temans, bahkan setiap butir nasi pun tersusun dari banyak macam peluh keringat. Lalu, akankah kita tega menyia-nyiakannya?

Think twice sob.

Bukan karena kita mampu lalu berhak membuang-buang makanan. Ambillah secukupnya dan habiskan tak bersisa. InsyaAllah makanan yang masuk ke tubuh kita pun akan ada keberkahannya. *asal halal yaa

Mari budayakan HABISKAN MAKANAN DI PIRING KITA!!!

hadist nyomot dari sini

Resepsi = Badan amal ???


Berawal dari BW ke postingannya mba dyah sujiati dan membaca komentar om lambang disitu, aq jadi teringat dengan impianku yang lama tenggelam.

Dulu, waktu masih kerja di Tiptop, aq sering mendapat undangan pernikahan, dan biasanya, pada hari-hari tertentu, undangan itu bisa mbludak, sehari bisa 3 undangan, besoknya udah ada lagi. Pokoknya dalam sebulan itu ada yang bahkan sampai menerima 5 undangan.

Dan di hari penuh undangan itu, aq sering sekali mendengar keluhan-keluhan seperti ini di sekitarku,

“Yaahh..gimana nih, sekarang kondangan, besok kondangan, mana gajiannya masih lama”

Membuatku terhenyak dan berpikir. Menikah, itu kabar bahagia bukan? Dan dalam Islam, akad sebenarnya cukup untuk melegalkan pernikahan. Namun disunnahkan mengadakan resepsi agar orang-orang tahu sekaligus berbagi kebahagiaan.

Tapi apa? Kenapa banyak orang justru merasa terbebani saat menerima undangan? Banyak juga yang ribet, pake baju apa, datang sama siapa, naik apa, bla..bla..bla..

Kok kesannya, orang menikah malah bikin orang susah? Aq tidak suka, aq menolak kenyataan itu.

Maka timbullah ide liar itu.

Aq membayangkan pernikahanku nanti di sebuah aula/gedung, sehingga tidak perlu merepotkan tetangga mendekor rumah, masak-masak, cuci piring.

Aq membayangkan pernikahanku nanti ada jemputan untuk memboyong para tamu undangan sehingga tidak perlu ada yang bingung mau datang sama siapa dan ngga perlu nyasar-nyasar.

Aq membayangkan pernikahanku nanti mengundang anak-anak yatim, keluarga tidak mampu, para anak jalanan untuk makan-makan dan memberikan bungkusan dan bingkisan untuk dibawa pulang.

Aq membayangkan pernikahanku nanti tidak perlu ada yang memberi amplop ataupun kado. Cukup datang, mendoakan, makan enak, dapat souvenir.

Hohoho… 😎

sungguh khayalan tingkat tinggi.

Wkwkwk..

Tapi tetaaaap, apapun mungkin, rite?? 😛

Okeh, tinggalkan imajinasi liarku itu.

Intinya sih sebenarnya aq ingin berbagi kebahagiaan, aq tidak ingin membebani siapapun, tidak ingin menyusahkan siapapun, terutama orang terdekatku. Aq ingin semua bahagia seperti aq yang sedang berbahagia.

Lagipula, tempat resepsi kan bukan badan amal. 😀

Bagaimana denganmu kawan??

Pernikahan seperti apa yang kau bayangkan??

Tour in Jogja


“Hamaasah Wedding and Tour to NEW Yorkarto” (^,^)

30 Juni – 1 Juli 2012

Untuk pertama kalinya aku ke Jogja tanpa orang tua (seingatku). Aku pergi bersama teman-teman YISC, tepatnya teman Hamaasah untuk menghadiri resepsi rekan seangkatan di Jogja. Menginap di muntilan, di rumah saudara temanku. Selama disana kami memanfaatkan kesempatan untuk berjalan-jalan, ke sawah, Candi Borobudur, Ketep Pas, Pasar Godean, Malioboro, dan Pasar Bringharjo.

Sayang cuma sedikit dokumentasi yang aku terima, yang lain masih di kamera digital temanku, entah apakah akan di share/tidak. Dan yang parahnya, waktu di resepsinya malah lupa diabadikan. Ckckckck..
Happy Wedding to Ummi Haajiroh Mustajab & Rendra Wahyu Whigiswisudha.

*Doakan aku juga cepet-cepet wedding ya* Hahahaha..