Hijrah


Ehm.. Test..test..

Hampir sebulan nih ngga cuap-cuap, mungkin suara sudah mulai sumbang. Kelihaian merangkai kata berkurang. Keasyikan berbalas komentar menghilang. Ditambah blogwalking yang terbilang jarang.

Alasan klise: sok sibuk.

***

Jadi, akhir Maret kemarin kantorku pindah. Hijrah. Ke tempat yang mudah-mudahan lebih berkah. Bersamaan dengan itu, otomatis gerakan tubuhku bertambah. Angkut ini itu, ngurus itu ini, ngitung ini itu ini, nyiapin itu ini itu, bla..bla..bla..

Tidak hanya sampai disitu. Di tempat baruku, my kompie ngga bisa akses internet. Sudah. Tamatlah riwayat ngeblogku. Apalagi paket modem di rumah tewas. Bisa sih pake HP, tapi draft post yang udah ada tuh kudu pake link and pic, yang mana sangat tidak nyaman kalau post via HP (ngga bisa sih sebenernya :lol:).

Dua alasan terbesar itu sudah cukup membulatkan tekadku untuk vakum ngeblog. Ya, sebelumnya memang aku berniat untuk rehat sejenak, mengevaluasi apa-apa yang sudah termaktub dalam blogku. Apakah masih selaras dengan tujuan utamaku ataukah telah melenceng mengumbar hal yang tidak perlu. Aku ingin meluruskan lagi niatku ngeblog. Karena sepertinya target post a day (kecuali tanggal merah) membuatku memosting ala kadarnya. Belum matang dan kurang maksimal. Hanya kejar tayang. Dan itu tidak memuaskan.

Walau ada untungnya juga sih. Dengan “tuntutan” post a day, aku jadi ngga punya alasan untuk ngga ketik-ketik. Karena kebiasaan baik itu mudah dan cepat sekali hilang. Khawatir kalau ngga dipaksakan, maka kemampuan menulisku lama-lama karam.

***

Dan selama aku menghilang dari dumay, aku tenggelam dalam dunya. Banyak hal telah terjadi selama hampir sebulan ini. Baik, buruk, lambat, dan menghentak. Sesaat membuatku down namun kemudian kembali up. Down lagi, up lagi. Yaahh..memang hidup harus begitu kaan..

Dari situ, banyak pelajaran yang kuambil dan banyak perenungan yang kualami. Yang mana, saking banyaknya, aku sampai lupa.

Semua yang terjadi itu menyadarkanku untuk hijrah. Berpindah dari hal-hal negatif menuju hal-hal positif. Ku program ulang sistem hidup yang sedang kujalani. Seperti motto yang terpampang di head blog ini: Be Better Person.

Ya. Aku harus hijrah, menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin baik.

Dan atas kesadaran itu, aku berterima kasih pada seseorang -yang walaupun sudah beberapa kali kukasih link blog ini, aku ngga yakin dia bakal berkunjung kesini- yang sedikit banyak secara tak sadar telah “menamparku”.

Pesanku untuknya,

Kadang, berada di pinggir jurang itu perlu, agar kita bisa menghargai lapangnya sebuah padang. Dan Hey, mungkin saja kamu lah yang terlalu lekat memandang jurang. Sejenak alihkan pandanganmu. Aku yakin duniamu indah. Seperti indahnya duniaku. At least, Bayangkan saja dunia ini indah. #asal 😆 Pokoknya apapun yang kita alami, sesungguhnya Alloh tahu takaran kita, semakin tinggi ujian yang dihadapi, semakin tinggi pula tingkat kelasnya. Semakin berat, semakin kuat. Jadi, jangan menyerah, aku percaya kamu bisa melewatinya. Yakinilah, Bahagia itu sungguh sederhana. Tetap semangaat!!! \(^o^)/. Dan seperti yang pernah kamu katakan, aku pun “Aku Padamu” #eaaa

***

Anyway, I’m back foorrr maybe a minute :mrgreen: Entah apakah post ini akan tepat berlanjut esok hari atau tidak. Yang jelas, aku punya setumpuk utang posting dan berniat untuk melunasinya. Dan mohon maaf bila jejak kunjunganku ke “rumah” saudara-saudara nyaris tak ada. Terkadang aku hanya baca di notif email tanpa meninggalkan jejak, dan terkadang pula aku pending untuk membacanya nanti di kompie kalau net kantorku sudah kembali normal.

So, let’s hijrah to the positive :mrgreen: #apa coba

***

nb: ni postingan niatnya mau dikit aja lho, tapi ternyata emang ngga bakat ngecuis pendek, harap maklum, lidahku tak ber-rem. 😛

Kecenderungan [baik-buruk]


Setelah sukses post a day selama bulan Januari, Februari ini malah diawali dengan bolong 3 hari. Minggu, senin, selasa. Sebenarnya ngga ada niat untuk bolong sih, awalnya hanya faktor ketidaksengajaan. Tapi begitu sadar sudah bolong sehari, mood postingku menurun. Ditambah sikon ngga mendukung, jadilah senin ngga posting lagi. Selasanya? Nanggung, sekalian aja jadi 3 hari 😆

Itu fakta yang bikin aku mikir. Betapa kecenderungan untuk berbuat hal yang salah itu mudah. Bukan berarti ngga posting itu salah. Hanya saja, sejak awal tahun ini aku sudah meng-azzam-kan diri untuk post a day, tapi bukan sembarang post asal, harus ada makna sekecil apapun, minimal kelak bisa jadi pembelajaran buat aku. Itulah susahnya. Bikinnya harus pake mikir.

Dan memang konsisten itu susah. Untuk menjaga semangat menulis selama ‘post a day’ itu butuh perhatian ekstra. Karena ngga setiap hari aku dalam keadaan gembira dan suka cita. Ada kalanya sedih, galau, marah, tapi aku harus berusaha mengesampingkan hal-hal ngga mutu itu supaya tetap bisa menulis hal-hal bermutu.

Nah, dibandingkan dengan perjuangan yang cukup sulit itu, bikin bolong postingan ternyata jauh lebih mudah. Kalau diturutin, mungkin bakal keterusan sampai berbulan-bulan. 😆 Nyata sekali kalau kecenderungan untuk hal negatif itu lebih tinggi, lebih mudah daripada kecenderungan untuk hal positif.

Aku rasa, demikian juga halnya dengan kasus-kasus lain. Dalam memilih teman misalnya. Bila berteman dengan orang yang punya kebiasaan buruk, ngga perlu pake susah untuk mengikuti kebiasaan buruk itu. Dan bahkan saat orang yang mempengaruhi itu sudah pergi, orang yang dipengaruhi akan tetap dengan kebiasaan buruknya. Lain halnya bila yang dipengaruhi itu kebiasaan yang baik, untuk mengikutinya aja udah susah, eh pas si teman baik menghilang, hilang pulalah kebiasaan baik itu dengan mudahnya.

Contoh lain misalnya, ada orang yang rajin sekali tahajud, tapi suatu malam, dia bolong tahajud (bukan karena tamu bulanan cewe yaa :P), maka keesokannya, godaan untuk ngga tahajud itu bisa jadi membesar. Sehari, dua hari, tiga hari, lama-lama bolongnya bisa keterusan. Itu mudah. Lebih mudah dibanding saat awal mulai merutinkan tahajud. Ngga percaya? Coba saja. 😀

Memang sih, itu tergantung iman dan pertahanan diri masing-masing orang. Tapi percayalah, setan ada dimana-mana. Dan dia sungguh tak pernah kenal lelah untuk menggoda kita. Maka dari itu kawan, mulailah perhatikan apa yang ada disekitar kita, seleksilah. Bukan berarti sombong/pilih-pilih. Tapi kita adalah apa yang kita baca, kita dengar, dan kita lihat. Jadi kalau kita dikelilingi hal-hal baik, maka diri kita pun akan jadi baik. Begitupun sebaliknya.

So, marilah jadikan diri kita cenderung berbuat kebaikan. Dan jangan mudah tergoda untuk melalaikan kebiasaan baik kita. 🙂