Tentang Debbie a.k.a Deborah


Berangkat kerja pagi atau siang, mungkin bagi sebagian orang tidak terlalu ada efeknya kecuali soal terlambat atau tidak. Tapi bagiku, dan bagi banyak orang yang menggunakan transportasi sama denganku, perbedaan satu menit saja pengaruhnya sudah luar biasa.

Baiklah aq jelaskan.

Sebagai informasi awal, aq bekerja di Radio dalam, dan dari Depok, ada 2 alternatif kendaraan yang bisa mengantarkanku kesana, kopaja 63 jurusan Depok-BlokM, dan PO Deborah (sejenis kopaja) jurusan Depok-Lebak Bulus.

Diantara 2 alternatif itu, aq lebih memilih yang kedua, bis ukuran sedang dengan warna body paling ngejreng yang biasa aq sebut debbie atau my baby debbie 😛

Ada banyak alasan (ngga banyak2 juga sih) kenapa aq lebih memilih debbie walaupun ongkosnya jauh lebih mahal.

Pertama, karena 63 melewati jalur prapanca dan antasari yang muacet, sedangkan debbie memasuki tol lebih panjang dan keluar di fatmawati.

Kedua, karena kemungkinan menghisap asap rokok di debbie lebih kecil ketimbang di 63.

Ketiga, karena aq udah cees sama sebagian kru debbie *dulu (sekarang kebanyakan udah pada mabur cees aing)*. 😆

Keempat, karena debbie ini sungguh cantik dan aq terlanjur cintah 😛 #abaikan yang ini

Lalu apa ada hubungan antara Debbie dan berangkat pagi atau siang?

Jadi, Debbie itu seperti jemputan. Dia hanya ramai saat-saat jam berangkat dan pulang kantor. Bila pagi, dari lebak bulus, sewanya (sebutan untuk penumpang) kebanyakan mahasiswa yang berkampus di sekitaran tanjung barat-lenteng-ui-margonda. Sedangkan dari arah depok, hampir semua adalah karyawan yang kerja di seputaran detos, fatmawati, sepanjang jalan simatupang, lebak bulus dan pondok indah. Sorenya, kebalikannya.

Kalau disini meta menjelaskan tentang jadwal Debbie AC, aku akan menjelaskan yang non AC:

Setiap harinya ada 10-20 mobil yang keluar dari pool. Itu di hari kerja, di luar hari kerja pernah cuma 8 yang keluar. Sebagian dari mobil yang keluar ngga masuk ke terminal Depok dan langsung ke Lebak Bulus. Biasa disebut Tem LB. Tem LB yang rata-rata ada 2-3 mobil ini keluar dari jam 5 pagi.

Sisanya disebut tem Depok. Tem Depok masuk ke terminal dan akan jalan kalau sudah pas jok (sebutan untuk bangku yang sudah penuh). Tapi ngga perlu menunggu lama untuk sampai pas jok. Karena peminatnya banyak, normalnya hanya menunggu waktu sekitar 10 menit untuk penuh. Dan alhasil, dalam sekejap tem depok habis tak bersisa.

Maka, sewa yang sampai di terminal Depok jam setengah 7 ke atas harus menunggu tem LB yang menuju Depok. Dan kalian tau??? Paling cepat tem LB pertama sampai depok jam 7.15. Paling lama? Jam 8.30. Dahsyat yak?

(Hafaaaal kaaaan?? #bukan kekaseh sopir# haha *lirik meta :P)

Pernah suatu hari si ibu PNS yang pernah menolongku disini menunggu dari jam 6.45, tapi sampai aku datang (7.45), si unyu-unyu belom datang juga. Kesal, dia naik 63 sedangkan aku tetap setia. Dan itu bis baru nongol jam 8.30. Udah gitu belom juga masuk terminal udah penuh. Pada nyegat di jalan. Subhanalloh. Untung si ibu ngga nungguin ya. Ckckck…

Sebenernya jadwalnya ngga paten sih. Tergantung sewa dari LB, jumlah mobil yang beroperasi, dan hari-hari tertentu.

Tapi intinya sih, kalau mau dapet duduk dan ngga mau keabisan mobil, biar aman harus sampe di terminal depok jam 6 pagi teng. Itulah yang aku maksud dengan “satu menit pengaruhnya luar biasa”. Kalau udah keabisan/ketinggalan mobil, siap-siap aja nunggu tem LB dateng sekitar setengah sampe 2 jam. Nunggu mobil belakangnya juga sama, lama lagi. Udah gitu, harus siap-siap juga berperang dengan sewa lain memperebutkan kursi yang cuma 27 sajah di dalam bis. Harus siap mental banget deh. Yang kasian ya yang bawa anak, yang lagi hamil, lagi sakit, nenek-nenek/kakek-kakek. Mereka tentu ngga bisa seagresif dan selincah para eksekutif-eksekutif muda macem aku ini dunks. 😛 Kalau udah berdiri?? Weh, jangan harap bisa nyaman sepanjang jalan, bakal jadi ‘pepes teri’, apalagi kalau keneknya senior yang udah lihai ngatur sewa, beuh, ngga bisa liat celah dikit, mondar mandir kayak setrikaan untuk ngatur sewa. Akibatnya susah gerak, bisa ngatur nafas aja udah sukur..

Terus aku lebih milih mana? Dateng sangat pagi atau sangat siang? Dua-duanya pilihan yang sebenarnya ngga mau dipilih. :mrgreen:

Abis gimana donk? Kalau berangkat pagi, harus udah di terminal jam 6, jadinya buru-buru doonk, udah gitu si debbie lemooottt banget jalannya, belom lagi macetnya parah, nyampe POINS bisa hampir 2 jam kemudian.

Terus kalau dateng siang, nunggunya mesti extra sabar, harus berebutan, dan kalau ngga dapet duduk harus rela dempet-dempetan. Tapi enaknya, biasanya jalanan udah lebih lancar dan mobilnya ngibrit, soalnya udah langsung penuh sewa dari terminal. Kadang, ngga sampe 1 jam udah nyampe POINS.

Jadi kalau kalian jadi aku, lebih milih yang mana?:D

 

Ps. Cerita lain tentang my baby debbie (sebutan sayang dariku) atau si tiran yang norak (sebutan sayang dari meta) bisa disimak disini, disini, atau disini. Ada juga yang lucu disini. 🙂

Riweuh bin Ricuh in 72


Aku naik metromini 72 dari lampu merah POINS seperti biasa. Ada dua mobil yang ngetem. Aku pilih yang paling depan, tapi ternyata penuh banget. Begitu aku naik, mobilpun jalan. Ternyata mobil ini penuh dengan anak-anak TK dan mamanya, mungkin mau study tour, entahlah. Tapi parahnya ngga ada yang ngasih duduk, padahal ada yang gendok bayi segala. Dan yang duduk mas-mas dan mba-mba yang masih seger buger.

Sampai di depan McD, ada Bapak-Bapak beruban yang duduk di bangku tengah sebelah kanan berteriak pada keneknya.
“Pak, kembalian tiga ribu.”
“Apa? Kembalian tiga ribu? Minta sama kenek yang tadi dong pak, urusannya bukan sama saya, saya kan baru naik ini.” si kenek pun tak kalah berteriak.

Hmm.. Rupanya baru terjadi pergantian awak sebelum aku naik tadi, dan dilihat dari lembaran-lembaran yang dipegang si kenek, sepertinya sebagian besar penumpang sudah digunting sama kenek sebelumnya, dan tentu saja duitnya dibawa sama dia. Pantas saja si kenek mengelak memberikan kembalian pada si bapak beruban itu.

“Kerja ngga beres banget. Biar aja, rezekinya juga ngga berkah kalau begitu. Pura-pura ngga tau,” si bapak tua masih menggerutu.
“Bukannya pura-pura ngga tau Pak…” si kenek yang dari awal sudah badmood menjadi semakin kesal.
“Abang kan kenal sama keneknya, yaudah kan bisa dimintain balik nanti sama dy,” seorang ibu yang duduk di belakang bapak beruban ikut membela.
Tapi tetap saja si kenek bersikap tak acuh.
Tidak terlalu kusimak lagi ocehan mereka, yang jelas, masing-masing masih saling menggerutu.

Tidak lama, si sopir berteriak memanggil keneknya. Dari belakang, tidak terdengar terlalu jelas perbincangan mereka. Sepertinya mobilnya mengalami masalah. Ban depannya bocor. Si ibu yang menggendong bayi, tak jauh dari tempatku berdiri menggerutu,
“Hhhh… Paling sebentar lagi disuruh turun nih,” keringatnya membanjiri wajahnya yang cemberut.

Melewati bunderan Pondok Indah, si kenek yang berpindah ke pintu belakang ngoceh-ngoceh kesal. Walaupun kata-katanya tidak jelas, tapi aku yang berdiri tepat di sampingnya bisa merasakan betapa pagi ini begitu menjengkelkan baginya. Sesekali dia berteriak pada sopirnya untuk menepikan mobilnya. Tapi si sopir, entah dengar atau tidak, tetap melajukannya. Dan si kenek kembali mengoceh sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sampai di PIM, mobil baru berhenti melaju. Dan semua penumpang turun. Hmm.. Benar-benar di oper rupanya. Terlihat 72 lain di belakang. Tapi apa yang terjadi? Dia tidak mau berhenti. Selentingan aku mendengar suara, mungkin dari penumpang lain.
“Ngambek dech.”

Sepertinya aku benar-benar ketinggalan moment. Aku menyimpulkan kalau antara mobil ini dengan mobil yang maen bablas aja itu sempat rebutan sewa di lampu merah tadi. Makanya dia tidak mau berhenti. “Sukurin”, mungkin begitu pikirnya.

Hhh.. Mau tidak mau, kami para sewa harus menunggu lebih lama lagi.

Tapi konflik tidak berhenti sampai di situ. Seorang ibu-ibu menghampiri si kenek dan meminta kembali ongkosnya. Tentu aja ngga dikasih.
“Nanti dioper Bu, tunggu aja. Kalau semuanya minta ongkosnya dibalikin, mau kembaliin pake apaan? Ngga ada duitnya.” si kenek berkata dengan kesal sambil mengacung-acungkan beberapa lembar dua ribuan di tangannya.

Hmm.. Begitu banyak konflik, pagi yang begitu ricuh. Mari kita bahas satu-satu. Tentang ibu menggendong anak yang tidak kebagian bangku, sepertinya hal itu untuk zaman sekarang memang sudah hal yang lumrah, udah minim sekali kepedulian untuk mempersilahkan duduk. Mungkin karena di buku SD sekarang sudah tidak ada lagi cerita tentang mempersilahkan duduk? Entahlah.

Kemudian tentang bapak beruban yang meminta kembalian, itu wajar, dia meminta haknya. Tapi sangat disayangkan sikap kenek yang menjawab dengan ketus itu. Dan sungguh patut bila si bapak “nyumpahin” kalau rezekinya ngga berkah. Ya, begitu banyak sebab mengapa rezeki tidak berkah, korupsi waktu, korupsi uang, korupsi pekerjaan, dan mengambil hak orang lain. Rezeki tidak berkah bukan berarti rezekinya sedikit. Walaupun secara kasat mata berlimpah, rezeki yang tidak berkah akan membuat dia selalu merasa kekurangan dan tidak pernah cukup, diliputi rasa tamak dan tidak tenang. Tapi kenek itu juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Dia baru naik dan tidak tahu apa-apa, tidak dititipkan uang kembalian pula. Kalau mau ditalangin dulu baru nanti dimintain balik ke kenek sebelumnya, belum tentu si kenek sebelumnya itu percaya dan mau ngasih. Mungkin dia akan berpikir kalau itu cuma akal-akalan aja.

Dan tentang ban bocor itu, bisa aja itu karena doa dari si bapak beruban. Karena doa orang yang terzholimi itu diijabah. Mungkin saja itu karma. Tapi kasihan juga si sopir dan kenek, baru juga naik, belum apa-apa udah bocor bannya, belum juga dapet duit. Entah apakah memang baru bocor atau mobil itu sudah bocor sebelum di pindah tangankan. Kalau memang awak sebelumnya sudah tau bannya bocor dan sengaja tetap memindah tangankan mobil itu pada awak yang sekarang, maka mereka bener-benar keterlaluan.

Tidak ada yang bisa kulakukan dalam ke-riweuh-an ini selain diam (dan jadi paparazi 😛 ), namun beberapa point yang bisa kujadikan pelajaran, dimanapun kita berada, apapun profesi kita, kejujuran dan tanggung jawab itu penting, dan peduli pada orang lain itu WAJIB, bahkan Alloh dn Rosul-nya menganjurkan kita untuk memudahkan urusan orang lain.

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab- kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya”.
(Muttafaq ‘alaih).

Yaaahh walaupun zaman sekarang sulit sekali menemukan orang yang seperti itu.

“Ya Alloh, lembutkanlah hatiku agar mudah tergerak untuk peduli pada orang lain, dan jagalah aq agar tetap mampu jujur bertanggung jawab dalam setiap perbuatanku.”

Kamis, 18 Oktober 2012

Uang Baru


Hari terakhir kerja di bulan Romadhon, aku pulang cepat, jam setengah 3 dari kantor. Macet di pondok indah seperti biasa. Tiba-tiba aku melihat dua orang pria kurus -dengan gaya busana anak muda pada umumnya, kaos dan celana panjang jeans- berdiri di depan gang sebelum lampu merah bundaran pondok indah. Mereka berteriak-teriak menawarkan recehan. Terlihat oleh mataku mereka mengacung-acungkan segepok uang pecahan 2.000, 5.000, dan 10.000 yang masih mulus. Masing-masing dibungkus rapi dengan plastik transparan.


Hmm.. Sungguh kreatif anak muda itu. Disaat seperti ini, biasanya orang-orang sulit mendapatkan uang pecahan kecil yang masih baru di bank. Tapi mereka hadir menawarkan kemudahan. Membuatku kemudian berpikir, akankah mereka mendapatkan untung dengan bertransaksi seperti itu? Bagaimana caranya? Mungkinkah mereka mengurangi lembaran-lembaran itu sebagai imbalan atas peluh mereka? Entahlah, aku tidak berminat mencoba. Orang-orang pun sepertinya tidak ada yang tertarik, at least saat aku melintas. Dan entah kenapa keraguan muncul saat aku pertama kali melihatnya. Aslikah?? Aku penasaran.

Kamis, 16 agustus 2012