Tentang Rasa


Ada yang bilang
“rasa itu tidak untuk dianalisa, tapi untuk dirasakan”.

 

Tidak salah.

Rasa ya rasa. Rasakan saja apa yang dirasa. Tak perlu dipikirkan. Tak perlu dicari alasan.

Saat sedih, maka menangislah. Saat senang, maka tertawalah. Suka, bahagia, kesal, marah, katakan saja, tak perlu ditutupi. Karena memendamnya hanya akan membebani hati.

 

 

Tapi, entah, menurutku pun tak sepenuhnya benar.

Karena ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak cukup pantas untuk ditujukan kepada orang tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak elok diungkapkan di waktu tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak bisa diungkapkan dengan cara tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa dipandang berbeda oleh beragam kepala.

 

Analisa membuat kita tahu,

apakah rasa ini benar seperti yang kita sangka, apakah rasa ini memang seharusnya kita rasa, apakah rasa ini sudah ditujukan ke orang yang tepat, atau apakah rasa ini pantas diungkapkan dengan kalimat.

 

Analisa ada agar kita tahu rasa apa yang dirasa dan bagaimana menyikapinya.

Analisa ada supaya kita tak terjebak.

 

Jadi kurasa, analisa itu perlu, walau memang adanya rasa adalah untuk dirasa. Dan terkadang, rasa itu lah yang kemudian mengalahkan logika analisa.

 

Jadi???!!! Entahlah. Aku pun saat ini sedang meraba rasa, apakah perlu dianalisa atau tidak. :mrgreen:

Malu dong!!!!


Senin, seperti biasa aku menunggu mobil paling sensasional di Terminal Depok. =))

Entah setelah berapa lama menunggu, penumpang yang menanti juga udah rame, akhirnya tuh mobil ngejreng datang. Berebutan di depan pintu masuk terminal, dapatlah bangku tengah pojok sebelah kanan. Sampingku, duduk dengan manisnya laki-laki usia dewasa yang aku tau turun di Poins juga.

Masuk terminal, masih banyak penumpang yang ingin naik lagi, termasuk seorang ibu dan seorang nenek. Ngga dapet tempat duduk, akhirnya si ibu meminta kepada mas cuek di sebelah aku untuk berbaik hati merelakan bangkunya demi si nenek. Tapi dengan entengnya si mas cuek mengangkat tangannya, menolak memberikan duduk.
E buset. Shock aku melihatnya. Helloowwww Mas cueekk..situ ngga punya ibu? Ngga punya nenek?? Hmm.. Sepertinya sih yang ngga punya itu perasaan :P. Habis, bisa-bisanya bersikap tega seperti itu. Gondok setengah idup aku dibuatnya.

Akhirnya kurelakan saja tempat PeWeku untuk si nenek. Aku berdiri di samping si mas cuek dan berniat balas dendam :mrgreen:. Jangan harap bisa duduk dan tidur dengan nyaman ya. Lamaan juga aku nunggu mobilnya tadi. Kuposisikan tubuh dan tasku sedemikian rupa supaya sedikit mengganggu kenyamanannya :lol:. Masih mendinglah, daripada kutoyor mukanya dengan tas ranselku yang ‘uabot nemen’, ya kan?? 😛

Aku ngga ikhlas?? Ngga peduli. Ngga dapet pahalanya?? Mbo’ men. Yang penting si nenek bisa duduk dan aku bisa membuat hati si mas cuek ngga nyaman. Entah apakah dia punya rasa malu dengan membiarkan si nenek berdiri dan akhirnya membiarkan seorang cewe baik, manis nan lugu merelakan bangkunya..

Jadi ingat cerita meta saat dia naik busway. Ada seorang kakek-kakek baru naik. Disisi lain, ada pula seorang mas muda yang dapet duduk. Dan dia, bukannya mempersilahkan duduk malah bilang gini “Ya maaf maaf ya Pak, saya juga mau duduk” Idih, ada ya cowo kayak gitu? Amit amit dech. Kayaknya perlu nambah 1 lagi nih kriteria suami idaman aku: mudah mempersilahkan duduk, tapi bukan karena bisulan atau ambeyen yaa.. 😛

Soal mempersilahkan duduk, sebenernya aku juga udah pernah bikin postingannya disini, dyah kemaren juga sempet bahas di posting ini, yang mana aku setuju banget dengan pendapatnya Dyah: cowo yang enggan mempersilahkan duduk seorang wanita adalah NGGA BANGET.

Ok, Ok, mungkin postinganku kali ini bertentangan dengan tulisanku tentang latar belakang. Kalau mau berpikir positif, anggap sajalah kaki si mas cuek lagi sakit. Atau dia sedang sesak nafas, atau bla..bla..bla.., atau bla..bla..bla.. Tapi kalau aku perhatikan, memang sekarang ini cowo yang rela hati mempersilahkan orang lain menempati bangku PeWenya sangat langka kutemukan. Apalagi untuk perjalanan jauh dan/atau di kondisi bis yang memang sangat tidak nyaman bila berdiri (seperti di debbie kalau pagi, udah kayak pepes teri).

Dan terlepas dari apa alasan dan latar belakang si mas cuek dan mas muda bertingkah seperti itu, aku hanya ingin bertanya pada orang-orang seperti mereka, hey kalian yang mengaku laki-laki, tak malukah melihat seorang perempuan, baik itu gadis muda, ibu muda, ibu hamil, nenek/kakek renta berdiri lelah menopang tubuhnya sementara kalian-kalian yang mengaku laki-laki begitu santainya ongkang ongkang kaki??? Tak malu?? Sungguh tidak malu??? Kalau begitu operasi gender saja sanah!!! Atau rasakan saja nanti kalau kalian-kalian yang mengaku laki-laki sudah menjadi tua dan diperlakukan serupa!!! :mrgreen:

Hhhh…*menarik napas panjang*. Maaf bila kata-kataku kasar (padahal ini postingan juga udah dipending menunggu emosi mereda). Sebenarnya aku anti bicara kasar, apalagi di postingan sebelumnya juga aku udah gembar gembor soal mempertanggung-jawabkan kata. Tapi aku ngga habis pikir, bagaimana mereka mereka yang mengaku laki-laki bisa berbuat seperti itu. Sungguh ngga habis pikir.

Bagi yang merasa tersinggung, tersindir, cobalah, beri aku alasan agar lidahku ini tidak lagi mudah menghujat kalian. 😛