(ulasan-evaluasi) Cerita Berantai


Cerita berantai perdana kemarin bisa terbilang sukses. Setidaknya untukku demikian. Target 7 blogger yang ikut serta telah tercapai seketika. Tenggang waktu satu minggu yang ditargetkan pun percuma, karena semua kontributor beraksi cepat, ngga pake lama. Bahkan di hari pertama, 3 part terselesaikan sudah. Terima kasih kepada Meta dan Kak Ra yang langsung mengeksekusi samberannya. 🙂

Sebenarnya salah satu tujuan dari diadakannya (semacam) kontes ini adalah untuk mengembangkan kemampuan menulis fiksi. Aku berharap ada komentator-komentator yang sudi menunjukkan kekurangan dan perbaikan dari tulisan yang dibuat. Tapi sepertinya gagal, rata-rata komentarnya positif. Wajar sih, mungkin pembaca juga merasa bukan ahlinya sastra. Tapi ngga ada salahnya lho membagi ilmu yang sedikit atau dengan hanya menanggapi dari sudut pandang reader (apakah alurnya enak dibaca/kurang), itu sudah cukup membantu. Dengan perbaikan yang sedikit demi sedikit, maka siapa tau para kontributor menjadi pandai menulis.

Sempat aku coba untuk jadi komentatornya, tapi kebanyakan yang kukoreksi hanya hal-hal yang bersifat teknis. Itu pun aku merasa ngga enak, ntar pada mikir “ah, kebanyakan aturan” trus pada minggat dech. 😦

——————-

Kalau dari isi cerita, walau absurd tapi lumayan masih nyambung antara satu dengan yang lain. Lucunya saat aku membaca part 2 Meta yang dapet samberan dariku. Jauuuhhh sekali dari cerita yang kuharapkan. Inginku, dalam cerita itu nantinya akan dijelaskan kenapa Andrian urung pergi saat melihat potongan gulali. Maunya sih dia punya kenangan tersendiri dan akan sedikit flashback. Tapi imajinasiku dirusak dengan kata-kata “Balikin gulalinyaaa”. Haha.. Bagiku itu sangat kocak. Karena dalam bayanganku, kalaupun tidak ada flashback, setidaknya ngga ada adegan Dara marah-marah. Paling tidak dia akan bertanya, “Aku dimana? Kamu siapa?” Toh dia juga ngga tau kalau ternyata lelaki yang ada di hadapannya itu adalah lelaki yang menabraknya. But it’s OK. Great. Seru. Sangat.

Kemudian berlanjut ke part 3, Kak Ra menambahkan tokoh Nadia, dimana ia-nya adalah kekasih Andrian. Padahal tadinya mau aku, Andrian itu single lhoo dan dia masih kuliah. 😛

Part 4 diteruskan oleh Mba Ayana, masih lurus-lurus aja ceritanya, disinilah diceritakan perkenalan awal mereka. Mirha meneruskan part 5 dengan menceritakan dari sisi kehidupan Andrian. Sampai sini cerita masih mengalir sesuai alur. Baru di part 6 milik Mba Masya yang sedikit keluar jalur, karena di akhir part 5 itu, ceritanya Andrian ingin memberi kejutan pada Dara, kayaknya sih Andrian mau bikin sebuah buku yang dipersembahkan untuk Dara, tapi tidak terealisasikan di part 6. Disini yang diceritakan adalah bayangan Dara yang semakin mengusik Andrian, padahal satu bulan lagi dia bertunangan. Tapi tak apa, namanya juga for fun. 😉

Part terakhir yang juga merupakan bagian tersulit disajikan Harry dengan kacau. Hehe..maaf ya Ry ;). Entah apakah karena tema blognya atau memang cara dia menulis yang membuat format tulisannya acak-acakan. Sedikit masukan ya Ry, untuk percakapan, sebaiknya setiap orang yang berbicara itu dikasih “enter”, jangan disambung terus. J

Kalau soal isi ceritanya, mungkin dia ini juga bingung, akan dibawa kemana endingnya. Tapi tentang ending, sebenarnya OK-OK aja sih mau bagaimana. Cuma aku penasaran, maksudnya Dara dengan berdoa “Damaikanlah hatiku dengan ketentuan-Mu” dan mengatakan sudah punya seseorang yang spesial itu apa ya?? Bukannya dia juga naksir sama Andrian? Ah, cuma Harry yang tau. :mrgreen:. Harry, kita masih harus banyak belajar dan rajin berlatih. J

Overall, aku merasa happy dengan permainan ini. Bagian yang paling aku suka adalah sensasi saat membaca ceritaku yang dilanjutkan oleh orang lain. Rasanya kocak, menggelikan. :mrgreen:.

Sayangnya cerita lanjutannya banyak yang belum di-link-an ke post terkait, jadi agak susah kalau mau ditelusur dari awal.. L

***

Itu review dariku. Nah, sekarang aku ingin bertanya pada para kontributor maupun reader, kira-kira apa nih kesan dan pesan saat membuat/membacanya?? Ada kritik dan saran? Silahkan diungkap blak-blak-an. Tenang aja, aku ngga bakal tersinggung, paling mengkeret terus ngambek ngga mau nulis lagi. 😆

Ngga deng, menulis itu kebutuhan tersendiri untuk aku yang tak pandai berbicara. 😉

Jadi, aku harap ada yang rela hati memberikan komentar dan masukan terkait cerita berantai ini.

***

Lalu lalu, kalau aku lanjutkan cerita berantainya di season 2 ada yang masih mau ikutan nggaaa? Soalnya udah ada Mba Ne dan Mba Rinibee nih yang mencalonkan diri.

Kecewa


#Teruntuk dirimu yang kupercaya#

Kau tahu dari awal ku percaya penuh padamu. Kau satu-satunya di antara mereka yang paling bisa kuandalkan. Aku memilihmu dengan pertimbangan segala sifat dan kelakuanmu. Saat itu, ku begitu yakin bisa mempercayaimu.

Lihat bagaimana aku berkorban untukmu. Kuberikan apapun untuk membantumu. Kuusahakan apapun untuk kebaikanmu. Kuberi kesempatan itu, membuka pintu untukmu. Besar harapku kau bisa melalui jalan itu.

Namun lihatlah bagaimana kau mengecewakanku. Lihat bagaimana kau hancurkan kepercayaan itu. Untuk kesekian kalinya kau membuatku merasa salah menilaimu. Lagi-lagi kau munculkan ragu itu.

Tak kau penuhi janji itu. Kau tak datang. Menghilang tanpa kabar. Seperti yang pernah kau lakukan waktu itu. Waktu yang berbeda namun dengan orang yang sama. Ya. di saat kau membuatku kecewa, di saat itu pula selalu ada dia. Kamu dan dia. Yang tak pernah ku tahu ada apa. Karena kehadirannya kah? Atau karena ternyata kau memang tak bisa dipercaya?

Teringatku dengan pesan ibuku. Sayang ibu sudah pasti sayang istri. Ah, ibuku benar. Sekarang aku mengerti kelakuanmu wajar.

Terhadap ibumu yang melahirkanmu, kau begitu tak acuh. Datang dan pergi sesukamu. Berhari-hari tak pulang atau memberi kabar. Muncul, menghilang, dan terbang.

Tak terpikirkankah olehmu betapa seorang ibu sangat mengkhawatirkan anaknya? Betapa seorang ibu selalu merindukan anaknya, selalu ingin mengetahui keadaan anaknya, selalu ingin berbagi kasih sayang dengannya.

Tak ingatkah kau dengan jasa-jasanya? Kau pikir telah bisa mandiri. Padahal apalah dirimu tanpanya, tanpa kehadirannya, tanpa kasih sayangnya. Kau sebenarnya bukanlah apa-apa, dan tak akan menjadi apa-apa.

Itu terhadap ibumu. Lantas bagaimana terhadap aku yang memang tak ada hubungan darah denganmu? Maka pantas bila kau mengecewakanku. Datang dan pergi sesuka hati seperti yang kau lakukan pada ibumu.

Maka kini, tak perlu lagi menunggu tanggal tujuh bulan sembilan untuk mengatakannya. Pintu itu, telah tertutup untukmu.

#Teruntuk dirimu yang tak lagi kupercaya#

 

Kecewa

oleh: Bunga Citra Lestari

Sedikit waktu yang kau miliki
Luangkanlah untukku
Harap secepatnya datangi aku
S’kali ini ku mohon padamu
Ada yang ingin ku sampaikan
Sempatkanlah…

Reff :
Hampa kesal dan amarah
S’luruhnya ada dibenakku
Tandai seketika
Hati yang tak terbalas
Oleh cintamu…
Kuingin marah, melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri disini
Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada
Bahwa hatiku kecewa…

Sedetik menunggumu disini, s’perti seharian
Berkali kulihat jam ditangan
Demi membunuh waktu
Tak kulihat tanda kehadiranmu
Yang semakin meyakiniku
Kau tak datang

Download Kecewa