9 Summers 10 Autumns



Judul Buku: 9 Summers 10 Autumns, Dari Kota Apel ke The Big Apple

Penulis : Iwan Setyawan

Penerbit : Kompas Gramedia

Dimensi : 20 cm x 13,5 cm

Halaman : 221

Tanggal beli : 26 Januari 2013

Harga : Rp. 41.100,-

Review :

Ini adalah sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata penulis sendiri. Kisah seorang anak sopir dari kota batu yang kemudian menjadi direktur perusahaan besar di Newyork.

Cerita diawali dari penodongan yang dialami si tokoh di NYC. Dan muncullah tokoh bocah kecil berseragam merah putih. Selanjutnya, cerita bergulir dengan alur maju mundur, dimana si tokoh menceritakan kembali pada si bocah kecil tentang perjalanan hidup dia dari kecil hingga saat mereka bertemu.

Dari mulai masa kecilnya yang serba kekurangan, keluarga yang disayanginya, masa sekolah, lulus PMDK di IPB, perjalanan pertama ke Jakarta, pekerjaan pertama di tempat idamannya, dan jalan yang mengantarkan dia sampai ke luar negeri.

Semua ia lalui dengan proses. Normal tanpa magic. Dengan kerja keras, kesungguhan, dan tekad yang kuat, akhirnya Tuhan membukakan jalannya. Mendaratkan impiannya jauh ke luar batas logika kemampuannya.

Satu hal yang membuatku tertarik dengan cerita ini. Aku merasa seperti iwan, kaku di tengah banyak orang dan selalu merasa ingin sendiri. Ia juga merasa kecil dan berbeda. Persis seperti aku. Tapi seperti dia, aku juga tidak boleh merusak masa depanku. Aku harus berdamai dengan masa lalu. Aku harus berdamai dengan kelemahanku. (hal 168 )

Aku yang notabene punya kehidupan yang lebih baik darinya semasa kecilnya, seharusnya juga bisa berhasil seperti dia. Hanya harus mengikuti keteguhannya. Kalau dia bisa, kenapa kita tidak?? 😉

Rating : Good—Better—Best

Malu dong!!!!


Senin, seperti biasa aku menunggu mobil paling sensasional di Terminal Depok. =))

Entah setelah berapa lama menunggu, penumpang yang menanti juga udah rame, akhirnya tuh mobil ngejreng datang. Berebutan di depan pintu masuk terminal, dapatlah bangku tengah pojok sebelah kanan. Sampingku, duduk dengan manisnya laki-laki usia dewasa yang aku tau turun di Poins juga.

Masuk terminal, masih banyak penumpang yang ingin naik lagi, termasuk seorang ibu dan seorang nenek. Ngga dapet tempat duduk, akhirnya si ibu meminta kepada mas cuek di sebelah aku untuk berbaik hati merelakan bangkunya demi si nenek. Tapi dengan entengnya si mas cuek mengangkat tangannya, menolak memberikan duduk.
E buset. Shock aku melihatnya. Helloowwww Mas cueekk..situ ngga punya ibu? Ngga punya nenek?? Hmm.. Sepertinya sih yang ngga punya itu perasaan :P. Habis, bisa-bisanya bersikap tega seperti itu. Gondok setengah idup aku dibuatnya.

Akhirnya kurelakan saja tempat PeWeku untuk si nenek. Aku berdiri di samping si mas cuek dan berniat balas dendam :mrgreen:. Jangan harap bisa duduk dan tidur dengan nyaman ya. Lamaan juga aku nunggu mobilnya tadi. Kuposisikan tubuh dan tasku sedemikian rupa supaya sedikit mengganggu kenyamanannya :lol:. Masih mendinglah, daripada kutoyor mukanya dengan tas ranselku yang ‘uabot nemen’, ya kan?? 😛

Aku ngga ikhlas?? Ngga peduli. Ngga dapet pahalanya?? Mbo’ men. Yang penting si nenek bisa duduk dan aku bisa membuat hati si mas cuek ngga nyaman. Entah apakah dia punya rasa malu dengan membiarkan si nenek berdiri dan akhirnya membiarkan seorang cewe baik, manis nan lugu merelakan bangkunya..

Jadi ingat cerita meta saat dia naik busway. Ada seorang kakek-kakek baru naik. Disisi lain, ada pula seorang mas muda yang dapet duduk. Dan dia, bukannya mempersilahkan duduk malah bilang gini “Ya maaf maaf ya Pak, saya juga mau duduk” Idih, ada ya cowo kayak gitu? Amit amit dech. Kayaknya perlu nambah 1 lagi nih kriteria suami idaman aku: mudah mempersilahkan duduk, tapi bukan karena bisulan atau ambeyen yaa.. 😛

Soal mempersilahkan duduk, sebenernya aku juga udah pernah bikin postingannya disini, dyah kemaren juga sempet bahas di posting ini, yang mana aku setuju banget dengan pendapatnya Dyah: cowo yang enggan mempersilahkan duduk seorang wanita adalah NGGA BANGET.

Ok, Ok, mungkin postinganku kali ini bertentangan dengan tulisanku tentang latar belakang. Kalau mau berpikir positif, anggap sajalah kaki si mas cuek lagi sakit. Atau dia sedang sesak nafas, atau bla..bla..bla.., atau bla..bla..bla.. Tapi kalau aku perhatikan, memang sekarang ini cowo yang rela hati mempersilahkan orang lain menempati bangku PeWenya sangat langka kutemukan. Apalagi untuk perjalanan jauh dan/atau di kondisi bis yang memang sangat tidak nyaman bila berdiri (seperti di debbie kalau pagi, udah kayak pepes teri).

Dan terlepas dari apa alasan dan latar belakang si mas cuek dan mas muda bertingkah seperti itu, aku hanya ingin bertanya pada orang-orang seperti mereka, hey kalian yang mengaku laki-laki, tak malukah melihat seorang perempuan, baik itu gadis muda, ibu muda, ibu hamil, nenek/kakek renta berdiri lelah menopang tubuhnya sementara kalian-kalian yang mengaku laki-laki begitu santainya ongkang ongkang kaki??? Tak malu?? Sungguh tidak malu??? Kalau begitu operasi gender saja sanah!!! Atau rasakan saja nanti kalau kalian-kalian yang mengaku laki-laki sudah menjadi tua dan diperlakukan serupa!!! :mrgreen:

Hhhh…*menarik napas panjang*. Maaf bila kata-kataku kasar (padahal ini postingan juga udah dipending menunggu emosi mereda). Sebenarnya aku anti bicara kasar, apalagi di postingan sebelumnya juga aku udah gembar gembor soal mempertanggung-jawabkan kata. Tapi aku ngga habis pikir, bagaimana mereka mereka yang mengaku laki-laki bisa berbuat seperti itu. Sungguh ngga habis pikir.

Bagi yang merasa tersinggung, tersindir, cobalah, beri aku alasan agar lidahku ini tidak lagi mudah menghujat kalian. 😛

Doa di senin pagi


Senin dan macet, rasanya hampir semua orang di wilayah jabodetabek setuju untuk menyandingkan kedua kata itu. Seperti pagi ini, macetnya lebih parah daripada biasa. Aku sih santai saja, karena di kantorku tidak ada sistem absen atau potong gaji. Hal yang sangat aku syukuri. Alhamdulillah, selama ini Alloh selalu berbaik hati memberikan aku kemudahan-kemudahan.

Setelah ikut mengantar adikku yang sekolah TK, aku menaiki angkot yang sudah menunggu di depan mata. Tidak sepenuhnya menunggu sebenarnya, karena memang macet membuat angkot itu berhenti tepat di depan TK adikku. Begitu duduk, seseorang menyapa dari samping kananku.

“Mba, udah jam berapa sekarang?” seorang adik kecil berambut klimis, kulit kecoklatan bertanya dengan wajah cemas.
Aku melihat jam dalam HP ku sejenak baru kemudian menjawab,
“Jam tujuh lima belas.”
“Jam tujuh lewat lima belas?” kembali dia bertanya untuk meyakinkanku.
“Iya, udah telat ya? Masuk jam berapa?”
“Jam setengah 8, lagi ujian.”
Ah, benar, aku ingat, adikku yang SD pun sedang ujian.

Penasaran, kuwawancarai lagi dia.
“Sekolah dimana?”
“SMP Kasih.”
“Kelas berapa?”
“Kelas 2.”

Sunyi. Aku larut dalam pikiranku dan dia larut dalam kecemasannya. Angkot biru yang membawa kami masih tidak bergerak. Dalam diamku, aku pun merasakan kecemasan yang sama. Kenanganku kembali pada masa lalu saat masih berseragam sekolah. Terbayang bagaimana hati ini berdebar-debar saat angkot yang kutumpangi tak kunjung melaju sedangkan jarum di jam tanganku berlari cepat. Semua materi ujian yang sudah kupelajari pun buyar, tak lagi ku hiraukan. Satu hal yang kupikirkan saat itu adalah apa aku bisa sampai di sekolah tepat waktu atau tidak.

Ya, aku pun pernah mengalami seperti yang dialami bocah bertubuh kecil di sampingku ini. Dan rasa empatiku semakin bertambah, mendorongku untuk melantunkan sebuah doa untuknya. Aku kan sedang shoum, bukankah doa orang yang berpuasa diijabah oleh Alloh? Maka aku pergunakan kesempatan ini untuk berdoa. Ya Alloh, tidak peduli apakah bocah disampingku ini beragama islam atau bukan, tidak peduli apakah bocah ini bangun kesiangan atau tidak, tidak peduli apakah bocah ini termasuk anak baik yang rajin belajar atau sebaliknya, aku mohon, jangan biarkan dia telat, mudahkanlah perjalanannya.

Lalu seketika aku teringat bocah-bocah lain yang saat ini mungkin tengah berpacu dengan waktu pula karena kemacetan masih saja terlihat di kanan kiriku. Teringat pula adik laki-lakiku yang juga kelas 2 SMP di bekasi sana, postur tubuhnya pun bahkan seperti bocah ini. Teringat lagi adik perempuanku yang sedang ujian di SD nya. Dan doaku pun bertambah. Ya Alloh yang Maha Mengabulkan doa, mudahkan perjalanan anak-anak yang sekolah hari ini, termasuk adikku, jangan biarkan mereka telat, dan mudahkan mereka dalam mengerjakan ujiannya.

Melewati pertigaan depok dua, jalanan mulai lancar, bahkan sampai melewati jembatan panus. Aku mulai merasa sedikit lega. Sampai di jalan pemuda, bocah itu baru mengeluarkan suaranya kembali.
“Kiri bang” bergegas dia turun melewatiku.
Hati-hati ya dek, selamat berjuang, semoga sukses. Kata-kata itu hanya terlintas dalam hatiku, tak bernyali kuucapkan.

Aku melihat kembali jarum jam di tanganku. Ah, masih ada tujuh menit sebelum jarum panjang menunjukkan angka 6. Larilah bocah kecil, cepatlah, kamu masih punya waktu. Larilah, semoga Alloh mengabulkan doaku.

Senin, 8 Oktober 2011