JoHan (Jodoh di Tangan Tuhan)


Kau mengusikku sejak pertemuan pertama
Mendekatkan kita di pertemuan berikutnya
Pandanganmu seolah mengartikan rasa
pun sikapmu yang menyiratkan suka
Namun kelumu meniadakan semua

Ah, andai kau tahu
bahwa ada hal-hal yang harus diucapkan agar orang lain bisa mengerti
Andai kau pun sadari
sesungguhnya selama ini aku menanti pasti

Kau memang mampu pahami kebawelanku layaknya ku pahami keangkuhanmu
Namun aku yang selalu mengisi seakan tak berarti karena kau tak ingin membuka diri
Kau hanya diam dalam kebaikan hati
Maka jangan salahkan bila aku tak sanggup mengerti, lelah menyingkap apa yang tersembunyi

Dan saat raguku kemudian menghantui
Sunyimu kemudian menjaraki
Pada akhirnya kita sadar dunia kita berbeda
Kau dengan hingar bingarmu dan aku dengan kesederhanaanku

Tanpa terucap, kita seolah sepakat
Kau tuju suksesmu, aku pun menggapai suksesku

Entah apakah sukses kita ada di puncak yang sama
Entah akankah bersatu ada dalam garis takdir kita
Bersama, melapangkan dada, relakan semua
Karena jodoh, sungguh hanya ada dalam kuasa-Nya

***
Jodoh Di Tangan Tuhan (Johan)
oleh: RaBel

Ku punya dunia, Dunia ku begini
Ku punya mata, Ku punya telinga
Jangan anggap ku batu, Tak punya perasaan
Melihatmu dengannya, Aku Panas

Ku punya dunia, Dunia ku begini
Ku punya hati, Punya perasaan
Coba raba batinku, Coba tatap mataku
Melihatmu dengannya, Ku cemburu

Reff:
Cinta mengapa harus rumit
Biar begini wanita ku nanti satu
Siapa dia biar hatiku yang tahu
Ku pasti setia tapi nanti

Cinta bisakah jadi mudah
Kau berkelana masa’ aku harus diam
Biar saja kita jalani masing-masing
Jodoh di tangan Tuhan
Biar saja

Download Jodoh Di Tangan Tuhan (Johan)

Wanita Rumahan atau Wanita Perusahaan, sebuah pilihan


Mendukung eman-si-sapi bukan berarti mengabaikan kodratnya wanita sebagai manager di rumah lho yaa…

Dan walaupun menurutku pepatah jaman dulu “perempuan itu ujung-ujungnya di kasur, di sumur, dan di dapur” itu benar, juga bukan berarti jadi perempuan tidak perlu pintar.

Pernyataan “percuma sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma ngurusin rumah doank” itu menurutku mutlak salah.

Tak ada yang percuma dalam menuntut ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu itu hukumnya WAJIB, bagi setiap laki-laki dan perempuan, dari mulai buaian sampai ke liang lahat. Jadi, ngga ada ceritanya yang namanya cewe itu ga boleh sekolah/kuliah tinggi-tinggi.

Namun, banyak orang (baca: wanita) berpikir bahwa memanfaatkan ilmu yang didapatkan dari sekolah atau kuliahnya hanya bisa dilakukan dengan menjadi wanita karir.

Banyak pula orang yang menganggap menjadi wanita perusahaan (baca: wanita karir) lebih “WAH” dibanding “HANYA” menjadi wanita rumahan (baca: ibu rumah tangga).

Namun, tidak begitu menurutku. Dalam pandanganku, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga biasa adalah justru sangat luar biasa.

Wanita karir hanya dituntut melakukan pekerjaan yang sesuai bidangnya. Itu-ituuuu saja. Kalaupun naik posisi, hanya menambah beban tanggung jawab dengan tetap pada fokus pekerjaan yang itu. Jam kerjanya pun tetap.

Lain halnya dengan wanita rumahan. Ia dituntut menjadi Manager di segala bidang dalam perusahaan kecilnya, di setiap waktu dalam nafasnya. Dan seorang Manager tentu sangat butuh banyak ilmu yang bisa diaplikasikannya.

Bayangkan, seorang wanita rumahan itu harus terampil dalam banyak hal, diantaranya:

  • Mengatur keuangan dan belanja rumah tangga
  • Memilah-milah barang bermutu dengan harga bersaing
  • Memasak
  • Membersihkan rumah dan pakaian seluruh anggota keluarga
  • Menjalin hubungan baik dg tetangga dan sanak saudara
  • Menjaga keharmonisan keluarga
  • Mendidik anak
  • Mengurus administrasi kemasyarakatan
  • Menjaga kesehatan keluarga
  • Menjaga keimanan dalam keluarga
  • Dan lainnya…

Kalau diumpamakan di sebuah perusahaan, maka wanita rumahan punya peran sangat penting dalam setiap lini pekerjaan. Dari mulai cleaning service sampai direktur eksekutif. Ia harus bisa menjadi seorang “cleaning service + office girl + security + legal + HRD + sekretaris + akunting-finance” yang baik. Selain itu, ia juga diutamakan menguasai ilmu segala profesi. Koki, guru, ustadzah, psikolog, dokter, desainer, kurir, bahkan tukang kebun.

Dari mulai kerja kasar dengan menggunakan tenaga, sampai kerja hati yang menggunakan perasaan. Hey, jangan dipikir mencuci baju itu pekerjaan mudah. Butuh tenaga kuli untuk bisa mendapatkan kebersihan yang maksimal. Dan jangan dipikir pula mendidik anak itu mudah. Makan hati adalah salah satu hal yang sudah biasa dialami oleh seorang ibu. Butuh kesabaran extra untuk menjalaninya.

Menurutku, tak cukup hanya sekedar gelar S-3 untuk bisa mengemban tugas-tugas mulia itu. Butuh beragam ilmu aplikatif. Itulah pentingnya menjadi wanita pintar yang cerdas. Karenanya, dibanding disuruh kuliah tinggi-tinggi, aku lebih suka mengikuti kursus masak, kursus jahit, mempelajari ilmu psikologi, belajar agama, dan ilmu lainnya yang bisa langsung dipraktekan di perusahaan kecilku (baca: keluarga). Dalam Islam pun, seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Maka ia pun harus punya banyak ilmu kebaikan untuk ditransfer kepada anak-anaknya.

Seorang wanita rumahan dengan peran ganda (seorang istri dan ibu) seolah bak superhero yang bisa berubah jadi apapun untuk menjaga keberlangsungan hidup keluarganya. Ia pun berperan untuk mensupport perjuangan suaminya.

Dan di tengah keletihan yang tak berujung, pekerjaan yang tak ada habis-habisnya, seorang wanita harus tetap bisa senantiasa menunjukkan wajah cerianya, senyum termanisnya di depan sang suami dan anak-anaknya.

Oh well, katakan padaku, adakah yang lebih luar biasa dari peran seorang wanita dalam rumah tangganya?!

Tapi tetap, itu semua adalah menurutku. Entah bagaimana menurutmu.

Menjadi wanita rumahan atau wanita perusahaan, itu sebuah pilihan. Dan aku lebih memilih menjadi wanita rumahan di perusahaan miniku, menjadi ibu rumah tangga biasa yang luar biasa.

Bagaimana dengan pilihanmu?? 😉

Tanda cinta untuk perokok (cont)


sebelumnya

So, inilah beberapa solusi yang kuambil dari tugas kuliahku dulu:

Alternatif bagi perokok

  • Rokok elektronik. E-Cig merupakan rokok elektrik tanpa api, tar, karbon monoksida, dan abu.
  • Terapi farmakologi. Terapi yang dilakukan dengan memberikan varenicline kepada pasien.
  • Terapi SEFT (Spiritual, Emotional, Freedom, Technique). Terapi yang dilakukan dengan mengetuk ringan dengan 2 ujung jari (tapping) di bagian tubuh tertentu.
  • Teknik hypnotherapy, akupunktur, laser terapi, permen karet nikotin, rokok herbal, permen nikotin pelega tenggorokan (http://id.she.yahoo.com/apa-yang-menyebabkan-sulitnya-berhenti-merokok-050000513.html)

*info lengkap: cari di mbah gugel* :mrgreen:

Tapi kawan, berapapun alternatif yang ditawarkan demi berhenti merokok, sebenarnya hanya ada dua hal yang membuatnya berhasil. KEMAUAN dan KEGIGIHAN.

Simak saja artikel yang kutemukan di harian Kompas, Rabu 29 Mei 2013 ini:

Dan juga pengakuan dari para pria gentle ini:

Tampak jelas sekali bahwa kuncinya adalah TEKAD. Obat, terapi, dan yang lainnya, itu hanya pendukung saja yang diharapkan bisa mempermudah prosesnya.

Jadi kawan, ayolah, tolong, sekali ini saja, gunakan akal sehatmu, gunakan nuranimu. Hidupmu ada di tanganmu. Bahkan mungkin juga hidup orang lain. Kita berjuang bersama-sama untuk bisa hidup lebih sehat. Aku yakin. Kita bisa!!!

***

Rokok, telah habis kataku untuk menggambarkan betapa aku begitu membencinya.

Perokok, telah habis kataku untuk menggambarkan betapa aku mengharapkan kesadaran mereka.

***

Okeh. Kucukupkan saja postinganku sampai disini ya. Karena semakin diteruskan, maka aku akan semakin esmosih jiwah. Bawaannya pengen nyaci maki habis-habisan.

Postingan ini pun kutulis dengan penuh perjuangan.

Perjuangan untuk hati-hati memilih kata agar kalian tidak tersinggung.

Berkali-kali berhenti dan menarik nafas panjang.

Mengatur emosi, mengontrol perasaan.

Maaf bila kehati-hatianku mungkin masih tetap menyakiti hati sebagian orang. Harap maklum.

Tapi ini semua karena aku peduli.

Apa salah bila aku peduli?

Salah bila aku memperjuangkan hak menghirup udara bersih yang Alloh karuniakan untukku?

Katakan, apa aku salah?!!

Ah, sudahlah, aku tidak ingin didebat.

Memperdebatkan rokok hanya akan membuatku naik darah dan emosi berkepanjangan.

Simpan saja pendapat lain yang bertentangan itu.

Bagiku, ini sudah harga mati. Tak bisa ditawar-tawar lagi. Aku tetap benci rokok sampai mati!!!