Rekam jejak Brevet pajak [flashback] – 1


Dipertemukan, belum tentu untuk dipersatukan.

Namun paling tidak, kita akan punya cerita baru dalam hidup. Bahkan mungkin kita akan belajar sesuatu dari pertemuan tersebut.

Membaca quote dari dyaz itu, membuatku menyadari, bahwa sekalipun pertemuan akan berakhir dengan perpisahan, akan ada cerita tersimpan dalam benak kita, akan ada pelajaran yang mengiringi perjalanan hidup kita.

Maka disini, aku ingin mencoba bercerita, memutar kembali segala kenangan, dan menuliskannya untuk jadi pengingat memori dikala tua, tentang +- 7 bulanku mengikuti pelatihan brevet pajak.

_tentang pajak_

Dari awal aku sudah tidak suka pada pajak. Namun, itu tidak membuat aku lantas kehilangan antusias. Seperti yang sudah kubilang disini, ternyata aku adalah seorang pembelajar sejati yang masih suka belajar. 040413_0349_Hijrah1.pngDari total 24 pertemuan, aku hanya mbolos sekali untuk mengantar ade ku ke bekasi.

Dengan tak beranjak dari posisi favorit di setiap pertemuan (baris paling depan, persis di depan meja dosen), aku tekun mengikuti setiap pelajaran. Dari dulu aku memang selalu suka kursi terdepan, entahlah, semoga ini pertanda aku akan semakin kedepan (kok jadi kayak iklan yak? :lol:)

Tentang pajak, satu kata untuk mendeskripsikan pajak: KEJAM. Iah, luar biasa kejam. Dimana-mana, mau ngapain aja, selalu kena pajak. Dan ianya juga ngga mau rugi. Sebuah tagihan akan langsung terutang pajak, tak peduli apakah tagihan tersebut nantinya akan dibayar oleh rekanan atau tidak. Kemudian, bayangkan pula bila sebuah badan harus memberikan 1/4 dari profit yang didapat untuk negara. Itu pun profit berdasarkan fiskal, yang mana angkanya hampir selalu dapat dipastikan lebih besar dari yang sebenarnya didapatkan. Kupikir, wajar saja bila kemudian banyak yang mengakali pajak.

Aku kemudian membandingkan dengan kewajiban zakat yang hanya 2,5%. Dan dengan pengelolaan dana secara tepat dari zakat tersebut, di zaman Umar bin Abdul Aziz, perekonomian maju pesat, bahkan ada suatu masa, dimana saat itu tak ada lagi umat Islam yang layak menerima zakat dikarenakan semua tercukupi kebutuhannya. Bisa dibayangkan? Lalu apa kabar Indonesia dengan tarif PPh Badannya yang 25% ??? Hohoho… No comment-lah.

Terlepas dari apa dan bagaimana peraturan pajak itu, aku hendak me-review sedikit tentang ilmu pajak yang kuperoleh.

1. KUP (Ketentuan Umum Perpajakan)
Sesuai namanya, materi ini membahas tentang formalitas dari pajak. Formulir yang digunakan, batas waktu pelaporan dan pembayaran, sanksi denda dan bunga, pengajuan keberatan, gugatan, banding, dan lainnya. Dosennya asik dan “murah hati”. Maka, walaupun untuk ujian aku sama sekali ngga baca modul, aku bisa tenang-tenang saja, karena aku sudah tahu bentuk soal seperti apa yang akan diujikan. :mrgreen:

2. PPh Pot-Put
PPh Pemotongan dan Pemungutan. Bahasa jawi-nya, withholding tax system. Materi ini membahas tentang keseluruhan jenis pajak penghasilan yang wajib potong dan atau wajib pungut. Menurutku, jenis pajak inilah yang luar biasa kerumitannya. Butuh lebih dari sekedar 6 pertemuan untuk membahasnya. Terutama pasal 21, karena akan ada begitu banyak kasus untuk tiap perusahaan. Dan aku? Berkali-kali pun aku mengacungkan jari di depan dosen untuk bertanya, tetap saja tambah mumet, secara si bapak dosen bukannya memberi jawaban, malah “mengambil cermin” untuk memantulkan pertanyaanku balik, disuruh mikir sendiri. Ish, ga seru si bapak teh. 042413_0651_YangbaikYay5.png

3. PPh OP (Orang Pribadi)
Jadi, setiap orang yang bernyawa (halah) dan punya penghasilan diatas PTKP, hukumnya wajibbb bayar pajak ini. Untuk materi ini, dosennya lumayan seru. Dan aku tidak mengalami kesulitan yang berarti, karena telah dua tahun aku terlatih bikin SPT OP orang-orang di kantorku.

4. PPh Badan
Kalau sebelumnya adalah “setiap orang yang bernyawa”, maka pajak yang ini mewajibkan setiap badan yang “hidup” untuk membayar pajak. Mau bentuknya LSM, yayasan, ormas, firma, apalah lagi perusahaan yaa, pokoknya semua wajib punya NPWP badan. Materi ini lah yang kuincar sejak awal, demi menunjang pekerjaan kantor. Dan, yah, overall, aku cukup bisa memahaminya. Prinsip utamanya sama seperti PPh OP. Apalagi dosennya cukup bertanggung-jawab atas kemampuan para siswa untuk mencerna penjelasannya.

5. PPN
Pajak ini dikenakan atas barang atau jasa yang sudah bertambah nilainya. Nyaris semua benda terutang PPN. Materi PPN adalah materi terbanyak dan terumit kedua setelah potput. Namun, karena sang dosen seru banget, maka aku cukup menikmatinya. Hanya saja, karena kantorku belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, maka ilmu PPN ini belum bisa kuterapkan, dan alhasil membuat pemahamanku tidak maksimal.

6. e-SPT
Materi tentang pengisian SPT secara elektrik ini ngga ada ujiannya. Dan merupakan hal baru pula bagiku. Cukup mudah dipahami, tapi memang harus sering-sering praktek. Dosennya seruuu banget. Apalagi ruangan kelasnya…061313_1434_AntaraHandp3.png Dan mulai dari e-SPT inilah aku kemudian bisa mulai berbaur dengan teman-teman yang sebelumnya sulit “kusentuh”. Tragedi lappy rusak ku yang mengawalinya. Bahkan sampai sekarang lappy-ku belum dibenerin. Hiks.060413_0423_denganHati1.jpg

7. Akuntansi Pajak
Intinya sih bagaimana kita menjurnal transaksi-transaksi perpajakan. Hanya saja, ada materi PSAK 46 disini, yang belum pernah kupelajari dan kemudian dijelaskan oleh sang dosen tepat disaat aku mbolos. Yaah, mau ngga mau, aku sama sekali belum paham di bagian yang ini. 😦

8. PBB, BPHTB, dan Bea materai
Pajak ini berbicara soal bumi dan bangunan. Materi yang juga benar-benar baru bagiku. Nah, kalau materi ini, dosennya asyik bangggeeettt… Aku sama sekali ngga pernah ngantuk pas doi yang ngajar. Ah, seandainya yang ngajar potput itu diaa… 😐 Tapiii….ada tapinya nih kawan. Soal ujian yang dikasih, asli ngga banget!!! Itu tuh soal ujian paling bikin stress, 042413_0651_YangbaikYay7.pngdi sesi paling akhir pula, benar-benar sebuah penutup yang mengesankan. Seperti yang kutulis di post sebelumnya “Save the beast for last” 021513_0745_Siapaya5.png

So, itu perjalananku selama 7 bulan terakhir ini, dilihat dari sudut pandang materil-nya. Next, akan ada curhatanku dari sudut pandang immateril yang ngga formil. Haha.. #apa coba

So, dengan ini, lunas sudah hutangku pada Mas Ryan yang minta share pelajaran pajakku. Rencananya sih aku akan upload dan share lagi beberapa ringkasanku untuk setiap materi. Ditunggu aja ya Om Ryan. Itu pun kalau masih tertarik. Hehe…

So (again), dengan berakhirnya pelatihan pajakku ini, maka pemahamanku tentang pajak sedikit banyak makin bertambah doonks.. Jadi kalau ada diantara rekan-rekan yang ingin sharing atau sedikit tanya-tanya tentang pajak, boleh didiskusikan sama aku. Siapa tau aku bisa membantu. Aku pun bisa semakin menambah wawasanku.

Sekian reportase rekam jejak bagian satu dari saya. Kurang lebihnya semoga dimaafkan.011713_1131_TheVersatil6.png

Kelas e-SPT

Kelas e-SPT

Hijrah


Ehm.. Test..test..

Hampir sebulan nih ngga cuap-cuap, mungkin suara sudah mulai sumbang. Kelihaian merangkai kata berkurang. Keasyikan berbalas komentar menghilang. Ditambah blogwalking yang terbilang jarang.

Alasan klise: sok sibuk.

***

Jadi, akhir Maret kemarin kantorku pindah. Hijrah. Ke tempat yang mudah-mudahan lebih berkah. Bersamaan dengan itu, otomatis gerakan tubuhku bertambah. Angkut ini itu, ngurus itu ini, ngitung ini itu ini, nyiapin itu ini itu, bla..bla..bla..

Tidak hanya sampai disitu. Di tempat baruku, my kompie ngga bisa akses internet. Sudah. Tamatlah riwayat ngeblogku. Apalagi paket modem di rumah tewas. Bisa sih pake HP, tapi draft post yang udah ada tuh kudu pake link and pic, yang mana sangat tidak nyaman kalau post via HP (ngga bisa sih sebenernya :lol:).

Dua alasan terbesar itu sudah cukup membulatkan tekadku untuk vakum ngeblog. Ya, sebelumnya memang aku berniat untuk rehat sejenak, mengevaluasi apa-apa yang sudah termaktub dalam blogku. Apakah masih selaras dengan tujuan utamaku ataukah telah melenceng mengumbar hal yang tidak perlu. Aku ingin meluruskan lagi niatku ngeblog. Karena sepertinya target post a day (kecuali tanggal merah) membuatku memosting ala kadarnya. Belum matang dan kurang maksimal. Hanya kejar tayang. Dan itu tidak memuaskan.

Walau ada untungnya juga sih. Dengan “tuntutan” post a day, aku jadi ngga punya alasan untuk ngga ketik-ketik. Karena kebiasaan baik itu mudah dan cepat sekali hilang. Khawatir kalau ngga dipaksakan, maka kemampuan menulisku lama-lama karam.

***

Dan selama aku menghilang dari dumay, aku tenggelam dalam dunya. Banyak hal telah terjadi selama hampir sebulan ini. Baik, buruk, lambat, dan menghentak. Sesaat membuatku down namun kemudian kembali up. Down lagi, up lagi. Yaahh..memang hidup harus begitu kaan..

Dari situ, banyak pelajaran yang kuambil dan banyak perenungan yang kualami. Yang mana, saking banyaknya, aku sampai lupa.

Semua yang terjadi itu menyadarkanku untuk hijrah. Berpindah dari hal-hal negatif menuju hal-hal positif. Ku program ulang sistem hidup yang sedang kujalani. Seperti motto yang terpampang di head blog ini: Be Better Person.

Ya. Aku harus hijrah, menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin baik.

Dan atas kesadaran itu, aku berterima kasih pada seseorang -yang walaupun sudah beberapa kali kukasih link blog ini, aku ngga yakin dia bakal berkunjung kesini- yang sedikit banyak secara tak sadar telah “menamparku”.

Pesanku untuknya,

Kadang, berada di pinggir jurang itu perlu, agar kita bisa menghargai lapangnya sebuah padang. Dan Hey, mungkin saja kamu lah yang terlalu lekat memandang jurang. Sejenak alihkan pandanganmu. Aku yakin duniamu indah. Seperti indahnya duniaku. At least, Bayangkan saja dunia ini indah. #asal 😆 Pokoknya apapun yang kita alami, sesungguhnya Alloh tahu takaran kita, semakin tinggi ujian yang dihadapi, semakin tinggi pula tingkat kelasnya. Semakin berat, semakin kuat. Jadi, jangan menyerah, aku percaya kamu bisa melewatinya. Yakinilah, Bahagia itu sungguh sederhana. Tetap semangaat!!! \(^o^)/. Dan seperti yang pernah kamu katakan, aku pun “Aku Padamu” #eaaa

***

Anyway, I’m back foorrr maybe a minute :mrgreen: Entah apakah post ini akan tepat berlanjut esok hari atau tidak. Yang jelas, aku punya setumpuk utang posting dan berniat untuk melunasinya. Dan mohon maaf bila jejak kunjunganku ke “rumah” saudara-saudara nyaris tak ada. Terkadang aku hanya baca di notif email tanpa meninggalkan jejak, dan terkadang pula aku pending untuk membacanya nanti di kompie kalau net kantorku sudah kembali normal.

So, let’s hijrah to the positive :mrgreen: #apa coba

***

nb: ni postingan niatnya mau dikit aja lho, tapi ternyata emang ngga bakat ngecuis pendek, harap maklum, lidahku tak ber-rem. 😛

Saat kehilangan ibu


Sore ini aku diberi kabar bahwa ibunda salah satu temenku meninggal. Padahal temenku itu seumuran denganku.

Membayangkannya membuatku terdiam. Seumurku sudah kehilangan ibu? Aku tahu usiaku ini tidak bisa dibilang anak-anak lagi, tapi aku selalu merasa belum cukup dewasa untuk bisa ditinggalkan seorang ibu.

Sejak kepergian Bapak, alhamdulillah aku masih bisa menjalani kehidupan tanpa kesulitan yang berarti. Bahkan setelah meninggalnya pun Bapak masih meninggalkan sejumput kemudahan-kemudahan hidup untuk keluarganya. Hasil dari kerja keras dan cerdas selama hidupnya.

Tapi untuk kehilangan ibu? Mau dilihat darimana pun sepertinya aku belum dan entah apakah akan siap. Selama ini aku selalu bergantung pada ibu. Makan masih dimasakin ibu, kebutuhan sehari-hari masih disiapkan ibu, bahkan untuk membuat keputusan pun masih mengandalkan ibu. Kalau aku bingung, tinggal cerita dan minta pendapat ibu. Pokoknya apapun kata ibu saja lah. Karena aku tahu, setiap keputusan yang diambil ibu bukan karena apa yang ibu mau atau tidak tapi atas dasar Alloh suka atau tidak. Bertanya sama ibu merupakan jalan pintas untuk tahu apakah yang akan aku lakukan benar atau tidak. Ibu ibarat hakim yang memutuskan, dan aku cukup mengikuti sarannya tanpa perlu membantah. Ibulah badan legalku di rumah.

Dan harus kehilangan ibu??? Aku tak yakin sanggup.

Ibuku juga yang selama ini mengurus keperluan adik-adikku secara penuh dan mengurus urusan tetek bengek dalam kemasyarakatan di rumah. Ibuku yang selama ini mengajar mengaji anak-anak yang begitu banyak. Ibuku pulalah yang kuandalkan untuk bersosialisasi di rumah, aku hanya tinggal ‘mengintip’ dan berlindung di balik sosoknya, karena memang aku tidak kenal lingkungan. Bisa dibilang, ibu ibarat algojo yang mengeksekusi setiap permasalahan yang datang, yang aku pun terkadang terlalu malas untuk sekedar memikirkannya.

Dan harus kehilangan ibu? Sungguh, benar-benar, aku rasa aku tidak akan sanggup.

Tapi aku tahu semua yang datang akan pergi. Akan ada saatnya aku benar-benar kehilangannya. Dan memikirkannya benar-benar membuatku sesak di dada.

Dari pengalaman kehilangan bapak, terkadang aku menyesali saat-saat yang terlambat kulalui bersamanya. Seharusnya dulu aku belajar ‘begini’ dengannya, seharusnya dulu aku bertanya ‘begitu’ dengannya, seharusnya dulu aku bersikap ‘begini begitu’ padanya, dll.

Dan itu jadi pelajaranku kini. Sebelum aku benar-benar kehilangan ibu, seharusnya aku mengantisipasi agar kelak tidak ada lagi saat-saat yang terlambat kulalui bersamanya.

Tapi aku memang manusia tulen, yang telah di klaim sebagai “tempatnya salah dan lupa”, jadi terkadang aku pun lupa dengan hal-hal yang seharusnya aku ambil sebagai pelajaran.

Tentang ibu, sampai kapanpun aku tahu tak akan bisa membalas jasanya. Dan bahkan sampai hari ini pun tak jarang aku masih membuatnya kesal. Tapi aku cukup percaya diri menyebut diriku sebagai anak yang cukup berbakti. Setidaknya aku berusaha untuk itu. 😀

Dan harus kehilangan ibu?? Aku masih enggan memikirkannya. Tapi ada atau tidak ada ibu, aku tetap harus belajar mandiri kaan?? Semoga saja aku bisa. *berbisik pada diri sendiri* 😀

Bagaimana dengan ibumu kawan? Saranku, datangi dan berbuat baiklah. Jangan sampai ‘dipaksa’ untuk mengerti betapa kehadiran ibu itu sangat berarti. Mengerti maksudku kan?? 😉

=mari belajar jadi anak yang berbakti=