IBF, Islamic Book Fair


Untuk pertama kalinya, akhirnya aku berhasil ke IBF alias Islamic Book Fair yang diselenggarakan di Istora Senayan, tempat yang sama waktu aku wisuda dulu.

Walaupun pecinta buku, aku memang belum pernah datang ke bookfair. Dulu ibu dan bapak pernah kesana berdua aja dan membelikan aku buku yang aku idam-idamkan. 😳 Sekarang kalau inget itu rasanya pengen nangis. Mereka sayang banget sama akuu, sedangkan aku belum bisa berbuat banyak, terutama untuk Bapak semasa hidupnya..

Balik lagi ke IBF. Kenapa aku belum pernah kesana? Karena waktunya yang ngga pernah klop. Sehari-hari kerja, sabtu minggu kadang ada acara. Selain itu, aku juga ngga ada temennya. Mau dateng sendiri? Bisa-bisa ngga bisa pulang. Aku kan buta arah. Di mall aja ngeri, gimana ini, di senayan.

Dan kemaren, akhirnya aku berkonspirasi (???) sama Mira untuk ke IBF bareng. Janjian ketemu di BlokM dan selanjutnya nebeng Mira yang bikers.

Kita sampai disana jam 6an sore. Masuk dari pintu ‘entahlah’ dan langsung dihadapkan ke beberapa stand penerbit ternama, diantaranya stand Mizan. Cukup lama aku di Mizan, memilah-milah buku apa yang sebaiknya aku beli. Ada koleksi buku Dee, bukunya Okky Setiana Dewi, dan banyak novel dengan diskon 30% *kalau ngga salah* yang bikin aku galau. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk ngga beli apa-apa disana.

Akhirnya karena bingung dan ngga mau keterusan bingung, sebelum ngubek-ngubek IBF lebih dalam, aq menyelipkan sebuah doa di sholat maghribku, meminta agar Alloh menunjukkan jalan, buku apa yang sekiranya bermanfaat untukku. *terinspirasi dari ceramah yang kudengar*. Hehe… Dan setelah itu, aku benar-benar dimudahkan dalam pencarian. ^-^

Jam 9 kurang, kita berencana untuk pulang, karena memang sudah malam dan uangku sudah ludes. Rasanya pengen pake kacamata kuda biar ngga lirik kanan kiri lagi. 😛

Tapi tiba-tiba ketemu temen YISC yang lagi jaga stand. Aduh malunyaaa. Penampilanku kan acak kadut begini, bak preman terminal :mrgreen: Tapi ya sudahlah. Apa adanya saja. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, kita (aku, mira dan temannya mira) malah ditawarin untuk masuk ke ruang Anggrek karena ada kajian bagus. Begitu masuk, ternyata aku pun bertemu dengan anak YISC (lagi). Dan aku makin merasa seperti *maaf* telanjang, secara rata-rata yang ikut acara itu “akhwat beneran” semua (selain ikhwan). Aiiihh.. #tutup muka

Kajian berakhir jam 21.15 dengan ditutup oleh penampilan dari anak-anak Master. Iya, anak-anak Masjid Terminal Depok yang baru saja diulas meta. Kaget juga dengernya. Ngga nyangka, baru juga baca infonya di blog meta langsung dipertemukan sama anak-anaknya. Hebat ih, mereka bisa sampai kesini.


Aku tak lama menikmati pertunjukan mereka karena pikiran udah ngga fokus, takut keabisan angkutan umum. Akhirnya rencana sholat dan makan dulu pun batal. Kita langsung pulang, namun tertahan di parkiran. Apa pasal? Mira ngga bawa STNK. Dompetnya ketinggalan di kost-an coba!!! Disuruh sama abang parkir untuk nunggu sampai motornya abis. Trus aku gimana pulangnya???!!!

Tapi untungnya Mira ini anak gahol yang punya banyak temen. Di parkiran itu juga ada beberapa temannya yang ingin pulang, akhirnya merekalah yang jadi saksi kalau tuh motor emang bener punya Mira. Dan accident itu tidak berlanjut ke hal yang buruk. Alhamdulillah. ^^

Kemudian aku diantar Mira sampai pasar minggu. Ah Mira, terima kasih banyak. Semoga Alloh membalas segala kebaikanmu dengan berlipat.

Alhamdulillah, jam 11 malam aku sampai di rumah. Namun, masih ada rasa belum puas karena belum sempat menjelajah pelosok IBF dengan seksama. Mungkin untuk tahun depan, aku list dulu penerbit-penerbit yang berpotensi punya buku bagus. Biar ngga ngeblank kayak kemaren. Mudah-mudahan masih diberi umur untuk bisa hunting buku lagi di IBF tahun depan.