Melepas lagi… -_-


Siapa sih yang ngga mau kerjaan yang enak tapi duitnya banyak? Ah, rasanya itu salah satu ke-eksistensi-an manusia yang selalu ingin menang banyak (baca: serakah).

Tapi ya kembali lagi kepada realita, bahwa hidup itu tempat bercocok tanam, hidup itu perjuangan, dan ngga ada ceritanya yang namanya kerja tuh enak, semua ada masanya, ada enak dan ngga enaknya.

Pun begitu halnya dengan kerjaanku sekarang. Sejak lulus SMA, aku baru merasakan kerja di 2 tempat. Empat tahun pertama kuhabiskan di counter HP, dan 3 tahun terakhir di lembaga non profit ini.

Tempat kerja yang pertama sebenarnya cukup enak, ditempuh hanya dengan berjalan kaki saja dari rumah. Dengan kantor pusat nun jauh disana (rawamangun) yang membuat minimnya pengawasan, menjadikanku seolah owner counter itu sendiri. Aku leluasa dan berjaya meng-handle kerjaanku sendiri. Yang penting pemasukan lancar dan stock terjamin, selebihnyaa…aku bebas. :mrgreen:

Saat itu aku merasa berada di zona nyaman. Gaji yang tak seberapa dan jam kerja yang shift pun tak mempengaruhi kenyamananku disana. Sampai pada suatu titik, aku merasa kalau counterku ini sudah “sekarat”. Aku berencana untuk resign tapi tetap tak bergerak. Barulah saat kemudian aku mengalami “kejatuhan” yang sangat, aku baru benar-benar beranjak pergi. Kejatuhan yang tak lain tak bukan adalah soal rasa. Singkatnya, sakit hati. 😛 Yah, sakit luar biasa yang kupikir sanggup membuatku “mati” bila aku tak mau pergi. Aku mengajukan resign bahkan sebelum aku mendapatkan pekerjaan pengganti. Keputusan yang cukup nekat.

Namun, aku patut bersyukur dan seharusnya mengucapkan banyak terima kasih pada siapapun dia yang membuatku sakit hati. Karena dengan wasilahnya lah aku kemudian mendapat pengganti yang lebih baik.

Sebulan kemudian, aku diterima di sebuah lembaga non profit di kawasan Jakarta selatan. Counterku sendiri, tiga bulan kemudian, akhirnya benar-benar collaps dan ditutup.

Dan kini, di tempat kerjaku kini, aku pun sudah berada di zona nyamanku. Kembali aku berkuasa di wilayahku. Aku bak bos kecil yang bisa melakukan apapun sesuka hati. Bagaimana tidak? Bagian vital kantor ada ditanganku, dan kepercayaan penuh telah kudapat dari atasanku. Makmur sudah hidupku, kecuali soal “angka”. Yaah, bagaimanapun, selalu ada positif dan negatifnya kan?!

Dan walaupun itu bukanlah priority-ku dalam bekerja, tuntutan hidup dari keluarga membuatku mau tak mau memikirkannya. Dan sudah setahun belakangan aku berniat untuk resign. Tapi loyalitasku, tanggung jawabku pada kantor ini menahanku sampai paling tidak merapikan warisan masa lalu yang kudapat sejak masuk dan meyakinkan kalau aku pun tidak ikut meninggalkan warisan saat nanti ku keluar.

Tiga bulan lalu, seorang teman menawariku sebuah peluang dengan angka yang tentu lebih besar. Namun kutanggapi hanya dengan senyuman. Karena lokasinya tidak cukup strategis bila ditempuh dari Depok: Kemang. Lagipula aku enggan bila harus mencari pekerjaan di Jakarta. Kemacetannya akan membuatku stress menggila.

Maka ketika aku kemudian ditawari lagi di daerah cibinong, yang notabene lebih dekat dari Depok, aku berminat. Perjanjian tak tertulis disepakati olehku dan temanku yang menawari itu. Paling tidak, September aku baru bisa resign dan masuk perusahaannya.

Manusia boleh berencana, tapi Allah Yang Maha Menentukan. Nyatanya, di bulan Ramadhan kemarin, kantorku terlibat kasus internal yang lumayan menguras ketenangan. Maka sekali lagi, demi tanggung jawab dan loyalitasku pada perusahaan, akhirnya hanya permintaan maaf yang dapat kuucapkan pada temanku itu.

Pada Pak Bos, aku mengucap janji dalam hati, akan bertahan minimal sampai akhir tahun, setelah saat-saat paling dinamik di kantorku usai. Tapi ujian datang. Penawaran kembali datang. Oh, sungguh sebenarnya aku ingin mengambilnya, tapi moralku mengatakan harus bersabar. Tak mungkin aku meninggalkan kantor dengan kondisi seperti ini. Maka akhirnya, penawaran itu, dengan berat hati, harus kulepas lagi.emo36

Panggil aku bodoh, sebut aku sok idealis. Tapi nuraniku mengatakan ini yang seharusnya kulakukan. Ada amanah yang harus kupertanggung jawabkan. Ada integritas yang harus kupertahankan. Bila ada yang bilang, “love your job, but don’t love your company”, maka aku lebih memilih “love my integrity”.061813_0524_WanitaRumah2.png

Ya Robb, ampuni diri ini bila sombong tak bersyukur dengan melepas kesempatan. Tapi aku tahu Engkau Tahu prinsip yang kucoba untuk tegakkan.

Maka sungguh syukur kuhaturkan bila Engkau berkenan memberi kesempatan lebih baik di waktu yang terbaik.

Tanda cinta untuk perokok (cont)


sebelumnya

So, inilah beberapa solusi yang kuambil dari tugas kuliahku dulu:

Alternatif bagi perokok

  • Rokok elektronik. E-Cig merupakan rokok elektrik tanpa api, tar, karbon monoksida, dan abu.
  • Terapi farmakologi. Terapi yang dilakukan dengan memberikan varenicline kepada pasien.
  • Terapi SEFT (Spiritual, Emotional, Freedom, Technique). Terapi yang dilakukan dengan mengetuk ringan dengan 2 ujung jari (tapping) di bagian tubuh tertentu.
  • Teknik hypnotherapy, akupunktur, laser terapi, permen karet nikotin, rokok herbal, permen nikotin pelega tenggorokan (http://id.she.yahoo.com/apa-yang-menyebabkan-sulitnya-berhenti-merokok-050000513.html)

*info lengkap: cari di mbah gugel* :mrgreen:

Tapi kawan, berapapun alternatif yang ditawarkan demi berhenti merokok, sebenarnya hanya ada dua hal yang membuatnya berhasil. KEMAUAN dan KEGIGIHAN.

Simak saja artikel yang kutemukan di harian Kompas, Rabu 29 Mei 2013 ini:

Dan juga pengakuan dari para pria gentle ini:

Tampak jelas sekali bahwa kuncinya adalah TEKAD. Obat, terapi, dan yang lainnya, itu hanya pendukung saja yang diharapkan bisa mempermudah prosesnya.

Jadi kawan, ayolah, tolong, sekali ini saja, gunakan akal sehatmu, gunakan nuranimu. Hidupmu ada di tanganmu. Bahkan mungkin juga hidup orang lain. Kita berjuang bersama-sama untuk bisa hidup lebih sehat. Aku yakin. Kita bisa!!!

***

Rokok, telah habis kataku untuk menggambarkan betapa aku begitu membencinya.

Perokok, telah habis kataku untuk menggambarkan betapa aku mengharapkan kesadaran mereka.

***

Okeh. Kucukupkan saja postinganku sampai disini ya. Karena semakin diteruskan, maka aku akan semakin esmosih jiwah. Bawaannya pengen nyaci maki habis-habisan.

Postingan ini pun kutulis dengan penuh perjuangan.

Perjuangan untuk hati-hati memilih kata agar kalian tidak tersinggung.

Berkali-kali berhenti dan menarik nafas panjang.

Mengatur emosi, mengontrol perasaan.

Maaf bila kehati-hatianku mungkin masih tetap menyakiti hati sebagian orang. Harap maklum.

Tapi ini semua karena aku peduli.

Apa salah bila aku peduli?

Salah bila aku memperjuangkan hak menghirup udara bersih yang Alloh karuniakan untukku?

Katakan, apa aku salah?!!

Ah, sudahlah, aku tidak ingin didebat.

Memperdebatkan rokok hanya akan membuatku naik darah dan emosi berkepanjangan.

Simpan saja pendapat lain yang bertentangan itu.

Bagiku, ini sudah harga mati. Tak bisa ditawar-tawar lagi. Aku tetap benci rokok sampai mati!!!