Yisc Al-Azhar


Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar adalah organisasi pemuda masjid yang pertama berdiri di tanah air. Didirikan di Jakarta pada tanggal 16 Mei 1971 atau 12 Rabiul Awal 1391 H.

1.  Visi

Menjadi Komunitas Belajar yang Berakhlakul Karimah dengan berlandaskan Al Qur’an dan Sunah.

2. Misi

Da’a Ilallah (berda’wah di jalan Allah),  Amila Shalihan (melakukan amal shaleh), dan Innani minal Muslimin (menegakkan kepribadian muslim). (QS. Fussilat: 33).

3. Tujuan

Membina dan mewujudkan generasi muda yang bertanggung jawab dan dapat mempertahankan serta memperjuangkan nilai-nilai Islam dan kesejahteraan umat.

4. Motivasi

Memakmurkan masjid-masjid Allah (QS. At-Taubah: 18), menegakkan persatuan dalam agama Allah (QS. Ali Imran: 103), menambah ilmu (QS. Thoha: 114) dan berjuang menuju keridhaan Allah SWT (QS. Al-Ankabut: 69)

Sumber: http://www.yisc-alazhar.or.id

 

Sedari kecil aku udah dijejali dengan hal-hal berbau religius. Dari sejak SD, setiap bepergian, orangtuaku selalu mendidikku untuk memakai jilbab. Dan akhirnya, masuk SMP aku tertib melaksanakan salah satu perintah Alloh itu.

Walau SMP Negeri, tapi SMPku itu termasuk kental kereligiusannya. Bisa dibilang, sepanjang mengenyam bangku sekolah, disinilah aku benar-benar ditempa dan digojlok soal keimanan. Aku masuk ekskul ROHIS dan mendapat bekal-bekal yang meneguhkan pondasi keimananku sampai sekarang.

Di SMA, tidak kudapatkan lagi hal semacam itu. Walaupun berlabelkan sekolah Islam, tapi unsur religinya masih jauh dari sekolah menengah pertamaku. Disana, statusku sebagai siswi kelas akselerasi memaksaku untuk fokus belajar dan meraih nilai diatas rata-rata.

Lulus SMA, imanku makin kritis. Bekerja di salah satu supermarket di Depok membuat ruh Islamku makin mengendor. Aku merasa ‘jauh’ walaupun masih berusaha menjalankan ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah.

Aku rindu pada suasana ROHIS dulu. Aku rindu berkumpul dengan teman-teman seperjuangan, sepemahaman, yang selalu mengajak pada kebaikan. Ditambah lagi urusan hati di tempat kerjaan. Membuatku stress menjadi-jadi dan ‘jatuh’ sejatuh jatuhnya. Saat-saat itu bisa dibilang merupakan saat paling kelam dalam hidupku.

Dan ketika salah seorang teman kampusku memperkenalkan aku dengan Yisc, maka tak perlu pikir panjang untuk menyambutnya. Kuambil langkah nekat dengan resign dari tempat kerjaku walau aku belum dapat penggantinya. Aku ingin hijrah, dari masa kelam menuju cahaya. Dan aku yakin, Alloh akan menunjukkan jalan bagi siapapun yang ingin menuju-Nya.

Dan benar saja, tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pekerjaan terbaik yang Alloh pilihkan untukku. Cukup sebulan saja aku menganggur, aku sudah mendapat kerja di sebuah perusahaan dengan jam kerja kantoran sehingga aku bisa menjalani hari-hari penuh cahaya di Yisc dengan leluasa.

Dan di Yisc lah titik balik kehidupanku. Aku seakan menemukan kembali mutiaraku yang hilang. Disanalah aku bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik. Aku yang dulunya sangat anti tampil didepan, mulai mencoba lebih berani malu. Aku yang dulunya cenderung selalu berpikir negatif, menjadi lebih lihai memandang segala sesuatunya menjadi positif. Disanalah tempatku mencharge iman. Tempatku mencharge energi positif. Disana tempatku merefresh pikiran. Bukan di pusat-pusat pebelanjaan. Bukan pula di tempat rekreasi.

Maka, saat ada kontes menulis disana, dengan antusias aku membuat sebuah tulisan (ku post disini) dengan sepenuh hati. Tak peduli apakah tulisanku menang atau tidak, tapi itu adalah curahan hatiku. Tujuanku adalah agar teman-temanku di Yisc tahu kalau mereka telah berjasa dan punya andil besar dalam kebangkitanku.

Pernah suatu hari, aku merasa sangat down. Sulit dijelaskan, tapi saat itu bisa dibilang aku berada di titik terbawah. Iseng, aku buka Group Yisc angkatanku di Facebook. Disana terpapar kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan teman-temanku. Ah, aku malu. Alih-alih menjadi seperti mereka yang berbuat kebaikan pada orang banyak, aku malah jenuh pada urusanku sendiri. Betapa aku ini bukan apa-apa.

Dan saat itu pula, setelah tercetus sebuah syair (kupost disini) untuk mereka, aku kembali menemukan semangat untuk hidup.

Jadi dapat kukatakan, Di Yisc Al-Azhar lah aku tak jadi ‘mati’ dan ‘hidup’ kembali.

Pesan:

Seperti yang sering kukatakan, beradalah di sekeliling kebaikan, maka kita pun akan ikut menjadi baik.

Selalu ada alasan, latar belakang


Belakangan, aq terlibat dalam suatu problematika (aih bahasanya :p ), yang membuatku berpikir dan merenung.

Diantara perenungan itu, aq menemukan dua teori:

  1. Terkadang, apa yang terlihat, kenyataannya tidak seperti yang terlihat
  2. Apapun yang dilakukan seseorang, baik buruknya, pasti dy punya alasan, latar belakang.

Realisasinya dalam dunia nyata:

  • orang yang sedang bercanda, tertawa, blm tentu memang sedang bahagia, bisa jadi itu untuk menutupi lukanya, atau bisa jadi itu untuk melupakan penatnya.
  • orang yang tidak memberi tempat duduk pada ibu2 di bis, bisa jadi karena dy berpikir itu lebih baik bagi semuanya (karena akan lbh memakan tempat bila dy berdiri), bisa jadi bawaannya (baca: tas) sungguh berat, atau bisa jadi dy sedang menahan sakit di perutnya, kepalanya, kakinya.
  • orang yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga mencipratkan genangan air ke pejalan kaki, bisa jadi dy sedang terburu2 ingin ke kamar mandi, atau bisa jadi dy baru mendengar kalau anggota keluarganya masuk RS.
  • orang yang mengomel2 kasar, bisa jadi dy sedang ditimpa musibah, dilanda masalah, atau sedang banyak yang dipikirkan.
  • orang yang berpikir jelek dan pendendam, bisa jadi dia telah mengalami sesuatu yang membuatnya trauma.
  • orang yang diam dan terkesan nyuekin, bisa jadi dy sedang menahan emosi, atau mungkin sedang sakit gigi

dan banyak lagi hal-hal lain, peristiwa2 lain yang membuat kita terkadang langsung berpikir negatif tentang orang itu.

 

Tapi selalu ada alasan, latar belakang dibalik perilaku seseorang. Seperti kata pepatah, “don’t judge the book by it’s cover”.
Kita tidak tahu apa yang sedang dia alami, kita tidak tahu apa yang pernah dia lewati, dan kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang melatar belakangi perbuatannya itu.

 

Jadi tugas kita dalam menyikapi orang-orang yang bertingkah aneh, menyebalkan, atau merugikan adalah mencari 1001 alasan untuk memakluminya. Dan kalaupun yang mereka lakukan itu tidak baik, jadikan cermin bagi kita untuk tidak ikut-ikutan melakukan hal-hal tersebut. Syukur-syukur kita mampu untuk mengingatkannya.

 

Tapi sekali lagi, baik atau buruk, selalu ada alasan, latar belakang, bahkan pencuri pun punya alasan. Karena aq percaya, tidak ada orang yang benar-benar jahat atau ingin jadi orang jahat, selalu ada sisi baik yang bisa kita ambil pelajaran.

 

Jadi marilah kawan, kita bersama-sama mencoba untuk selalu berpikir positif. Seperti kata kak nita, selalu ada 2 pilihan, positif dan negatif. Kebahagiaan kita tergantung pada pilihan kita.

 

 

Nb: Buat semua yang sempat aq cap jelek, aq minta maaf, sedang khilaf :p

“Ya Alloh, jernihkanlah hatiku agar bisa selalu berpikir positif dan karuniakanlah ilmumu agar aq bisa lebih bijak dalam menjalani hidup.”