Come Back (a wish)


Heyhoo sobat bloger,
Bagaimana kabarnya? Ada yang kebanjiran? Semoga semua aman terkendali ya. Hmm… Sudah lama tak bercakap di rumah kedua. Masih adakah yang datang berkunjung ya? (tengok kanan kiri)

*hela nafas* banyak hal yang harus dilakukan nih, demi mempertahankan “rumahku”. Harus mulai membersihkan “debu” dan menambal “tembok” yang berlubang. Tembok utang. Utang posting. :’)

Kemarin adalah pertama kalinya aku kembali posting, dan postingannya pun hanya copas belaka. Karena itu aku mau minta maaf nih sama pengunjung setia blog ini (emang ada ya?) bila dirasa postingan kemarin dan beberapa hari ke depan akan membosankan.

Ini berawal dari aku yang ikut banyak group di whatsapp. Info, artikel, renungan, dan banyak tulisan bagus berseliweran setiap harinya. Sayang donk kalau cuma dibaca sekali untuk kemudian dilupakan. Makanya, biasanya broadcast brodcast itu kusimpan di note. Tapi masalahnya, semakin hari note-ku semakin penuh dan berdampak ke memory hp. Sekarang aja udah lebih dari 100 note. 😐 Pengen simpan di email, tapi emailku aja masih ribuan unread gara gara follow blog 😀 Cari cara untuk menyimpan di media lainnya, teringatlah blog ku ini. Akhirnya kubuat menu baru (Artikel) disini untuk menampung note ku yang ratusan itu.

Sempat terpikir untuk buat blog baru khusus buat note note hasil copas. Tapi kuurungkan, karena aku ingin blog ini jadi belahan jiwaku. Apa yang kudengar, apa yang kulihat, apa yang kubaca, apa yang kualami, terlebih apa yang kurasa, ada disini. Aku ingin blog ini menjadi: “Jika kau ingin tau aku, berselancarlah di blog ini” 😛 Tak apalah isi blog ini campur campur tak bertema. Toh tujuan blog ini pun untuk diriku sendiri, untuk memoriku, dan mungkin kelak untuk anak anakku. *blushing*

Yah, aku sih berharap ini bisa jadi titik balikku di dunia pena. Berawal dari mindahin note, semoga aku ngga males lagi untuk nulis nulis, eh, ngetik ngetik kali ya yg bener. :mrgreen: karena udah hampir setahun nih vacum. Udah mau IBF lagi. Dan berhubung partner IBF-ku tahun lalu (Mira) sudah berubah status, mungkin aku harus cari partner baru. :))

Well, for a while, enjoy the copas ya.. :pp

*salam manis*
:*

image

Sebuah Kepercayaan


Mendapatkan kepercayaan itu sulit,

Menjaga kepercayaan pun tak mudah,

Tapi melepaskan kepercayaan, itulah hal tersulit.

Setidaknya untukku, saat ini…….

 

Kejujuran yang sudah mendarah daging, mungkin itulah yang membuatku begitu dipercaya disini. Seperti asisten, tangan kanan, atau yang semacamnya lah.

Tapi kepercayaan itu kini justru manahanku, mengikatku, memberatkan langkahku.

 

Sementara disana, aku ditunggu. Ditunggu untuk sebuah tantangan baru. Ditunggu untuk memulai mendapatkan kepercayaan baru.

 

Lalu aku harus bagaimana??

 

***

“Masalahmu itu ngga serumit masalahku”

“Kamu bakal stuck kalau begitu terus”

“Kamu ngga akan berkembang kalau begitu”

“Coba pertimbangkan dulu plus minusnya”

“Jangan sampai malah menambah bebanmu”

“Kesempatan itu ngga datang dua kali”

“Mumpung kamu masih muda”

***

 

Sudah banyak pikiran kumintai pendapatnya. Sudah banyak kepala menyuarakan dukungannya.

Tapi aku masih ragu. Adakah langkah yang akan aku ambil ini benar? Baik untukku?

 

Entah harus kepada berapa nyawa lagi aku berbagi. Itu semua seolah tak ada arti.

 

Karena yang kubutuhkan hanya satu. Kata yang terucap dari bibir seorang ibu.

Karena yang kubutuhkan hanya satu. Keputusan dari hakim terbaikku.

Namun beliau masih tak bersuara. Diam membisu.

 

Lalu bagaimana?

 

 

*edisi galau tingkat dewa dewi*

Tentang Rasa


Ada yang bilang
“rasa itu tidak untuk dianalisa, tapi untuk dirasakan”.

 

Tidak salah.

Rasa ya rasa. Rasakan saja apa yang dirasa. Tak perlu dipikirkan. Tak perlu dicari alasan.

Saat sedih, maka menangislah. Saat senang, maka tertawalah. Suka, bahagia, kesal, marah, katakan saja, tak perlu ditutupi. Karena memendamnya hanya akan membebani hati.

 

 

Tapi, entah, menurutku pun tak sepenuhnya benar.

Karena ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak cukup pantas untuk ditujukan kepada orang tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak elok diungkapkan di waktu tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak bisa diungkapkan dengan cara tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa dipandang berbeda oleh beragam kepala.

 

Analisa membuat kita tahu,

apakah rasa ini benar seperti yang kita sangka, apakah rasa ini memang seharusnya kita rasa, apakah rasa ini sudah ditujukan ke orang yang tepat, atau apakah rasa ini pantas diungkapkan dengan kalimat.

 

Analisa ada agar kita tahu rasa apa yang dirasa dan bagaimana menyikapinya.

Analisa ada supaya kita tak terjebak.

 

Jadi kurasa, analisa itu perlu, walau memang adanya rasa adalah untuk dirasa. Dan terkadang, rasa itu lah yang kemudian mengalahkan logika analisa.

 

Jadi???!!! Entahlah. Aku pun saat ini sedang meraba rasa, apakah perlu dianalisa atau tidak. :mrgreen: