Selalu Salah (a novel)


Heiho sobat bloger, apa kabar dunia?
Kalau aku, sekarang lagi happy nih. Sebenernya tiap hari happy siih… hidup terlalu singkat kalau untuk dibikin ga happy kan?

Udah lama aku ngga ngeblog. Ga mau alasan apa-apa dech. It’s all my fault. Tapii..aku teringat kata-kata….hmmm… Om Lambang atau Pak Iwan ya, atau malah bukan keduanya? Pokoknya kurang lebih beliau bilang, “gpp kok lama ga ngeblog, ntar begitu posting, promosi buku karangan sendiri”. Haha..

Well, it’s happen. Tidak terlalu tepat sih. Aku bukan ingin mempromosikan bukuku. Hanya ingin berbagi kebahagiaan.

Semua berawal dari metamocca yang ngajakin aku ikutan bulan narasi. Bulan narasi adalah kompetisi bikin novel selama satu bulan. Lengkapnya bisa dilihat disini. Tadinya minat ga minat, secara bikin novel hanya dalam satu bulan tuh nyaris imposible buat aku yang belum pengalaman. Ide cerita pun ngga ada. Tapi bermodal iseng dan nekad -dan karena berdasarkan pengalaman, aku kalau udah ngomong ngga bisa berhenti-, maka akhirnya aku ikutan daftar jadi penulis pemberani. Iya, si empunya kompetisi memberi sebutan pada pesertanya sebagai penulis pemberani.

Kemudian aku akhirnya dapat ide untuk menyomot puzzle-puzzle realitaku dalam cerita. Yah, mau bagaimana, waktu terlalu singkat untuk berkhayal. Akhirnya kugunakan post untitled ini sebagai rujukan. Yup, postingan ini adalah bab pertama dari novel aku. Kuambil juga beberapa poetry dari blog untuk melengkapi. Dengan sedikit bumbu fiksi, dan extra power untuk melawan malas, taraaaa… jadilah novel pertamaku berisi 150 halaman, pas! :))

Minggu-minggu awal, aq kesulitan. Karena untuk memenuhi kuota 150 halaman, aku harus minimal nulis 5 halaman per hari, daaannn…itu berat. Have no time enough. 😛

Tapi, demi menjaga prestige, aku berusaha banget bisa menyelesaikan. Untungnya bulan Mei itu banyak tanggal merah. Kuusahakan sebisa mungkin untuk mengejar ketinggalan. Beberapa hari sebelum deadline, cerita udah tamat, tapi halaman masih kurang 25. 😐 Dan ternyata insert cerita itu lebih susyah daripada melanjutkan cerita *sigh* Sempet ingin berhenti, tapi garis finish sudah di depan mata, jadi, tak ada tempat untuk kata menyerah. Sehari sebelum batas waktu, akhirnya syarat 150 hal terpenuhi juga. Horaaayy..!!

Hmm… Jadi inget, waktu itu, Pak Iwan pernah mengusulkan untuk bikin cerita tentang Debbie. Dan benar-benar kejadian juga. Sebagian isi novelku menceritakan debbie. 🙂

Naskah sudah ready. Tapi, ujian belum berakhir sodara sodara, ternyata untuk upload, harus disertai cover. Hellooowww… OMG, seumur idup aku belom pernah bikin cover. Semrawut lah otak aku. Pernah sih make photoshop, tapi sekedar edit buat foto KTP aja.  Putar otak, gimana caranya, akhirnya diakalin pake word. Hahaha… yang penting bisa upload dulu lah. Soalnya waktu mepet.

Akhirnya, untuk menghindari gagal upload (karena pesertanya 800an cuy, kalau upload barengan, wuiih), aku kirim naskah di H-1. Dan berhasiil.. Huaaahhh… Rasanya tuh legaaa banget. Kayak abis romusha, besoknya langsung puas-puasin tidur. *rotfl*

Yah, karena saingannya banyak, plus aku yang masih pemula, ga berharap banyak aku bisa menang. Tapi bisa menyelesaikan novel perdana aku hanya dalam satu bulan, itu rasanya sesuatu bangeettsss. Amazing. I guess, ini adalah satu lagi keajaiban tilawah yang kubilang disini, perlahan, satu demi satu, mimpiku jadi nyata. Tell me, bagaimana aku ngga jadi lebih optimis menjalani hidup? Rasanya ngga mau lepas dari keajaiban ini *dekap Al-Qur’an* 🙂

Selesai masa kompetisi, aku tergerak untuk cetak novelku itu sendiri, yah, buat koleksi pribadi laah.. tapi itu artinya, aku harus bikin cover beneran. Minta tolong bikinin temen, tapi ngga ada yang sempet. Hiks, sedih banget ngga sih? Berasa ngga punya temen 😦 #apa sebenernya emang ga punya temen yak?? =))

Yasudahlah. Ga boleh cengeng. Selama ini juga selalu do everything by my self #kencengin ikat kepala
Aku search cover bikinan penulis pemberani lain (ada yang pamerin covernya), dan menemukan fakta kalau bikin cover simple itu ga rumit. *ya iyalah, namanya juga simple. =))
Maksudnya, untuk mwmbuat sebuah cover simple, hanya butuh permainan warna, shape, dan font. Itu aja. Atau kalau mau, insert pic. Maka, saat itu juga aku langsung berpikir “yah, kalau bikin ginian mah gampang. Aku juga bisa” #belagunya kumat 😛

Jadi, bermodal tanya-tanya ke Pak Bos yang biasa bikin cover buku laporan, akhirnya aku paham soal gimana nentuin resolusi dan ukuran kertas. Tapi aku mau di covernya ada sosok cewek berjilbab, biar keliatan kalau ini novel yang tokohnya muslimah. Soalnya selama ini aku agak kesulitan menemukan teenlit islam. Cover kebanyakan hanya didesain simple, mana aku tahu tokohnya muslim atau bukan.  *nyengir*
Trus akhirnya aku foto selfie hadap belakang =) pengen foto apa adanya, tapi malah jelek. Karena background asalnya udah animasi, kalau digabung sama foto nyata, jadi aneh. Akhirnya ku warnain lah si body hadap belakang itu.

Utak atik photoshop, minta saran temen, akhirnya jadilah cover pertama untuk novel pertama made in my self. Ih, girangnya kayak apa coba, melakukan 2 hal yang belum pernah dilakukan dalam satu project. *jingkrak-jingkrak.

Ini penampakannya:

image

Gimana? Aneh? Masih nampak ya “garis-garis kasar” karya pemula-nya? Maklumlaaahh… :mrgreen:
Tapi ini sebuah prestasi dahsyat buat aku. Sungguhan. *blush*

Minta doanya ya kawan, semoga novelku menang kompetisi, atau minimal pemenang favorit. Yah, kalaupun ngga dapet juga, semoga tembus di penerbit mayor islami. Kalau ngga juga? Terbitin sendiri waelah. 😐  hihi..

Minggu lalu, novel cetak sendirinya selesai, ini diaa…

Selalu Salah

Warna covernya jadi pucat dan garis-garisnya berantakan. padahal itu bikinnya udah penuh perjuangan. :’)

Btw, aku baru tau ngga enaknya jadi orang tipe melankolis sempurna. Apa-apa harus serba perfect. Seperti novel yang di awalnya penuh kebanggaan ini. Selang beberapa hari, entah kenapa aku merasa covernya ada yang kurang, masih kurang sreg. Pun merasa ceritanya ada yang bolong, alurnya masih terlalu aneh dan sebenarnya bisa dikembangkan lagi. Sampai-sampai aku ngga berani buka segel buku cetaknya ini. Ngga berani lagi baca untuk review ulang. Takut merasa “ih, kok ini begini sih?”, “duh, kata-katanya kok ngga banget sih”, “aih, malu aku, kok bikinnya gini ya”, dan “kok-kok” yang lainnya. *hela nafas*

Ah, ya sudahlah. Nikmati dulu saja euforia kebahagiaan ini.
Minta dukungannya ya temaaannn… 🙂 🙂 🙂

cc: Ndy-Ayuma

 

O-D-O-J awal keajaiban


Soal baca Al-qur’an, dari kecil aku sudah lancar. Bahkan sebelum TK pun sudah khatam. Daaan #pamer dikit aaahhhh…. pernah memenangkan lomba MTQ se kotif Depok lho. 😳 tapi waktu masih TK, hehe… #desigh

Tapi ternyata, antara bisa dan rajin itu ga selalu berbanding lurus. Kemampuanku tak lantas membuatku rajin membacanya. *helanafas*

Waktu kecil sih ia, bisa berkali-kali khatam. Tapi beranjak dewasa? Jangan tanyakan. *melengos*

Tapi rupanya, Allah berkenan menjadikanku pribadi yang lebih baik. Dia mengenalkanku dengan ODOJ lewat group YISCku.

Apa tuh ODOJ?
ODOJ, One Day One Juz. Sebuah komunitas yang mengharuskan membernya untuk membaca 1 juz Al-Qur’an dalam sehari. Dimana laporannya via whatsapp group saja. Well, tak perlu waktu lama untukku memutuskan bergabung. Begitu membaca broadcastnya, langsung saja aku mendaftar. Ini yang aku butuhkan. Sebuah dorongan, media untuk bisa melecut aku agar rajin tilawah.

Hari pertama aku tak mengalami kesulitan yang berarti. Hari kedua, ketiga, dan seterusnya pun begitu. Karena memang aku ngga tilawah bukan karena ngga lancar membacanya, bukan pula karena tak ada waktu, tapi karena malas. Penyakit satu itu memang demen banget nempel padaku. *tutupmuka*

Kalau ditanya, pernahkah bolong sehariiii aja??? Alhamdulillahnya engga *blush* tapi kalau diserang malas, ya sering *hihihi*. Kalau malesnya datang, aku bakal ngerasa 1 juz aka 10 lembar itu banyaakksss bingitsss.. *fiuh* #sambil bolak balik halaman yang tampak tak berkurang.

Tapi setelah itu, aku langsung liat jam, sambil merenung. Cuma butuh waktu +- 5 menit untuk bisa melahap 1 set lembar. Itu waktu yang tak lama, setara dengan waktu yang aku habiskan untuk mengkhayal *eh* :P. Dan setelah itu, setelah sadar bahwa 1 juz bisa diselesaikan ngga sampe 1 jam, godaan syaithon pun berhasil kutepis *ciyaaat* berhasillah aku selesaikan jatah juz ku hari itu *girang*.

Dan sekarang, udah sekitar setengah tahun aku gabung ODOJ. Aku tak lagi menghitung berapa kali aku khatam. Mengalir saja. Tapi buat aku, ODOJ ini sesuatu banget. Dari aku yang nyaris ngga pernah tilawah, jadi bisa khatam sekali sebulan teruuss terusaan… Semoga tetap istiqomah. *aamiin*

Tapi yaa, entah memang ciri khas Indonesia atau bagaimana, media kebaikan seperti ini pun masih saja bikin kontroversi. Tadinya aku ngga tahu, sampai suatu hari dapet broadcast tentang beberapa tokoh agama (baca:ustad) yang mempermasalahkan niat tilawah bagi para member ODOJ. Khawatir menjadi riya. Begitu kurang lebih intinya.

Yah, kalau aku sih, ngga mau ambil pusing yaa. Soal riya atau engga, itu soal hati. Soal hubungan manusia dengan Robb-nya. Menurutku ngga tepat bila batal melakukan kebaikan karena takut riya. Karena tau ngga? Menjaga ikhlas itu syulit. Ikhlas diawal belum tentu bisa ikhlas sampai akhir. Nah, daripada sampai ajal menjemput, aku ngga pernah tilawah hanya karena takut riya, mendingan ikut ODOJ yang bikin aku bisa tilawah tiap hari sekalipun dituding riya *nyengir*. Karena niatku, semoga dengan ikut ODOJ jadi bisa terbiasa membaca Al-quran. Bisa mendapat berbagai manfaat dari Al-Qur’an.

Memangnya apa sih manfaat membaca Al-Qur’an??
Waaah… Banyak sudah artikel yang menjabarkan panjang lebar tentang itu. Kalau buat aku, cukup 2 hadits ini yang bisa jadi motivasi diri:

1. Abu Umamah al-Bahili ra berkata, Aku mendengar Rosululloh saw bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena ia akan memberikan syafaat kepada para “sahabatnya”.” HR Muslim No. 1337.
Dihari dimana tiada naungan selain naungan-Nya, dihari dimana seorang ayah tak bisa menolong anaknya, begitupun sebaliknya, disitulah aku perlu syafaat yang bisa menolongku. Dan semoga bacaan Al-Quran ku yang standar banget itu bisa jadi penolong di akhirat nanti. *senyum*

2. Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rosululloh saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka ia akan mendapatkan 1 kebaikan, dan 1 kebaikan akan dibalas dengan 10 x lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu 1 huruf, tetapi alif 1 huruf, lam 1 huruf, dan mim 1 huruf.” HR At Tirmidzi No. 2910.
Bayangkan, kalau hanya dengan membaca bismillahirrohmanirrohim saja, aku sudah membaca 19 huruf, yang berarti melakukan 19 kebaikan, yang mudah-mudahan mendapat minimal 190 kebaikan sebagai balasan! Hmmm.. Apalah lagi 1 juz. Jutaan huruf. Jutaan kebaikan. *hope*. Well, kebaikan itu kan ngga harus materi secara tersurat ya. Di awal hari, bangun dalam keadaan segar bugar, kebaikan. Makan tidak tersedak, kebaikan. Nyebrang jalan dengan selamat, kebaikan. Nunggu debbie ngga pake kelamaan dan dapet duduk, kebaikan. Ngga diomelin pak bos, kebaikan. Pun dosa-dosa diampuni, kebaikan. Aduh, kl ditulis lebih detail, bisa keriting tangan >.< .

Yang jelas, dua hadits itu udah lebih dari cukup bagiku sebagai alasan kenapa harus baca Al-Qur'an. Hadits pertama untuk kebaikanku di akhirat, hadits kedua untuk kebaikanku di dunia. It's enough.

Balik ke ODOJ,
Ustad yang ngisi pengajian di kantor aku pernah bilang gini,
“Baca Al-Qur’an itu sesempatnya, saat ada waktu banyak, baru dibaca. Ga usah target banyak-banyak dalam sehari. Tapi usahakan dalam satu tahun itu bisa khatam minimal 3x. Itu diluar bulan ramadhan ya. Kl bulan ramadhan ya sekali.”

Wah, Ustad, tanpa mengurangi rasa hormat, aku keberatan dengan pernyataan ustad. Kalau nunggu waktu banyak, mau kapan? Waktu ngga akan bertambah. 24 jam setiap harinya. Pun kalau nunggu waktu luang. Lah, Allah aja ngasih rezeki kita ngga nunggu waktu luang kok, dengerin doa-doa kita ngga nunggu sempat, masa hamba-Nya yang malah sok sibuk? Siapa kita?? *geleng-geleng*

Terlepas dari perbedaan pendapat beberapa kalangan, aku tetap pada pendirianku. Dan udah kubuktikan khasiatnya. Gabung ODOJ itu selain bikin aku teratur baca Al-Qur’an, juga jadi nambah teman, nambah ilmu, dan berbagai kebaikan lainnya. Terbukti, setelah beberapa bulan aku rutin tilawah, beberapa impianku menjadi nyata. Misal, aku dipertemukan dengan seseorang yang semoga menjadi sahabat dunia akhiratku, lalu untuk pertama kalinya aku nyemplung ke kolam berenang, punya printer yang bisa scan copy, bla..bla..bla.. sampai hal-hal kecil yang kalau diingat-ingat, itu adalah keinginanku dari dulu. Perlahan, semua pintu seakan mulai menampakkan isinya. Semua jalan tampak mulai terbentang. Ah, pokoknya rasakan sendirilah bagaimana keajaiban Al-Qur’an.

Buat yang belum tahu ODOJ tapi tertarik, datang aja ke Grand Launchingnya tanggal 4 Mei 2014 nanti di Istiqlal. Nih, flyer-nya. Jangan khawatir, tidak dipungut biaya kok. Semua sudah aku bayarin. Hohoho 😎 maksudnya dana murni dari member ODOJ. 😀

Baiklah. Semangat menuju kebaikan!!!
Salam cinta Qur’an. :*

image

Stalking motivasi :D


Jadi ceritanya, aku abis stalking seseorangnya seseorang (lagi) nih. Yang tadinya niat ga mau intip-intip, eehhh tergoda lagi :p :p :p

Lagi iseng aja sih, karena akhir-akhir ini lagi futur, alias ga semangat berbuat baik (baca:ibadah) :mrgreen:
*jgn dicontoh

Lalu, apakah dengan ngulik orang, futurku jadi hilang? Yang ada sih seharusnya malah bikin galau. 🙂 *senyumkaku

Dan yang kurasakan sekarang, ga beda, tp juga ga sama. Ada sih rasa yang gimana gimana gitu. Tapi setelah itu, aku malah jadi membandingkan diriku dengan seseorangnya seseorang itu. Ada kelebihan kelebihan dia yang ngga ada di aku, membuatku merasa itu alasan yg tepat bagi seseorang untuk lebih memilih dia.

Tau ngga kenapa orang itu merasa sedih bila ditinggalkan orang lain? Karena orang lain itu melangkah menuju takdir yang dianggap lebih baik. Sedangkan yang ditinggalkan, kebanyakan hanya stuck disitu-situ aja, hanya bisa berharap semua kenangan lalu terulang kembali.

Pun begitu saat tadi aku melihat foto seseorang dg seseorangnya seseorang. Bukan, bukan, aku bukan cemburu. Aku sudah merasa kok kalau seseorang itu bukan potongan puzzle yang pas untukku. Hanya saja, aku merasa, mereka terlihat bergerak. Jadi seharusnya aku tidak boleh diam.

Maka, berbekal dari kalimat tadi, akupun terpecut untuk lebih bergerak dari mereka. Hingga jika suatu hari aku bertemu mereka, aku bisa berseru tanpa malu “Hei, ternyata walaupun kita tidak berjalan beriringan, kita bertemu lagi di puncak yang sama”. Yeah, dan bukannya mereka di puncak, aku di lembah.

Yah, tampaknya aku harus membuka-buka lagi kitab mimpiku, mengingat lagi puncak yang ingin kutuju, dan bergerak. Karena mimpi tanpa action adalah khayal.

Sampai bertemu di puncak!! :*

*edisimemotivasidiri*