Antara Handphone dan Belahan Jiwa


–first question–

Hari gini siapa sih yang ngga punya Hp??? Kayaknya jarang yaa. Hp tuh udah bukan barang mewah lagi, mudah didapat, dan tersedia dalam berbagai model dengan harga beragam. Aku sendiri, sudah 5 kali ganti model Hp namun masih tetap setia dengan brand yang sama.

–second question–

Hari gini siapa sih yang ngga punya belahan jiwaa??? *tunjuk tangan sambil teriak “saya” dalam hati*. Ternyata, tidak seperti Hp, belahan jiwa ini agak sulit didapat. Mungkinkah karena “model” dan “harga” yang selalu berbeda dan tak pernah ada yang sama sehingga bingung menjatuhkan pilihan? Entahlah. Aku sendiri tak pernah gonta ganti belahan jiwa, karena bagiku, belahan jiwa adalah seseorang yang punya nyali untuk “membeliku” dengan “harga termahal” yang dia mampu. Tapi kalau sekedar naksir-naksiran sih sering yaa.. Karena pada dasarnya tertarik sama lawan jenis tuh mudah. 😉

Lalu, apa hubungannya antara Hp dan belahan jiwa?

Beberapa waktu yang lalu aku sempat merenung dan berpikir. Bahwa antara memilih dan memiliki Hp dengan memilih dan memiliki belahan jiwa itu ada keterkaitannya alias mirip.

Tanpa bermaksud promo, Hp yang kumiliki sekarang ini adalah Nokia type E5-00. Hp yang kupilih dan kumiliki sejak tahun 2011 mendekati akhir. Nyaris 2 tahun. Di awal tahun 2012 sempat bermasalah dan pernah ku-service di gerai Nokia. Dan sekarang, seperti inilah penampakannya:


Hp-ku sudah “ompong” 1, “gigi” koma-nya hilang, tapi untungnya masih bisa disiasati dengan tombol symbol. Namun, sejak tiga hari yang lalu “gigi” S nya mulai “otek”, kali ini kalau sampai ompong, maka Hpku udah ngga bisa dipakai lagi. Bisa sih, tapi apa serunya menggunakan Hp dengan tombol S yang tidak berfungsi? Pengen cari casing-nya, tapi emang masih ada yang jual ya? (secara model lama). Akhirnya untuk sementara ku-solasi-in aja keypad-nya.

Kenapa ngga ganti Hp aja??

Mungkin ada yang bertanya begitu. Ah, seandainya mengganti Hp itu semudah membalik gorengan tempe. Entah apa karena aku yang notabene bertipe melankolis sehingga terlalu setia atau memang aku ini tipe wanita hemat yang cenderung pelit??

Yang jelas, setiap orang lain menyarankan untuk ganti, dan aku mulai berpikir kesana, hati kecilku berontak, dan akhirnya yang keluar adalah kata:

“Udah terlanjur cintaaaaa”

Iya, aku memang udah terlanjur cinta sama nih hengpong. Padahal sebelum aku menjatuhkan pilihan padanya, aku sempet ragu, karena aku ngga suka Hp lebar begitu (baca: Qwerty), aku terbiasa memegang Hp batangan yang mungil dan hanya segenggaman tangan.

Tapi sekarang, saat akhirnya pilihanku jatuh pada Hp ini, aku begitu sayang dan tak ingin melepasnya. Rasanya jiwaku sudah menyatu padanya. Aku merasa tak ada yang bisa menggantikan posisinya, mengambil alih peran istimewanya dalam keseharianku (lebayatun). Apalagi Hp jaman sekarang itu touchscreen semua. Kalaupun Qwerty, ya BB. Aku tidak sukaaaaa…

Hp ini, di tengah ketidaksempurnaannya, justru kuanggap sangat sempurna bagiku. Keypad Qwerty-nya memudahkan aku untuk mengetik. Active Notes-nya memudahkan aku untuk setiap saat menuangkan ide ke dalam tulisan dan otomatis tersimpan di memory card sehingga dapat dipindahkan ke kompie kapan aja. Aplikasi office-nya memudahkan aku untuk membuka dan meng-edit dokumen-dokumen yang tersimpan. OS Symbian-nya yang ngga terlampau kuno memudahkan aku menggunakan aplikasi seperti yang biasa ada di smartphone lainnya, seperti m-banking, whatsapp, dan lainnya. Dan yang paling penting, kesederhanaannya memudahkan aku untuk bisa mengakses internet dengan hanya bermodalkan pulsa 25.000 rupiah saja setiap bulannya.

Bukan berarti si putih ini tidak punya kekurangan. Kamera 5MP-nya yang ga bisa diatur no sound membuatku malas untuk motret-motret. Tidak adanya games bawaan juga membuatku repot karena harus install-install dulu. Untungnya aku memang tidak gemar main games di HP. Dan masih ada kekurangan-kekurangan yang lainnya. Tapi semua kekurangan itu, buatku, tak bisa menutupi kelebihan-kelebihannya. E5-00 ku ini tetap terbaik untukku saat ini.

Disinilah letak persamaan yang kubilang diawal. Dalam kasusku, memilih dan memiliki belahan jiwa (baca: suami/istri) itu sebaiknya seperti aku memilih dan memiliki Hp.

Di awal aku memilih Hp, aku hanya direkomendasikan oleh temanku perihal Hp ini. Sedikit banyak aku tahu seluk beluknya. Dan pada akhirnya memantapkan hati untuk memilihnya.

Memilih pasangan pun harus dengan kemantapan hati dengan lebih dulu survey dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pilihannya.

Lalu, saat Hp sudah ditangan, barulah aku semakin mengenalnya, aku semakin paham kelebihan dan kekurangannya. Dan dalam kasusku, aku justru semakin mencintainya.

Saat menjalani pernikahan, kita baru mulai mengenal pasangan lebih dalam. Disitulah mulai kelihatan belang sebenarnya. Kelebihan dan kekurangannya tampak lebih nyata, yang kadangkala tak sesuai dengan “iklan”nya. Namun, semakin mengenalnya, harusnya kita semakin mencintainya, terlepas dari apa yang ada dan tidak ada padanya. Walaupun bahkan bila di awal sempat ada ragu dan rasa tidak suka. Memikirkan segala kelebihan yang hanya ada padanya dan jarang ditemukan pada orang lain, akan membuat kita melupakan dan mampu berdamai dengan segala kekurangannya.

Renunganku itu membuatku ber-azzam, mungkin kelak, pasanganku bisa jadi tak sempurna, namun aku akan mencintainya dan tetap mencintainya. Seperti halnya aku yang tak ingin lepas dari henpongku saat ini dan menganggap tak ada yang bisa menggantikan posisinya.

Namun, jikalau pada akhirnya aku mengganti Hp-ku, semoga itu bukan pertanda bahwa kelak aku pun akan mengganti belahan jiwaku. :mrgreen:

–aku, yang memilih untuk setia–

 

ps.

*masih galau soal Hp*

ada rekomendasi Hp yang punya kelebihan-kelebihan seperti si putihku ini??

Mall ituuu…


.MEWAH.

Sudah pasti. Memangnya ada gitu mall yang ngga mewah? At least, pasti jauh lebih mewah daripada rumahku (ya iyalaaah). 😛

Tapi semewah-mewahnya mall, tidak pernah terlihat menarik di mataku. Dan aku memang tidak suka bersahabat dengan yang namanya mall. Males aja gitu. Apalagi yang super guede. Luasnya aja bikin aku mumet, bingung nyari jalan keluar. Disorientasi. Coba aja tinggalin aku di tengah-tengah PIM, mesti dech kelimpungan.
Suasana di mall itu memang menyenangkan (bersih dan adem), tapi ada satu hal yang sangat aku sayangkan, di tengah kemewahan dan gemerlapnya kilau-kilau di dalam mall, kenapa harus masjid atau minimal musholanya itu sangat tidak menyamankan???

Dimana-mana (sejauh pengalamanku mengunjungi mall), yang namanya mushola atau tempat sholat itu lebih seringnya ada di parkiran (basement). Oke, mungkin itu dilakukan dengan pertimbangan agar sholatnya khusuk dan jauh dari hiruk pikuk di dalam mall. Tapi yang bikin aku menggeleng-gelengkan kepala, kenapa kondisinya harus mengenaskan?

Ada yang tempat wudhunya tidak tertutup antara pria dan wanita, ada yang tempat sholatnya hanya aspal yang dibalut sehelai tikar dan sajadah, ada yang tempatnya seuprit (padahal luas mallnya menandingi lapangan bola), dan sebentuk kekecewaan-kekecewaan lain tentang tempat sholat di mall.

Beberapa tempat mewah yang aku pernah sholat disana diantaranya : ITC Depok, Plaza Depok, Depok Town Square, Graha Cijantung, Blok M Square, Pondok Indah Mall, Mall Atrium, Carrefour Lebak Bulus, Hotel Sangri-La, dan ngga tau lagi, lupa 😛

Dari sekian banyak, hanya beberapa gelintir tempat yang aku merasa nyaman beribadah disana, lainnya mengecewakan.

Sebenarnya, bukan hanya disitu, di terminal pun, jarang sekali kutemukan tempat sholat yang nyaman. Tapi dibandingkan terminal, mall kan jauh lebih elegant. Masa’ di tempat yang super mewah begitu masih aja tempat sholatnya “blangsak”? Ngga habis pikir!

Sering sekali aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa, kenapa, kenapa?? Adakah pertimbangan lain mengapa si empunya mall lebih memilih menganak-tirikan tempat ibadah? Kok aku ngga nemu pemikiran positif lain ya?? Menurut kalian kenapa tuh??

Tapi memang tidak semua siihh, toh aku pun juga belum mengunjungi seluruh mall di kota metropolitan ini. Jadi yaaa tidak bisa menjudge mall itu sendiri, walaupun rasa kecewa itu ada. Miris rasanya.

Well, mari kita bermimpi. Kalau nanti aku diberi kesempatan membangun sebuah mall, aku akan bikin tempat sholat yang jauh lebih mewah dan nyaman dibanding isi mall itu sendiri, minimal sama lah.

Tapi sebentar, kalau dipikir-pikir lagi, mall udah terlalu banyak di kota ini. Aku mau bikin taman-taman yang banyak pohonnya aja aaah.. 😀