Pengamen pengamen


Apa sih bahasa halus dari pengamen? Seniman jalanan ya? Memang ada artinya di KBBI?? Itu merupakan satu kata dasar atau telah diberi imbuhan? Lalu kata dasarnya apa? Ah, entahlah. Apapun itu namanya, yang jelas mereka mereka itu adalah orang yang mencari pendapatan dengan menyanyi di jalanan, berpindah dari satu angkutan umum ke angkutan umum lain. #definisi ala aku 😀

Padahal banyak ya yang mencari nafkah dengan menyanyi. Hanya beda tempat aja. Ada yang nyanyi di dapur rekaman, TV, kafe, sedangkan pengamen di jalanan. Tapi kenapa cuma yang dijalanan aja yang disebut pengamen? Kenapa dia ngga disebut penyanyi juga? Atau kenapa penyanyi-penyanyi itu ngga disebut pengamen juga? Hihi.. #imajinasi bandel

Bicara soal pengamen, hampir setiap hari aku berjumpa dengannya. Dan ngga tau kenapa ya, aku suka banget denger cowo nyanyi pake gitar walaupun suaranya cempreng bin aneh ngga jelas. Makanya aku demen banget kalau pas naik mobil, ada pengamen. Dengan catatan nyanyinya lagu “beneran” *emang ada lagu boongan?? :P. Tapi aku paling ngga suka sama pengamen yang targetnya rumah makan, bikin hilang selera makan dech.

Jadi ingat, duluuuuuu banget, aku pernah minta dinyanyiin sebelum tidur sama seseorang. Dia nyanyi pake gitar sampe aku tertidur. Via HP!!! Kebayang ngga sih gimana ngga jelasnya itu suara? Tapi yaaa.. bagiku itu lebih menyenangkan daripada mendengarkan musik asli pake HP atawa CD. Eits, bukan karena faktor orang yang menyanyikan lho yaaa.. 😀

Tapi aku ngga suka sama pengamen yang cuma tepuk tangan atau kecrek-kecrek sambil nyanyi gazeboh, apalagi kalau subjeknya anak kecil. Habeeuuhh.. Bukannya menikmati, aku malah merasa bersalah bin ngenes ngeliat anak kecil begitu. 😦

Aku sukanya itu sama pengamen yang nyanyi sambil main gitar, atau yang bawa temen untuk main tam-tam, atau yang pake biola.

Dan taukah??? Aku ngefans sama seorang pengamen berbiola yang suka ada di metromini 72 lho. Paling suka kalau dia bawain lagunya Dewa yang roman picisan. Gesekan biolanya itu lho, beuh, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pokoknya aku suka. Aku sampe punya video colongannya lho. 😆 pengen upload disini tapi males. 😀

Daaann.. Aku juga punya satu lagi pengamen yang…hmmm…begitulah pokoknya. :oops:. Di metromini 72 juga. Dia ini kalau nyanyi lagu, yang itu ituuuuu aja. Lagu kebangsaan pengamen.

Begini kira-kira potongan liriknya:

Hidup ini bukanlah bersandiwara, Hidup bukan hanyalah angan-angan belaka

Kita harus punya rasa, Kita harus punya hati.

Bukan sekedar hidup lalu mati.

Bila kami kurang sopan, mohon kami dimaafkan

Kami begini, karena keadaan

Bila kami kurang ajar, mohon kami diajarkan

Asal jangan pakai kekerasan

Kadangkala manusia lebih rakus dari binatang yang namanya tikus

Maen embat dompet orang

….

Bagi yang akrab dengan pengamen jalanan mungkin sudah familiar dengan lagunya ya. Musiknya juga cuma diiringi sama suara gendang yang dimainin temennya. Dia ngga bawa gitar, cuma modal suara, lagunya juga ngga aku suka.

So, apa yang bikin aku tertarik sama dia? Matanya!! Ekspresinya!! Matanya tuh bulet-belo terus bercahaya kayak ada bohlam di dalam retinanya *lebay* =)) dan dia selalu tersenyum lebar. Ngeliat dia, udah bikin mood langsung naik ke langit ketujuh. Abiiiss..berasa happy banget. Kayak ngga ada beban dalam hidupnya *terpesona*. Jadi ikutan happy dan senyum senyum sendiri dech. 😆

Kalau mau tau orangnya, nih aku kasih foto *lagi-lagi* colongannya.

Ada yang kenal? Ada yang kenal?

Sebelum aku pindah kantor dan ngga lagi naik metromini 72, pengeeen banget aku nanya satu hal tentang dia. Namanya siapaaa yaaaa??? 😆

Bagaimana denganmu kawan? Ada yang suka pengamen? Atau malah ada yang benci banget sama pengamen? Temenku malah ada yang jatuh cinta sama ex-pengamen 😛 *lirik seseorang*. Dan baru kemaren aku dijealousin sama cewenya pengamen.. hihihi.. emang tampangku ada tampang penggoda ya??!! 😆

Dipalak


Sore ini indah, angin berhembus sejuk, pun matahari mulai meredup. Saat seperti ini adalah moment favoritku. Berjalan menyusuri jalanan komplek, dikelilingi bangunan-bangunan mewah dan pepohonan hijau. Sepi, sunyi, sangat kunikmati. Aku berjalan pelan, sesekali menghirup nafas panjang, mengusahakan sebanyak-banyaknya oksigen masuk ke dalam paru.

Di ujung jalan, kulihat samar seorang ibu berjalan menyelisihi arahku. Semakin dekat, aku merasa ada yang mencurigakan dengannya. Gelagat aneh yang terasa semakin aneh. Ah, mungkin hanya perasaanku, begitu pikirku. Jarakku dengannya hanya satu meter saat kemudian si ibu menegurku.

“De, tau alamat ini?”
Oh, rupanya hanya seorang ibu yang tersesat. Batinku lega. Kulihat tulisan pada kertas yang disodorkan si ibu padaku.
“Oh ini mah ke terminal Depok dulu Bu.”

“Terminal Depok ke arah mana ya?”
“Ke arah sana Bu,” jawabku sambil menunjuk arah yang dimaksud.
“Kalau jalan masih jauh ngga de?”

Hah?! Hampir saja mulutku menganga dan tidak mengatup lagi.
“Jauh banget bu, naik angkot aja. Ibu lurus aja ke arah situ, nanti langsung keluar jalan raya.”
“Yah, ibu ngga punya ongkos de, tadi aja ibu jalan dari simpangan ke sini.”

Hah?! Lagi-lagi aku hampir menganga.
Aku terdiam, antara shock dan bingung.
“Bisa bantu ibu ngga de? Ibu ngga ada ongkos,” ucap si ibu lagi dengan wajah tampak lemas.

Aku mengkeret, bimbang, benarkah penuturan si ibu? Jangan-jangan dia hanya mengada-ngada. Tapi aku juga mana tega? Teringat selembar puluhan ribu di kantong sweaterku. Kuberikan padanya dengan hati tak menentu.
“Makasih ya de.”

Aku tersenyum, hambar. Segera kulangkahkan kaki melanjutkan perjalananku dan menjauhi si ibu dengan hati bergemuruh.
Entahlah, kenapa tiba-tiba hati ini tidak tenang. Banyak pertanyaan, banyak sangkaan.

***

Pagi ini begitu terik, aku yang duduk di bangku sebelah kanan metromini pun terkena imbasnya. Kulirik bangku sebelah kiri. Ada satu bangku di belakang yang kosong, di sebelah nenek-nenek. Sekilas tadi memang kulihat orang yang duduk di sebelahnya pindah ke bangku belakang. Dan kulihat masih ada beberapa orang pria yang berdiri tak jauh dari bangku itu. Kalau dua menit ngga ada yang mau nempatin, aku akan pindah kesitu, gumamku.

Dan benar, bangku itu tetap kosong. Segera aku pindah tempat duduk sebelum panas terik matahari membuat gosong kulitku.

Tak berapa lama aku duduk, si nenek mulai bersuara.
“Bagi duit dong buat ongkos”

What? Ngga salah denger? Ini nenek dengan pedenya minta duit sama aku disini, di dalam metromini. Apa ini sebabnya tidak ada yang mau duduk disini? Apa karena nenek yang kuragukan kewarasannya? Aku coba untuk menenangkan diri dan berpikir. Aku memutuskan untuk stay cool dan tidak langsung memberikan uang pada nenek itu.

“Iya, nanti ya,” jawabku dan kemudian diam dengan pandangan lurus ke depan. Sepanjang perjalanan aku berpikir dan menimbang-nimbang. Sementara si nenek terus mengawasiku. Kuputuskan untuk memberinya uang untuk membayar ongkos metromini. Bukankah hanya dua ribu? Biarlah sekali ini aku kasih, begitu pikirku. Aku memutuskan untuk memberikan uang dua ribu pada nenek itu saat akan turun.

Mendekati kantor, aku memberikan uang itu pada si nenek dan kemudian berdiri untuk turun. Tapi tertahan oleh suara nenek menyebalkan itu.
“Apaan nih?”
“Lah, tadi kan minta,” jawabku.
“Uang segini dapet apaan?” katanya sewot.

Lah, gimana sih nih orang. Dapet apaan gimana, tadi katanya minta ongkos, malah ngomongnya begitu. Aku kesal dan berniat mengambil uangku kembali.
“Ya udah sini kalau ngga mau”
“Ya udah, ya udah,” kata si nenek dan menarik lagi tangannya, tak mengizinkan aku mengambil kembali uang itu.

Ih, dasar nenek aneh, gumamku. Aku turun dari metromini dengan hati kesal. Kuambil kesimpulan bahwa tingkat kewarasan si nenek memang berkurang.

***

Bocah kecil itu berdiri di depan pintu depan metromini yang kunaiki ini. Sejak tadi. Padahal banyak bangku kosong, namun ia masih teguh berdiri. Sesekali ia menengok ke belakang, terlihat resah. Entah apa yang dirisaukannya.

Kembali, dia melihat ke belakang. Celingak celinguk seperti mencari sesuatu. Pandangannya tertuju pada bangku kosong disebelahku dan terlihat bimbang. Tak lama kemudian dia duduk di bangku sebelahku. Masih tetap resah dan melayangkan pandangan jauh ke luar. Sesekali dia menengok ke arahku.

“Jam berapa kak?” akhirnya terucap juga kata dari mulutnya.
“Setengah delapan.”
Sunyi kembali. Dia kembali terdiam dan akupun kembali bertanya-tanya dalam diam.

“Kak, minta duit kak, dua ribu aja, buat ongkos, aku mau pulang kak.”
Nafasku tercekat. Huwaaa.. rasanya ingin menangis. Kenapa aku selalu dihadapkan pada situasi seperti ini? Baru tadi pagi aku dipalak si nenek aneh, sekarang udah kena palak lagi. Aku tidak tega, namun juga tidak mau terpedaya.

Kuambil selembar dua ribuan dari tasku dan memberikannya pada bocah itu. Dia mengucapkan terima kasih lalu pergi.

Hhh.. Aku menggalau, benar-benar risau. Seandainya dia benar-benar membutuhkan, aku ingin memberikannya lebih. Tapi ada ketakutanku bila ternyata dia hanya memanfaatkan kelemahanku. Oh Tuhan, Salahkah tindakanku?

***

Aku suka pohon. Hawa sejuk dan nyaman yang disebabkannya. Udara bersih yang seakan berputar di sekeliling rimbunnya. Maka aku akan berlama-lama saat berada di dekatnya. Seperti saat ini. Aku tersenyum dan seperti biasa, menghirup udara sebanyak-banyaknya sampai ketenanganku terusik oleh sosok ibu dengan gembolan di sisi kanannya. Aku merasa si ibu menatapku. Menjadikan aku target dalam tujuan langkah kakinya. Hanya perasaanku? Entahlah. Rasanya seperti dejavu. Aneh. Perasaanku mulai terasa tak enak.

Jangan-jangan?? Oh tidak, tidak, jangan lagi.

Dia semakin dekat, jantungku semakin cepat.
“Neng, minta sumbangannya neng,”

@!*#)+?/(
Aku lemas.

***

Riweuh bin Ricuh in 72


Aku naik metromini 72 dari lampu merah POINS seperti biasa. Ada dua mobil yang ngetem. Aku pilih yang paling depan, tapi ternyata penuh banget. Begitu aku naik, mobilpun jalan. Ternyata mobil ini penuh dengan anak-anak TK dan mamanya, mungkin mau study tour, entahlah. Tapi parahnya ngga ada yang ngasih duduk, padahal ada yang gendok bayi segala. Dan yang duduk mas-mas dan mba-mba yang masih seger buger.

Sampai di depan McD, ada Bapak-Bapak beruban yang duduk di bangku tengah sebelah kanan berteriak pada keneknya.
“Pak, kembalian tiga ribu.”
“Apa? Kembalian tiga ribu? Minta sama kenek yang tadi dong pak, urusannya bukan sama saya, saya kan baru naik ini.” si kenek pun tak kalah berteriak.

Hmm.. Rupanya baru terjadi pergantian awak sebelum aku naik tadi, dan dilihat dari lembaran-lembaran yang dipegang si kenek, sepertinya sebagian besar penumpang sudah digunting sama kenek sebelumnya, dan tentu saja duitnya dibawa sama dia. Pantas saja si kenek mengelak memberikan kembalian pada si bapak beruban itu.

“Kerja ngga beres banget. Biar aja, rezekinya juga ngga berkah kalau begitu. Pura-pura ngga tau,” si bapak tua masih menggerutu.
“Bukannya pura-pura ngga tau Pak…” si kenek yang dari awal sudah badmood menjadi semakin kesal.
“Abang kan kenal sama keneknya, yaudah kan bisa dimintain balik nanti sama dy,” seorang ibu yang duduk di belakang bapak beruban ikut membela.
Tapi tetap saja si kenek bersikap tak acuh.
Tidak terlalu kusimak lagi ocehan mereka, yang jelas, masing-masing masih saling menggerutu.

Tidak lama, si sopir berteriak memanggil keneknya. Dari belakang, tidak terdengar terlalu jelas perbincangan mereka. Sepertinya mobilnya mengalami masalah. Ban depannya bocor. Si ibu yang menggendong bayi, tak jauh dari tempatku berdiri menggerutu,
“Hhhh… Paling sebentar lagi disuruh turun nih,” keringatnya membanjiri wajahnya yang cemberut.

Melewati bunderan Pondok Indah, si kenek yang berpindah ke pintu belakang ngoceh-ngoceh kesal. Walaupun kata-katanya tidak jelas, tapi aku yang berdiri tepat di sampingnya bisa merasakan betapa pagi ini begitu menjengkelkan baginya. Sesekali dia berteriak pada sopirnya untuk menepikan mobilnya. Tapi si sopir, entah dengar atau tidak, tetap melajukannya. Dan si kenek kembali mengoceh sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sampai di PIM, mobil baru berhenti melaju. Dan semua penumpang turun. Hmm.. Benar-benar di oper rupanya. Terlihat 72 lain di belakang. Tapi apa yang terjadi? Dia tidak mau berhenti. Selentingan aku mendengar suara, mungkin dari penumpang lain.
“Ngambek dech.”

Sepertinya aku benar-benar ketinggalan moment. Aku menyimpulkan kalau antara mobil ini dengan mobil yang maen bablas aja itu sempat rebutan sewa di lampu merah tadi. Makanya dia tidak mau berhenti. “Sukurin”, mungkin begitu pikirnya.

Hhh.. Mau tidak mau, kami para sewa harus menunggu lebih lama lagi.

Tapi konflik tidak berhenti sampai di situ. Seorang ibu-ibu menghampiri si kenek dan meminta kembali ongkosnya. Tentu aja ngga dikasih.
“Nanti dioper Bu, tunggu aja. Kalau semuanya minta ongkosnya dibalikin, mau kembaliin pake apaan? Ngga ada duitnya.” si kenek berkata dengan kesal sambil mengacung-acungkan beberapa lembar dua ribuan di tangannya.

Hmm.. Begitu banyak konflik, pagi yang begitu ricuh. Mari kita bahas satu-satu. Tentang ibu menggendong anak yang tidak kebagian bangku, sepertinya hal itu untuk zaman sekarang memang sudah hal yang lumrah, udah minim sekali kepedulian untuk mempersilahkan duduk. Mungkin karena di buku SD sekarang sudah tidak ada lagi cerita tentang mempersilahkan duduk? Entahlah.

Kemudian tentang bapak beruban yang meminta kembalian, itu wajar, dia meminta haknya. Tapi sangat disayangkan sikap kenek yang menjawab dengan ketus itu. Dan sungguh patut bila si bapak “nyumpahin” kalau rezekinya ngga berkah. Ya, begitu banyak sebab mengapa rezeki tidak berkah, korupsi waktu, korupsi uang, korupsi pekerjaan, dan mengambil hak orang lain. Rezeki tidak berkah bukan berarti rezekinya sedikit. Walaupun secara kasat mata berlimpah, rezeki yang tidak berkah akan membuat dia selalu merasa kekurangan dan tidak pernah cukup, diliputi rasa tamak dan tidak tenang. Tapi kenek itu juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Dia baru naik dan tidak tahu apa-apa, tidak dititipkan uang kembalian pula. Kalau mau ditalangin dulu baru nanti dimintain balik ke kenek sebelumnya, belum tentu si kenek sebelumnya itu percaya dan mau ngasih. Mungkin dia akan berpikir kalau itu cuma akal-akalan aja.

Dan tentang ban bocor itu, bisa aja itu karena doa dari si bapak beruban. Karena doa orang yang terzholimi itu diijabah. Mungkin saja itu karma. Tapi kasihan juga si sopir dan kenek, baru juga naik, belum apa-apa udah bocor bannya, belum juga dapet duit. Entah apakah memang baru bocor atau mobil itu sudah bocor sebelum di pindah tangankan. Kalau memang awak sebelumnya sudah tau bannya bocor dan sengaja tetap memindah tangankan mobil itu pada awak yang sekarang, maka mereka bener-benar keterlaluan.

Tidak ada yang bisa kulakukan dalam ke-riweuh-an ini selain diam (dan jadi paparazi 😛 ), namun beberapa point yang bisa kujadikan pelajaran, dimanapun kita berada, apapun profesi kita, kejujuran dan tanggung jawab itu penting, dan peduli pada orang lain itu WAJIB, bahkan Alloh dn Rosul-nya menganjurkan kita untuk memudahkan urusan orang lain.

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab- kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya”.
(Muttafaq ‘alaih).

Yaaahh walaupun zaman sekarang sulit sekali menemukan orang yang seperti itu.

“Ya Alloh, lembutkanlah hatiku agar mudah tergerak untuk peduli pada orang lain, dan jagalah aq agar tetap mampu jujur bertanggung jawab dalam setiap perbuatanku.”

Kamis, 18 Oktober 2012