Sesuci cinta Rana


Tahun lalu, ada film yang ingin sekali ku tonton. Namun oleh satu dan banyak hal, aku batal menontonnya. Mencari novelnya pun tak pernah ketemu. Dan entah rahasia apa yang membuat Alloh menakdirkanku untuk menonton film itu, akhirnya, kemarin, film yang beredar di bioskop itu pun tayang perdana di TV, di channel RCTI.

Aku girang setengah idup waktu melihat iklannya hari Minggu kemarin. Dan kemudian mencatat waktunya. Senin, 8 Juli 2013 , pukul 22.30. Namun, sesuatu yang terjadi di kantor membuat aku lemas seketika. Kehilangan semangat dan gairah melakukan segala. Sampai di rumah, film itu pun terlupa dari ingatanku.

Namun benar kata pepatah (?), kalau sudah jodoh, badai tornado pun tak kan bisa menghalangi. Memang Alloh sudah menakdirkan aku menontonnya, maka kembali diingatkanlah aku pada film itu lewat iklan saat adikku menonton Tukang Bubur Naik Haji.

***

Cinta Suci Zahrana, berkisah tentang gadis muslimah yang berprestasi luar biasa. Akhwat cantik ini seorang insinyur. Lulusan S-2 dan mendapatkan banyak penghargaan. Niatnya mulia, ingin membuat bangga dan bahagia kedua orang tua. Namun sebanyak apapun penghargaan dan pujian yang dialamatkan pada Rana, jauh di hati kecil bapak-ibu nya, tersimpan sebuah kesedihan mendalam, terkait dengan anak semata wayangnya yang belum juga menikah di usianya yang sudah berkepala tiga.

Bapaknya yang mengidap penyakit jantung ingin sekali melihat Rana duduk di pelaminan sebelum Bapaknya menutup usia. Ikhtiar sudah dilakukan. Seakan sebuah sayembara, beragam jenis calon pendamping satu persatu mulai mengetuk rumahnya. Dari sang dekan genit di Universitas tempat Rana mengajar, sampai pemilik bengkel yang sudah menduda tiga kali. Tapi tak ada satu pun yang memikat hati. Bukan karena pendidikan, kemapanan, maupun strata sosial yang membuat Rana enggan menerima lamaran para pria itu. Namun Rana melihat pada akhlaknya, pada agamanya, pada kesholehannya. Dan itu tidak ia temukan pada semua calon yang diajukan padanya.

Hampir putus asa, akhirnya ia meminta bantuan pada Ibu Nyai, pemilik sebuah yayasan pondok pesantren. Dari Ibu Nyai lah akhirnya ia menemukan sosok yang klop di hati. Rahmat, si penjual krupuk nan sholeh. Lulusan pondok yang telah ditinggal mati oleh istrinya.

Sekalipun jarak mereka seperti langit dan bumi, Rana yakin akan pilihannya. Bukan karena usianya yang semakin dewasa, bukan pula karena semakin banyak hinaan “perawan tua” yang dicercakan padanya. Namun, ia memilih Rahmat karena Allah, karena kesholehan pria itu.

Undangan telah disebar, tempat pernikahan telah disiapkan. Namun, sekali lagi iman Rana diuji. Menjelang pernikahan, bapaknya meninggal, pun ditambah satu lagi ujian berat yang menimpanya membuatnya benar-benar nyaris kehilangan keyakinannya.

Namun, sesudah kesulitan ada kemudahan. Allah Maha Adil. Janji-Nya pasti bagi siapa yang percaya. Dan pada akhirnya, Rana mendapatkan apa yang terbaik untuknya menurut Allah. Keteguhannya menjaga agama dan kesucian cintanya berbuah manis. Dan kemudian aku pun menangis. Allah sungguh sungguh Maha Adil.

Sesungguhnya di kegelapanlah, terangnya sinar itu bisa benar-benar terlihat.

Film ini sungguh menyadarkan dan menginspirasiku. Memberi banyak pelajaran padaku. Dan sangat menghibur di tengah hatiku yang sedang galau memelow. Sekarang aku mengerti mengapa Alloh menakdirkan aku tidak melewatkan jam tayang film ini. Ia mungkin ingin “berbicara” lewat film ini.

Soundtracknya yang mendayu memilu juga sanggup menghibur hatiku yang hampir layu.

Lirik Reff lagunya sangat mengena di hatiku.

Sebut nama-Nya, dekat dengan-Nya, pinta pada-Nya.

Segala perkara hidup dan cintamu, indah pada waktunya.

Duh, meresapi kata-kata itu membuatku ingin menangis.

Percaya saja pada-Nya. Maka semua akan indah pada waktunya.

Duhai, semoga aku bisa menjaga keyakinanku pada-Nya. Pun semoga aku bisa menjaga kesucian cintaku. Sesuci cinta Rana.

He loves me or not


Aku menatap jarum kecil yang bergerak perlahan mendekati angka 12. Sepi. Hanya suara angin malam berdesau-desau menambah sunyi. Aku bukan tipe gadis penderita insomnia, namun entah kenapa malam ini tak seperti biasa. Bukan aku tak lelah, bukan kantuk itu tak ada, namun mata ini masih ingin terjaga.

Tak tahu harus berbuat apa, kuambil handphone yang kubaringkan disebelahku. Menatapnya sejenak. Sepi. Tak ada pesan singkat. Jariku bergerak menekan tombol-tombol di keypad Qwerty-nya. Membuka whatsapp, melihat-lihat kontak, kemudian menutupnya kembali, mengurungkan niat untuk mengirim pesan singkat di salah satu nama yang tertera. Aku sanksi jika masih ada yang akan membalas pesanku. Ini waktu untuk istirahat di negeriku. Mungkin akan lain jika di negara lain.

Kembali aku menjelajahi menu di ponselku dan berhenti di aplikasi Opera mini. Mungkin berkunjung ke salah satu akun jejaring sosial akan membunuh rasa bosan. Ku buka jejaring sosial yang identik dengan icon burung biru kecil yang lucu itu. Menggulirkan pointer ke bawah dan terhenti pada salah satu tweet akun following-ku.

Info Jakarta @infojakarta 
bro, ini dia cara manjain wanita jaman sekarang ow.ly/mqPmB

Mataku membesar, dan bibirku membentuk senyum curiga. Hatiku tertawa. Penasaran. Kira-kira apa yang akan dianjurkan si pemberi info itu ya? Mari kita lihat, apakah cara-cara itu bisa memanjakanku.

Bergegas aku membuka link yang disertakan dalam tweetnya. Membaca artikelnya dan dahiku mengernyit. Sama sekali bukan cara yang tepat untuk memanjakanku. Apa itu berarti aku tidak termasuk dalam kategori wanita jaman sekarang? Ah, aku tak terlalu ambil pusing.

Kugulirkan lagi layar ke bawah dan tertarik pada judul-judul link yang terkait.

  • 9 cara yang akan dilakukan pria untuk mencuri hati wanita
  • tanda pria simpan perasaan cinta pada sahabat
  • 6 kepanikan pria saat jatuh cinta pada wanita

Hmm.. Rasa penasaranku kembali membesar. Kubaca satu demi satu artikel yang ada sambil membayangkan sosok dia. Iya, dia. Judul-judul itu spontan mengingatkanku akan dia. Dia yang aku ingin tau ada apa. Tiga artikel habis kulahap, namun aku masih tak tahu ada apa dengan dia.

32% pria mengaku bingung akan mengatakan apa saat ingin mengirim BBM, sms, atau pesan singkat lainnya kepada wanita yang ia sukai.

Aku tersenyum membacanya. Teringat beberapa kali dia hanya mengirim pesan singkat “Hai” tanpa pernah ada lanjutannya.

32% pria mengaku bingung saat akan memulai percakapan dengan wanita.

Yang ini pun tak beda. Beberapa kali saat menghabiskan waktu bersamanya, dia hanya diam. Dan kemudian aku yang sibuk mengisi keheningan.

Sebelum kencan atau menelepon wanita yang pria sukai, ia akan mencari-cari bahan obrolan dan mencari tahu apa yang menjadi kesukaan si wanita agar bisa dibahas dalam percakapan.

Tapi dia tidak pernah mencari tahu segala hal tentang aku. Setidaknya dia tidak pernah bertanya.

Saat berjalan kaki, berkelompok saat mengerjakan tugas, atau apapun, pria yang menyimpan perasaan akan selalu ingin berpasangan dengan Anda.

Hmm.. Berjalan kaki? Mungkin ia. Berkelompok? Pernah sih, tapi yang ada aku justru beradu argument dengannya.

Tidak semua pria lajang yang mengajak jalan keluar artinya menyimpan perasaan, namun jika teman baik yang sering melakukannya, tidak salah lagi, dia pasti naksir Anda.

Apakah pulang bareng itu bisa disebut sebagai ajakan jalan keluar ya??

Kalau pria naksir wanita, maka mereka akan sering menggoda orang yang disukainya.

Menggoda??? Kuingat-ingat lagi, tapi tak menemukan moment saat dia menggodaku.

Kelelahan menerpaku setelah hampir sejam bergerilya dengan artikel-artikel unik itu. Aku tidak tahu apakah sumbernya bisa dipercaya atau tidak. Yang aku tahu, aku masih tetap tidak tahu ada apa dengan dia.

***

“Jadi begitu Sha, dari artikel yang kubaca semalem, aku tetep ngga bisa menyimpulkan, dia suka aku atau engga. Menurutmu gimana?” paginya, kuceritakan perjalanan malamku di dunia maya pada sahabatku, Raisha.

Raisha memutar bola matanya. Menghentikan kegiatannya menyapukan blush-on ke pipiku dan memandangku dengan tajam. Tatapannya heran dan matanya seolah berkata “gue ngga habis pikir ya sama loe”.

Tapi demi melihat raut muka innocent-ku yang tak berubah, Raisha kemudian menghela nafas dan berkata gemas.

“Andara Putri, dengerin gue. Mau dia suka kek, mau engga kek, ngapain juga sih masih loe pusingin. Bentar lagi kan loe udah mau dilamar sama Diera. Gimana sih,” dijitaknya pelan kepalaku.

Kuusap kepalaku tepat di bagian yang dijitaknya sambil melirik ke dinding kamar sebelah kananku. Kebaya putih mewah tergantung indah disana. Aku terdiam, berpikir, menatap Raisha, dan kemudian nyengir.

Menikahi cinta


Dinginnya gerimis sore tak lagi terasa di kulitnya yang berkeringat. Peluh yang bercampur rintik hujan pun tak ia hiraukan. Ia terus berlari. Tak peduli orang-orang menganggapnya sinting. Ia ingin lekas sampai. Ia ingin cepat menyelesaikan semua. Sebelum semua menjadi terlambat.

Terngiang-ngiang di benaknya kata-kata lelaki itu yang diucapkan padanya dua puluh menit yang lalu.
“Bersediakah kamu menjadi pendamping hidupku?”
Ah, siapa yang tidak mau mempunyai suami berkharisma sepertinya? Tak diragukan lagi kemampuan finansialnya karena karakternya yang pekerja keras. Ia pun dapat dipastikan bisa menjadi imam yang baik karena pemahaman agamanya. Baik keluarga maupun kerabatnya sepakat akan keluhuran budinya. Siapapun wanita normal tentu jatuh hati pada setiap jengkal kebaikannya, termasuk Nia.

Ya, Nia yang tak sedikit pun menghentikan larinya ini pun sebenarnya kagum akan kebagusan perangai lelaki itu. Hanya saja, ada yang mengganjal di hatinya. Hati yang diam-diam menyimpan harap pada seorang pemuda sederhana. Pemuda yang diharapkannya mengatakan apa yang baru saja didengarnya dari lelaki itu. Dan kini bayangan pemuda itu berkelebat di sepanjang jalan yang dilaluinya. Kenangan indah berdua yang selama ini disimpan dalam hati yang terdalam.

Nia terus berlari. Tak peduli genangan air mengotori sepatu dan pakaiannya. Tak peduli bajunya penuh akan basah. Pikirannya fokus pada satu tujuan. Sebuah terpal yang dipasang sebagai tenda di bawah pohon belimbing di ujung sungai Ciliwung, yang kini semakin jelas nampak di penglihatannya.

Terengah-engah ia bertumpu pada batang pohon jambu biji di sebelahnya. Sulit sekali mengatur nafas mengingat ia berlari hampir satu setengah kilometer jauhnya. Jantungnya terus berpacu cepat. Bagaimana ia dapat berbicara jika untuk bernafas normal saja tidak bisa?

Nia berdiri sejauh tujuh meter dari tenda, menunggu buruan nafasnya mereda. Dipandanginya sosok pemuda itu. Sekumpulan anak kecil duduk manis di depannya, di bawah terpal biru dengan beralaskan kardus tebal dan sehelai tikar. Mereka tampak bersemangat dan penuh perhatian mengikuti setiap kata yang diucapkan si pemuda.

Hampir enam bulan Nia dan pemuda itu mendirikan kelas sederhana untuk mengajar anak-anak yang tinggal di sepanjang sungai ini. Selama enam bulan itu pula ia mengagumi kepribadian pemuda itu. Pemuda yang pandai, sabar, penuh kasih sayang, dan banyak akal. Mungkin itu sebabnya ia selalu punya cara untuk mengendalikan anak-anak yang menjadi murid mereka. Ah, ia memang begitu mempesona.

Enam bulan memang bukan waktu yang lama, tapi juga bukan waktu yang sebentar untuk membuat rasa itu ada. Enam bulan kebersamaan yang cukup membuat hati Nia riang berloncatan sekaligus gelisah berkepanjangan. Nia menyimpan perasaannya dalam diam. Tak pernah berani diungkap. Ia menunggu. Menunggu pemuda itu datang padanya, memberikan kado terindah dalam hidupnya.

Tapi kini ia tak bisa lagi menunggu. Ia harus memastikan, apakah harapan itu nyata atau memang asanya tak pernah terbalaskan. Tapi bagaimana mengatakannya? Hampir saja ia menangis putus asa.

Lama Nia berdiri, tak beranjak untuk menghampiri. Ia masih menimbang-nimbang, kata apa yang pantas diucapkan. Lalu pemuda itu melihatnya. Memandangnya dengan senyum hangat yang seperti biasa. Nia tak bisa melihat adakah cinta di mata pemuda itu. Sesaat ia ragu. Haruskah ia melangkah maju bersama harapannya? Ataukah harus ia berbalik arah menemui lelaki yang memang mencintainya? Nia membalas senyum pemuda itu dengan mata berkaca-kaca. Sungguh ia tak tau harus bagaimana.

***

Jodoh, memang rahasia. Adakalanya ia nampak didepan mata, adakalanya ia tersirat, sembunyi tak terlihat.

Dan tentang menikah, menikahi orang yang dicintai, itu adalah pilihan. Tapi mencintai orang yang dinikahi, itu sebuah keharusan.

Nia menatap pria yang kini telah menjadi imamnya. Rasa cinta yang membuncah sejak didengarnya ijab qobulnya. Dipeluknya hangat pria itu. Pria yang telah bersedia menemani hari-harinya dengan segala suka dukanya.

Nia tersenyum. Matanya kembali berkaca-kaca. Tak ada yang perlu disesalinya. Kini ia bahagia dengan cinta sejatinya.