Mencari alasan


Kayak judul lagunya exist ya??!! Eh, aku suka lho sama lagu lawas itu. :mrgreen:

Ngomong-ngomong, ada yang merhatiin ngga sih perubahan widget di sidebar blogku?? (kayaknya sih ngga ada yaa.. :mrgreen:). Sejak bulan lalu, aku udah ngga majang kalender lagi disana. Kenapa? Karena memang aku sudah sangat amat jarang meninggalkan jejak at ‘my home sweet home’ ini. Kehadiran kalender pun mulai kurasa tak ada guna. Justru malah semakin memperjelas kekosongan menulisku. Tapi sebenarnya membuang kalender juga tak mengubah apapun, karena widget archive yang menampilkan jumlah tulisan setiap bulan masih berdiri angkuh disitu. 😛

Bobroknya produktivitas menulisku dalam beberapa bulan ini membuatku merasa sangat berdosa. Tidak, aku tidak berlebihan. Memang itu yang kurasa. At least, aku merasa bersalah pada diriku sendiri. Kemana perginya seorang aku yang dulunya begitu “mendewakan” kegiatan blogging, kemana perginya seorang aku yang ngakunya tak pernah kehabisan ide, kemana larinya seorang aku yang katanya begitu gemar menulis, kemana larinya seorang aku yang bercita-cita jadi penulis. Ah, seorang aku itu ternyata hanya seorang yang pandai bicara, pandai membual, tanpa tindak yang nyata.

Memang sih, memosting tulisan itu ngga harus tiap hari. Apalagi kalau bisa memproduksi tulisan bermutu setiap kali post walaupun jarang-jarang. Tapi bagiku, menulis itu terapi tersendiri bagi kondisi kejiwaanku. Maka wajar saja bila akhir-akhir ini aku hampir selalu didera dengan yang namanya bad days. Tak lagi kurasakan kebahagiaan yang berlipat seperti saat aku sering posting dulu. Ada yang hilang saat aku melepas hobiku satu itu, ada yang menggumpal dalam kepalaku membentuk sejumput stress dalam hari-hariku. Dan memang sudah seharusnya antara masukan dan keluaran itu harus seimbang kan??!!!

Tapi aku mengabaikan salah satu faktor pemicu kebahagiaanku itu dengan berlindung dibalik sebuah tembok alasan.

Sibuk. Padahal semua orang yang dalam hidupnya punya tujuan, tentu sibuk.

No connection internet. Padahal hanya sebentar saja koneksi yang dibutuhkan untuk publish sebuah posting.

Nyatanya alasan-alasan itu hanya dibuat-buat, hanya rekaan. Alasan sebenarnya adalah MALAS. Dan aku mencari alasan untuk membenarkan rasa malasku. Itulah yang ingin aku bahas disini. Mencari alasan.

Disadari atau tidak, sebenarnya kita (khususnya aku) sering sekali mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan kita. Kita sibuk mencari pembenaran. Padahal menurut mommy ku tercinta, “Alasan Memperjelas Kesalahan”. Ya, saat salah, kebanyakan orang (termasuk aku) justru mencari alasan untuk pembelaan diri. Salah ya salah. Kenapa tidak akui saja kesalahannya? Dalam kasusku pun begitu. Malas ya malas saja. Seharusnya aku tidak perlu mengkambing hitamkan koneksi internet maupun kegiatanku yang lain.

Dengan mencari alasan, sebenarnya tak ada yang dirugikan selain dirinya sendiri. Mencari alasan berarti membiarkan diri sendiri kalah pada keadaan. Padahal alasan itu tidak akan mengubah keadaan, kita sendirilah yang seharusnya beradaptasi dengan keadaan.

Coba aku punya “ini” … .

Kalau pakai “ini” sih enak … .

Ntar aja lah kalau udah ada “itu” … .

Jelas aja dia bisa, dia kan punya “itu” … .

Kata-kata itu hanya membuat pribadi menjadi lemah dan tidak berkembang. Dan itu adalah salah satu faktor menjauhnya kesuksesan, ciri mental seorang pecundang.

Ia ngga sih? Menurutku sih iya.

Ibaratnya, ngga perlu punya mobil dulu untuk bisa nyetir, yang punya aja belum tentu bisa kan?

Dan begitulah seharusnya aku. Kalau ingin sukses, seharusnya aku memanfaatkan setiap kesempatan yang datang dan bukan mencari alasan demi memanjakan kemalasan, bukan begitu?

Dan kali ini, kesempatan itu kembali datang. Empat orang terdekatku (dua tetangga, satu teman kantor, satu teman kursus) sempat berharap aku bisa membuatkan baju untuk mereka. Bahan pun sudah ada di depan mata.

Kenyataan bahwa mereka percaya padaku itu seharusnya membuatku bangga kan? Tapi alih-alih mensyukurinya dengan merespon permintaan itu dengan baik, aku justru memandang rendah pada diriku. Aku merasa tak mampu dan takut membuat mereka kecewa. Apalagi peralatan yang kumiliki, kunilai tak cukup baik untuk menghasilkan output yang baik. Dan rasa malas membuatku berlindung dibalik sebuah alasan,

“nanti saja kalau aku sudah punya benda paling kuidam-idamkan ini, baru aku terima order, biar lebih mudah dan hasilnya lebih bagus”

Padahal entah kapan messina itu jadi milikku, dan entah kapan kesempatan serupa akan datang kembali padaku. Sementara waktu tetap berjalan. Mimpi tak boleh padam. Lalu kapan aku bisa menjadi “pemenang” bila terus menerus mencari alasan??!!

 

 

*post ini didedikasikan untukku, berharap bisa serupa sebuah ciuman pangeran yang membangunkan si putri tidur ini dari pengaruh apel biusnya*

(ulasan-evaluasi) Cerita Berantai


Cerita berantai perdana kemarin bisa terbilang sukses. Setidaknya untukku demikian. Target 7 blogger yang ikut serta telah tercapai seketika. Tenggang waktu satu minggu yang ditargetkan pun percuma, karena semua kontributor beraksi cepat, ngga pake lama. Bahkan di hari pertama, 3 part terselesaikan sudah. Terima kasih kepada Meta dan Kak Ra yang langsung mengeksekusi samberannya. 🙂

Sebenarnya salah satu tujuan dari diadakannya (semacam) kontes ini adalah untuk mengembangkan kemampuan menulis fiksi. Aku berharap ada komentator-komentator yang sudi menunjukkan kekurangan dan perbaikan dari tulisan yang dibuat. Tapi sepertinya gagal, rata-rata komentarnya positif. Wajar sih, mungkin pembaca juga merasa bukan ahlinya sastra. Tapi ngga ada salahnya lho membagi ilmu yang sedikit atau dengan hanya menanggapi dari sudut pandang reader (apakah alurnya enak dibaca/kurang), itu sudah cukup membantu. Dengan perbaikan yang sedikit demi sedikit, maka siapa tau para kontributor menjadi pandai menulis.

Sempat aku coba untuk jadi komentatornya, tapi kebanyakan yang kukoreksi hanya hal-hal yang bersifat teknis. Itu pun aku merasa ngga enak, ntar pada mikir “ah, kebanyakan aturan” trus pada minggat dech. 😦

——————-

Kalau dari isi cerita, walau absurd tapi lumayan masih nyambung antara satu dengan yang lain. Lucunya saat aku membaca part 2 Meta yang dapet samberan dariku. Jauuuhhh sekali dari cerita yang kuharapkan. Inginku, dalam cerita itu nantinya akan dijelaskan kenapa Andrian urung pergi saat melihat potongan gulali. Maunya sih dia punya kenangan tersendiri dan akan sedikit flashback. Tapi imajinasiku dirusak dengan kata-kata “Balikin gulalinyaaa”. Haha.. Bagiku itu sangat kocak. Karena dalam bayanganku, kalaupun tidak ada flashback, setidaknya ngga ada adegan Dara marah-marah. Paling tidak dia akan bertanya, “Aku dimana? Kamu siapa?” Toh dia juga ngga tau kalau ternyata lelaki yang ada di hadapannya itu adalah lelaki yang menabraknya. But it’s OK. Great. Seru. Sangat.

Kemudian berlanjut ke part 3, Kak Ra menambahkan tokoh Nadia, dimana ia-nya adalah kekasih Andrian. Padahal tadinya mau aku, Andrian itu single lhoo dan dia masih kuliah. 😛

Part 4 diteruskan oleh Mba Ayana, masih lurus-lurus aja ceritanya, disinilah diceritakan perkenalan awal mereka. Mirha meneruskan part 5 dengan menceritakan dari sisi kehidupan Andrian. Sampai sini cerita masih mengalir sesuai alur. Baru di part 6 milik Mba Masya yang sedikit keluar jalur, karena di akhir part 5 itu, ceritanya Andrian ingin memberi kejutan pada Dara, kayaknya sih Andrian mau bikin sebuah buku yang dipersembahkan untuk Dara, tapi tidak terealisasikan di part 6. Disini yang diceritakan adalah bayangan Dara yang semakin mengusik Andrian, padahal satu bulan lagi dia bertunangan. Tapi tak apa, namanya juga for fun. 😉

Part terakhir yang juga merupakan bagian tersulit disajikan Harry dengan kacau. Hehe..maaf ya Ry ;). Entah apakah karena tema blognya atau memang cara dia menulis yang membuat format tulisannya acak-acakan. Sedikit masukan ya Ry, untuk percakapan, sebaiknya setiap orang yang berbicara itu dikasih “enter”, jangan disambung terus. J

Kalau soal isi ceritanya, mungkin dia ini juga bingung, akan dibawa kemana endingnya. Tapi tentang ending, sebenarnya OK-OK aja sih mau bagaimana. Cuma aku penasaran, maksudnya Dara dengan berdoa “Damaikanlah hatiku dengan ketentuan-Mu” dan mengatakan sudah punya seseorang yang spesial itu apa ya?? Bukannya dia juga naksir sama Andrian? Ah, cuma Harry yang tau. :mrgreen:. Harry, kita masih harus banyak belajar dan rajin berlatih. J

Overall, aku merasa happy dengan permainan ini. Bagian yang paling aku suka adalah sensasi saat membaca ceritaku yang dilanjutkan oleh orang lain. Rasanya kocak, menggelikan. :mrgreen:.

Sayangnya cerita lanjutannya banyak yang belum di-link-an ke post terkait, jadi agak susah kalau mau ditelusur dari awal.. L

***

Itu review dariku. Nah, sekarang aku ingin bertanya pada para kontributor maupun reader, kira-kira apa nih kesan dan pesan saat membuat/membacanya?? Ada kritik dan saran? Silahkan diungkap blak-blak-an. Tenang aja, aku ngga bakal tersinggung, paling mengkeret terus ngambek ngga mau nulis lagi. 😆

Ngga deng, menulis itu kebutuhan tersendiri untuk aku yang tak pandai berbicara. 😉

Jadi, aku harap ada yang rela hati memberikan komentar dan masukan terkait cerita berantai ini.

***

Lalu lalu, kalau aku lanjutkan cerita berantainya di season 2 ada yang masih mau ikutan nggaaa? Soalnya udah ada Mba Ne dan Mba Rinibee nih yang mencalonkan diri.