Sebuah Kepercayaan


Mendapatkan kepercayaan itu sulit,

Menjaga kepercayaan pun tak mudah,

Tapi melepaskan kepercayaan, itulah hal tersulit.

Setidaknya untukku, saat ini…….

 

Kejujuran yang sudah mendarah daging, mungkin itulah yang membuatku begitu dipercaya disini. Seperti asisten, tangan kanan, atau yang semacamnya lah.

Tapi kepercayaan itu kini justru manahanku, mengikatku, memberatkan langkahku.

 

Sementara disana, aku ditunggu. Ditunggu untuk sebuah tantangan baru. Ditunggu untuk memulai mendapatkan kepercayaan baru.

 

Lalu aku harus bagaimana??

 

***

“Masalahmu itu ngga serumit masalahku”

“Kamu bakal stuck kalau begitu terus”

“Kamu ngga akan berkembang kalau begitu”

“Coba pertimbangkan dulu plus minusnya”

“Jangan sampai malah menambah bebanmu”

“Kesempatan itu ngga datang dua kali”

“Mumpung kamu masih muda”

***

 

Sudah banyak pikiran kumintai pendapatnya. Sudah banyak kepala menyuarakan dukungannya.

Tapi aku masih ragu. Adakah langkah yang akan aku ambil ini benar? Baik untukku?

 

Entah harus kepada berapa nyawa lagi aku berbagi. Itu semua seolah tak ada arti.

 

Karena yang kubutuhkan hanya satu. Kata yang terucap dari bibir seorang ibu.

Karena yang kubutuhkan hanya satu. Keputusan dari hakim terbaikku.

Namun beliau masih tak bersuara. Diam membisu.

 

Lalu bagaimana?

 

 

*edisi galau tingkat dewa dewi*

Benang kusut


Pagi-pagi kupingku udah dibisingi oleh teriakan adikku yang lagi ribut. “Mbaaaa.. dikanya tuuuh!!!”

Tadinya aq cuekin aja, toh nanti juga lama-lama mereka diem sendiri. Tapi ternyata aq salah. Teriakannya makin kencang, bikin senewen.

Aq hampirilah mereka yang sedang maen sepeda di teras luar. Ternyata si Dika sengaja menghalangi jalur sepeda Uci. Entah apa yang terjadi sebelumnya, yang jelas, dua-duanya menampakkan muka kesal.

Daripada ngomelin atau menyalahkan salah satu dari mereka yang bisa jadi malah makin memperkeruh suasana, jadi aq ajakin ngaji aja. Problem solved?? Oh tentu tidaaak, mereka ini lagi dalam masa malas mengaji. Jadi tak satupun dari mereka yang berpindah dari jok sepeda masing-masing.

 

Hhh..harus sabaaar. Akhirnya, aq teringat janjiku pada uci untuk ngajarin dia berkreasi kain flanel.

“Eh Ci, kita jait aja yuk” kataku sampil menarik pelan lengannya dan mengambil alih sepedanya. Mukanya berubah cerah dan exited.

“Tapi ngaji dulu yaa,” bujukku.

“Ia, abis ngaji langsung jait ya mba,” Uci langsung masuk ke dalam dan mengambil Al-qur’an.

Selesai mengaji, aq keluarkan alat dan bahan untuk mulai berkreasi. Sebenarnya cuma mau bikin nama dia pake kain flanel. Tapi pas mengeluarkan benangnya, aq tertegun dan kemudian bingung. Benang ini ada 6 helai setiap ikatannya. Ini gimana make’nya ya?? (Maklum, aq belum pernah punya pengalaman berkreasi flannel).

Kalau digunakan semua, kok kayaknya terlalu tebal ya?! Aq coba mengambil 1 helai benang itu dan memisahkannya dari yang lain, tapi yang ada malah kusut. Aq coba ambil tiga, tambah kusut. Kuotak-atik benang itu dan akhirnya jadilah benang yang sangat kusut. Menggumpal disana-sini dan tidak bisa dipakai lagi. Aq bengong. Hadeeehh.. Bagaimana ini?? Mau dibuang sayang, masih baru dan sama sekali belum dipakai.

 

***

 

Aq coba mempertanggung-jawabkan ke-sembrono-anku. Perlahan aq coba kembalikan si benang kusut ke kondisi semula. Bermenit-menit terlewat dan masih saja tak berubah. Benang itu tetap kusut. Huwaaa.. T-T Aq menyerah sesaat. Kutinggalkan si benang kusut itu dan makan.

Selesai makan (akhirnya, karena bosan, Uci bermain lagi keluar), dengan energi baru, kucoba lagi mengurai kekusutan itu. Kali ini kumulai dengan cara berbeda. Kupilih bagian yang tingkat kerumitannya lebih ringan. Aq luruskan dan berhasil. Yes!! Kemudian kugunting bagian yang terumit, aq pisahkan dengan benang yang berhasil aq luruskan.

 

Sekarang tinggal bagian benang yang amat sangat kusut. Sebenarnya bisa saja aq buang langsung, tapi aq penasaran dan menjadi tertantang untuk menaklukannya. 😛 dengan perlahan dan penuh kesabaran, kucoba mengurai kekusutannya, merenggangkan ikatan-ikatan yang terlihat njelimet di benang itu. Kutelusuri ujung pangkalnya. Lima menit, 10 menit, 15 menit, entah berapa menit berlalu aq habiskan untuk memperjuangkan benang itu. Sempat terpikir untuk menyerah, tapi tanganku tak berhenti berusaha. Dan tak kusangka, pada akhirnya aq berhasil menaklukannya. Yaa.. walaupun tidak serapih kondisi semula, tapi benang kusut itu berhasil ku-urai dan bisa kembali kugunakan. Yeeii.. Horeee… \(^o^)/

 

***

 

Seketika itu, pikiranku langsung berkelana. Benang kusut. Bukankah orang-orang sering mengumpamakan masalah yang rumit seperti benang kusut?? Dan konon katanya, masalah yang serumit benang kusut itu sangat sulit dicari solusinya. Ah, siapa bilang?? Hari ini aq telah membuktikan kalau benang kusut itu sangat mungkin untuk diluruskan. Berarti masalah yang serumit apapun sebenarnya masih bisa diselesaikan. Benar atau betul??? 😀

 

Berbekal hikmah mendadak yang kuambil dari segumpal benang kusut, mungkin cara-cara ini juga bisa digunakan untuk mengurai masalah yang kusut :

  1. Tinggalkanlah sejenak masalah itu, tenangkan pikiran, dan persiapkan energi baru yang positif.
  2. Mulailah dari masalah yang tidak terlalu rumit. Pisahkan, selesaikan terlebih dahulu. Dengan begitu, beban masalah akan sedikit berkurang.
  3. Cobalah mengurai keruwetan masalah tersebut. Tidak memikirkannya sekaligus, tapi satu-satu.
  4. Telusuri masalahnya dari ujung ke pangkal. Gunakan sudut pandang yang berbeda. Bila tidak berhasil di ujungnya, maka cobalah dari pangkalnya.
  5. Terakhir, lakukanlah dengan penuh kesabaran dan pantang menyerah. Tidak tergesa-gesa dan nikmati prosesnya.

 

***

 

Aku tidak tahu apakah tips-tips yang aq paparkan di atas bisa digunakan atau tidak. Tapi yang jelas, untukku pribadi, dengan mengumpamakan masalah seperti benang kusut itu, aq jadi punya keyakinan dan motivasi tersendiri, bahwa semua masalah ada solusinya, sekusut apapun problematikanya. ^-^