Firasat


Gemuruh suara guntur menggelegar mengejutkanku. Kualihkan pandangan ke sebelah kananku. Dalam bingkai jendela, dapat kulihat langit berubah gelap yang bertambah kelam. Kulirik jam yang tergantung di atas dinding tempat mejaku bersandar, sebentar lagi azan maghrib berkumandang. Untunglah Mas Hanif belum pulang sehingga bisa menyiapkan snack untukku berbuka puasa.

Kurentangkan lengan-lenganku ke depan, atas, dan samping untuk melemaskan otot-ototku yang kaku. Suasana di kantor sudah sepi, hanya tinggal aku yang masih setia menempel di kursi. Kupandangi bukti-bukti transaksi yang berserak di atas meja dan menghela nafas. Aku masih harus merapihkannya sebelum pulang. Angka satu dan lima dengan lima digit nol dibelakangnya terus membayangiku. Entah bagaimana uang sebesar itu raib dari pengawasanku. Aku masih berharap kalau itu hanya kesalahan input transaksi.

Tepat saat bedug bertalu, aku selesai merapihkan bukti-buktiku itu. Kuambil secangkir teh yang disiapkan oleh Mas Hanif dan menyesap isinya perlahan. Alhamdulillah, rasanya nikmat saat hangat menjalari tenggorokanku yang kering selama seharian ini. Setelah melafalkan doa berbuka puasa, kuletakkan cangkirku dan tak berminat untuk menyentuh roti yang tergeletak manis disampingnya. Aku harus menyelesaikan semua. Aku harus memastikan kehilangan itu kesalahan atau nyata.

Perlahan suara tombol kalkulator bergema di sekelilingku. Dan saat ianya terhenti, mataku tak mampu berkedip. Nafasku tertahan dan pikiranku melayang. Tak percaya. Bukannya berkurang, angka tersebut seakan bereproduksi sendiri. Kuulangi hitunganku, kedua kali, ketiga kali, dan tetap sama.

Aaggrrhh.. Yang benar saja, hanya selang dua hari kekurangan itu telah bertambah tiga ratus ribu. Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa di ruangan ini? Dua tahun lebih aku bertanggung jawab pada kas perusahaan ini, tapi baru kali ini aku bisa kecolongan sebesar ini. Ku letakkan sikuku di meja dan menopang kepala dengan telapak tangan. Aku berharap ini tidak nyata karena aku tidak tahu harus bagaimana. Dengan apa aku menalangi kekurangannya? Dan bagaimana bisa uang sebanyak itu lenyap begitu saja? Apakah diruangan ini ada tuyul? Atau ada yang mengambil? Tapi siapa? Kulirik kursi kosong disebelahku. Mungkinkah dia?? Tapi dia hanya bocah baru lulus yang terlihat begitu polos dan tak mengerti apapun. Bagaimana bisa dia melakukannya? Hatiku mencelos. Ragu, namun tak menemukan alasan rasional lain untuk menjelaskan tragedi ini.

***

“An, ini sepuluh juta buat tagihan kurir dan bayar sewa ya. Coba dihitung dulu,” Pak Bos masuk ke ruanganku dan meletakkan setumpuk lembaran biru di atas mejaku.

“Ia Pak,” aku pun bergegas mulai menghitung.

Setelah dirasa tepat, kulipat per satu juta, kuikat rapi tumpukan uang itu dan memasukkannya ke dalam cashbox.

***

“Rin, pernah setor ke Bank?” tanyaku setelah sholat dhuhur pada staff baru yang duduk tepat disebelah kananku.

“Pernah Mba.”

“Yaudah, tolong setor ke Bank sebelah ya. Bisa kan?” tanyaku lagi sambil membuka cashbox. Kuambil lipatan pertama dan kedua dan menghitung ulang uangnya. Aneh. Kenapa tidak genap dua juta? Aku sama sekali belum menggunakannya. Kuhitung sekali lagi dan tetap tidak genap. God! Jangan bilang duitnya ilang lagi?!

Ku ambil sejumlah uang yang diperlukan untuk setor ke Bank dan memberikannya pada Rini. Setelah dia pergi, segera aku hitung ulang semua uang yang ada di cash box. Dan lagi-lagi aku tidak salah hitung. Tiga ratus ribuku hilang lagi, hanya dalam waktu tiga jam! Kini aku tahu uang itu kemana. Aku hanya meninggalkan ruangan selama 15 menit untuk sholat dhuhur. Tidak ada yang masuk ke ruanganku selama tiga jam ini. Tidak ada yang bisa akses ke ruanganku, ke mejaku, ke cashbox-ku, kecuali dia. Dia yang tetap tinggal di ruangan saat ku tak ada. Seketika kepalaku pening. Pikiranku melayang. Bagaimana dia bisa setega itu padaku? Padahal benefit yang kantor berikan cukup banyak untuk dia yang tergolong baru. Kini, aku bahkan tidak bisa menjeratnya karena aku tidak punya bukti. Oh Tuhan, sekarang aku harus bagaimana?

Aku lugu????


“Karena kamu lugu”

Itu sms dari seorang temanku. Dikatakannya bahwa aku lugu. Jawaban atas pertanyaanku “Kenapa si fulan suka sekali ngecengin aku”.

Sedikit terhenyak. Aku lugu?? Di otakku, “lugu” itu adalah cerminan dari pribadi yang alim, anak baik-baik, ngegemesin, dan hal-hal positif lainnya. Menurutku identik dengan “bocah/anak kecil”.

Dan aku dikatakan lugu??? Aih, jadi malu.

Tapi kemudian dilanjutkan,

“Tapi ada baiknya juga, biasanya orang lugu itu sederhana dan ngga macem-macem”

jadi jadi..lugu itu bermakna negatif yaa????

Penasaran, ku search di google, mencari pengertian LUGU (bukan Lutung Gunung yaaa).

Definisi ‘lugu’

Jw a

2. tidak banyak tingkah; bersahaja; sewajarnya; apa adanya:

http://www.artikata.com/arti-338990-lugu.html

Definisi ‘keluguan’

noun

1. kesahajaan; kewajaran:

http://www.artikata.com/arti-371076-keluguan.html

Hihihi.. kalau baca pengertiannya, jadi geli sendiri.

Apakah aku tidak banyak tingkah? Tidak. Aku petakilan.

Bersahaja? I’m not sure.

Sewajarnya??? Hmm.. i guess no.

Apa adanya? Masih mungkin.

Jadi apakah aku lugu? Entahlah. Aku masih tidak mengerti.

Apakah lugu sama artinya dengan kuper? Kalau ya, berarti aku memang lugu.

Atau lugu adalah bahasa halus dari bodoh a.k.a mudah dibodohi/dikibuli??? Kalau ya, berarti mungkin saja aku lugu.

Mengingat yang mengatakan aku lugu rata-rata adalah teman laki-laki, dan tidak pernah ada dari teman perempuan, aku rasa mereka mengatakan aku lugu karena gampang dibohongi yaaa.

Habiiisss..aku memang mudah percaya orang. tapi tak apa, mungkin karena lugu itulah aku jadi berasa disayaaang banget sama temen-temen cowokku, berasa punya kakak.

***

Tapi Jadi, sebenarnya lugu itu berkonotasi positif atau negatif???

Dari artikel yang kutemukan ini sih, aku menyimpulkan kalau lugu itu positif.

Tapi aku masih tidak mengerti, lugu itu seperti apa??? Benarkah aku lugu??? Bisakah itu menjadi salah satu kelebihan untuk menggaet belahan hatiku?? 😆