Tentang Rasa


Ada yang bilang
“rasa itu tidak untuk dianalisa, tapi untuk dirasakan”.

 

Tidak salah.

Rasa ya rasa. Rasakan saja apa yang dirasa. Tak perlu dipikirkan. Tak perlu dicari alasan.

Saat sedih, maka menangislah. Saat senang, maka tertawalah. Suka, bahagia, kesal, marah, katakan saja, tak perlu ditutupi. Karena memendamnya hanya akan membebani hati.

 

 

Tapi, entah, menurutku pun tak sepenuhnya benar.

Karena ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak cukup pantas untuk ditujukan kepada orang tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak elok diungkapkan di waktu tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak bisa diungkapkan dengan cara tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa dipandang berbeda oleh beragam kepala.

 

Analisa membuat kita tahu,

apakah rasa ini benar seperti yang kita sangka, apakah rasa ini memang seharusnya kita rasa, apakah rasa ini sudah ditujukan ke orang yang tepat, atau apakah rasa ini pantas diungkapkan dengan kalimat.

 

Analisa ada agar kita tahu rasa apa yang dirasa dan bagaimana menyikapinya.

Analisa ada supaya kita tak terjebak.

 

Jadi kurasa, analisa itu perlu, walau memang adanya rasa adalah untuk dirasa. Dan terkadang, rasa itu lah yang kemudian mengalahkan logika analisa.

 

Jadi???!!! Entahlah. Aku pun saat ini sedang meraba rasa, apakah perlu dianalisa atau tidak. :mrgreen: