Sebuah Kepercayaan


Mendapatkan kepercayaan itu sulit,

Menjaga kepercayaan pun tak mudah,

Tapi melepaskan kepercayaan, itulah hal tersulit.

Setidaknya untukku, saat ini…….

 

Kejujuran yang sudah mendarah daging, mungkin itulah yang membuatku begitu dipercaya disini. Seperti asisten, tangan kanan, atau yang semacamnya lah.

Tapi kepercayaan itu kini justru manahanku, mengikatku, memberatkan langkahku.

 

Sementara disana, aku ditunggu. Ditunggu untuk sebuah tantangan baru. Ditunggu untuk memulai mendapatkan kepercayaan baru.

 

Lalu aku harus bagaimana??

 

***

“Masalahmu itu ngga serumit masalahku”

“Kamu bakal stuck kalau begitu terus”

“Kamu ngga akan berkembang kalau begitu”

“Coba pertimbangkan dulu plus minusnya”

“Jangan sampai malah menambah bebanmu”

“Kesempatan itu ngga datang dua kali”

“Mumpung kamu masih muda”

***

 

Sudah banyak pikiran kumintai pendapatnya. Sudah banyak kepala menyuarakan dukungannya.

Tapi aku masih ragu. Adakah langkah yang akan aku ambil ini benar? Baik untukku?

 

Entah harus kepada berapa nyawa lagi aku berbagi. Itu semua seolah tak ada arti.

 

Karena yang kubutuhkan hanya satu. Kata yang terucap dari bibir seorang ibu.

Karena yang kubutuhkan hanya satu. Keputusan dari hakim terbaikku.

Namun beliau masih tak bersuara. Diam membisu.

 

Lalu bagaimana?

 

 

*edisi galau tingkat dewa dewi*

(Masih) Efek Habibie Ainun


Seperti yang telah diceritakan meta disini, akhirnya ku tonton juga tuh film Habibie Ainun yang lagi booming.

Jujur, aq ini memang dulu kuper *sampe sekarang sih* 😛
Jadi aq tidak tau sosok seperti apa Pak Habbie itu, bagaimana jalannya, cara bicaranya, dsb. Jadi ketika orang2 bilang “akting Reza mirip banget sama Pak Habibie”, aq cuma bisa diam dan bergumam dalam hati, oohh, iya ya??

Terlepas dari pengetahuanku soal Pak Habibie dan Ainun, aq cukup menikmati filmnya. Membuatku ingin membaca biografi/novel aslinya. Aq tertarik dengan komitmen, kejujuran dan pendiriannya. Betapa dia melakukan sesuatu itu bukan karena orientasi materi, tapi demi mimpi dan dedikasinya pada Indonesia. That’s so “me”. Hoho 😎 *nyama2in ajah* 😛 Orientasiku dalam pekerjaan pun bukan uang, tapi kualitas dan kepuasan orang lain atas kinerjaku.

Selama menonton filmnya, fokusku bukan pada apa dan bagaimana Pak Habibie. Tapi aq terpaku pada sosok BCL yang memerankan Bu Ainun. Seperti Pak Habibie, aq juga tidak tau banyak tentang Bu Ainun, jadi aq tidak bisa menilai kualitas akting BCL. Hanya saja, aq begitu kagum pada karakter beliau. Sungguh seorang istri yang luar biasa. Beliau rela mengesampingkan ego pribadinya demi mendampingi sang belahan hati. Diawali dengan pernikahan sederhana, menanggalkan baju dokternya, menjadi ibu rumah tangga biasa dan menjalani masa-masa sulit di Jerman, sabar dan penuh pengertian saat ditinggalkan sang suami demi mengabdi pada negara. Tanpa mengeluh, beliau mendukung penuh sang suami, walaupun sering merasa waktu untuk dia dan keluarga semakin berkurang. Begitu terharu aq menyaksikan pengorbanan dan pengabdiannya pada sang suami.

Beberapa scene dan dialog favoritku adalah di moment-moment ini:

  • Janji Ainun saat dilamar, janji untuk selalu ada mendampingi Habibie
  • Perjuangan pulang Habibie dengan sepatu bolongnya di tengah salju, mengingatkanku pada beratnya perjuangan Bapak dulu demi memenuhi tanggung-jawabnya pada keluarga
  • Perkataan Habibie saat luka kakinya sedang dibersihkan oleh Ainun, “Kamu kuat, Ainun”, saat itu terdengar berbeda di telingaku, “Kamu kuat Putri, kamu kuat” 😎
  • Ekspresi Habibie saat say goodbye dengan pesawatnya, aq seakan merasakan pedih hatinya, lukanya terhadap pengabdian yang berbuah penghinaan

Kalau orang lain setelah nonton ini banyak yang jadi merindukan sosok suami setia seperti Pak Habibie, mengidamkan cinta tulus mereka, dan mendambakan keutuhan rumah tangga mereka, aq lebih tertarik untuk menjadi sosok seperti Bu Ainun. Sosok wanita yang luar biasa. The Shinning Star became The Champion Maker *terinspirasi dari kata-kata om lambang*. Ah, tapi tidak, Pak Habibie tidak bisa disebut sebagai bintang yang redup. Beliau juga bersinar seperti Bu Ainun. Dan aq juga tidak bisa benar2 disebut sebagai Shinning Star.

Namun, sejak membaca postingan om lambang yang ini, aq jadi makin berambisi menjadi The Champion Maker. Aq ingin ada di balik layar kesuksesan calon suamiku. Aq tidak sempurna, dia yang entah siapa pun tak sempurna. Maka aq ingin menjadi sempurna bersamanya. Bergandengan tangan mendaki terjalnya bukit kehidupan. Aq ingin bersinar bersamanya. Aih, indahnya.. 😳

Film ini juga membuatku berpikir, seringkali kita salah dalam menggantungkan harapan. Kita berharap mendapatkan pendamping seperti Nabi Muhammad, tapi kita tidak berkaca, sudahkah kita seperti Khadijah atau Aisyah?? Kita bermimpi tinggi tanpa memantaskan diri untuk bisa meraih mimpi itu.

Jadi kawan, apapun mimpi kalian, maka sebelum menggantungkannya tinggi, pantaskanlah dulu diri kita agar mimpi itu cepat menghampiri.

Ibaratnya, bila ingin mendapatkan sosok seperti Pak Habibie, maka jadilah seperti Bu Ainun.

Lalu, apakah tanpa memantaskan diri kita bisa meraih mimpi kita?? Bisa saja, itu keajaiban. Jadi berdoalah sajalah agar bisa menjadi salah satu orang yang mendapat keajaiban itu. 😀


 

Riweuh bin Ricuh in 72


Aku naik metromini 72 dari lampu merah POINS seperti biasa. Ada dua mobil yang ngetem. Aku pilih yang paling depan, tapi ternyata penuh banget. Begitu aku naik, mobilpun jalan. Ternyata mobil ini penuh dengan anak-anak TK dan mamanya, mungkin mau study tour, entahlah. Tapi parahnya ngga ada yang ngasih duduk, padahal ada yang gendok bayi segala. Dan yang duduk mas-mas dan mba-mba yang masih seger buger.

Sampai di depan McD, ada Bapak-Bapak beruban yang duduk di bangku tengah sebelah kanan berteriak pada keneknya.
“Pak, kembalian tiga ribu.”
“Apa? Kembalian tiga ribu? Minta sama kenek yang tadi dong pak, urusannya bukan sama saya, saya kan baru naik ini.” si kenek pun tak kalah berteriak.

Hmm.. Rupanya baru terjadi pergantian awak sebelum aku naik tadi, dan dilihat dari lembaran-lembaran yang dipegang si kenek, sepertinya sebagian besar penumpang sudah digunting sama kenek sebelumnya, dan tentu saja duitnya dibawa sama dia. Pantas saja si kenek mengelak memberikan kembalian pada si bapak beruban itu.

“Kerja ngga beres banget. Biar aja, rezekinya juga ngga berkah kalau begitu. Pura-pura ngga tau,” si bapak tua masih menggerutu.
“Bukannya pura-pura ngga tau Pak…” si kenek yang dari awal sudah badmood menjadi semakin kesal.
“Abang kan kenal sama keneknya, yaudah kan bisa dimintain balik nanti sama dy,” seorang ibu yang duduk di belakang bapak beruban ikut membela.
Tapi tetap saja si kenek bersikap tak acuh.
Tidak terlalu kusimak lagi ocehan mereka, yang jelas, masing-masing masih saling menggerutu.

Tidak lama, si sopir berteriak memanggil keneknya. Dari belakang, tidak terdengar terlalu jelas perbincangan mereka. Sepertinya mobilnya mengalami masalah. Ban depannya bocor. Si ibu yang menggendong bayi, tak jauh dari tempatku berdiri menggerutu,
“Hhhh… Paling sebentar lagi disuruh turun nih,” keringatnya membanjiri wajahnya yang cemberut.

Melewati bunderan Pondok Indah, si kenek yang berpindah ke pintu belakang ngoceh-ngoceh kesal. Walaupun kata-katanya tidak jelas, tapi aku yang berdiri tepat di sampingnya bisa merasakan betapa pagi ini begitu menjengkelkan baginya. Sesekali dia berteriak pada sopirnya untuk menepikan mobilnya. Tapi si sopir, entah dengar atau tidak, tetap melajukannya. Dan si kenek kembali mengoceh sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sampai di PIM, mobil baru berhenti melaju. Dan semua penumpang turun. Hmm.. Benar-benar di oper rupanya. Terlihat 72 lain di belakang. Tapi apa yang terjadi? Dia tidak mau berhenti. Selentingan aku mendengar suara, mungkin dari penumpang lain.
“Ngambek dech.”

Sepertinya aku benar-benar ketinggalan moment. Aku menyimpulkan kalau antara mobil ini dengan mobil yang maen bablas aja itu sempat rebutan sewa di lampu merah tadi. Makanya dia tidak mau berhenti. “Sukurin”, mungkin begitu pikirnya.

Hhh.. Mau tidak mau, kami para sewa harus menunggu lebih lama lagi.

Tapi konflik tidak berhenti sampai di situ. Seorang ibu-ibu menghampiri si kenek dan meminta kembali ongkosnya. Tentu aja ngga dikasih.
“Nanti dioper Bu, tunggu aja. Kalau semuanya minta ongkosnya dibalikin, mau kembaliin pake apaan? Ngga ada duitnya.” si kenek berkata dengan kesal sambil mengacung-acungkan beberapa lembar dua ribuan di tangannya.

Hmm.. Begitu banyak konflik, pagi yang begitu ricuh. Mari kita bahas satu-satu. Tentang ibu menggendong anak yang tidak kebagian bangku, sepertinya hal itu untuk zaman sekarang memang sudah hal yang lumrah, udah minim sekali kepedulian untuk mempersilahkan duduk. Mungkin karena di buku SD sekarang sudah tidak ada lagi cerita tentang mempersilahkan duduk? Entahlah.

Kemudian tentang bapak beruban yang meminta kembalian, itu wajar, dia meminta haknya. Tapi sangat disayangkan sikap kenek yang menjawab dengan ketus itu. Dan sungguh patut bila si bapak “nyumpahin” kalau rezekinya ngga berkah. Ya, begitu banyak sebab mengapa rezeki tidak berkah, korupsi waktu, korupsi uang, korupsi pekerjaan, dan mengambil hak orang lain. Rezeki tidak berkah bukan berarti rezekinya sedikit. Walaupun secara kasat mata berlimpah, rezeki yang tidak berkah akan membuat dia selalu merasa kekurangan dan tidak pernah cukup, diliputi rasa tamak dan tidak tenang. Tapi kenek itu juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Dia baru naik dan tidak tahu apa-apa, tidak dititipkan uang kembalian pula. Kalau mau ditalangin dulu baru nanti dimintain balik ke kenek sebelumnya, belum tentu si kenek sebelumnya itu percaya dan mau ngasih. Mungkin dia akan berpikir kalau itu cuma akal-akalan aja.

Dan tentang ban bocor itu, bisa aja itu karena doa dari si bapak beruban. Karena doa orang yang terzholimi itu diijabah. Mungkin saja itu karma. Tapi kasihan juga si sopir dan kenek, baru juga naik, belum apa-apa udah bocor bannya, belum juga dapet duit. Entah apakah memang baru bocor atau mobil itu sudah bocor sebelum di pindah tangankan. Kalau memang awak sebelumnya sudah tau bannya bocor dan sengaja tetap memindah tangankan mobil itu pada awak yang sekarang, maka mereka bener-benar keterlaluan.

Tidak ada yang bisa kulakukan dalam ke-riweuh-an ini selain diam (dan jadi paparazi 😛 ), namun beberapa point yang bisa kujadikan pelajaran, dimanapun kita berada, apapun profesi kita, kejujuran dan tanggung jawab itu penting, dan peduli pada orang lain itu WAJIB, bahkan Alloh dn Rosul-nya menganjurkan kita untuk memudahkan urusan orang lain.

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab- kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya”.
(Muttafaq ‘alaih).

Yaaahh walaupun zaman sekarang sulit sekali menemukan orang yang seperti itu.

“Ya Alloh, lembutkanlah hatiku agar mudah tergerak untuk peduli pada orang lain, dan jagalah aq agar tetap mampu jujur bertanggung jawab dalam setiap perbuatanku.”

Kamis, 18 Oktober 2012