Oleh-oleh IBF


Inilah oleh-oleh hasil kelanaku di IBF:

  1. Setelah sholat maghrib, pandanganku diarahkan oleh-Nya ke buku “Optimis Haji Bisa Gratis” di stand Luxima. Mataku langsung melotot membaca kata H-A-J-I, secara itu kan impianku. Dan salah satu cara untuk menggapainya ya dengan lebih dulu membaca-baca buku tentang haji. Sebenernya banyak sekali buku yang berisi teknis pelaksanaan haji. Tapi aku tidak terlalu berminat. Makanya begitu liat daftar isi di buku ini, aku langsung antusias. Di dalamnya memang ada teknis pelaksanaan haji, tapi ada kisah nyatanya juga. Dan ngga perlu pikir panjang untukku membelinya. Harganya 32.000 discount jadi 22.000. Termasuk murah menurutku.
  2. Buku tipis berjudul “Mengerjakan PR Yuk”, kubeli untuk adikku. Keluaran Robbani Pers. Tadinya aku ingin membelikan buku cerita inspiratif yang bisa memotivasi mereka, secara mereka tuh lagi males-malesnya disuruh belajar, mandi, ngaji, makan, sholat, dan kerjaannya cuma maaiiinnn aja. Tapi aku ngga menemukan buku yang kuinginkan. Dan akhirnya pilihanku jatuh ke buku ini, dengan harapan adikku ngga males bikin PR lagi. Harganya 5.000 saja, dan dikasih bonus stiker sama kasirnya.
  3. Buku saku. Tadinya aku hanya tertarik dengan 1 judul, “Rokok Haramkah Hukumnya”, kupikir hanya 5.000, tapi ternyata 10.000 per 5 pcs. Wah, harus beli lima donk?! Ya sudah, mau ngga mau kupilih beberapa judul yang entah isinya menarik atau tidak. “Humor Madura untuk Penyegar Jiwa”, “Ketika Alloh Senang”, “Kebaikan di atas Kebaikan”, dan “Indahnya Bersyukur”.
  4. Di stand Gema Insani lah aku kesurupan. Dari dulu memang GIP selalu jadi penerbit favoritku. Karena dulu aku mengoleksi buku non fiksi dengan tajuk ‘Kado untuk Remaja’. Tapi sekarang sepertinya tajuk seperti itu sudah tidak cocok lagi buatku. 😦 Disini aku menemukan beberapa novel dan kumpulan cerpen yang harganya dibawah 20.000, jadi ya kupilih saja beberapa. “Mencari Belahan Jiwa”nya Ifa Avianti, “Bintang pun Tersenyum”nya Izzatul Jannah dkk, dan “Asa Musim Ketiga”nya Laura Khalida. Terakhir, dengan sedikit ragu, aku membeli seri “Aku Bisa Nulis Cerpen” karangan Joni Ariadinata. Yang terakhir ini awalnya aku agak ragu, lagipula harganya termasuk mahal. Jadi waktu bayarnya juga harap-harap cemas, mudah-mudahan buku ini memang bermanfaat untukku.
  5. Mushaf Ustmani Terjemah. Kubeli di Shorouk, lantai 2. Tadinya aku ngga berniat beli Al-Qur’an. Udah sangat bertumpuk di rumahku. Tapi begitu Mira nemu Al-Qur’an yang memang aku pengen -Mushaf Ustmani plus terjemah- jadi aku ikutan beli. Tidak ada pilihan, hanya tinggal warna hijau dan hitam. Ditambah ukurannya yang mini tapi harganya 65.000. Duh, kalau bukan karena jarang yang jual, mungkin aku akan mikir-mikir lagi belinya. Sekilas kulihat Al-Qur’an ini lengkap sesuai harapanku. Arab ustmani, ada terjemahan dengan judul terjemah dan catatan kaki di halaman yang sama, plus berwarna untuk tajwidnya. Tapiii.. Setelah ku-cek kembali di rumah, judul terjemahannya cuma ada di surat-surat awal, warna judul suratnya pun ada yang melenceng dan akhirnya menimpa terjemah isinya. Di bagian belakang untuk keterangan tajwid pun halamannya ada yang hilang. Hmm.. Jadi ragu, ini jangan-jangan terjemahnya juga ngaco lagi. Yah, but ‘no body’s perfect’ kan?? Di tengah kekurangannya, semoga saja kontent utamanya ngga keliru.
  6. Di lantai 2, tanpa direncanakan sebelumnya, aku membeli 3 manset, warna coklat, ungu, dan hijau pupus, seharga 5.000/pcs dan 1 kaus kaki biru, seharga 6.000. Untuk kaos kaki dan manset hijaunya memang udah lama aku cari-cari (ngga pernah nemu warna yang seperti itu). Suatu keberuntungan plus kebaikan dari Alloh menakdirkan aku menemukannya. ^^
  7. Terakhir, di kajian RemajaQu “Aspire to Inspire before Expire” oleh Ust Bendri dan Ust Bachtiar yang diadakan oleh Qgen, aku mendapat sebuah CD tentang bahaya syiah, lembaran berisi cara menyikapi syiah, serta brosur dan pin Qgen (Qur’an Generation).
  8. Aku juga mengumpulkan beberapa brosur dan katalog dari Mizan, ProUmedia, Al i’tishom, Luxima, dan Rabbani press.

Semoga semua oleh-oleh ini bermanfaat untukku kelak. Saranku kawan, sebelum membeli sesuatu, lebih baik berdoa dulu agar diberi petunjuk dan ditakdirkan untuk bertemu dengan yang terbaik. Tidak hanya saat membeli sesuatu sih, dalam kondisi apapun memang sebaiknya kita berdoa ya. ^-^

IBF, Islamic Book Fair


Untuk pertama kalinya, akhirnya aku berhasil ke IBF alias Islamic Book Fair yang diselenggarakan di Istora Senayan, tempat yang sama waktu aku wisuda dulu.

Walaupun pecinta buku, aku memang belum pernah datang ke bookfair. Dulu ibu dan bapak pernah kesana berdua aja dan membelikan aku buku yang aku idam-idamkan. 😳 Sekarang kalau inget itu rasanya pengen nangis. Mereka sayang banget sama akuu, sedangkan aku belum bisa berbuat banyak, terutama untuk Bapak semasa hidupnya..

Balik lagi ke IBF. Kenapa aku belum pernah kesana? Karena waktunya yang ngga pernah klop. Sehari-hari kerja, sabtu minggu kadang ada acara. Selain itu, aku juga ngga ada temennya. Mau dateng sendiri? Bisa-bisa ngga bisa pulang. Aku kan buta arah. Di mall aja ngeri, gimana ini, di senayan.

Dan kemaren, akhirnya aku berkonspirasi (???) sama Mira untuk ke IBF bareng. Janjian ketemu di BlokM dan selanjutnya nebeng Mira yang bikers.

Kita sampai disana jam 6an sore. Masuk dari pintu ‘entahlah’ dan langsung dihadapkan ke beberapa stand penerbit ternama, diantaranya stand Mizan. Cukup lama aku di Mizan, memilah-milah buku apa yang sebaiknya aku beli. Ada koleksi buku Dee, bukunya Okky Setiana Dewi, dan banyak novel dengan diskon 30% *kalau ngga salah* yang bikin aku galau. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk ngga beli apa-apa disana.

Akhirnya karena bingung dan ngga mau keterusan bingung, sebelum ngubek-ngubek IBF lebih dalam, aq menyelipkan sebuah doa di sholat maghribku, meminta agar Alloh menunjukkan jalan, buku apa yang sekiranya bermanfaat untukku. *terinspirasi dari ceramah yang kudengar*. Hehe… Dan setelah itu, aku benar-benar dimudahkan dalam pencarian. ^-^

Jam 9 kurang, kita berencana untuk pulang, karena memang sudah malam dan uangku sudah ludes. Rasanya pengen pake kacamata kuda biar ngga lirik kanan kiri lagi. 😛

Tapi tiba-tiba ketemu temen YISC yang lagi jaga stand. Aduh malunyaaa. Penampilanku kan acak kadut begini, bak preman terminal :mrgreen: Tapi ya sudahlah. Apa adanya saja. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, kita (aku, mira dan temannya mira) malah ditawarin untuk masuk ke ruang Anggrek karena ada kajian bagus. Begitu masuk, ternyata aku pun bertemu dengan anak YISC (lagi). Dan aku makin merasa seperti *maaf* telanjang, secara rata-rata yang ikut acara itu “akhwat beneran” semua (selain ikhwan). Aiiihh.. #tutup muka

Kajian berakhir jam 21.15 dengan ditutup oleh penampilan dari anak-anak Master. Iya, anak-anak Masjid Terminal Depok yang baru saja diulas meta. Kaget juga dengernya. Ngga nyangka, baru juga baca infonya di blog meta langsung dipertemukan sama anak-anaknya. Hebat ih, mereka bisa sampai kesini.


Aku tak lama menikmati pertunjukan mereka karena pikiran udah ngga fokus, takut keabisan angkutan umum. Akhirnya rencana sholat dan makan dulu pun batal. Kita langsung pulang, namun tertahan di parkiran. Apa pasal? Mira ngga bawa STNK. Dompetnya ketinggalan di kost-an coba!!! Disuruh sama abang parkir untuk nunggu sampai motornya abis. Trus aku gimana pulangnya???!!!

Tapi untungnya Mira ini anak gahol yang punya banyak temen. Di parkiran itu juga ada beberapa temannya yang ingin pulang, akhirnya merekalah yang jadi saksi kalau tuh motor emang bener punya Mira. Dan accident itu tidak berlanjut ke hal yang buruk. Alhamdulillah. ^^

Kemudian aku diantar Mira sampai pasar minggu. Ah Mira, terima kasih banyak. Semoga Alloh membalas segala kebaikanmu dengan berlipat.

Alhamdulillah, jam 11 malam aku sampai di rumah. Namun, masih ada rasa belum puas karena belum sempat menjelajah pelosok IBF dengan seksama. Mungkin untuk tahun depan, aku list dulu penerbit-penerbit yang berpotensi punya buku bagus. Biar ngga ngeblank kayak kemaren. Mudah-mudahan masih diberi umur untuk bisa hunting buku lagi di IBF tahun depan.