Jodoh Dunia Akhirat


Assalamu’alaikum Ghea
Waktu dan cuaca berubah
Tapi, keyakinan dalam hatiku tidak
Dia, terus tumbuh setiap hari tersiram doa
Keyakinan ini menguatkanku untuk terus memantaskan diri
Demi terwujudnya sebuah impian
Mimpi yang dulu sempat aku lepaskan
Mimpi tentang seseorang yang akan menjadi penyempurna agamaku di masa depan
Doa-doaku setiap malam memohon pada Allah untuk menunjukkan
Dan aku, aku tetap melihatmu, ada di masa depanku
Kamu, tetap menjadi impianku
Ghea, apakah kamu bersedia menjadi penyempurna agamaku?


Jodoh Dunia Akhirat
oleh: Kang Abay

Kumerayu pada Allah yang tahu isi hatiku
dimalam hening aku selalu mengadu
Tunjukan padaku…

Kuaktifkan radarku mencari sosok yang dinanti
Kuikhlaskan pengharapanku dihati
Siapa dirimu…

Dalam kesabaran kumelangkah menjemputmu
Cinta dalam hati akan aku jaga hingga
Allah persatukan kita….

Reff :
Jodoh Dunia Akhirat
Namamu rahasia
Tapi kau ada dimasa depanku

Kusebut dalam doa
Kuikhlaskan rinduku
Kita bersama melangkah ke surga, abadi…

“Bukan cinta yang memilihmu, tapi Allah yang memilihmu…Untuk kucintai…”

Download Jodoh Dunia Akhirat

[untitled]


“Akhwat yang ana mau itu wanita sholihah”

Kupandangi pesan whatsapp di group pengajianku. Kalimat itu bukan ditujukan untukku, tapi membacanya membuat dadaku sakit. Tentu saja, karena itu seperti sebuah sindiran halus. Sudah menjadi rahasia umum kalau pria yang menulis kata-kata itu dijodoh-jodohkan denganku oleh teman satu pengajianku.

“Akhwat yang ana mau itu wanita sholihah”

Ah, biarpun Hpku sudah kuletakkan jauh-jauh, kalimat itu selalu saja terngiang-ngiang.

Jadi, menurutmu, aku bukan wanita sholehah, Di?

Aku merasa pandanganku mulai kabur. Kuakui memang aku belum bisa menyandang predikat sholehah. Aku sendiri menyadari kalau aku masih jauh dari sosok muslimah sejati. Tapi entah, di “cap” bukan wanita sholehah terasa menyakitkan hati, sekalipun itu benar adanya.

Aku tahu tipe wanita seperti apa yang kau maksud, Di. Wanita yang menjulurkan jilbab dan kerudungnya menutup aurat dengan sempurna. Wanita yang kalem, tak banyak bicara hal yang sia-sia. Wanita yang rajin mengisi waktu luangnya dengan menghadiri kajian kemuslimahan. Wanita yang pandai menyiarkan kebaikan. Wanita yang ramah namun tetap menjaga pergaulan. Wanita yang menjaga izzahnya sebagai wanita. Begitu kan, Di? Dan itu bukan aku. Aku tahu itu.

Hey, bukan berarti aku mengharapkanmu. Kau pun tak sepenuhnya tipeku. Tapi kau tahu? Kalimatmu selalu membuat hatiku gerimis. Aku sedih. Bukan karena aku bukanlah tipemu. Aku sedih. Karena aku tahu aku memang bukan, belum, menjadi wanita sholehah. Yah, aku harap ini hanya belum. Wanita muslim  mana yang tidak ingin menjadi sholehah?

Dan kau tahu, Di? Aku sedih. Sedih karena kalimatmu memupus harapanku. Apa menurutmu tipe wanita sepertiku tidak pantas bersanding dengan seorang ikhwan sholeh? Padahal aku berharap Robb-ku, Robb-mu masih mau berbaik hati menakdirkanku dengan seorang pria berilmu dan bertaqwa walau dengan aku yang masih seperti ini.

Kau tahu Mas Adam Di? Kau bisa melihat seperti apa kesholehannya. Dan simaklah apa yang pernah ia katakan padaku.

“Istri saya bukan seorang akhwat sejati, namun ketika niatan saya/pria manapun mantap untuk memilih, maka hal itu akan dijadikan ladang dakwah buatnya. Lebih baik memilih istri yang biasa namun kita berusaha untuk “membentuknya” menjadi istri sholehah.”

Bahkan Mas Adam yang kesholehannya tak perlu dipertanyakan memilih wanita yang “biasa”. Saat pernikahannya, istrinya mungkin belumlah seperti wanita yang mungkin kau bayangkan sebagai sosok sholehah. Dan kata-kata Mas Adam itu menyejukkanku. Menumbuhkan lagi mawar yang hampir layu. Sehingga aku masih terus berharap dan mengimbanginya dengan perbaikan kecilku menjadi lebih baik.

Lalu, kau datang dengan kalimat yang seakan sebuah godam. Kau lempar asaku ke lembah terdalam. Aku sedih. Aku layu. Tahukah kau? Hatiku menangis. Tahukah kau?

Ah, tak perlu kau tahu. Kau tahu pun untuk apa? Aku tetaplah seperti ini. Aku masih belum bisa sholehah.

Suara dari Hp membuyarkan lamunanku. Sebuah pesan whatsapp masuk. Kali ini dari teman kuliahku. Teman yang juga dijodoh-jodohkan denganku.

“Nanti sore ada waktu ngga? Diajakin karokean sama anak-anak.”

Aku terdiam. Menatap nanar.

Ini kan Di, yang kau maksud? Aku memang bukan wanita sholehah.

Tak tertahankan, air mataku pun bercucuran.

 

-bersambung-

JoHan (Jodoh di Tangan Tuhan)


Kau mengusikku sejak pertemuan pertama
Mendekatkan kita di pertemuan berikutnya
Pandanganmu seolah mengartikan rasa
pun sikapmu yang menyiratkan suka
Namun kelumu meniadakan semua

Ah, andai kau tahu
bahwa ada hal-hal yang harus diucapkan agar orang lain bisa mengerti
Andai kau pun sadari
sesungguhnya selama ini aku menanti pasti

Kau memang mampu pahami kebawelanku layaknya ku pahami keangkuhanmu
Namun aku yang selalu mengisi seakan tak berarti karena kau tak ingin membuka diri
Kau hanya diam dalam kebaikan hati
Maka jangan salahkan bila aku tak sanggup mengerti, lelah menyingkap apa yang tersembunyi

Dan saat raguku kemudian menghantui
Sunyimu kemudian menjaraki
Pada akhirnya kita sadar dunia kita berbeda
Kau dengan hingar bingarmu dan aku dengan kesederhanaanku

Tanpa terucap, kita seolah sepakat
Kau tuju suksesmu, aku pun menggapai suksesku

Entah apakah sukses kita ada di puncak yang sama
Entah akankah bersatu ada dalam garis takdir kita
Bersama, melapangkan dada, relakan semua
Karena jodoh, sungguh hanya ada dalam kuasa-Nya

***
Jodoh Di Tangan Tuhan (Johan)
oleh: RaBel

Ku punya dunia, Dunia ku begini
Ku punya mata, Ku punya telinga
Jangan anggap ku batu, Tak punya perasaan
Melihatmu dengannya, Aku Panas

Ku punya dunia, Dunia ku begini
Ku punya hati, Punya perasaan
Coba raba batinku, Coba tatap mataku
Melihatmu dengannya, Ku cemburu

Reff:
Cinta mengapa harus rumit
Biar begini wanita ku nanti satu
Siapa dia biar hatiku yang tahu
Ku pasti setia tapi nanti

Cinta bisakah jadi mudah
Kau berkelana masa’ aku harus diam
Biar saja kita jalani masing-masing
Jodoh di tangan Tuhan
Biar saja

Download Jodoh Di Tangan Tuhan (Johan)