Tanya Jawab Matrik IIP #9


1⃣ Wita
Mbak, saya mohon penjelasan untuk pernyataan yang ini “Bila suami protes berarti warning lampu kuning dan bila anak-anak yang protes berarti warning lampu merah”. Logika saya, ‘kepemilikkan’ yang paling tinggi untuk seorang wanita menikah kan di suaminya, kenapa warningnya suami dikalahkan oleh warningnya anak-anak ?

🔉1⃣ Mb Wita, dalam usaha kita belajar menjadi seorang IBU profesional tentu izin tertinggi ada pada suami tapi saat menjalani proses tersebut customer utama kita adalah anak-anak, jadi saat customer kita protes atas proses yang kita jalani maka itulah lampu merah bagi kita ✅

 

2⃣ Tria
Bagaimanakah kita sebagai ortu membimbing anak-anak menjadi orang yang memiliki ‘keinginan untuk bermanfaat’ bagi umat/masyarakat?

🔉2⃣ “Children see children do” mb Tria, jadi aktiflah di berbagai kegiatan sosial supaya mereka melihat contoh nyata yang dilakukan ortu mereka, lalu ajaklah mereka terlibat dalam aktivitas tersebut. Saat anak ada di usia pra baligh buatlah project-project sosial keluarga dengan mereka sebagai motornya, in syaa allah bisa mengasah kepekaan sosial mereka ✅

 

3⃣ Ardiani Putri
Anak saya masih 19m, pernah suatu ketika saya ikut sebuah kelas sertifikasi untuk menambah jam terbang saya sehingga harus meninggalkan anak saya dengan keluarga lebih dari 8 jam. Ternyata sesampainya di rumah anak saya sedang menangis sambil memeluk jilbab dan baju saya, tidak mau dipegang oleh siapapun. Apakah ini termasuk lampu merah bagi saya untuk berhenti menambah jam terbang di luar rumah? Adakah tipsnya untuk melatih anak mandiri ketika saya sedang beraktifitas di luar? Atau baiknya saya selesaikan tahapan bunda sayang dan bunda cekatan terlebih dahulu?

🔉3⃣ Melatih kemandirian anak ada dalam materi bunda sayang mb putri. Itulah kenapa bunda produktif/bunda shalehah harus melewati tahapan bunda sayang dan bunda cekatan dulu, supaya tidak terjadi hal-hal yang mengusik ketentraman hati 😊✅

 

4⃣ Poppy
Saya pernah berbincang dengan salah satu ibu, yang saya lihat punya potensi untuk aktif di lingkungan. Tapi keluar pernyataan dari beliau bahwa: “beberapa orang meragukan saya karena terlihat tidak pandai mengurus rumah tangga”. Pertanyaan saya, apa standarnya/indikatornya seorang ibu BOLEH aktif di luar rumah, selain restu suami dan anak-anaknya? Misalnya, apakah usia anak bungsu harus minimal 14 tahun? dsb.

🔉4⃣ Menanggapi pernyataan teman mb poppy di atas: The only reality is OUR PERCEPTION, maka buatlah persepsi positif terlebih dahulu dengan diri kita, setelah yakin, masukkan persepsi positif dengan orang-orang di sekitar kita. Di IIP Indikator seorang ibu dipersilahkan aktif di luar rumah selain restu suami dan anak adalah sudah punya pijakan yang kuat di tahapan bunsay dan buncek. ✅

 

5⃣ Nira
Bagaimana nasib kuadran suka tapi tidak bisa, ketidak-bisaan karena manajemen waktu misalnya, bagaimana proporsi waktunya,

🔉5⃣ BISA itu berkaitan dengan kemampuan. SUKA berkaitan dengan rasa. Jika MAU sedikit berdisiplin di manajemen waktu in syaa allah mb Nira pasti BISA produktif di bidang tersebut, semangat yaaaa… ✊🏼✅

 

6⃣ Dinda
Ada peribahasa bilang perempuan itu tidak akan bisa fokus kerja di ranah publik jika pekerjaan di ranah domestik belum tuntas. Dan lelaki itu tidak akan bisa fokus di urusan keluarga jika pekerjaannya di kantor belum tuntas.
Bagaimana ya menyeimbangkan keduanya agar bisa sukses di rumah dan bisa menambah jam terbang juga di ranah publik. Adalah tips dan triks berbagi tugas dengan suami agar bisa sukses di keduanya juga. Karena kesuksesan keluarga akan terjadi jika suami istri bisa berkolaborasi dengan tepat.

🔉6⃣ Tips dari pak Dodik saat kopdar 2 minggu lalu adalah banyak-banyaklah ngobrol dan melakukan berbagai aktivitas bersama keluarga (suami dan anak-anak). Sehingga komunikasi bisa cair dan kolaborasi antar anggota keluarga lebih mudah dilakukan. ✅

 

7⃣ Marie
Bagaimana menyikapi keadaan dimana kita berada di lingkungan yang bisa dibilang individualistis dan sulit untuk bekerja sama? Bagaimana menumbuhkan empati di lingkungan seperti itu? Mengingat sudah beberapa kali dicoba untuk menggerakkan lingkungan tersebut namun hasilnya tidak signifikan. Apakah mencari lingkungan lain atau bagaimana? Terima kasih.😊

🔉7⃣ Menurut saya poin utama dalam menjadi agen perubahan adalah kontribusi apa yang bisa kita bagikan untuk lingkungan sekitar mb Marie, sehingga kita fokus ke dalam bukan terpengaruh dengan kondisi lingkungan luar.
Emphaty ditumbuhkan dari perubahan-perubahan yang sudah kita buat dalam lingkup keluarga kita. Misal kita sudah sukses menjalankan 3R di rumah kita, semua anggota keluarga fasih melakukan 3R. Kemudian kita lihat lingkungan sekitar belum aware dengan program tersebut. Kita ingin meluaskan kegiatan tersebut ke lingkungan RT kita, maka kita akan dengan senang hati merintis usaha tersebut, bisa juga dengan melibatkan anggota keluarga sehingga keluarga tidak ditinggalkan. Banyak sedikitnya tetangga yang ikut kegiatan ini bukan tujuan utama kita.
Apalagi jika ditambah passion maka akan bermunculan ide-ide kreatif untuk menemukan solusi dari setiap tantangan yang muncul. ✅

 

8⃣ Wiwit :
Ibu sebagai Agen Perubahan! Saya sepakat sekali dengan statement tersebut. Ingin sekali berbagi kebaikan dengan ibu-ibu di lingkungan sekeliling saya. Hanya saya ingin mendapat ilmu lebih bagaimana cara berkomunikasi yang lebih baik dalam menyampaikan pesan. Mohon pencerahan, apakah IIP mempunyai materi/pelatihan/saran media untuk ilmu komunikasi yang efektif untuk masuk di lingkungan yang heterogen (latar belakang & sosial yang berbeda-beda)? Karena menurut saya hal ini sangat membantu peran kita Ibu sebagai agen perubahan. Jazakillah Khairan Katsira 😊🙏🏼

‬ 🔉8⃣ Saya baru 10 bulan bergabung dengan IIP, dalam waktu yang singkat ini saya belum sepenuhnya mengikuti semua materi yang ada di IIP. Yang saya tahu beberapa kota memiliki rumah belajar public speaking, di sana member bisa menggali ilmu tentang cara berkomunikasi yang baik.
Usulan mb wiwit sangat bagus, bisa menjadi masukan bagi IIP depok untuk membuka kelas minat dengan materi komunikasi efektif untuk tahapan bunda sholehah 🙏🏼✅

 

9⃣ Asti
Bu Septi, mohon maaf sebelumnya, terus terang hingga saat ini saya sangat “berbinar-binar” mengikuti tahap demi tahap matrikulasi ini. Dari sejak materi pertama (Adab sebelum ilmu) ibu sudah mengajak saya (dan kami, peserta matrikulasi) untuk menuntut ilmu dengan cara mulia supaya meningkatkan kemuliaan hidup. Membuat saya juga semakin bersemangat mempelajari Islam. Banyak sekali ilmu tentang manajemen waktu yang “nyantol” di saya, misalnya di sesi 6: Demi masa, semoga kita semua tidak termasuk golongan orang yang menyia-nyiakan waktu.
Kali ini saya “tergelitik” untuk bertanya, kenapa di sesi ke sembilan ini ibu malah menggunakan prinsip dan pola Kaizen? Di materi ke 9 ibu menyatakan bahwa Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan. Apakah di Islam tidak ada filosofinya? Misalnya di Surat Al Ashr yang tersirat pada sesi 6, atau di surat Al-Hasyr ayat 18 yang mengajak orang beriman untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, atau mungkin manajemen waktu bila ditilik dari filosofi dalam sholat: tepat waktu, bersih, rapi dan rapat dalam barisan shaf? Mohon penjelasannya ya bu. Terimakasih sebelumnya

🔉9⃣ Pertanyaan ini ditujukan untuk bu Septi jadi saya forwardkan langsung ke beliau. Jika sudah dijawab akan saya sampaikan di grup ini ya mb Asti 😊

Kaizen merupakan aktivitas harian yang pada prinsipnya memiliki dasar sebagai berikut:

  • Berorientasi pada proses dan hasil.
  • Berpikir secara sistematis pada seluruh proses.
  • Tidak menyalahkan, tetapi terus belajar dari kesalahan yang terjadi di lapangan.

[Materi ini ada di Bunda Cekatan secara lengkapnya, saya ambil beberapa point penting]

Beberapa point penting dalam proses penerapan KAIZEN yaitu :

❤Konsep 3M (Muda, Mura, dan Muri) dalam istilah Jepang. Konsep ini dibentuk untuk mengurangi kelelahan, meningkatkan mutu, mempersingkat waktu dan mengurangi atau efsiensi biaya. Muda diartikan sebagai mengurangi pemborosan, Mura diartikan sebagai mengurangi perbedaan dan Muri diartikan sebagai mengurangi ketegangan.

❤Gerakkan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) atau 5R. Seiri artinya membereskan tempat kerja. Seiton berarti menyimpan dengan teratur. Seiso berarti memelihara tempat kerja supaya tetap bersih. Seiketsu berarti kebersihan pribadi. Seiketsu berarti disiplin, dengan selalu mentaati prosedur di tempat kerja. Di Indonesia 5S diterjemahkan menjadi 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin.

❤Konsep PDCA dalam KAIZEN. Setiap aktivitas usaha yang kita lakukan perlu dilakukan dengan prosedur yang benar guna mencapai tujuan yang kita harapkan. Maka PDCA (Plan, Do, Check dan Action) harus dilakukan terus menerus.

❤Konsep 5W + 1H. Salah satu alat pola pikir untuk menjalankan roda PDCA dalam kegiatan KAIZEN adalah dengan teknik bertanya dengan pertanyaan dasar 5W + 1H ( What, Who, Why, Where, When dan How).

 

🔟 Tantia
Terkadang ketika kita aktif di masyarakat kadang ada kalanya anak protes, apakah ini termasuk lampu merah (warning keras), apa yang harus dikuatkan akan berjalan dengan selaras?

🔉 🔟 Mohon lihat jawaban no.4 ya mb Tantia ✅

Tantia:
Berarti kalau sesuai point 4⃣, bunsay n buncek ya? Apakah itu harga mati? Ketika itu belum kuat kita tidak bisa keluar, berperan di masyarakat?

🔉Bukan harga mati mbak, itu idealnya. Jika memang kita harus ada di ranah publik maka konsekuensinya harus mengejar tahapan bunsay dan buncek supaya hati tentram

Tantia: Baik mba. Berbicara tentang tentram, apakah indikator tentram itu?

🔉Imho, Tentram itu jika semua berjalan selaras dan harmoni sesuai yang kita kehendaki. Bisa juga kita berperan keluar dengan tetap melibatkan anak-anak sehingga waktu kita membersamai mereka tidak berkurang. Saya cuplikan tanya jawab pada matrikulasi batch 1 tentang ketentraman sbb:

Kenapa Ibu menekankan kata tenteram? -_Adakah berkontribusi kebermanfaatan seseorang tapi ia tidak tenteram? Dalam konteks kasus positif maksud saya._

Jawaban: Ketika dasar mulainya kebermanfaatan ini bukan didasari sebuah niat kuat untuk memperbaiki keluarga kita. Contoh saya merasa sudah bermanfaat untuk banyak orang dengan membuka kelas untuk ibu-ibu. Namun selama menjalankan kebermanfaatan ini, anak-anak saya merasa terlantar, karena ibunya asyik sendiri dengan “kelas yang rasanya sebagai program kebermanfaatan”.  Lama-lama hati kecil kita pasti akan terusik, karena melihat kondisi anak-anak kita. Hal ini membuat kita TIDAK TENTRAM. Karena sebuah ketidakseimbangan.

Saya tambahkan sedikit, biasanya program kebermanfaatan yang membuat kita TIDAK TENTRAM itu bermula dari sebuah PELARIAN. Lari dari kenyataan hebohnya menjadi ibu, lari dari kenyataan kondisi penindasan di dalam rumah sendiri, lari dari kenyataan tidak sukanya kita terhadap anak-anak. Lari dari kenyataan Status seorang ibu rumah tangga dan lain-lain.

 

Matrik IIP #9 : Bunda sebagai Agen Perubahan


Matrikulasi IIP batch #2 sesi #9

BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena

“mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”

Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan maka akan terbentuk perubahan 1 generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impactnya.

Darimanakah mulainya?

Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang mungkin menjadi “MISI SPESIFIK HIDUP KITA”. Kita harus paham JALAN HIDUP kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai CARA MENUJU SUKSES.

Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1 anda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi CHANGEMAKER FAMILY.

Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan.

Maka gunakan pola kaizen (Kai = perubahan, Zen = baik). Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran 2 yaitu masyarakat/komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan anda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal kecil yang kita bisa.
START FROM THE EMPHATY

Inilah kuncinya.

Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga. Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

Setelah EMPHATY maka tambahkan PASSION, hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masayarakat.

KELUARGA tetap no 1, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes, maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarakat.

Inilah indikator bunda shalehah, yaitu bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya. Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan “Rasa TENTRAM”.

 

Salam

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :

Masaaki Ima, Kaizen Method, Jakarta , 2012

Ashoka Foundation, Be a Changemaker: Start from the Emphaty, 2010

Materi-materi hasil diskusi keluarga bersama Bapak Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari, 2016

Link Video Matrikulasi IIP Sesi 9 : Bunda Sebagai Agen Perubahan

Tanya Jawab Matrik IIP #6


—————————————————————————-
Tanya Jawab

1⃣ Mimil
Bun, sering kali ketika saya telah membuat schedule dan menjalankannya, kadang merasa seperti terjebak dalam rutinitas, ada rasa bosan, bagaimana cara mengubah kegiatan yang sudah rutin agar tidak hanya menggugurkan kewajiban dan kita tidak merasa monoton? Contoh, memasak, mengantar anak ke sekolah, padahal saya tau dan niatnya sudah bulat. Tapi kadang diri masih merasakan ada kebosanan. Bagaimana memelihara niat agar bekerja dengan hati? Bahwa semua ini bukan beban dan bukan rutinitas yang bikin bosan sehingga timbul keinginan menghindarinya. Terimakasih

➡1⃣ Jenuh dengan rutinitas itu hal yang sangat wajar mb mimil, saya pun kadang mengalaminya. Yang saya lakukan adalah tafkiyatun nafs, mengingat kembali peran hidup saya di dunia ini, lalu saya melihat lagi jadwal harian saya, apakah ada yang perlu diapdet supaya saya lebih nyaman terutama menyangkut tugas-tugas rutin harian, apakah saya bisa membuat rutinitas tersebut menjadi aktivitas yang menyenangkan, apakah saya sudah alokasikan waktu untuk refreshing sejenak dari rutinitas, dsb ✅
2⃣ Siti Muslihah
Bagaimana cara meningkatkan kompetensi diri pada periode galau (misalnya saat fisik drop, tanpa ART untuk delegasi, sementara suami juga sibuk kerja atau kerjanya LDR) kadang manusiawi merasa jenuh dengan rutinitas ranah domestik, bahkan kadang teringat juga ingin kembali bisa kerja di ranah publik (bidang yang juga membuat mata berbinar)?

➡2⃣ Lihat jawaban no.1 ya ☺

Jenuh itu sangat wajar, maka saat kita jenuh, kita coba berhenti sejenak (berpikir) untuk mengatur strategi yang lebih kreatif dan menyenangkan. Lalu bagaimana jika mengalami kelelahan? Maka silahkan bunda cek dan ricek, pasti ada ketidakseimbangan disana. Entah itu kita kurang istirahat, asupan kita kurang sementara energi banyak terbuang habis, pikiran kita butuh direfresh atau kita butuh me time. Coba diskusikan dengan suami dan anak-anak tentang hal ini.

 

3⃣ ulfa
Mengenai pendelegasian tugas. Yang ingin saya tanyakan adalah tentang pendelegasian tugas domestik kepada ART. Bertahun-tahun kemarin, saya bekerja hampir full day. Karena selain mengajar di full day school juga mengelola sebuah yayasan. Saya punya ART di rumah yang hanya membantu saya dalam tugas domestik. Sementara urusan anak, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya dan suami. Sekarang saya resign dan merasa sangat tidak terampil dalam melaksanakan tugas domestik. Akhirnya saya memutuskan memberhentikan ART dengan hormat karena ingin belajar kembali menghandle pekerjaan rumah. Tapi suami saya berharap kami tetap punya ART karena beliau berharap saya lebih fokus dengan pengembangan diri saya (seperti yang saya tulis di NHW#1).

Mohon saran. Apakah saya harus mengikuti keinginan suami saya memilki ART (pulang pergi) atau saya tetap berusaha berlatih agar target saya tercapai (menjadi buncek)? Jazaakillaah khayran katsir..

➡3⃣ Teh ulfa, menjadi bunda cekatan bukan berarti semua harus ditangani sendiri ☺
Kalo sanggup (mampu dan mau) akan lebh baik, karena kita akan walk the talk. Tapi kalo tidak sanggup dan butuh bantuan, maka kita harus meningkatkan peran kita dengan mendelegasikan tugas kepada ART, tantangannya adalah bagaimana mendidik ART supaya bisa melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar kita, itu juga salah satu target buncek. ✅

 

4⃣ Wiwit
Saya merasa tertampar dengan materi sesi ke-6 ini. Deeply Question! Apa motivasi ibu bekerja. Tetapi saya masih merasa kesulitan untuk cara yang ke-3 menangani kompleksitas tantangan menjadi ibu, yaitu Delegating. Terkadang saya ingin sesuai dengan standar saya saja (cenderung perfeksionis). Mohon pencerahan dari tim fasilitator? Jazakillah khairan katsiraa 😊🙏🏼

➡4⃣ Lakukan pendelegasian tersebut secara bertahap mb wiwit, sama seperti kita melatih anak kita.
Latih-percayakan-kerjakan-tingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-tingkatkan lagi dst sampai mencapai standar yang kita mau ✅

 

5⃣ Maria susanti
Apakah tolak ukur kita BERUBAH atau KALAH itu mesti 10.000 jam terbang dulu ya? Kalau masih seperti itu juga aktifitas kita tiap hari berulang-ulang sampe bertahun berarti kita sudah dibilang KALAH ya mba. Bisa tolong dijelaskan mba?

➡5⃣ Kalo menunggu 10rb jam terbang baru tersadar kalo KALAH kok ya sayang banget ya mba 😅 Bisa kita cek dari milestones yang sudah kita buat, jika tidak ada peningkatan segera evaluasi ✅

 

6⃣ Nana
Saya tertarik dengan penjelasan ibu septi di bagian pengembangan peran. Apakah ada tipsnya, bagaimana agar kita bisa memulai, menemukan dan memperbanyak peran-peran yang bisa kita perkaya bagi seorang ibu?

➡6⃣ Peran seorang ibu itu sangaat banyak, mengurus finansial, guru, koki, perawat dsb. Pilih salah satu dari peran tsb, lalu tingkatkan levelnya secara bertahap mulai dari sekarang ✅

 

7⃣ Diyan
Saat masih bekerja saya lebih saklek dengan kerapihan rumah, jadi sering ngomel kalau saat pulang rumah berantakan, terutama saat suami di rumah bersama anak. Saat sudah resign, saya berusaha untuk menurunkan target kerapihan rumah, lebih santai dan tidak pakai ngomel-ngomel lagi. Tapi dalam hati saya ngedumel sendiri, saya jadi merasa ini tidak sehat, tapi ga mau pake ngomel juga. Saya cenderung cepat naik darah, kalo kata orang. Jadi bagaimana saya sebaiknya bersikap ya mbak?

➡7⃣ Pilih kondisi yg paling nyaman buat mb Diyan 😘✅

 

8⃣ Tantia
Bagaimana menyikapi/apa yang harus kita lalukan jika ada tamu yang tidak diundang, misal tetangga tanpa janjian datang, dan ngobrol panjang lebar sementara agenda kita belum selesai? Di sisi lain tetangga tersebut juga butuh bantuan dari kita

➡8⃣ Kalo ini terjadi pada saya, saya akan luangkan sejenak waktu untuk tetangga tersebut, katakan 15-30 menit. Setelah itu saya akan katakan kalo ada urusan yang harus saya selesaikan, ngobrolnya disambung lain waktu ✅

 

9⃣ Nia
Apakah bunda sebagai manajer keluarga harus bisa melakukan semua hal dengan tangannya sendiri? Di saat anak-anak masih balita dan kondisi yang ga memungkinkan untuk ada asiten rumah tangga atau sarana bantuan lainnya dalam rangka pendelegasian tugas, bagaimana mengatur semua tugas ibu? Skala prioritasnya bagaimana?

➡ 9⃣ Prioritaskan yang paling PENTING dan MENDESAK dulu mb Nia, bertahap sampai yang paling TIDAK PENTING dan TIDAK MENDESAK
🔟 Laela
“Pendidikan anak sebagai aktivitas utama seorang ibu, jika harus mendelegasikan ke orang lain adalah pilihan terakhir”. Apakah disini bisa diartikan sebagai Home schooling adalah pilihan yang terbaik? Atau tergantung pada anak, dan bagaimana melihat anak lebih cocok HS atau sekolah untuk anak usia preschool (4-6 th).

➡🔟 Menurut saya bukan soal HS atau sekolah formal, pada dasarnya amanah yang kita emban sebagai orang tua adalah “Mendidik Anak” dengan ilmu dan akhlak yang baik. Jika kita merasa ilmu kita kurang, maka tugas kita untuk selalu upgrade kemampuan tersebut ✅

diskusi tambahan
🔉 Tria
Jadi sebenarnya, apakah kita yang menentukan kita sanggup untuk HS atau anak yang menentukan dia mau sekolah formal atau HS dengan kita di rumah?
➡Saya juga sempat galau menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak, di saat pilihan untuk HS menggiurkan. Tapi memang benar schooling atau unscholling, mendidik adalah kewajiban ortu, home education adalah keharusan bagi kita
➡Saya pribadi menyerahkan pilihan tsb kepada anak. Jika dia senang dengan sekolah formalnya maka saya akan berkolaborasi dengan guru-gurunya, saling melengkapi, itu yang saya lakuian sekarang
➡Ibu madrasah utama dan pertama, sekolah hanya ikhtiar untuk mengisi waktu anak saat saya tinggal bekerja di ranah publik.