Butterfly JH8530A — Idaman


September, memang jadi bulan istimewa untukku, karena biasanya, aku mewujudkan keinginanku untuk membeli suatu barang “mewah” di bulan ini, bertepatan dengan berulangnya tanggal kelahiranku.

Pun September tahun ini, kuperlakukan sama. Kalau di September-September sebelumnya adalah momentku untuk berganti HP, maka kali ini agak berbeda.

September ini aku akan membeli barang “mewah” yang sudah dari dulu aku idamkan. Bahkan sampai ku post di kategori wanted ini.

Yup. A Portable Seewing Machine.

Akhirnya setelah bertahun-tahun bersabar, berlama-lama menimbang, kuwujudkan pula satu mimpiku itu. Sebenarnya aku sudah merencanakan membelinya dengan THR tahun ini. Namun, aku ingin ada perjuangan dalam mendapatkan apa yang kumau, sehingga aku bisa lebih menghargai barang yang kubeli itu.

Pun dengan mesin jahit portable itu, kuajukan sebuah syarat untuk bisa membelinya. Syarat yang tak mudah, tapi juga masih bisa untuk dilakukan: khatam hafalan Al-Qur’an juz 30. Memang sebelum-sebelumnya aku sedang mengikuti program hafalan, dan sudah lebih dari setengahnya kuhafal. Jadi, sebagai pemicu motivasi, ku iming-imingi diri ini dengan barang idamanku itu.

Tak mudah memotivasi diri ini. Pada suatu titik, aku hampir menyerah dan rasanya ingin tetap membelinya saja, sekalipun hafalanku belum khatam. Tapi ini ujian, untukku tetap bertahan, istiqomah dalam memegang tujuan.

Ujian lain pun sempat datang saat HPku tersayang mulai ngadat-ngadat. Sempat was-was, khawatir kalau duitnya malah akan terpakai untuk membeli HP bila Hpku satu-satunya ini tiba-tiba tewas.

Tapi Alhamdulillah, dengan niat yang mungkin tak sekokoh karang dilautan, prinsip yang mungkin tak seteguh sebuah mercusuar, akhirnya mimpiku bisa terealisasi dengan lancar.

Dan tepat di tanggal 8 September 2013, Butterfly JH8530A resmi menjadi milikku. Yeaaiii…

flyie

Aku mengalami masa dilema sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada si pemilik simbol kupu-kupu ini. Brother GS 2700 dan Messina L 21 sempat menjadi pesaing. Namun, dengan beberapa pertimbangan, pilihanku jatuh pada si flyie ini.

Ini dia spesifikasi singkatnya:
• Pengoperasian menggunakan pedal (dinamo)
• Tidak bising pada saat dioperasikan (menjahit)
• Dapat menjahit segala jenis ketebalan bahan maximal jeans minimal sifon, licra.
• Tersedia pemutus benang.
• Tersedia alat untuk membantu memasukan ujung benang kelubang jarum.
• Terdapat 23 pola jenis jahitan (jahit lurus, semi obras & semi neci, lubang kancing, pasang kancing, border, dll)
• Tersedia diagram cara memasang benang pada body mesin.
• Dapat menggunakan double needle.
• Buat lubang kancing otomatis 4 langkah
• Sparepartnya mudah dicari/umum.
• 64 Watt ada lampu lebih hemat listrik.

Sumber: wiramesinjahit.blogspot.com

Pertama menggunakannya, aku merasa harus extra hati-hati. Entah, mungkin karena body-nya yang bukan terbuat dari besi seperti mesin jahit tradisionalku yang lama, sehingga terkesan rawan rusak, pun dengan segala kemudahan fasilitas dan ragam jahitannya, membuatku khawatir ketahanannya menjadi rentan. Kekurangan yang lainnya adalah kecepatannya masih dibawah mesin jahit tradisional. Dan jahitan semi obrasnya ternyata diluar ekspektasiku.

But, overall, I luv it. Sudah terbayang aku akan menggunakan flyie ini untuk more experiment. Semoga ini menjadi awal yang baik. Dan selangkah pasti menuju mimpi. Bismillah, berkahi Ya Allah.

Baidewai, tentang hafalan, jangan dipikir aku sudah expert ya, aku baru dalam tahap khatam (yang dipaksakan). So, sekedar menjamah semua surat untuk paling tidak pernah dihafal. Hehehe… Tak pernah murajaah membuat hafalanku melemah, maka, aku butuh proses kembali untuk menajamkan dan memperlancar hafalanku. Minta doanya sob, semoga aku bisa menjadi lebih baik dan terus jadi lebih baik. Semangat Be Better Person!!!

Antara Handphone dan Belahan Jiwa


–first question–

Hari gini siapa sih yang ngga punya Hp??? Kayaknya jarang yaa. Hp tuh udah bukan barang mewah lagi, mudah didapat, dan tersedia dalam berbagai model dengan harga beragam. Aku sendiri, sudah 5 kali ganti model Hp namun masih tetap setia dengan brand yang sama.

–second question–

Hari gini siapa sih yang ngga punya belahan jiwaa??? *tunjuk tangan sambil teriak “saya” dalam hati*. Ternyata, tidak seperti Hp, belahan jiwa ini agak sulit didapat. Mungkinkah karena “model” dan “harga” yang selalu berbeda dan tak pernah ada yang sama sehingga bingung menjatuhkan pilihan? Entahlah. Aku sendiri tak pernah gonta ganti belahan jiwa, karena bagiku, belahan jiwa adalah seseorang yang punya nyali untuk “membeliku” dengan “harga termahal” yang dia mampu. Tapi kalau sekedar naksir-naksiran sih sering yaa.. Karena pada dasarnya tertarik sama lawan jenis tuh mudah. 😉

Lalu, apa hubungannya antara Hp dan belahan jiwa?

Beberapa waktu yang lalu aku sempat merenung dan berpikir. Bahwa antara memilih dan memiliki Hp dengan memilih dan memiliki belahan jiwa itu ada keterkaitannya alias mirip.

Tanpa bermaksud promo, Hp yang kumiliki sekarang ini adalah Nokia type E5-00. Hp yang kupilih dan kumiliki sejak tahun 2011 mendekati akhir. Nyaris 2 tahun. Di awal tahun 2012 sempat bermasalah dan pernah ku-service di gerai Nokia. Dan sekarang, seperti inilah penampakannya:


Hp-ku sudah “ompong” 1, “gigi” koma-nya hilang, tapi untungnya masih bisa disiasati dengan tombol symbol. Namun, sejak tiga hari yang lalu “gigi” S nya mulai “otek”, kali ini kalau sampai ompong, maka Hpku udah ngga bisa dipakai lagi. Bisa sih, tapi apa serunya menggunakan Hp dengan tombol S yang tidak berfungsi? Pengen cari casing-nya, tapi emang masih ada yang jual ya? (secara model lama). Akhirnya untuk sementara ku-solasi-in aja keypad-nya.

Kenapa ngga ganti Hp aja??

Mungkin ada yang bertanya begitu. Ah, seandainya mengganti Hp itu semudah membalik gorengan tempe. Entah apa karena aku yang notabene bertipe melankolis sehingga terlalu setia atau memang aku ini tipe wanita hemat yang cenderung pelit??

Yang jelas, setiap orang lain menyarankan untuk ganti, dan aku mulai berpikir kesana, hati kecilku berontak, dan akhirnya yang keluar adalah kata:

“Udah terlanjur cintaaaaa”

Iya, aku memang udah terlanjur cinta sama nih hengpong. Padahal sebelum aku menjatuhkan pilihan padanya, aku sempet ragu, karena aku ngga suka Hp lebar begitu (baca: Qwerty), aku terbiasa memegang Hp batangan yang mungil dan hanya segenggaman tangan.

Tapi sekarang, saat akhirnya pilihanku jatuh pada Hp ini, aku begitu sayang dan tak ingin melepasnya. Rasanya jiwaku sudah menyatu padanya. Aku merasa tak ada yang bisa menggantikan posisinya, mengambil alih peran istimewanya dalam keseharianku (lebayatun). Apalagi Hp jaman sekarang itu touchscreen semua. Kalaupun Qwerty, ya BB. Aku tidak sukaaaaa…

Hp ini, di tengah ketidaksempurnaannya, justru kuanggap sangat sempurna bagiku. Keypad Qwerty-nya memudahkan aku untuk mengetik. Active Notes-nya memudahkan aku untuk setiap saat menuangkan ide ke dalam tulisan dan otomatis tersimpan di memory card sehingga dapat dipindahkan ke kompie kapan aja. Aplikasi office-nya memudahkan aku untuk membuka dan meng-edit dokumen-dokumen yang tersimpan. OS Symbian-nya yang ngga terlampau kuno memudahkan aku menggunakan aplikasi seperti yang biasa ada di smartphone lainnya, seperti m-banking, whatsapp, dan lainnya. Dan yang paling penting, kesederhanaannya memudahkan aku untuk bisa mengakses internet dengan hanya bermodalkan pulsa 25.000 rupiah saja setiap bulannya.

Bukan berarti si putih ini tidak punya kekurangan. Kamera 5MP-nya yang ga bisa diatur no sound membuatku malas untuk motret-motret. Tidak adanya games bawaan juga membuatku repot karena harus install-install dulu. Untungnya aku memang tidak gemar main games di HP. Dan masih ada kekurangan-kekurangan yang lainnya. Tapi semua kekurangan itu, buatku, tak bisa menutupi kelebihan-kelebihannya. E5-00 ku ini tetap terbaik untukku saat ini.

Disinilah letak persamaan yang kubilang diawal. Dalam kasusku, memilih dan memiliki belahan jiwa (baca: suami/istri) itu sebaiknya seperti aku memilih dan memiliki Hp.

Di awal aku memilih Hp, aku hanya direkomendasikan oleh temanku perihal Hp ini. Sedikit banyak aku tahu seluk beluknya. Dan pada akhirnya memantapkan hati untuk memilihnya.

Memilih pasangan pun harus dengan kemantapan hati dengan lebih dulu survey dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pilihannya.

Lalu, saat Hp sudah ditangan, barulah aku semakin mengenalnya, aku semakin paham kelebihan dan kekurangannya. Dan dalam kasusku, aku justru semakin mencintainya.

Saat menjalani pernikahan, kita baru mulai mengenal pasangan lebih dalam. Disitulah mulai kelihatan belang sebenarnya. Kelebihan dan kekurangannya tampak lebih nyata, yang kadangkala tak sesuai dengan “iklan”nya. Namun, semakin mengenalnya, harusnya kita semakin mencintainya, terlepas dari apa yang ada dan tidak ada padanya. Walaupun bahkan bila di awal sempat ada ragu dan rasa tidak suka. Memikirkan segala kelebihan yang hanya ada padanya dan jarang ditemukan pada orang lain, akan membuat kita melupakan dan mampu berdamai dengan segala kekurangannya.

Renunganku itu membuatku ber-azzam, mungkin kelak, pasanganku bisa jadi tak sempurna, namun aku akan mencintainya dan tetap mencintainya. Seperti halnya aku yang tak ingin lepas dari henpongku saat ini dan menganggap tak ada yang bisa menggantikan posisinya.

Namun, jikalau pada akhirnya aku mengganti Hp-ku, semoga itu bukan pertanda bahwa kelak aku pun akan mengganti belahan jiwaku. :mrgreen:

–aku, yang memilih untuk setia–

 

ps.

*masih galau soal Hp*

ada rekomendasi Hp yang punya kelebihan-kelebihan seperti si putihku ini??