[utie_collection] Fabric Basket


Apa yang lebih menyenangkan dari menerima? Ialah MEMBERI. Walaupun tak sejalan dengan logika, tapi ia memberi rasa bahagia.

Itulah yang melatar belakangi pembuatan fabric basket – keranjang kain- ini.

Sejak dulu, aku senang sekali memberi sesuatu kepada orang terdekatku. Sebuah hadiah, kenang-kenangan, atau karya buatan tangan. Sayangnya, aku hanya bisa royal hanya kepada orang yang kuanggap spesial, hohoho… 😈

Tahun ini, tepatnya tanggal 1 April, aku tahu akan diadakan acara nikah massal oleh sebuah lembaga islam. Acara yang akan diadakan di Masjid Al-Muhajirin Nusantara Depok ini adalah program nikah massal yang kedua. Aku pun sempat menghadiri nikah massal yang pertama. Saat itu, aku meniatkan untuk memberikan donasi bingkisan pengantin di nikah massal berikutnya.

Dan ketika tau April ini akan diselenggarakan program tahunan itu, sedari Januari, aku pun memeras otak. Apa yang bisa kubuat untuk bingkisan pernikahan? Karena aku berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk memberi banyak, maka aku berpikir akan memberikan hadiah yang sederhana tapi bisa memberi kenangan.

Berpikir… berpikir… Hmm… Benda paling sederhana yang bisa aku buat itu: gantungan kunci, tempat tissue, pouch, tote? Ah, tapi itu lebih bermanfaat ke mempelai wanitanya. Aku ingin memberikan sesuatu yang bisa digunakan bersama.

Sempat terpikir membuat cover bantal couple, tapii… Paling tidak aku harus menyiapkan 2 cover setiap pasang, dan bisa jadi ada lebih dari 10 pasang yang ikut acara itu. Hmm…. (ah, maafkan saya yang tak punya banyak budget 😅)

Berbulan-bulan berpikir, akhirnya baru Maret aku memutuskan untuk membuat fabric basket. Terinspirasi dari teman-teman crafter yang mulai banyak membuatnya untuk bazaar, aku pun menjelajah model-model keranjang kain di pinterest.

Dalam memilih model, aku mempertimbangkan kesulitan dan bahan yang diperlukan. Karena waktu yang mendesak, aku putuskan untuk memilih model yang paling simple. Dan karena tidak ada cukup budget untuk membeli material baru, aku cukup memanfaatkan timbunan kainku saja 😅.

Pertengahan Maret, adikku mendapat musibah. Dia jatuh dan tulang tangannya patah sehingga butuh tindakan operasi. Praktis, pikiranku pun seketika terfokus kepada adikku. Namun, keinginanku masih besar untuk tetap membuat fabric basket itu.

10 hari menjelang hari H, ketika masalah adikku sudah slow, aku mulai merancang pola dari koran untuk mengira-ngira seberapa besar keranjang yang akan aku buat.

Setelah menetapkan ukuran, berhari-hari aku digalaukan dengan bahan yang akan digunakan. Sempat terpikir memanfaatkan celana jeans yang tidak terpakai juga potongan perca yang bisa di patchwork. Namun ternyata tak mudah. Karakteristik jeans melar dan tidak cocok dipatchwork dengan katun.

Lalu berpikir untuk menggunakan kanvas motif. Mudah dijahit dan tidak lagi butuh setrika lapisan. Tapi, apa spesialnya?

Akhirnya pilihanku jatuh pada kanvas polos yang akan aku hias dengan angka 1418 dan beberapa hiasan bunga sulam pita yang tempo hari kupelajari.

Tapi… Ternyata sulam pita benar-benar menguras tenaga. Tanganku ledes-ledes saat mengeluarkan jarum dari pori-pori kanvas -yang bahkan sudah cukup besar- itu. Belum lagi jenis pita seadanya yang membuat hasilnya kurang rapih, menurutku.

Well, sudahlah. Aku usahakan saja yang terbaik. Prinsip ‘craft tidak pernah salah’, ku camkan kuat-kuat di kepala -untuk menghibur hati-. Jadi sekalipun tidak sempurna, ‘yah, namanya juga handmade’, pembelaan diri yang sangat umum, haha… 🤣

H-3, aku baru selesai potong-potong bahan dan membuat hiasan. Bersyukur yang ikut nikah massal hanya 8 pasang sehingga cukup waktu untuk menyelesaikan. Sehari semalam aku menyelesaikan jahitannya. Paginya aku setrika dan pemotretan. Berhubung tidak ada spot cantik di rumahku, jadilah aku hilangkan saja background fotonya. 😆

Tak lupa aku sematkan kartu ucapan berisi doa pernikahan di setiap keranjang.

Ternyata tidak banyak yang langsung paham lho apa itu 1418. Apakah hanya aku saja yang suka menjadikan tanggal sebagai angka? 😅 Mungkin karena aku sedikit terobsesi menikah di tanggal cantik, maka setiap tahun, selalu melihat kalender, menentukan kapan saja hari jumat yang memiliki tanggal cantik. 17217, 3317, 17317, 5517, 7717, 1917, 171117, adalah beberapa tanggal yang ‘kulingkari’ tahun lalu. 🤣🤣🤣 Tanggal-tanggal itu tidak cantik? Well, cantik memang relatif. Haha…

Jadi, begitulah sedikit cerita tentang charity pertama Utie Collection. Pemikiran berbulan-bulan yang ditutup dengan eksekusi kebutan. Semoga kedelapan pasangan tersebut menyukai hadiah kecil ini dan bisa bermanfaat untuk mereka, minimal menjadi kenangan tersendiri. Serta semoga pernikahan mereka bisa mencapai mawaddah. Aamiin.

Barakallahulakuma wabaraka ‘alaikuma wajama’a bainakuma fikhoir.

Handmade = Barang Langka


Setelah bertahan selama 13 minggu di BEC (Blog English Club), pada akhirnya karena beberapa alasan, aku memilih ‘tumbang’.

Tapi kemudian aku merasa ‘hidup’ kembali setelah dipertemukan dengan CFC. Craftalova Fabric Club. Group FB yang dipelopori oleh Mba Ayu Ovira dari Aceh ini beranggotakan wanita-wanita kece penggiat produk handmade. Gabung di group ini membuatku merasa seakan menemukan tempat asalku kembali. 😀

Namun kali ini aku bukan ingin menceritakan soal CFC karena aku pun baru beberapa bulan bergabung. Aku hanya ingin sharing opiniku tentang produk handmade.

Handmade secara bahasa berarti buatan tangan. Apakah berarti semua benda yang diproduksi dengan tangan manusia adalah handmade? Entahlah. Namun yang terlintas di pikiranku ketika mendengar kata handmade adalah bros, dompet, dan tas dengan model unik yang dibuat langsung dengan tangan/produksi rumahan. Intinya bukan olahan pabrik.

Pertama kali melihat isi group CFC, aku terpana, terkesima, terpesona, dan yang semacamnya. Bagaimana tidak? Setiap harinya ada saja anggota yang share hasil karya amazingnya. Seperti wanita, produk-produk handmade itu mempunyai kecantikannya sendiri yang tidak bosan untuk dipandangi. Mereka begitu berharga (lebay) daaan… mahal. Ya, rata-rata produk handmade dihargai lebih mahal dari produk pasaran. Memang harganya sih tergantung bahan, model, dan tingkat kesulitan. Rata-rata pouch dan dompet bisa dihargai 50.000-150.000 . Untuk tas, bisa sampai 200.000 ke atas.

Sayangnya, beberapa orang belum mampu menghargai tetesan peluh dan cinta yang terangkai dalam setiap produk handmade. Harganya yang mahal membuatnya dibanding-bandingkan dengan produk pabrikan yang memang produksi masal. Ah, mereka hanya tidak merasakan bagaimana perjuangan membentuk helaian-helaian kain menjadi sebuah kreasi cantik dan unik.

Aku tidak bicara mengenai kualitas antara produk handmade dan pabrikan. Banyak juga kok produk pabrikan yang berkualitas dan harganya tidak terlalu mahal. Lalu, apa yang membuat handmade bisa lebih mahal?

Sesuai judul postingan ini, menurutku, handmade itu seperti barang langka. Unik dan terbatas. Contohnya tas handmade. Jarang sekali ada pelaku handmade yang membuat tas dengan model dan motif yang sama. Setiap produk yang dihasilkan akan mempunyai karakteristik dan keindahan yang berbeda. NGGA PASARAN. Tidak seperti tas buatan pabrik yang produksi masal dan siapapun bisa punya. Bayangkan kalau kamu punya satu benda yang cuma ada satu-satunya di dunia dan cuma kamu yang memilikinya. Bagaimana rasanya? Prestigious bukan? Itulah handmade.

Selain itu, produk handmade biasanya dibuat dengan mesin jahit rumahan oleh perorangan. Dijahit dengan sentuhan penuh cinta oleh si pembuatnya. Biasanya lagi modelnya ataupun motifnya dibuat seunik dan semanis mungkin. Tergantung kreativitas si pembuatnya. Dan itu juga faktor lain yang bikin harganya sedikit lebih mahal. KREATIVITAS. Kreativitas itu mahal saudara-saudara. Catat! Yah, walaupun sekarang pelaku handmade semakin menjamur dan tutorial bertebaran dimana-mana, namun tetap, kreativitas jadi modal utama penggiat bisnis handmade.

Jadi, buat yang masih menyepelekan produk-produk buatan tangan, coba yuk, sekali saja ikutan WS (Workshop). Mencoba membuat produk sendiri. Gunting sendiri, jahit sendiri, dedel sendiri, kemudian rasakan sensasinya. Antusiasnya, senangnya, bangganya, dan lelahnya. 😀

Iya. Lelah. Jadi, paling tidak hargailah keringat lelah penggiat handmade. Tidak perlu sesumbar “Mahal amaat. Masa’ murahan di mall?”, kalau memang dirasa lebih baik beli di mall, ya monggo, tapi jangan sampai menyakiti hati pelaku handmade ya. Sudahlah capek-capek bikinnya, ngga dihargai pula. Sakitnya tuh disini (nunjukin sepuluh jari tangan).

Nah, kalau menurut kamu, apa sih yang bikin produk handmade itu “mahal”?


Sebagai penutup, tadinya pengen share produk handmade amazing dari salah satu anggota group CFC, tapi males minta izin. Jadi aku share salah satu tas jebolan si flyie-ku aja ya. Tas ini menurutku biasa aja. Tapi ternyata jadi favorite orang-orang. Wah, memang dech, soal “bagus atau tidak” itu relatif ya. *sumringah*
Let see, menurut kamu-kamu, berapa sih pantasnya harga tas yang satu ini?

Berapa hayoo harga tas ini???

Berapa hayoo harga tas ini???

mau liat produk handmade lainnya? cek IG: utie.collections