Sebuah Kepercayaan


Mendapatkan kepercayaan itu sulit,

Menjaga kepercayaan pun tak mudah,

Tapi melepaskan kepercayaan, itulah hal tersulit.

Setidaknya untukku, saat ini…….

 

Kejujuran yang sudah mendarah daging, mungkin itulah yang membuatku begitu dipercaya disini. Seperti asisten, tangan kanan, atau yang semacamnya lah.

Tapi kepercayaan itu kini justru manahanku, mengikatku, memberatkan langkahku.

 

Sementara disana, aku ditunggu. Ditunggu untuk sebuah tantangan baru. Ditunggu untuk memulai mendapatkan kepercayaan baru.

 

Lalu aku harus bagaimana??

 

***

“Masalahmu itu ngga serumit masalahku”

“Kamu bakal stuck kalau begitu terus”

“Kamu ngga akan berkembang kalau begitu”

“Coba pertimbangkan dulu plus minusnya”

“Jangan sampai malah menambah bebanmu”

“Kesempatan itu ngga datang dua kali”

“Mumpung kamu masih muda”

***

 

Sudah banyak pikiran kumintai pendapatnya. Sudah banyak kepala menyuarakan dukungannya.

Tapi aku masih ragu. Adakah langkah yang akan aku ambil ini benar? Baik untukku?

 

Entah harus kepada berapa nyawa lagi aku berbagi. Itu semua seolah tak ada arti.

 

Karena yang kubutuhkan hanya satu. Kata yang terucap dari bibir seorang ibu.

Karena yang kubutuhkan hanya satu. Keputusan dari hakim terbaikku.

Namun beliau masih tak bersuara. Diam membisu.

 

Lalu bagaimana?

 

 

*edisi galau tingkat dewa dewi*

Friends to be Positive


Pernahkah kamu merasa menjadi manusia paling merana sedunia? Aq pernah.

Pernahkah kamu merasa tak pernah ada gunanya selama hidup di dunia? Aq pernah.

Pernahkah kamu merasa hanya menjadi beban saja untuk orang lain? Aq pernah.

Dan pernahkah kamu sakit hati? Aq sering.

Tapi itu dulu, saat aq melangkah sendiri menghabiskan waktuku. 

Lewat seorang temanlah aq mengenal YISC Al-Azhar. Dan tak perlu banyak rayuan darinya untuk mengajakku bergabung. Karena aq memang membutuhkannya. Aq sudah jatuh cinta bahkan pada pendengaran pertama. Bukan karena metode Bilqisnya yang unik, bukan pula karena Ustad-ustad sarat ilmu yang ditawarkan, tapi karena komunitasnya. Aq butuh sokongan, sandaran untuk menghindar dari kegalauan yang tak bosan menyelimuti hati.

Aq butuh teman, lingkungan. Bukan teman untuk sekedar mencurahkan masalah percintaan. Bukan pula teman untuk sekedar membangkitkan tawa dan candaan. Tapi teman yang bisa menularkan semangatnya dalam kelesuan, teman yang bisa mengajakku dalam kebaikan. Teman yang senantiasa mengingatkan dalam kesalahan. Teman yang bisa membantuku meneguhkan iman. Teman yang darinya aq bisa belajar ketakwaan. Dan teman seperti itu hanya bisa kudapatkan dalam komunitas pecinta Islam, seperti YISC Al-Azhar.

Mungkin bagi sebagian orang beraktivitas di hari minggu berarti membuang-buang waktu istirahat di akhir pekan, tapi bagiku tidak. YISC seakan menjadi tempat refreshing bagiku setelah seminggu berjibaku dengan keduniawian. Karena disinilah aq merasakan kedamaian, hati yang menjadi tentram, pikiran yang semakin terbuka, dan iman yang semakin terjaga. Disinilah bertaburan banyak senyum dan salam penuh ketulusan, semangat dalam menyeru kepada kebaikan. Begitu banyak panutan dan teladan. Wajar bila kesejukan selalu memenuhi kalbuku disetiap hari Minggu, karena hanya aliran positif yang selalu kudengar, kulihat, dan kurasa di setiap tempat, di YISC Al-Azhar.

Sekarang tak lagi kujalani hidup ini dengan pesimis. Tak lagi kutanggapi masalah dengan keluh kesah. Karena pola pikirku mulai berubah. Kini senyum, sabar, dan syukur selalu jadi andalanku. Berpikir positif mulai aq jadikan kebiasaanku. Kebahagiaan terasa senantiasa mengelilingiku. Di YISC Al-Azharlah kutemukan semua itu.

Terima kasih teman,  

atas energi positif yang kalian pancarkan secara tidak sadar, 

 atas dukungan yang kalian berikan secara tidak sadar, 

 atas hikmah yang kalian ajarkan secara tidak sadar. 

 Jazakumulloh khoiron katsiron.

Salam Positif

dari Hati

Putri Nur Fauziah Andriyanti