Jakartah bahagiah?? Hhh.. -_-“


Jadi teman, ingin sedikit berbagi cerita.

Kemarin sore ituu, akhirnyaa net kompie ku bisa kembali normal!! Huraay!!!! Yei yei yei… Senangnyaaa bisa bebas posting dengan pic and link. Yaah.. Walaupun cuma kebagian signal 1 bar, tapi lebih baik laaah daripada tidak. Nah, untuk merayakannya, niatnya hari ini mau posting lagu “bahagia”nya Melly. Ceritanya mau berbagi kebahagiaan gituu..

Tapiiii… Sesuatu terjadi, kawan.

 

Hujan deras

Seperti yang sudah diketahui warga jakarta pada umumnya, kemarin sore itu hujan deras, sangat, mengguyur rata Jakarta dan sekitarnya (eh, ga tau deng rata atau engga, ngga baca berita :P). Ditunggu sampai lepas maghrib pun di kantorku masih hujan. Jadi yaa, mau ngga mau aku nekat pulang dengan hujan, kilat, dan petir yang mengiringi. Untungnya kantorku di sebrang terminal, jadi cukup jalan sebentar, udah langsung naik bis.

 

Tidur pulas

Sudah menjadi kebiasaan bahkan kewajiban bagiku, kalau pulang dengan Debbie, aku akan tidur sepanjang perjalanan (untuk memanfaatkan waktu, daripada bengong ngga jelas). Dan biasanya akan terbangun dengan sendirinya saat sudah sampai Depok.

Semalam pun begitu, setelah digunting (dimintai ongkos), aku cari posisi pewe untuk tidur. Pulaslah tidurku.

Bangun-bangun, melihat sikon sebentar, agak terkejut.

Kok masih di lampu merah POINS ya?

Perasaan udah tidur lamaaaaaa banget.

Ah, mungkin cuma perasaanku aja ya.

Ok. Baiklah, masih jauh. Lanjut tidur.

Tidur lagi tuuh.

Bangun-bangun, merasakan sekitar lagi. Badan udah mulai berasa pegal dan mobil dalam keadaan berhenti.

Mogok rupanya. Sang supir minta tolong sewa (penumpang) yang berdiri untuk turun dulu dan yang cowo dimintai tolong membantu dorong.

Setelah mesin menyala, si debbie tercinta tetap ngga jalan-jalan. Macet rupanya.

Aku bertanya-tanya,

Ini dimana sih sebenarnya? Kok masih di area macet ya?

Mengintip dari jendela, ternyataaaa… Masih di lampu merah fatmawati!!!

Hah??? Ngga salah nih? Ini aku yang bangunnya kecepetan atau bagaimana sih ya? Perasaan udah lama banget.

Tapi karena memang fatmawati tuh area termacet sepanjang jalan pulang, aku masih menganggap wajar. Kupaksakan lagi untuk tidur.

 

Terkaget-kaget

Untuk ketiga kalinya, akhirnya aku terbangun. Dan untuk ketiga kalinya pula bisku ini tidak bergerak, masih terjebak macet. Kali ini ngga wajar. Masa’ di flyover simatupang juga macet? Biasanya kan engga.

Nih ada yang ngga beres nih, pikirku.

Ku ambil HP di dalam tas dan melihat petunjuk waktu. 21.30. Setengah 10 !!!! Gilingaaaaaannn.. Pantesan aja nih badan udah mau rontok. Ternyata emang aku tidur udah lama banget.

Biasanya, sejak pindah kantor, paling lama, jam 9 udah sampai rumah. Ini masih di simatupang. Pantas saja sewa yang berdiri udah pada ngga ada. Kemungkinan mereka turun di pintu keluar tol karena ngga tahan udah berdiri lama.

Huwaaaa…. Lemas seketika. Cewe yang duduk disebelahku, yang sepertinya masih usia anak SMA, memandangku dengan wajah memelas.

“Kok lama banget ya mba? Ini udah sampai mana sih Mba?”

Aku cuma bisa mengangguk lemas dan tersenyum kecut saat menjawab pertanyaannya.

“Antam.”

Kucek di group whatsapp anak Yisc, ternyata ada juga teman-teman senasib yang mengeluhkan hal yang sama. Ada yang dari pejaten ke ANTAM menghabiskan waktu 3 jam. Yang 2 jam habis di pasar minggu. Luar biasah jakartah.

Namun, kata-kata dari salah satu temanku di group itu sedikit menghiburku.

“Tiada daya dan upaya kecuali dari Alloh. Berdoalah agar diberi kelapangan”

Ah, dia benar. Tragedi ini tak lain merupakan kuasa Alloh. Tak baik kalau aku menceracau. Lagipula, Dia tidak akan memberikan ujian yang tidak sanggup hamba-Nya lewati. Jadi kalau aku ditakdirkan mengalami ini, ya berarti aku memang dinilai sanggup untuk melewatinya.

Masalahnya adalaaaah bagaimana aku mengisi waktu di sela kemacetan ini? Buku bacaan, lagi ngga bawa. HP, mulai lowbat. Ngga bisa baca buku, ngga bisa whatsapp-an, ngga bisa dengerin murottal, ngga bisa ketik-ketik, ngga bisa browsing dan bewe bewe, mau hafalan juga juz amma-nya ngga bawa. Hadeeeehh…

Mau tidur lagi? Udah ngga ngantuk! Cakep banget dech. Pantat udah tepos, kaki hampir ngilu, punggung pegel, haizz.. Lengkaplah sudah.

Mulai belok di rancho, mataku sudah mulai keriyep keriyep lagi. Walau pegelnya bukan main, tapi aku paksakan lagi untuk tidur. Menikmati jalanan macet dengan bengong malah bikin aku tambah pegal. Entah apakah di tanjung barat nanti macet seperti ini pula atau tidak. Aku tidak mau membayangkan. Capek duluan.

 

Rumahku oh rumahku

Aku baru bisa bernafas lega ketika saat tersadar lagi, bis sudah masuk kawasan Depok dengan jalanan lancar seperti biasa. My lovely mommy menelpon, khawatir tentunya, kenapa sudah malam gini anak tercintahnya belum pulang. Kuberitahukan posisiku dan menjawab pertanyaannya singkat, khawatir nanti HPku yang sudah low malah mati karena dibuat nelpon.

Untungnya si sopir kali ini baik dan sabaaar banget. Ngga marah-marah. Ngga ngucapin sumpah serapah. Sedikitpun. Padahal baru saja mengalami kemacetan yang luar biasa. Aku aja yang cuma tinggal duduk dan tidur, berasa pegel abis, gimana dia? Tapi moodnya ngga jadi jelek gitu. Salut dech. Emang cara paling praktis mengetahui seberapa sabar seorang lelaki itu adalah dari cara dia mengemudi. :mrgreen:

Jeleknya, karena sang sopir yang baik itu mengemudikan mobilnya dengan santai, aku jadi lebih lama sampai di rumah. Kadang, memang lebih seru kalau naik debbie yang cara mengemudi sopirnya bak wahana di Dufan. Lebih berasa sensasinya. 😆

Alhamdulillah, akhirnya aku berhasil sampai rumah dengan selamat dan pegal-pegal tepat jam setengah 12!! Luar biasaah!! 5 jam perjalanan!! Dari kondisi yang ngantuk berat-ngga ngantuk-sampai yang ngantuk lagi. Walau bukan yang pertama kali (dulu waktu masih di radio dalam juga pernah mengalami kejadian yang sama), tetep aja ini shocking banget buat aku, secara kantorku udah pindah kan.

 

Dan pagi ini…

Dengan badan yang masih agak pegal, kok ya malaaaas banget pengen berangkat kerja. Akhirnya setelah bangun sahur (dalam rangka menunda ajal :P) dan sholat shubuh, aku kembali menggelepar di atas kasur.

Harap maklum, aku memang doyan tidur. Hehe..

Kalau kata temanku, cara paling efektif untuk menanggulangi malas bangun pagi adalah punya suami. That’s right!! Jadi, selagi masih single ting ting, aku puas-puasin tidur dulu lah yaaa.. 😆 *jangan ditiru*

Dan kemudian, aku kembali bermesraan dengan kasurku tercintah. Maaf ya Pak bos, sabar dulu menungguku, aku sedang ingin bermanja-manja ria dengan bantal gulingku…

Hmmm…. Zzzzz…

***

Jadi, apakah kini bahagiaku rusak kerana jekartah??

Tidak. Tidak.

Aku tidak mau apapun merusak kebahagiaanku, termasuk kemacetan jakartah.

Aku masih ingin bahagia dengan caraku sendiri.

Lagipula, menunggu dibahagiakan jakartah?? Hhh… -_-” Siap-siap saja kecewa.

Lebih baik aku menunggu dibahagiakan belahan jiwa. Aahaayy… :mrgreen:

Tentang Debbie a.k.a Deborah


Berangkat kerja pagi atau siang, mungkin bagi sebagian orang tidak terlalu ada efeknya kecuali soal terlambat atau tidak. Tapi bagiku, dan bagi banyak orang yang menggunakan transportasi sama denganku, perbedaan satu menit saja pengaruhnya sudah luar biasa.

Baiklah aq jelaskan.

Sebagai informasi awal, aq bekerja di Radio dalam, dan dari Depok, ada 2 alternatif kendaraan yang bisa mengantarkanku kesana, kopaja 63 jurusan Depok-BlokM, dan PO Deborah (sejenis kopaja) jurusan Depok-Lebak Bulus.

Diantara 2 alternatif itu, aq lebih memilih yang kedua, bis ukuran sedang dengan warna body paling ngejreng yang biasa aq sebut debbie atau my baby debbie 😛

Ada banyak alasan (ngga banyak2 juga sih) kenapa aq lebih memilih debbie walaupun ongkosnya jauh lebih mahal.

Pertama, karena 63 melewati jalur prapanca dan antasari yang muacet, sedangkan debbie memasuki tol lebih panjang dan keluar di fatmawati.

Kedua, karena kemungkinan menghisap asap rokok di debbie lebih kecil ketimbang di 63.

Ketiga, karena aq udah cees sama sebagian kru debbie *dulu (sekarang kebanyakan udah pada mabur cees aing)*. 😆

Keempat, karena debbie ini sungguh cantik dan aq terlanjur cintah 😛 #abaikan yang ini

Lalu apa ada hubungan antara Debbie dan berangkat pagi atau siang?

Jadi, Debbie itu seperti jemputan. Dia hanya ramai saat-saat jam berangkat dan pulang kantor. Bila pagi, dari lebak bulus, sewanya (sebutan untuk penumpang) kebanyakan mahasiswa yang berkampus di sekitaran tanjung barat-lenteng-ui-margonda. Sedangkan dari arah depok, hampir semua adalah karyawan yang kerja di seputaran detos, fatmawati, sepanjang jalan simatupang, lebak bulus dan pondok indah. Sorenya, kebalikannya.

Kalau disini meta menjelaskan tentang jadwal Debbie AC, aku akan menjelaskan yang non AC:

Setiap harinya ada 10-20 mobil yang keluar dari pool. Itu di hari kerja, di luar hari kerja pernah cuma 8 yang keluar. Sebagian dari mobil yang keluar ngga masuk ke terminal Depok dan langsung ke Lebak Bulus. Biasa disebut Tem LB. Tem LB yang rata-rata ada 2-3 mobil ini keluar dari jam 5 pagi.

Sisanya disebut tem Depok. Tem Depok masuk ke terminal dan akan jalan kalau sudah pas jok (sebutan untuk bangku yang sudah penuh). Tapi ngga perlu menunggu lama untuk sampai pas jok. Karena peminatnya banyak, normalnya hanya menunggu waktu sekitar 10 menit untuk penuh. Dan alhasil, dalam sekejap tem depok habis tak bersisa.

Maka, sewa yang sampai di terminal Depok jam setengah 7 ke atas harus menunggu tem LB yang menuju Depok. Dan kalian tau??? Paling cepat tem LB pertama sampai depok jam 7.15. Paling lama? Jam 8.30. Dahsyat yak?

(Hafaaaal kaaaan?? #bukan kekaseh sopir# haha *lirik meta :P)

Pernah suatu hari si ibu PNS yang pernah menolongku disini menunggu dari jam 6.45, tapi sampai aku datang (7.45), si unyu-unyu belom datang juga. Kesal, dia naik 63 sedangkan aku tetap setia. Dan itu bis baru nongol jam 8.30. Udah gitu belom juga masuk terminal udah penuh. Pada nyegat di jalan. Subhanalloh. Untung si ibu ngga nungguin ya. Ckckck…

Sebenernya jadwalnya ngga paten sih. Tergantung sewa dari LB, jumlah mobil yang beroperasi, dan hari-hari tertentu.

Tapi intinya sih, kalau mau dapet duduk dan ngga mau keabisan mobil, biar aman harus sampe di terminal depok jam 6 pagi teng. Itulah yang aku maksud dengan “satu menit pengaruhnya luar biasa”. Kalau udah keabisan/ketinggalan mobil, siap-siap aja nunggu tem LB dateng sekitar setengah sampe 2 jam. Nunggu mobil belakangnya juga sama, lama lagi. Udah gitu, harus siap-siap juga berperang dengan sewa lain memperebutkan kursi yang cuma 27 sajah di dalam bis. Harus siap mental banget deh. Yang kasian ya yang bawa anak, yang lagi hamil, lagi sakit, nenek-nenek/kakek-kakek. Mereka tentu ngga bisa seagresif dan selincah para eksekutif-eksekutif muda macem aku ini dunks. 😛 Kalau udah berdiri?? Weh, jangan harap bisa nyaman sepanjang jalan, bakal jadi ‘pepes teri’, apalagi kalau keneknya senior yang udah lihai ngatur sewa, beuh, ngga bisa liat celah dikit, mondar mandir kayak setrikaan untuk ngatur sewa. Akibatnya susah gerak, bisa ngatur nafas aja udah sukur..

Terus aku lebih milih mana? Dateng sangat pagi atau sangat siang? Dua-duanya pilihan yang sebenarnya ngga mau dipilih. :mrgreen:

Abis gimana donk? Kalau berangkat pagi, harus udah di terminal jam 6, jadinya buru-buru doonk, udah gitu si debbie lemooottt banget jalannya, belom lagi macetnya parah, nyampe POINS bisa hampir 2 jam kemudian.

Terus kalau dateng siang, nunggunya mesti extra sabar, harus berebutan, dan kalau ngga dapet duduk harus rela dempet-dempetan. Tapi enaknya, biasanya jalanan udah lebih lancar dan mobilnya ngibrit, soalnya udah langsung penuh sewa dari terminal. Kadang, ngga sampe 1 jam udah nyampe POINS.

Jadi kalau kalian jadi aku, lebih milih yang mana?:D

 

Ps. Cerita lain tentang my baby debbie (sebutan sayang dariku) atau si tiran yang norak (sebutan sayang dari meta) bisa disimak disini, disini, atau disini. Ada juga yang lucu disini. 🙂