Malu dong!!!!


Senin, seperti biasa aku menunggu mobil paling sensasional di Terminal Depok. =))

Entah setelah berapa lama menunggu, penumpang yang menanti juga udah rame, akhirnya tuh mobil ngejreng datang. Berebutan di depan pintu masuk terminal, dapatlah bangku tengah pojok sebelah kanan. Sampingku, duduk dengan manisnya laki-laki usia dewasa yang aku tau turun di Poins juga.

Masuk terminal, masih banyak penumpang yang ingin naik lagi, termasuk seorang ibu dan seorang nenek. Ngga dapet tempat duduk, akhirnya si ibu meminta kepada mas cuek di sebelah aku untuk berbaik hati merelakan bangkunya demi si nenek. Tapi dengan entengnya si mas cuek mengangkat tangannya, menolak memberikan duduk.
E buset. Shock aku melihatnya. Helloowwww Mas cueekk..situ ngga punya ibu? Ngga punya nenek?? Hmm.. Sepertinya sih yang ngga punya itu perasaan :P. Habis, bisa-bisanya bersikap tega seperti itu. Gondok setengah idup aku dibuatnya.

Akhirnya kurelakan saja tempat PeWeku untuk si nenek. Aku berdiri di samping si mas cuek dan berniat balas dendam :mrgreen:. Jangan harap bisa duduk dan tidur dengan nyaman ya. Lamaan juga aku nunggu mobilnya tadi. Kuposisikan tubuh dan tasku sedemikian rupa supaya sedikit mengganggu kenyamanannya :lol:. Masih mendinglah, daripada kutoyor mukanya dengan tas ranselku yang ‘uabot nemen’, ya kan?? 😛

Aku ngga ikhlas?? Ngga peduli. Ngga dapet pahalanya?? Mbo’ men. Yang penting si nenek bisa duduk dan aku bisa membuat hati si mas cuek ngga nyaman. Entah apakah dia punya rasa malu dengan membiarkan si nenek berdiri dan akhirnya membiarkan seorang cewe baik, manis nan lugu merelakan bangkunya..

Jadi ingat cerita meta saat dia naik busway. Ada seorang kakek-kakek baru naik. Disisi lain, ada pula seorang mas muda yang dapet duduk. Dan dia, bukannya mempersilahkan duduk malah bilang gini “Ya maaf maaf ya Pak, saya juga mau duduk” Idih, ada ya cowo kayak gitu? Amit amit dech. Kayaknya perlu nambah 1 lagi nih kriteria suami idaman aku: mudah mempersilahkan duduk, tapi bukan karena bisulan atau ambeyen yaa.. 😛

Soal mempersilahkan duduk, sebenernya aku juga udah pernah bikin postingannya disini, dyah kemaren juga sempet bahas di posting ini, yang mana aku setuju banget dengan pendapatnya Dyah: cowo yang enggan mempersilahkan duduk seorang wanita adalah NGGA BANGET.

Ok, Ok, mungkin postinganku kali ini bertentangan dengan tulisanku tentang latar belakang. Kalau mau berpikir positif, anggap sajalah kaki si mas cuek lagi sakit. Atau dia sedang sesak nafas, atau bla..bla..bla.., atau bla..bla..bla.. Tapi kalau aku perhatikan, memang sekarang ini cowo yang rela hati mempersilahkan orang lain menempati bangku PeWenya sangat langka kutemukan. Apalagi untuk perjalanan jauh dan/atau di kondisi bis yang memang sangat tidak nyaman bila berdiri (seperti di debbie kalau pagi, udah kayak pepes teri).

Dan terlepas dari apa alasan dan latar belakang si mas cuek dan mas muda bertingkah seperti itu, aku hanya ingin bertanya pada orang-orang seperti mereka, hey kalian yang mengaku laki-laki, tak malukah melihat seorang perempuan, baik itu gadis muda, ibu muda, ibu hamil, nenek/kakek renta berdiri lelah menopang tubuhnya sementara kalian-kalian yang mengaku laki-laki begitu santainya ongkang ongkang kaki??? Tak malu?? Sungguh tidak malu??? Kalau begitu operasi gender saja sanah!!! Atau rasakan saja nanti kalau kalian-kalian yang mengaku laki-laki sudah menjadi tua dan diperlakukan serupa!!! :mrgreen:

Hhhh…*menarik napas panjang*. Maaf bila kata-kataku kasar (padahal ini postingan juga udah dipending menunggu emosi mereda). Sebenarnya aku anti bicara kasar, apalagi di postingan sebelumnya juga aku udah gembar gembor soal mempertanggung-jawabkan kata. Tapi aku ngga habis pikir, bagaimana mereka mereka yang mengaku laki-laki bisa berbuat seperti itu. Sungguh ngga habis pikir.

Bagi yang merasa tersinggung, tersindir, cobalah, beri aku alasan agar lidahku ini tidak lagi mudah menghujat kalian. 😛

Riweuh bin Ricuh in 72


Aku naik metromini 72 dari lampu merah POINS seperti biasa. Ada dua mobil yang ngetem. Aku pilih yang paling depan, tapi ternyata penuh banget. Begitu aku naik, mobilpun jalan. Ternyata mobil ini penuh dengan anak-anak TK dan mamanya, mungkin mau study tour, entahlah. Tapi parahnya ngga ada yang ngasih duduk, padahal ada yang gendok bayi segala. Dan yang duduk mas-mas dan mba-mba yang masih seger buger.

Sampai di depan McD, ada Bapak-Bapak beruban yang duduk di bangku tengah sebelah kanan berteriak pada keneknya.
“Pak, kembalian tiga ribu.”
“Apa? Kembalian tiga ribu? Minta sama kenek yang tadi dong pak, urusannya bukan sama saya, saya kan baru naik ini.” si kenek pun tak kalah berteriak.

Hmm.. Rupanya baru terjadi pergantian awak sebelum aku naik tadi, dan dilihat dari lembaran-lembaran yang dipegang si kenek, sepertinya sebagian besar penumpang sudah digunting sama kenek sebelumnya, dan tentu saja duitnya dibawa sama dia. Pantas saja si kenek mengelak memberikan kembalian pada si bapak beruban itu.

“Kerja ngga beres banget. Biar aja, rezekinya juga ngga berkah kalau begitu. Pura-pura ngga tau,” si bapak tua masih menggerutu.
“Bukannya pura-pura ngga tau Pak…” si kenek yang dari awal sudah badmood menjadi semakin kesal.
“Abang kan kenal sama keneknya, yaudah kan bisa dimintain balik nanti sama dy,” seorang ibu yang duduk di belakang bapak beruban ikut membela.
Tapi tetap saja si kenek bersikap tak acuh.
Tidak terlalu kusimak lagi ocehan mereka, yang jelas, masing-masing masih saling menggerutu.

Tidak lama, si sopir berteriak memanggil keneknya. Dari belakang, tidak terdengar terlalu jelas perbincangan mereka. Sepertinya mobilnya mengalami masalah. Ban depannya bocor. Si ibu yang menggendong bayi, tak jauh dari tempatku berdiri menggerutu,
“Hhhh… Paling sebentar lagi disuruh turun nih,” keringatnya membanjiri wajahnya yang cemberut.

Melewati bunderan Pondok Indah, si kenek yang berpindah ke pintu belakang ngoceh-ngoceh kesal. Walaupun kata-katanya tidak jelas, tapi aku yang berdiri tepat di sampingnya bisa merasakan betapa pagi ini begitu menjengkelkan baginya. Sesekali dia berteriak pada sopirnya untuk menepikan mobilnya. Tapi si sopir, entah dengar atau tidak, tetap melajukannya. Dan si kenek kembali mengoceh sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sampai di PIM, mobil baru berhenti melaju. Dan semua penumpang turun. Hmm.. Benar-benar di oper rupanya. Terlihat 72 lain di belakang. Tapi apa yang terjadi? Dia tidak mau berhenti. Selentingan aku mendengar suara, mungkin dari penumpang lain.
“Ngambek dech.”

Sepertinya aku benar-benar ketinggalan moment. Aku menyimpulkan kalau antara mobil ini dengan mobil yang maen bablas aja itu sempat rebutan sewa di lampu merah tadi. Makanya dia tidak mau berhenti. “Sukurin”, mungkin begitu pikirnya.

Hhh.. Mau tidak mau, kami para sewa harus menunggu lebih lama lagi.

Tapi konflik tidak berhenti sampai di situ. Seorang ibu-ibu menghampiri si kenek dan meminta kembali ongkosnya. Tentu aja ngga dikasih.
“Nanti dioper Bu, tunggu aja. Kalau semuanya minta ongkosnya dibalikin, mau kembaliin pake apaan? Ngga ada duitnya.” si kenek berkata dengan kesal sambil mengacung-acungkan beberapa lembar dua ribuan di tangannya.

Hmm.. Begitu banyak konflik, pagi yang begitu ricuh. Mari kita bahas satu-satu. Tentang ibu menggendong anak yang tidak kebagian bangku, sepertinya hal itu untuk zaman sekarang memang sudah hal yang lumrah, udah minim sekali kepedulian untuk mempersilahkan duduk. Mungkin karena di buku SD sekarang sudah tidak ada lagi cerita tentang mempersilahkan duduk? Entahlah.

Kemudian tentang bapak beruban yang meminta kembalian, itu wajar, dia meminta haknya. Tapi sangat disayangkan sikap kenek yang menjawab dengan ketus itu. Dan sungguh patut bila si bapak “nyumpahin” kalau rezekinya ngga berkah. Ya, begitu banyak sebab mengapa rezeki tidak berkah, korupsi waktu, korupsi uang, korupsi pekerjaan, dan mengambil hak orang lain. Rezeki tidak berkah bukan berarti rezekinya sedikit. Walaupun secara kasat mata berlimpah, rezeki yang tidak berkah akan membuat dia selalu merasa kekurangan dan tidak pernah cukup, diliputi rasa tamak dan tidak tenang. Tapi kenek itu juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Dia baru naik dan tidak tahu apa-apa, tidak dititipkan uang kembalian pula. Kalau mau ditalangin dulu baru nanti dimintain balik ke kenek sebelumnya, belum tentu si kenek sebelumnya itu percaya dan mau ngasih. Mungkin dia akan berpikir kalau itu cuma akal-akalan aja.

Dan tentang ban bocor itu, bisa aja itu karena doa dari si bapak beruban. Karena doa orang yang terzholimi itu diijabah. Mungkin saja itu karma. Tapi kasihan juga si sopir dan kenek, baru juga naik, belum apa-apa udah bocor bannya, belum juga dapet duit. Entah apakah memang baru bocor atau mobil itu sudah bocor sebelum di pindah tangankan. Kalau memang awak sebelumnya sudah tau bannya bocor dan sengaja tetap memindah tangankan mobil itu pada awak yang sekarang, maka mereka bener-benar keterlaluan.

Tidak ada yang bisa kulakukan dalam ke-riweuh-an ini selain diam (dan jadi paparazi 😛 ), namun beberapa point yang bisa kujadikan pelajaran, dimanapun kita berada, apapun profesi kita, kejujuran dan tanggung jawab itu penting, dan peduli pada orang lain itu WAJIB, bahkan Alloh dn Rosul-nya menganjurkan kita untuk memudahkan urusan orang lain.

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab- kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya”.
(Muttafaq ‘alaih).

Yaaahh walaupun zaman sekarang sulit sekali menemukan orang yang seperti itu.

“Ya Alloh, lembutkanlah hatiku agar mudah tergerak untuk peduli pada orang lain, dan jagalah aq agar tetap mampu jujur bertanggung jawab dalam setiap perbuatanku.”

Kamis, 18 Oktober 2012

Silahkan Duduk Bu..!!!


Jumlah penduduk lebih besar dari jumlah angkutan di Indonesia? Itu wajar dan rasanya akan mengerikan jika jumlah kendaraan sama dengan jumlah penduduk.

Makanya sangat wajar dan menjadi pemandangan yang lumrah jika di dalam bis atau kereta banyak sekali yang tidak kebagian tempat duduk. Bisa dimengerti jika semua orang enggan merelakan tempat duduknya untuk orang lain, perjalanan jauh, tubuh yang lelah dan kemacetan yang luar biasa bisa dijadikan alasan untuk mempertahankan bangku kita. Lalu bagaimana bila ada wanita hamil, seorang ibu dengan anaknya yang masih kecil, dan juga wanita tua, apakah konsep ‘bangku ini untukku’ masih berlaku?

Aku pernah diceritakan oleh temanku tentang sebuah kejadian yang unik lagi memprihatinkan.

Suatu ketika ada seorang bapak2 yang naik bus AC jurusan Depok-Kalideres, tak lama keluar dari terminal bus sudah penuh dan banyak yang berdiri berdempet2an, sampai di margonda, naiklah seorang ibu dengan tiga anaknya yang masih kecil2. Melihat hal itu, si bapak tersebut menggerutu kepada orang yang duduk di sampingnya. Berikut kurang lebih gerutuannya,

“Itu si ibu ngga punya perasaan banget, udah tau anaknya masih kecil2 naiknya dari sini kan udah pasti penuh dan ngga dapet tempat duduk. Harusnya usaha kalo mau dapet duduk, ke terminal dulu kek, saya juga rumahnya di daerah sini tapi saya bela2in ke terminal dulu biar dapet duduk, saya usaha nih, dapet duduk gini juga ada perjuangannya.”

Hmm..dipikir2 sih ucapan bapak itu ada benarnya, perlu usaha untuk mendapatkan sesuatu. Tapi kalau dipikirkan lebih dalam, si ibu tidak sepenuhnya salah, bagaimana kalau itu pertama kalinya dia naik bus itu dan tidak tahu kalau ternyata selalu penuh? Atau tidakkah terpikir bahwa menyebrang balik ke terminal dengan membawa 3 anak kecil itu sangat merepotkan? Belum lagi ongkosnya yang bertambah, bisa saja si ibu tersebut termasuk orang yang dituntut untuk berhemat sehingga lebih memilih berdiri daripada menambah biaya?

Disinilah nilai kemanusian dan perasaan rela berkorban berlaku. Aku teringat cerita tentang sahabat Nabi yang ikut peperangan, ketika perang telah usai, si fulan menemukan si A dalam keadaan payah dan kehausan, dia meminta minum pada si fulan, ketika si fulan ingin memberikan minum tiba-tiba terdengar rintihan dari si B, si A pun menyuruh si fulan untuk memberikan minum itu kepada si B, kemudian si fulan menghampiri si B untuk memberikan minum, ketika akan minum lalu terdengar rintihan dari si C, si B pun menyuruh si fulan untuk memberikan minum pada si C. Si fulan dengan tergesa menghampiri si C, namun setelah sampai disana si C pun wafat, si fulan lantas berlari ke tempat si B untuk memberikan minum tapi ternyata si B pun telah wafat, begitu juga dengan si A. Akirnya mereka bertiga syahid di jalan Allah.

Apa hikmah yang bisa kita ambil dari cerita tersebut? Ternyata ketiga sahabat itu sungguh berpribadi mulia dan penuh kasih sayang, si A rela memberikan air yang sebenarnya sangat dia butuhkan kepada saudaranya seagama yang dia pikir lebih membutuhkan itu. Begitupun dengan si B. Sungguh pengorbanan yang luar biasa, memberikan sesuatu yang paling kita butuhkan.

Lalu bagaimana dengan kisah bapak2 di atas, seberapa besar pengorbanannya bila dibandingkan dengan sahabat nabi tersebut? Daripada menggerutu, bukankan akan lebih baik bila dia merelakan bangku yang dia dapat dengan penuh perjuangan itu untuk si ibu? Aku yakin, Allah tidak akan menyia2kan pengorbanannya itu, pahala yang besar menantinya bila dia ikhlas.

Tapi hidup itu pilihan, si Bapak telah memilih, lalu apa pilihan kita??