Belajar Pajak


Sabtu kemarin adalah hari pertama aku mengikuti kursus pajak brevet AB. Setelah sebelumnya sempat menolak untuk ikut, akhirnya kali ini mau tak mau aku terima juga tawaran Pak Bos.

Walau mungkin menurut sebagian orang sertifikasi brevet itu “menjanjikan”, tapi bagiku, lebih baik dikursuskan jahit daripada pajak. Hehe…

Aku tidak suka pajak. Ribet, mumet, njelimet. Berkali-kali aku coba untuk otodidak, tapi mengertinya hanya sesaat, keesokannya blank, dan aku harus memulai memahaminya dari awal lagi.

Satu hal yang paling-paling tidak aku suka dari pajak adalah peraturan-peraturannya. Begitu banyak. Dan aku memang ngga suka baca pasal-pasal. Makanya, salut dech buat para mahasiswa hukum yang harus ‘nelen’ kitab-kitab tebel UU di RI. Ngebayanginnya aja udah pucet duluan. 😛

Tapi demi sebuah dedikasi dalam pekerjaanku, kuhadapilah keenggananku dengan keyakinan mantap: Aku Bisa!!! Dan memang harus bisa kalau ngga mau ditoyor sama Pak Bos. Haha..

Yaaahh.. Biarpun terpaksa dan setengah hati, aku coba ambil positifnya aja. Toh, sedikit banyak aku masih sangat diuntungkan. Dapet ilmu, pengalaman, teman baru, daaaannn… Ehm. Mana tau pemilik tulang rusukku tercecer disitu. Hihihi..

Dan setelah seharian kemaren belajar, rasanya seperti jadi mahasiswa lagi. Aku menikmatinya. Cukup menikmatinya. Setidaknya, masih nyambung dan bisa mengikuti materi yang disampaikan. Aku cukup antusias dan tidak terlalu merasa bosan. Apa karena baru hari pertama? Entahlah.

Itu juga alasanku membuat post ini. Sebagai pengingat kalau hari pertama kujalani dengan semangat. Dan mudah-mudahan begitu seterusnya sampai akhir. Cara mengakalinya sederhana, tinggal men-cam-kan dalam hati bahwa pajak itu menyenangkan. Dengan berpikir positif, hasilnya tentu akan positif bukan?? *semoga aku bisa* :mrgreen:

Semangat belajar pajak!!! \(^o^)/

Pak Bos, dedikasimu…


Hari ini pak bos ga masuk. Dapet kabar katanya masuk rumah sakit, semalem di operasi, usus buntu. Kaget juga dengernya, karena selama ini pak bos terlihat baik-baik aja.
Hampir setiap ketemu karyawannya, pak bos selalu mengucapkan salam “putri sehat?”, atasan yang perhatian bukan??

Sore harinya, aku dan beberapa teman kantorku menjenguk pak bos di rumah sakit Pertamina.

Sampai di kamar rawat, aq melihat pak bos hanya ditemani oleh ibunya. Terbaring lemah di atas tempat tidur, dengan selang infus di tangannya. Untuk beberapa menit, tidak ada yang berbicara, semua terdiam, mungkin bingung ingin memulai dari mana. Selain itu, aq dengar pak bos masih sulit untuk berbicara, kalaupun bersuara, terdengar seperti gumaman-gumaman saja bagiku, tidak jelas apa yang ingin dikatakannya. Hatiku terenyuh, tidak tahu harus berkata atau melakukan apa.

Untunglah temanku kemudian berhasil mencairkan suasana. Dia mulai menanyakan kronologinya. Ibu pak bos yang menjelaskannya. Ternyata memang sebelum-sebelumnya pak bos sudah merasakan ada yang tidak beres dalam perutnya, namun setelah diperiksakan ke klinik di depan kantor, dokter bilang, itu gejala usus buntu, akhirnya pak bos pun pulang dengan berbekal beberapa macam obat. Namun, malamnya, pak bos merasakan sakit yang teramat sangat, dan akhirnya meminta ibunya untuk mengantarkan ke rumah sakit terdekat, Rumah Sakit Pertamina.

Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa pak bos mengalami penyakit usus buntu yang sudah sangat parah, karena sudah membengkak, bernanah, dan pecah didalam. Ukh, ngeri aku membayangkannya. Bagaimana mungkin pak bos merasakan sakit sehebat itu tapi tetap terlihat baik-baik saja. Salut, selama ini pak bos tidak dirasakan sakitnya, lebih memilih untuk mementingkan pekerjaan. Rasanya tidak adil dan sungguh tidak sopan jika aku sebagai karyawan tidak memberikan kontribusi yang maksimal. Ini menjadi pelajaran berharga untukku. Bagaimana diperlukannya dedikasi dalam menjalani suatu pekerjaan. Walaupun tetap harus memperdulikan kesehatan. Untuk pak bos, semoga cepat sembuh ya, dan bisa beraktifitas seperti biasa lagi… ^-^

Rabu, 13 Juni 2012