O-D-O-J awal keajaiban


Soal baca Al-qur’an, dari kecil aku sudah lancar. Bahkan sebelum TK pun sudah khatam. Daaan #pamer dikit aaahhhh…. pernah memenangkan lomba MTQ se kotif Depok lho. 😳 tapi waktu masih TK, hehe… #desigh

Tapi ternyata, antara bisa dan rajin itu ga selalu berbanding lurus. Kemampuanku tak lantas membuatku rajin membacanya. *helanafas*

Waktu kecil sih ia, bisa berkali-kali khatam. Tapi beranjak dewasa? Jangan tanyakan. *melengos*

Tapi rupanya, Allah berkenan menjadikanku pribadi yang lebih baik. Dia mengenalkanku dengan ODOJ lewat group YISCku.

Apa tuh ODOJ?
ODOJ, One Day One Juz. Sebuah komunitas yang mengharuskan membernya untuk membaca 1 juz Al-Qur’an dalam sehari. Dimana laporannya via whatsapp group saja. Well, tak perlu waktu lama untukku memutuskan bergabung. Begitu membaca broadcastnya, langsung saja aku mendaftar. Ini yang aku butuhkan. Sebuah dorongan, media untuk bisa melecut aku agar rajin tilawah.

Hari pertama aku tak mengalami kesulitan yang berarti. Hari kedua, ketiga, dan seterusnya pun begitu. Karena memang aku ngga tilawah bukan karena ngga lancar membacanya, bukan pula karena tak ada waktu, tapi karena malas. Penyakit satu itu memang demen banget nempel padaku. *tutupmuka*

Kalau ditanya, pernahkah bolong sehariiii aja??? Alhamdulillahnya engga *blush* tapi kalau diserang malas, ya sering *hihihi*. Kalau malesnya datang, aku bakal ngerasa 1 juz aka 10 lembar itu banyaakksss bingitsss.. *fiuh* #sambil bolak balik halaman yang tampak tak berkurang.

Tapi setelah itu, aku langsung liat jam, sambil merenung. Cuma butuh waktu +- 5 menit untuk bisa melahap 1 set lembar. Itu waktu yang tak lama, setara dengan waktu yang aku habiskan untuk mengkhayal *eh* :P. Dan setelah itu, setelah sadar bahwa 1 juz bisa diselesaikan ngga sampe 1 jam, godaan syaithon pun berhasil kutepis *ciyaaat* berhasillah aku selesaikan jatah juz ku hari itu *girang*.

Dan sekarang, udah sekitar setengah tahun aku gabung ODOJ. Aku tak lagi menghitung berapa kali aku khatam. Mengalir saja. Tapi buat aku, ODOJ ini sesuatu banget. Dari aku yang nyaris ngga pernah tilawah, jadi bisa khatam sekali sebulan teruuss terusaan… Semoga tetap istiqomah. *aamiin*

Tapi yaa, entah memang ciri khas Indonesia atau bagaimana, media kebaikan seperti ini pun masih saja bikin kontroversi. Tadinya aku ngga tahu, sampai suatu hari dapet broadcast tentang beberapa tokoh agama (baca:ustad) yang mempermasalahkan niat tilawah bagi para member ODOJ. Khawatir menjadi riya. Begitu kurang lebih intinya.

Yah, kalau aku sih, ngga mau ambil pusing yaa. Soal riya atau engga, itu soal hati. Soal hubungan manusia dengan Robb-nya. Menurutku ngga tepat bila batal melakukan kebaikan karena takut riya. Karena tau ngga? Menjaga ikhlas itu syulit. Ikhlas diawal belum tentu bisa ikhlas sampai akhir. Nah, daripada sampai ajal menjemput, aku ngga pernah tilawah hanya karena takut riya, mendingan ikut ODOJ yang bikin aku bisa tilawah tiap hari sekalipun dituding riya *nyengir*. Karena niatku, semoga dengan ikut ODOJ jadi bisa terbiasa membaca Al-quran. Bisa mendapat berbagai manfaat dari Al-Qur’an.

Memangnya apa sih manfaat membaca Al-Qur’an??
Waaah… Banyak sudah artikel yang menjabarkan panjang lebar tentang itu. Kalau buat aku, cukup 2 hadits ini yang bisa jadi motivasi diri:

1. Abu Umamah al-Bahili ra berkata, Aku mendengar Rosululloh saw bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena ia akan memberikan syafaat kepada para “sahabatnya”.” HR Muslim No. 1337.
Dihari dimana tiada naungan selain naungan-Nya, dihari dimana seorang ayah tak bisa menolong anaknya, begitupun sebaliknya, disitulah aku perlu syafaat yang bisa menolongku. Dan semoga bacaan Al-Quran ku yang standar banget itu bisa jadi penolong di akhirat nanti. *senyum*

2. Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rosululloh saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka ia akan mendapatkan 1 kebaikan, dan 1 kebaikan akan dibalas dengan 10 x lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu 1 huruf, tetapi alif 1 huruf, lam 1 huruf, dan mim 1 huruf.” HR At Tirmidzi No. 2910.
Bayangkan, kalau hanya dengan membaca bismillahirrohmanirrohim saja, aku sudah membaca 19 huruf, yang berarti melakukan 19 kebaikan, yang mudah-mudahan mendapat minimal 190 kebaikan sebagai balasan! Hmmm.. Apalah lagi 1 juz. Jutaan huruf. Jutaan kebaikan. *hope*. Well, kebaikan itu kan ngga harus materi secara tersurat ya. Di awal hari, bangun dalam keadaan segar bugar, kebaikan. Makan tidak tersedak, kebaikan. Nyebrang jalan dengan selamat, kebaikan. Nunggu debbie ngga pake kelamaan dan dapet duduk, kebaikan. Ngga diomelin pak bos, kebaikan. Pun dosa-dosa diampuni, kebaikan. Aduh, kl ditulis lebih detail, bisa keriting tangan >.< .

Yang jelas, dua hadits itu udah lebih dari cukup bagiku sebagai alasan kenapa harus baca Al-Qur'an. Hadits pertama untuk kebaikanku di akhirat, hadits kedua untuk kebaikanku di dunia. It's enough.

Balik ke ODOJ,
Ustad yang ngisi pengajian di kantor aku pernah bilang gini,
“Baca Al-Qur’an itu sesempatnya, saat ada waktu banyak, baru dibaca. Ga usah target banyak-banyak dalam sehari. Tapi usahakan dalam satu tahun itu bisa khatam minimal 3x. Itu diluar bulan ramadhan ya. Kl bulan ramadhan ya sekali.”

Wah, Ustad, tanpa mengurangi rasa hormat, aku keberatan dengan pernyataan ustad. Kalau nunggu waktu banyak, mau kapan? Waktu ngga akan bertambah. 24 jam setiap harinya. Pun kalau nunggu waktu luang. Lah, Allah aja ngasih rezeki kita ngga nunggu waktu luang kok, dengerin doa-doa kita ngga nunggu sempat, masa hamba-Nya yang malah sok sibuk? Siapa kita?? *geleng-geleng*

Terlepas dari perbedaan pendapat beberapa kalangan, aku tetap pada pendirianku. Dan udah kubuktikan khasiatnya. Gabung ODOJ itu selain bikin aku teratur baca Al-Qur’an, juga jadi nambah teman, nambah ilmu, dan berbagai kebaikan lainnya. Terbukti, setelah beberapa bulan aku rutin tilawah, beberapa impianku menjadi nyata. Misal, aku dipertemukan dengan seseorang yang semoga menjadi sahabat dunia akhiratku, lalu untuk pertama kalinya aku nyemplung ke kolam berenang, punya printer yang bisa scan copy, bla..bla..bla.. sampai hal-hal kecil yang kalau diingat-ingat, itu adalah keinginanku dari dulu. Perlahan, semua pintu seakan mulai menampakkan isinya. Semua jalan tampak mulai terbentang. Ah, pokoknya rasakan sendirilah bagaimana keajaiban Al-Qur’an.

Buat yang belum tahu ODOJ tapi tertarik, datang aja ke Grand Launchingnya tanggal 4 Mei 2014 nanti di Istiqlal. Nih, flyer-nya. Jangan khawatir, tidak dipungut biaya kok. Semua sudah aku bayarin. Hohoho 😎 maksudnya dana murni dari member ODOJ. 😀

Baiklah. Semangat menuju kebaikan!!!
Salam cinta Qur’an. :*

image

NShijab Competition


Bissmillahirrahmanirrahim…

Assalaamu’alaykum warrohmatullohi wabarokatuh saudari muslimah ^^

Syar’iku untuk ALLOH ♡

NShijab proudly present KHIMAR SYAR’I GIVEN dengan tema, “Syar’iku untuk ALLOH” ♡

image

Syar'iku untuk Allah

In syaa Alloh ada khimar (jilbab segiempat) untuk 3 orang pemenang nih shaliha, caranya mudah in syaa Alloh.

Yuk simak (;
☆ Dibutuhkan salah satu fotomu mengenakan hijab syar’i   (tidak menampakkan wajah)

☆ Membuat katakata istimewa (motivasi, ungkapan, dll) ttg hijab syar’i difoto shaliha yang dipilih dengan tema Syar’iku Untuk Alloh (:

☆ Di kirim melalui wa, twitter, BB atau Fanpage NShijab dengan format:  nama_no HP_FB_Twitter

☆ Masing-masing hasil foto motivasi peserta akan di publish di Fanpage &twitter NShijab & menjadi hak milik NShijab

☆ Pengiriman berlaku dari tanggal 6 Feb – 14 Feb 2014

☆ Pengumuman pemenang in syaa Alloh akan infokan melalui Fanpage & Twitter NShijab

Yukk ramaikan shaliha, ungkapkan kecintaanmu pada hijabmu sebagai motivasi & inspirasi saudari-saudari muslimah (;

By NShijab, Make it simple n ‘ Keep Syar’i ^-^
Sms/wa 0812 1041 8760
Pin BB 76a2 c895
Twitter @nshijab
Fanpage http://www.facebook.com/NoorHijabSyari

[untitled]


“Akhwat yang ana mau itu wanita sholihah”

Kupandangi pesan whatsapp di group pengajianku. Kalimat itu bukan ditujukan untukku, tapi membacanya membuat dadaku sakit. Tentu saja, karena itu seperti sebuah sindiran halus. Sudah menjadi rahasia umum kalau pria yang menulis kata-kata itu dijodoh-jodohkan denganku oleh teman satu pengajianku.

“Akhwat yang ana mau itu wanita sholihah”

Ah, biarpun Hpku sudah kuletakkan jauh-jauh, kalimat itu selalu saja terngiang-ngiang.

Jadi, menurutmu, aku bukan wanita sholehah, Di?

Aku merasa pandanganku mulai kabur. Kuakui memang aku belum bisa menyandang predikat sholehah. Aku sendiri menyadari kalau aku masih jauh dari sosok muslimah sejati. Tapi entah, di “cap” bukan wanita sholehah terasa menyakitkan hati, sekalipun itu benar adanya.

Aku tahu tipe wanita seperti apa yang kau maksud, Di. Wanita yang menjulurkan jilbab dan kerudungnya menutup aurat dengan sempurna. Wanita yang kalem, tak banyak bicara hal yang sia-sia. Wanita yang rajin mengisi waktu luangnya dengan menghadiri kajian kemuslimahan. Wanita yang pandai menyiarkan kebaikan. Wanita yang ramah namun tetap menjaga pergaulan. Wanita yang menjaga izzahnya sebagai wanita. Begitu kan, Di? Dan itu bukan aku. Aku tahu itu.

Hey, bukan berarti aku mengharapkanmu. Kau pun tak sepenuhnya tipeku. Tapi kau tahu? Kalimatmu selalu membuat hatiku gerimis. Aku sedih. Bukan karena aku bukanlah tipemu. Aku sedih. Karena aku tahu aku memang bukan, belum, menjadi wanita sholehah. Yah, aku harap ini hanya belum. Wanita muslim  mana yang tidak ingin menjadi sholehah?

Dan kau tahu, Di? Aku sedih. Sedih karena kalimatmu memupus harapanku. Apa menurutmu tipe wanita sepertiku tidak pantas bersanding dengan seorang ikhwan sholeh? Padahal aku berharap Robb-ku, Robb-mu masih mau berbaik hati menakdirkanku dengan seorang pria berilmu dan bertaqwa walau dengan aku yang masih seperti ini.

Kau tahu Mas Adam Di? Kau bisa melihat seperti apa kesholehannya. Dan simaklah apa yang pernah ia katakan padaku.

“Istri saya bukan seorang akhwat sejati, namun ketika niatan saya/pria manapun mantap untuk memilih, maka hal itu akan dijadikan ladang dakwah buatnya. Lebih baik memilih istri yang biasa namun kita berusaha untuk “membentuknya” menjadi istri sholehah.”

Bahkan Mas Adam yang kesholehannya tak perlu dipertanyakan memilih wanita yang “biasa”. Saat pernikahannya, istrinya mungkin belumlah seperti wanita yang mungkin kau bayangkan sebagai sosok sholehah. Dan kata-kata Mas Adam itu menyejukkanku. Menumbuhkan lagi mawar yang hampir layu. Sehingga aku masih terus berharap dan mengimbanginya dengan perbaikan kecilku menjadi lebih baik.

Lalu, kau datang dengan kalimat yang seakan sebuah godam. Kau lempar asaku ke lembah terdalam. Aku sedih. Aku layu. Tahukah kau? Hatiku menangis. Tahukah kau?

Ah, tak perlu kau tahu. Kau tahu pun untuk apa? Aku tetaplah seperti ini. Aku masih belum bisa sholehah.

Suara dari Hp membuyarkan lamunanku. Sebuah pesan whatsapp masuk. Kali ini dari teman kuliahku. Teman yang juga dijodoh-jodohkan denganku.

“Nanti sore ada waktu ngga? Diajakin karokean sama anak-anak.”

Aku terdiam. Menatap nanar.

Ini kan Di, yang kau maksud? Aku memang bukan wanita sholehah.

Tak tertahankan, air mataku pun bercucuran.

 

-bersambung-