Rekam jejak Brevet pajak [flashback] – 1


Dipertemukan, belum tentu untuk dipersatukan.

Namun paling tidak, kita akan punya cerita baru dalam hidup. Bahkan mungkin kita akan belajar sesuatu dari pertemuan tersebut.

Membaca quote dari dyaz itu, membuatku menyadari, bahwa sekalipun pertemuan akan berakhir dengan perpisahan, akan ada cerita tersimpan dalam benak kita, akan ada pelajaran yang mengiringi perjalanan hidup kita.

Maka disini, aku ingin mencoba bercerita, memutar kembali segala kenangan, dan menuliskannya untuk jadi pengingat memori dikala tua, tentang +- 7 bulanku mengikuti pelatihan brevet pajak.

_tentang pajak_

Dari awal aku sudah tidak suka pada pajak. Namun, itu tidak membuat aku lantas kehilangan antusias. Seperti yang sudah kubilang disini, ternyata aku adalah seorang pembelajar sejati yang masih suka belajar. 040413_0349_Hijrah1.pngDari total 24 pertemuan, aku hanya mbolos sekali untuk mengantar ade ku ke bekasi.

Dengan tak beranjak dari posisi favorit di setiap pertemuan (baris paling depan, persis di depan meja dosen), aku tekun mengikuti setiap pelajaran. Dari dulu aku memang selalu suka kursi terdepan, entahlah, semoga ini pertanda aku akan semakin kedepan (kok jadi kayak iklan yak? :lol:)

Tentang pajak, satu kata untuk mendeskripsikan pajak: KEJAM. Iah, luar biasa kejam. Dimana-mana, mau ngapain aja, selalu kena pajak. Dan ianya juga ngga mau rugi. Sebuah tagihan akan langsung terutang pajak, tak peduli apakah tagihan tersebut nantinya akan dibayar oleh rekanan atau tidak. Kemudian, bayangkan pula bila sebuah badan harus memberikan 1/4 dari profit yang didapat untuk negara. Itu pun profit berdasarkan fiskal, yang mana angkanya hampir selalu dapat dipastikan lebih besar dari yang sebenarnya didapatkan. Kupikir, wajar saja bila kemudian banyak yang mengakali pajak.

Aku kemudian membandingkan dengan kewajiban zakat yang hanya 2,5%. Dan dengan pengelolaan dana secara tepat dari zakat tersebut, di zaman Umar bin Abdul Aziz, perekonomian maju pesat, bahkan ada suatu masa, dimana saat itu tak ada lagi umat Islam yang layak menerima zakat dikarenakan semua tercukupi kebutuhannya. Bisa dibayangkan? Lalu apa kabar Indonesia dengan tarif PPh Badannya yang 25% ??? Hohoho… No comment-lah.

Terlepas dari apa dan bagaimana peraturan pajak itu, aku hendak me-review sedikit tentang ilmu pajak yang kuperoleh.

1. KUP (Ketentuan Umum Perpajakan)
Sesuai namanya, materi ini membahas tentang formalitas dari pajak. Formulir yang digunakan, batas waktu pelaporan dan pembayaran, sanksi denda dan bunga, pengajuan keberatan, gugatan, banding, dan lainnya. Dosennya asik dan “murah hati”. Maka, walaupun untuk ujian aku sama sekali ngga baca modul, aku bisa tenang-tenang saja, karena aku sudah tahu bentuk soal seperti apa yang akan diujikan. :mrgreen:

2. PPh Pot-Put
PPh Pemotongan dan Pemungutan. Bahasa jawi-nya, withholding tax system. Materi ini membahas tentang keseluruhan jenis pajak penghasilan yang wajib potong dan atau wajib pungut. Menurutku, jenis pajak inilah yang luar biasa kerumitannya. Butuh lebih dari sekedar 6 pertemuan untuk membahasnya. Terutama pasal 21, karena akan ada begitu banyak kasus untuk tiap perusahaan. Dan aku? Berkali-kali pun aku mengacungkan jari di depan dosen untuk bertanya, tetap saja tambah mumet, secara si bapak dosen bukannya memberi jawaban, malah “mengambil cermin” untuk memantulkan pertanyaanku balik, disuruh mikir sendiri. Ish, ga seru si bapak teh. 042413_0651_YangbaikYay5.png

3. PPh OP (Orang Pribadi)
Jadi, setiap orang yang bernyawa (halah) dan punya penghasilan diatas PTKP, hukumnya wajibbb bayar pajak ini. Untuk materi ini, dosennya lumayan seru. Dan aku tidak mengalami kesulitan yang berarti, karena telah dua tahun aku terlatih bikin SPT OP orang-orang di kantorku.

4. PPh Badan
Kalau sebelumnya adalah “setiap orang yang bernyawa”, maka pajak yang ini mewajibkan setiap badan yang “hidup” untuk membayar pajak. Mau bentuknya LSM, yayasan, ormas, firma, apalah lagi perusahaan yaa, pokoknya semua wajib punya NPWP badan. Materi ini lah yang kuincar sejak awal, demi menunjang pekerjaan kantor. Dan, yah, overall, aku cukup bisa memahaminya. Prinsip utamanya sama seperti PPh OP. Apalagi dosennya cukup bertanggung-jawab atas kemampuan para siswa untuk mencerna penjelasannya.

5. PPN
Pajak ini dikenakan atas barang atau jasa yang sudah bertambah nilainya. Nyaris semua benda terutang PPN. Materi PPN adalah materi terbanyak dan terumit kedua setelah potput. Namun, karena sang dosen seru banget, maka aku cukup menikmatinya. Hanya saja, karena kantorku belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, maka ilmu PPN ini belum bisa kuterapkan, dan alhasil membuat pemahamanku tidak maksimal.

6. e-SPT
Materi tentang pengisian SPT secara elektrik ini ngga ada ujiannya. Dan merupakan hal baru pula bagiku. Cukup mudah dipahami, tapi memang harus sering-sering praktek. Dosennya seruuu banget. Apalagi ruangan kelasnya…061313_1434_AntaraHandp3.png Dan mulai dari e-SPT inilah aku kemudian bisa mulai berbaur dengan teman-teman yang sebelumnya sulit “kusentuh”. Tragedi lappy rusak ku yang mengawalinya. Bahkan sampai sekarang lappy-ku belum dibenerin. Hiks.060413_0423_denganHati1.jpg

7. Akuntansi Pajak
Intinya sih bagaimana kita menjurnal transaksi-transaksi perpajakan. Hanya saja, ada materi PSAK 46 disini, yang belum pernah kupelajari dan kemudian dijelaskan oleh sang dosen tepat disaat aku mbolos. Yaah, mau ngga mau, aku sama sekali belum paham di bagian yang ini. 😦

8. PBB, BPHTB, dan Bea materai
Pajak ini berbicara soal bumi dan bangunan. Materi yang juga benar-benar baru bagiku. Nah, kalau materi ini, dosennya asyik bangggeeettt… Aku sama sekali ngga pernah ngantuk pas doi yang ngajar. Ah, seandainya yang ngajar potput itu diaa… 😐 Tapiii….ada tapinya nih kawan. Soal ujian yang dikasih, asli ngga banget!!! Itu tuh soal ujian paling bikin stress, 042413_0651_YangbaikYay7.pngdi sesi paling akhir pula, benar-benar sebuah penutup yang mengesankan. Seperti yang kutulis di post sebelumnya “Save the beast for last” 021513_0745_Siapaya5.png

So, itu perjalananku selama 7 bulan terakhir ini, dilihat dari sudut pandang materil-nya. Next, akan ada curhatanku dari sudut pandang immateril yang ngga formil. Haha.. #apa coba

So, dengan ini, lunas sudah hutangku pada Mas Ryan yang minta share pelajaran pajakku. Rencananya sih aku akan upload dan share lagi beberapa ringkasanku untuk setiap materi. Ditunggu aja ya Om Ryan. Itu pun kalau masih tertarik. Hehe…

So (again), dengan berakhirnya pelatihan pajakku ini, maka pemahamanku tentang pajak sedikit banyak makin bertambah doonks.. Jadi kalau ada diantara rekan-rekan yang ingin sharing atau sedikit tanya-tanya tentang pajak, boleh didiskusikan sama aku. Siapa tau aku bisa membantu. Aku pun bisa semakin menambah wawasanku.

Sekian reportase rekam jejak bagian satu dari saya. Kurang lebihnya semoga dimaafkan.011713_1131_TheVersatil6.png

Kelas e-SPT

Kelas e-SPT

Di Ujung Lelah


Bosan aku dengan perasaan ini. Apa yang bisa kulakukan? Tidak ada. Karena perasaan ini masuk tanpa pernah ku sadari. Menyusup pelan, tepat ke hatiku, ah bukan, langsung ke jantungku. Seolah aku siap mati.

Sebut aku tak punya logika, atau kamu mau menyebutku makhluk egois? Terserah! Itu hakmu. Yang jelas buatku, kamu tidak sopan. Memaksa masuk sebelum aku bukakan pintu. Hmm… sepertinya lebih tepat disebut maling. Kamu pencuri. Balikiiiiinn hatiku sekarang juga!!!

Brak!! Arini menutup buku diary-nya sekencang mungkin, lalu melemparkannya ke meja kerjanya. Dia kesal teringat sosok yang dua bulan terakhir ini terus menerus menggangu pikirannya. Mas Radit, seniornya di klub buku. Sosok tinggi besar yang dingin itu entah sejak kapan melumerkan bara di hatinya, mengganggu tidurnya, mengacak-ngacak ketenangannya.

***

“Hey, pulang bareng ngga?”

Arini menoleh ke sumber suara. Mas Radit telah berdiri di belakangnya dengan tatapan hangat dan senyum khasnya. Senyum itulah yang kemudian meluluhkan hatinya, begitu juga tatapannya. Membuat ia sering merindukan sosok di depannya itu.

Arini tersenyum, mengangguk tanpa bicara dan menutup pintu ruang klub baca. Sebenarnya dia sangat antusias dengan ajakan lelaki itu. Dia merasa aman di dekatnya, tapi juga sekaligus merasa tak nyaman. Entahlah. Atau mungkin sebenarnya dia hanya merasa tidak nyaman dengan hatinya sendiri? Ya, hatinya memang diam-diam mengharapkan lelaki itu. Hatinya tak kuasa menolak pesonanya sekalipun lelaki itu bukanlah tipe idamannya, sekalipun telah ada Edo di sampingnya.

“Kenapa? Kok diam aja? Biasanya bawel,” Mas Radit memecahkan keheningan diantara mereka tanpa melepaskan pandangan dari kemudinya.

Arini menghela nafas. Dia harus bicara apa? Sesungguhnya dia lelah dengan keadaan ini. Dua bulan terakhir, tenaga dan pikirannya terkuras karena perasaan ini.

“Mmm… Ngga apa-apa. cuma lagi pusing masalah kerjaan aja plus gaji dibawah standar yang ngga naik-naik.” Arini menghela nafas dan tetap memasang wajah murungnya. Ia tidak sepenuhnya berbohong dengan alasan itu. Situasi di kantornya pun sedang dalam masa kritis. Apalagi jika ia memikirkan hubungannya dengan Edo. Semua itu menambah deritanya. Ia merasa sudah berada di ujung lelah.

“Ngga usah sedih. Kamu tekuni aja hobimu, siapa tau bisa membawa rezeki sendiri,” hibur Mas Radit.

“Mau makan dulu nggak?” tanyanya lagi.

“Nggak, Mas. Aku belum lapar. Nanti aja di rumah bareng adikku,” tolak Arini lembut.

“Oke, kalau gitu nanti aku langsung pulang aja ya.”

“Siip…”

Arini tersenyum walau hatinya masih terasa suram. Untuk kesekian kalinya Mas Radit berhasil menenangkan hatinya. Tidak ada yang istimewa dari kata-katanya, namun nada bicaranya yang lembut membuat Arini merasa menemukan a shoulders to cry on. Ah, lelaki itu memang berbeda.

***

Arini sedang menulis di buku hariannya ketika sebuah bunyi beep dari handphonenya menyela pikirannya. Dia langsung mengambil handphonenya, dalam hati berharap pesan itu dari Mas Radit.

Namun ia harus kecewa saat nama yang muncul adalah nama Edo, seseorang yang membuat hati Arini semakin merasa lelah belakangan ini. Dengan setengah hati, Arini membuka pesan dari Edo.

“Beb, aku mau modif motor nih. Ada duit ngga buat nambah-nambahin?” Arini memandang layar handphonenya dengan kesal.

“Apaaa? Lagi?” jeritnya dalam hati.

Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi lelaki yang sudah dua tahun ini mengisi hari-harinya. Selalu saja soal uang. Hobi memodifikasi motor seolah lebih penting dari apapun juga. Padahal Arini sangat menginginkan hubungannya lebih jelas. Entah apa Edo juga memikirkan masa depan hubungan mereka atau tidak.

Saat seperti itu, bayangan Mas Radit selalu berkelebat di pikirannya. Ingin rasanya mencurahkan segala kegundahannya pada lelaki itu. Tapi dia tahu, itu tidak akan berhasil. Mas Radit terlalu dingin, terlalu cuek. Sekalipun sebenarnya dia baik, Arini tidak yakin lelaki itu akan mendengarkannya. Namun akhirnya, setelah menimbang-nimbang, sebuah pesan singkat ia kirimkan juga ke Mas Radit.”

“Mas..??”

Semenit, lima menit, sepuluh menit, setengah jam. Tidak ada balasan. Arini menghela nafas. Selalu seperti ini. Sepertinya Mas Radit memang terlalu jauh untuk dijangkau.

Arini hanya mampu terdiam memandang kelamnya malam. Ia ingin menangis. Entah untuk menangisi apa.

***

“Beb, gimana? Bagus ngga body terbaru si Rambo?”

Arini melirik lelaki di sebelah kirinya. Di sebuah bangku kayu di teras rumahnya, Edo nampak duduk tenang dengan terus memandang motor Ninjanya yang baru saja selesai dimodif. Tatapannya begitu bersinar dan bangga.

Arini memejamkan mata. Ia tak berminat menjawab pertanyaan Edo itu.

“Do, kemarin Mama nanyain lagi. Dia wanti-wanti tentang hubungan kita. Mama mau kita segera menikah.”

Kata-kata Arini berhasil membuat tatapan Edo berpaling dari motornya. Ia terlihat kaget tapi kemudian tersenyum. Dibelainya lembut kepala Arini.

“Beb, kamu sabar ya. Aku tau kok. Aku paham. Ini juga aku lagi cari kerjaan yang serius. Aku kan juga harus bertanggung-jawab memberi kamu nafkah nanti, aku mau punya pekerjaan tetap dulu baru menikahi kamu.”

Tapi kapan Do? Dari dulu selalu itu yang kamu katakan. Tapi sampai sekarang, aku masih tidak menemukan keseriusan dalam ucapanmu. Aku harus bertahan sampai kapan?

Arini hanya menyimpan kata-kata itu dalam hati. Ia sudah tak sanggup bicara banyak lagi. Ia lelah harus beradu argumen dengan Edo.

Lagi-lagi bayangan lembut Mas Radit membayanginya. Lelaki itu jauh lebih baik dan lebih bertanggung jawab dari Edo.

Mas Radit, kenapa bukan kamu saja yang lebih dulu masuk ke kehidupanku?

Arini semakin dilema, rasanya ingin sekali ia akhiri hubungannya dengan Edo. Tapi dia akan merasa sangat bersalah. Arini tahu persis betapa Edo begitu menyayanginya. Tapi ia juga sangat tahu kalau sebenarnya lelaki itu tidak bisa diandalkan. Hatinya sibuk mencari jawaban. Ia benar-benar lelah, tapi ia takut kalau rasa lelahnya ini hanya karena ada sosok Mas Radit di hatinya. Tapi memang tak ada lagi alasan bagi Arini untuk bertahan dengan Edo lebih lama. Ia sudah cukup memberi waktu pada lelaki itu.

Malam yang semakin larut tak membuat Arini mengakhiri kegundahannya. Sengaja ia menonaktifkan handphonenya agar dapat berpikir jernih. Kali ini dia benar-benar harus membuat keputusan.

***

“Dari kemarin murung terus, ada apa?”

Arini menoleh ke sebelah kanannya. Mas Radit masih dengan gaya cool-nya mengemudikan Daihatsu Teriosnya dengan santai. Seperti biasa, selesai melakukan kegiatan rutin di klub buku, dia selalu menawarkan tumpangannya.

“Ya begitulah Mas, kondisi kejiwaanku lagi kritis,” jawabku.

“Sakit jiwa donk?” katanya lagi sambil tertawa.

Arini hanya tersenyum. Ia menimbang-nimbang, mungkin ini saat yang tepat untuk mencurahkan segala kerisauan hatinya.

“Aku tuh sebenarnya…”

“Eh, laper nih, makan dulu yuk,” belum sempat Arini menyelesaikan kalimatnya, Mas Radit sudah menyela dan langsung mengemudikan mobilnya menuju parkiran salah satu mall bergengsi di Jakarta.

Arini menganga.

Sebenarnya dia niat nanya ngga sih? Giliran dijawab, ngga didengerin.

Ukh, Arini mendengus kesal. Menahan emosi dalam dadanya. Seharusnya dia sudah bisa menebak kalau Mas Radit tidak akan mendengarkannya. Terkadang, lelaki itu memang menyebalkan. Itu juga yang membuat Arini semakin senewen. Lelaki di sampingnya ini selalu membuatnya ketar-ketir. Suatu saat dia bisa sangat menyebalkan dengan gaya cueknya, namun sesaat kemudian dia bisa menjadi begitu penyayang. Benar-benar butuh kesabaran tingkat dewa untuk menghadapinya.

Ah, Arini sungguh tidak tahu apa yang ada di pikiran Mas Radit. Arini tidak tahu apa sesungguhnya yang dirasakan lelaki itu. Tapi semenyebalkan apapun Mas Radit, dia tetap tidak bisa marah padanya. Seakan dia rela mengorbankan apapun untuknya. Dan kenyataan itu benar-benar membuat Arini kesal, dan lelah.

***

Jarum jam dinding di kamar Arini sudah menunjukkan angka 12. Tak ada sedikitpun suara dari luar kamarnya. Hening dan sunyi. Mungkin saat ini hanya lampu kamar Arini yang masih menyala di tengah kegelapan malam. Ia tidak bisa tidur. Sudah dari tiga jam yang lalu ia merebahkan dirinya di tempat tidur, namun matanya tak kunjung mau terpejam. Ia menelusuri lagi kehidupannya selama dua tahun terakhir ini. Masa-masa awal hubungannya dengan Edo memang menyenangkan. Angannya terbang tinggi, bermimpi. Tapi dua bulan terakhir, seakan awan mendung menggelayuti perasaannya. Sikap Edo yang tak kunjung dewasa, juga kehadiran Mas Radit yang tanpa sadar meluluhkan hatinya.

OK. Cukup sudah. Arini tidak tahan lagi. Ia tidak bisa membiarkan situasi ini berlarut-larut. Ia tidak bisa terus menerus membiarkan kedua lelaki itu mengacak-acak kebahagiaannya. Pilihan sudah ditetapkan. Ia memilih untuk meninggalkan Edo dengan segala kebiasaan having fun-nya. Dan ia juga memilih untuk melupakan Mas Radit dengan segala ketidak-jelasannya.

Biarlah hati ini menyepi sejenak. Melepas lelah yang membebani perasaannya selama ini. Ia ingin sendiri.

Arini mengirim pesan singkat pada Edo dan sejurus kemudian terlibat percakapan serius di telepon.

Setengah jam kemudian, Arini mematikan telepon genggamnya dan tersenyum. Perasaannya jauh lebih lega. Semoga Edo bisa mengerti keputusannya. Dan tentang Mas Radit? Biarlah dia menjadi sepenggal kisah dalam jalan hidupnya.

Arini masih ingin bahagia, dengan caranya sendiri.

–tamat–

Cerita kolaborasi dengan Meta Mocca dalam rangka meramaikan #ALoveGiveaway

Menikahi cinta


Dinginnya gerimis sore tak lagi terasa di kulitnya yang berkeringat. Peluh yang bercampur rintik hujan pun tak ia hiraukan. Ia terus berlari. Tak peduli orang-orang menganggapnya sinting. Ia ingin lekas sampai. Ia ingin cepat menyelesaikan semua. Sebelum semua menjadi terlambat.

Terngiang-ngiang di benaknya kata-kata lelaki itu yang diucapkan padanya dua puluh menit yang lalu.
“Bersediakah kamu menjadi pendamping hidupku?”
Ah, siapa yang tidak mau mempunyai suami berkharisma sepertinya? Tak diragukan lagi kemampuan finansialnya karena karakternya yang pekerja keras. Ia pun dapat dipastikan bisa menjadi imam yang baik karena pemahaman agamanya. Baik keluarga maupun kerabatnya sepakat akan keluhuran budinya. Siapapun wanita normal tentu jatuh hati pada setiap jengkal kebaikannya, termasuk Nia.

Ya, Nia yang tak sedikit pun menghentikan larinya ini pun sebenarnya kagum akan kebagusan perangai lelaki itu. Hanya saja, ada yang mengganjal di hatinya. Hati yang diam-diam menyimpan harap pada seorang pemuda sederhana. Pemuda yang diharapkannya mengatakan apa yang baru saja didengarnya dari lelaki itu. Dan kini bayangan pemuda itu berkelebat di sepanjang jalan yang dilaluinya. Kenangan indah berdua yang selama ini disimpan dalam hati yang terdalam.

Nia terus berlari. Tak peduli genangan air mengotori sepatu dan pakaiannya. Tak peduli bajunya penuh akan basah. Pikirannya fokus pada satu tujuan. Sebuah terpal yang dipasang sebagai tenda di bawah pohon belimbing di ujung sungai Ciliwung, yang kini semakin jelas nampak di penglihatannya.

Terengah-engah ia bertumpu pada batang pohon jambu biji di sebelahnya. Sulit sekali mengatur nafas mengingat ia berlari hampir satu setengah kilometer jauhnya. Jantungnya terus berpacu cepat. Bagaimana ia dapat berbicara jika untuk bernafas normal saja tidak bisa?

Nia berdiri sejauh tujuh meter dari tenda, menunggu buruan nafasnya mereda. Dipandanginya sosok pemuda itu. Sekumpulan anak kecil duduk manis di depannya, di bawah terpal biru dengan beralaskan kardus tebal dan sehelai tikar. Mereka tampak bersemangat dan penuh perhatian mengikuti setiap kata yang diucapkan si pemuda.

Hampir enam bulan Nia dan pemuda itu mendirikan kelas sederhana untuk mengajar anak-anak yang tinggal di sepanjang sungai ini. Selama enam bulan itu pula ia mengagumi kepribadian pemuda itu. Pemuda yang pandai, sabar, penuh kasih sayang, dan banyak akal. Mungkin itu sebabnya ia selalu punya cara untuk mengendalikan anak-anak yang menjadi murid mereka. Ah, ia memang begitu mempesona.

Enam bulan memang bukan waktu yang lama, tapi juga bukan waktu yang sebentar untuk membuat rasa itu ada. Enam bulan kebersamaan yang cukup membuat hati Nia riang berloncatan sekaligus gelisah berkepanjangan. Nia menyimpan perasaannya dalam diam. Tak pernah berani diungkap. Ia menunggu. Menunggu pemuda itu datang padanya, memberikan kado terindah dalam hidupnya.

Tapi kini ia tak bisa lagi menunggu. Ia harus memastikan, apakah harapan itu nyata atau memang asanya tak pernah terbalaskan. Tapi bagaimana mengatakannya? Hampir saja ia menangis putus asa.

Lama Nia berdiri, tak beranjak untuk menghampiri. Ia masih menimbang-nimbang, kata apa yang pantas diucapkan. Lalu pemuda itu melihatnya. Memandangnya dengan senyum hangat yang seperti biasa. Nia tak bisa melihat adakah cinta di mata pemuda itu. Sesaat ia ragu. Haruskah ia melangkah maju bersama harapannya? Ataukah harus ia berbalik arah menemui lelaki yang memang mencintainya? Nia membalas senyum pemuda itu dengan mata berkaca-kaca. Sungguh ia tak tau harus bagaimana.

***

Jodoh, memang rahasia. Adakalanya ia nampak didepan mata, adakalanya ia tersirat, sembunyi tak terlihat.

Dan tentang menikah, menikahi orang yang dicintai, itu adalah pilihan. Tapi mencintai orang yang dinikahi, itu sebuah keharusan.

Nia menatap pria yang kini telah menjadi imamnya. Rasa cinta yang membuncah sejak didengarnya ijab qobulnya. Dipeluknya hangat pria itu. Pria yang telah bersedia menemani hari-harinya dengan segala suka dukanya.

Nia tersenyum. Matanya kembali berkaca-kaca. Tak ada yang perlu disesalinya. Kini ia bahagia dengan cinta sejatinya.