Janji adikku


Hari ini aku libur, libur kerja dan libur puasa. Aku bangun siang, jadi ngga ikutan sahur. Setelah memandikan uci dan dika, aku pun memasak mie goreng untuk sarapan kami bertiga. Uci masih sibuk memakai baju saat aq menawarkan mie.
“Ci, mau ga?”
“Engga ah, aku kan udah janji sama Alloh mau puasa sehari. Kan ngga boleh boong.”
Aku terhenyak, malu.
“Emang tadi uci sahur?” tanyaku lagi.
“Sahur dikit.”

Aku menceritakan percakapan singkat itu pada ibuku.
“Emang tadi uci sahur Bu?”
“Sahur, cuma minum air putih doang sama lontong sedikit.”

Subhanalloh. Aku tidak menyangka, adikku yang baru kelas 2 SD itu mampu memegang prinsip dan benar-benar kuat menahan lapar, sampai maghrib, benar-benar sampai maghrib. Luar biasa. Padahal aku dan dika makan persis di depan dia, tapi dia tak sedikitpun tergoda untuk membatalkan puasa yang sudah diniatkannya. Memang, puasa itu adalah soal iman, soal keyakinan dan keteguhan hati. Siapapun dia, kalau memang sudah diniatkan, maka godaan apapun tidak akan cukup mempengaruhinya.

Aku jadi semakin salut dengan cara mendidik ibuku. Ah, Ibu, semoga ini menjadi jalan untukmu masuk ke syurga. Aamiin.

Jumat, 17 Agustus 2012