Tanya Jawab Matrik IIP #8


Sesi Tanya jawab

 

1⃣. Wiwit

Mohon berkenan pencerahan dari pengalaman para tim fasil agar tidak “gagal fokus”? karena saya tipe yang membuat target agak banyak untuk lebih memacu semangat saya dalam hidup. Dari pengalaman tim fasil yang idealnya sebaiknya berapa target dalam setahun. Apakah terkait dengan km.0 yang sudah kita tentukan misal 1 target 1 tahun (km1-km5). Jazakillah khairan katsiraa 😊🙏🏼

➡1⃣ Wiwit
Tentukan mana yang lebih prioritas. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang. Kalau menurut saya pribadi. 1-3 kegiatan dalam kuadran Suka dan Bisa itu yang menjadi fokus kita. Nantinya dari kegiatan dalam kuadran 1 yang kita lakukan, bisa kita uraikan dalam seminggu, bahkan kita bisa evaluasinya dalam setahun. Buat indikator pencapaiannya. Kalau sudah berhasil dalam setahun, beri tanda ceklis. Lalu lanjutkan tahapan berikutnya yang mau kita capai. ✅
2⃣. Arssy
Materi diatas tertulis “lakukan apa yang kamu bisa dan suka”. Bagaimana kalau saya ingin bisa produktif (dalam artian menghasilkan uang, untuk sekarang hanya bisa berdagang) dan saya bisa tapi saya tidak begitu suka? Yang ada malah kadang jenuh dan merasa terbebani. Bagaimana saya harus menyiasati ini?

➡2⃣Arssy
Segera ubah.. “change it”.. Kalau kita tidak menyukai suatu kegiatan.. bagaimana kita bisa menghasilkan uang dari sana? Yang ada hanya rasa jenuh dan terbebani, itu pasti. Yang pertama kita pilih adalah hal yang kita sukai dulu. Coba mba Arssy perhatikan sejak dulu, hal apa yang mba Arssy sukai. Misalnya membuat kue, lakukan itu dengan sungguh-sungguh. Kalau ada yang tau ternyata kue mba Arssy enak, pasti ada orang yang pesan dan akhirnya menghasilkan. “Uang akan mengikuti Kesungguhan.. Bukan bersungguh-sungguh mencari uang”✅
3⃣. Tantia
Dalam materi di sebutkan buatlah prioritas dan pilihlah hal-hal yang kita perlukan, hindari daftar yang terlalu panjang idealnya berapa aktivitas yang bisa dilakukan agar tidak gagal fokus.

➡3⃣. Tantia
Sama dengan jawaban no.1. 1-3 aktivitas saja cukup membuat kita fokus dalam mencapai tujuan.
Misal:
-mendidik dan membersamai anak-anak
-melayani dan membangun komunikasi produktif bersama suami
-bekerja diranah publik.

Tentunya sesuaikan dengan passion, kuadran 1 & 2 aktivitas masing-masing, dan hasil strenght typology dari http://www.temubakat.com

 

4⃣. Feby
Selain “menarik benang merah” mulai dari nhw 1 s/d 7, dalam memulai mencari misi hidup dengan melihat tabel aktivitas kita, tepatkah jika kita memulainya bukan hanya dari aktivitas di kuadran “suka-bisa” melainkan juga “suka-tidak bisa” karena bisa saja sesuatu yang kita tidak bisa itu (tapi kita sukai) karena belum ada kesempatan untuk mempelajarinya secara khusus/mendalam?

➡4⃣ Feby
Bisa saja.. asal kita punya komitmen untuk mempelajari apa yang kita sukai, itu lebih mudah daripada memaksakan hal yang tidak kita sukai. Tinggal eksekusinya saja, kapan mau memulai hal itu (Manajemen waktu). ✅
Marie:
Mba, kalau di kuadran suka dan bisa kita bukan ahli misalnya tapi hanya sekedar suka dan bisa, gimana ya? Tetap harus berubah ke kuadran itu ya?

Narsum:
Kalau suka dan bisa berarti mampu mba marie..

BISA itu berkaitan dengan kemampuan
SUKA berkaitan dengan rasa
PENTING berkaitan dengan prioritas, waktu dan jam terbang
GENTING berkaitan dengan kondisi dan manajemen waktu

Yang harus dirubah jika kita tidak suka tapi bisa.
Nikha:
Mbak, kalo kita suka dan bisa tapi saat ini gak bisa rutin latihan-latihan karena terganjal belum ada waktu luang untuk latihan plus kondisi rumah yang bikin kita gak bisa konsen itu gimana ya mbak? Apakah masih bisa masuk ke kuadran suka dan bisa? Atau pindah ke suka dan tidak bisa (karena ada ganjalanganjalan tersebut)?

Narsum:
Biasanya yang kita suka dan bisa itu dapat kita lakukan sehari-hari mba Nikha..
Kalau belum ada waktu luang.. berarti manajemen waktunya yang harus di prioritaskan..
Q:
Mba zy bagaimana mengerahkan kekuatan untuk fokus dan runut mengerjakan sesuatu ya? Seringkali ide-ide berlompatan. suka dicatet list/coret-coret di notes, tapi muncul lagi yang lain..jadinya malah ga produktif. no action ideas only.. 😬 Belum lagi masih harus mengejar bunsay & buncek yang keteter… 🙈🙈😍

 

 

Narsum: Capai yang targetnya mudah dicapai terlebih dahulu.. Baru tingkatkan lagi sesuai apa yang mau dicapai selanjutnya yang sudah ditulis sebelumnya.. Targetnya pun harus kongkrit..
Misal:
-tahun ini saya ingin mengajarkan toilet training pada si bungsu.. dan itu masuk dalam aktifitas harian..
Atau.. Tahun ini saya harus bisa bikin kue tart.. (Yang suka dan bisa didahulukan.. baru yang suka dan tidak bisa)

Atau misalnya buat yang bekerja di ranah publik..
Tahun ini saya harus expert di bidang saya dengan mengikuti training yang berkaitan dengan profesi dan sebagainya.. Intinya.. setiap orang punya misi hidup yang berbeda yang sudah digariskan olehNya..
Tentunya yang sukses biasanya yang menyukai bidangnya..
Satu lagi contoh yang saya lihat dari kehidupan disekitar saya..
Biasanya.. pedagang yang sukses itu adalah dia yang memegang dan mengatur langsung penjualannya sendiri, kalau hanya sebagai pemberi modal, dan diserahkan ke orang lain (karyawan) agak lambat suksesnya.
#cmiiw
Belajarlah membaca kehendakNya. Kita ditakdirkan dalam keluarga kita saat ini untuk apa?
Hati kita yang bisa menjawabnya sendiri.
Be profesional, rejeki will follow..

 

===========///////==========

Matrik IIP #6 : Ibu Manajer Keluarga Handal


Materi Matrikulasi IIP Depok sesi #6 dan hasil diskusi Selasa, 22 Januari 2016 Pukul 20.00-21.00
_______

IBU MANAJER KELUARGA HANDAL

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #6

 

Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.

Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita.

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?

🍀 Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?

🍀 Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/keluarga lain?

🍀 Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?
Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita.

🍀 Kalau anda masih “ASAL KERJA”, maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.

🍀Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses.

🍀Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI”, maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

 

Ibu Manajer Keluarga

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita Saya Manager Keluarga kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.

🍀Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.

🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kerjakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi.

🍀Buatlah skala prioritas.

🍀Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.
Menangani Kompleksitas Tantangan

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

a. PUT FIRST THINGS FIRST

Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. – Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini – aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.

b. ONE BITE AT A TIME

Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

c. DELEGATING

Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda. Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya.

 

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

 

Perkembangan Peran

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumah-tanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih SEKEDAR MENJADI IBU.

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

🍀 Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang. Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “manajer keuangan keluarga.

🍀 Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak. Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur. Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.

🍀 Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu–ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah. Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.

Anak-anak pun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.

🍀Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst

 

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata: BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/
SUMBER BACAAN:

Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP, 2015

Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016

Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom’s Story: Zainab Yusuf As’ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009

link Youtube: https://youtu.be/Cr9JSJS7CIM